(Dzulhijjah 1431H), Nyate Bareng Keluarga

Bismillahirrahmanirrahim,

Dzulhijjah’s lesson learned : tak sekedar manusia yang sholeh personal, tapi juga sholeh sosial, bisakah?

Alhamdulillahirrabbil’alamin, semoga semuanya dalam keadaan sehat dan diberikan keberkahan untuk semua hal.

Setelah beberapa waktu melewatkan moment dzulhijjah di rantau, di tahun ini Allah mengijinkan saya untuk menikmatinya di kampung dan kediaman tercinta. Secara tradisi memang tak banyak yang berubah, namanya juga masih di kampung, jadwal idul adha dimulai dengan takbiran malam harinya, paginya sholat ied, penyembelihan hewan kurban di masjid atau di rumah yang punya hajat, pembagian daging kurban kepada tetangga dan kerabat, setelah itu kampung pun berasap karena kebanyakan orang-orang sibuk bersate ria di rumahnya masing-masing. Sementara saya, pulang dari masjid kemudian berbuka dan zzzzzzz TIDUR karena malamnya tidur larut. Acara ziarah pun dmundurin waktunya karena matahari sudah amat sangat bersinar.

Bangun tidur kemudian sholat dan menuju rumah nenek karena di sanalah TKP penyembelihan hewan kurban paman dan bibi. Sampai di sana, pestanya pun bubar dan yang tersisa tusuk dan bumbu. Penonton kecewa dan hasrat makan sate pun hilang. Eeeeh, ada beberapa sepupu yang duduk depan rumah sambil makan sesuatu, dipikir sate saya pun mendekat dan ternyata rujak pepaya, Alhamdulillah “memang dari kemarin pengen rujak pepaya, terwujud juga melalui tangan-tangan sepupu meski sahabat juga ada stock pepaya yang belum sempat saya kunjungi”.

Malamnya, saat menuju masjid untuk sholat maghrib terlihat beberapa sepupu dari garis bapak yang sedang asyik memotong daging dan menyiapkan bumbu. Langsung saya sapa “nyate niy ya?”, kemudian mereka pun menjawab : “iya ke sini aja abis sholat, sekalian ada pengajian, nanti menu penutupnya sate”, saya  : “abis sholat aja saya ke sananya, sekalian mo nimbrung pengajian juga”. Memang, kalau rejeki tak kemana, dari tadi siang ingin sate dan terwujud juga.

Sehari setelah idul adha, salah satu kakak saya datang bersama suami dan anaknya. (Saat itu saya lagi apa ya ?, lupa), dan seperti biasanya yang pertama saya goda adalah anaknya Shabrina “whahahahhaha, santapan renyah di pagi hari”. Sang anak pun melihat bahasa tubuh saya sudah mengerti kalau dia yang akan digoda. Belum juga turun dari motor ia pun sudah teriak dan mengatakan “tante elek” (baca : tante jelek).

Melihat ada plastik bungkusan daging pemberian saudara yang berkurban maka saya pun mengajak kakak saya untuk bersate. Kakak pun mengatakan iya dan mulailah kami bersate. Saya pun mengambil perkakas ke dalam dan menyiapkan beberapa bumbu yang lokasinya masih perlu saya tanyakan ke ibu saya.

Setelah siap, saya masukkan bahan-bahan untuk diulek sebagai bumbu sebelum sate dipanggang dan dengan nada kurang yakin dan setengah konfirmasi dia mengatakan “kamu tahu ya bumbu sate, tau dari mana?”, langsung saya jawab :”beuhhh, menghina banget, ya tau lah, orang tadi malem aku makan sate di tempat mbak ummu, sambil makan aku sambil nanya bumbunya apa aja”. Dengan jawaban itu kakak saya agak lega sepertinya dan keraguannya pun tenggalam ke laut Suramadu. Kalau sudah terpaksa, saya jago masak dan kalau masih ada yang lebih jago biasanya saya serahkan ke yang lebih ahli. Nah, ummi saja tidak makan daging sama sekali, terus siapa lagi? kakak saya sangat malasan kalau tidak ada yang mendahului, kalau ada abang beres semuanya sampai ke cuci piring dan ngepelnya.

Saya meracik dan mengulek bumbu serta membalutkannya ke tusukan sate. Sementara kakak saya memotong daging dan menusuknya, abang ipar saya yang jadi penjual satenya aka pembakar sate. Dan ummi mempersiapkan kekurangan yang lain, mulai dari nasi dan bumbu pelengkap/perangkat yang kurang. Si anak kecil itu sibuk menemani ayahnya dan bermain tanah di depan rumah. Dan sesekali saya suruh untuk membumbui sate yang sudah ditusuk untuk diberikan ke ayahnya dengan mengajarkannya cara memberi bumbu pada sate sebelum dibakar.

Ini dia bumbu racikan ala saya : bawang putih, merica, dan garam  diulek sampai halus kemudian tambahkan air.  Bumbu selesai dan membentuk sungai di dalam ulekan masukkan sate yang telah ditusuk. Sebelum dibakar oleskan tusukan sate dulu ke dalam kecap supaya tidak cepat gosong.

Ini dia bumbu sate setelah matang : bawang merah diiris tipis-tipis, cabe rawit sebanyak-banyaknya, kemudian campurkan keduanya dengan kecap dan petis sate lalu beri perasan jeruk nipis atau jeruk lemon……Srrrrppppp MANTAP dan SEGAR.

Srrrrppp, jago juga saya masak😛

Ouw ya, ada bumbu baru di sini yaitu petis sate. Petis sate merupakan petis yang khusus digunakan untuk membuat sate atau bumbu tambahan rujak madura dengan warna hitam dan rasa agak manis tidak seperti kebanyakan petis yang beredar di Madura. Selain petis sate, di Madura ada juga petis asin yang biasanya dibuat rujakan dan sangat cocok sekali disimpan di saat musim-musim mangga seperti sekarang.

Siap masuk perut!!! makan buahnya dulu

Setelah sate matang, kami pun makan bersama dengan ditambah semangka, es syrup cocopandan dan krupuk. Begitu terasa aroma desanya, apalagi makan di depan rumah yang anginnya begitu sepoi-sepoi…Alhamdulillah Yaa Allah meski formasinya belum komplit semua karena abang dan kakak yang tak hadir. Semoga kebersamaan seperti ini selalu hadir dalam jiwa kami.

 

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Madura. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s