Selagi MUDA, Selagi Bisa (1928-2010)

Alhamdulillah,

Bangunlah Pemuda Klo Kuliah Pagi

“Berikan aku 5 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” (Soekarno, Presiden RI I)

Hari ini adalah peringatan hari sumpah pemuda yang genap berusia 82 Tahun “Dirgahayu untuk semua pemuda(i) negeri”. Peringatannya masih dimotori oleh para pemuda yang mungkin sudah tak muda, namun dilihat dari sisi usianya rasa-rasanya sudah usia peringatan supaya yang muda lebih sadar diri akan perannya dan yang tua sadar diri untuk tak selalu menyumpah serapahi yang muda. Seperti halnya tumbuhan yang daun-daunnya akan berguguran dimakan usia, maka bersiap-siaplah daun-daun yang muda menggantikannya.

***

Bias kata-kata Soekarno tercermin dalam pergerakan pemuda yang menjadi tumbangnya tirani-tirani kekuasan negeri ini. Tengoklah ke belakang : Soekarno sendiri yang turun digoyang angkatan 66, Soeharto yang runtuh diganyang angkatan 98 (angkatan reformasi). Terlihat jelas bahwa eksistensi pemuda tak hanya yang rajin mengisi buku tamu di club-club malam, nongkrong di jalanan tak jelas, kebut-kebutan motor tanpa prestasi, belanja dan cuci mata di mall supaya terlihat gaul dan tak ketinggalan jaman. Pemuda(i) adalah periode hidup monumental nan berharga yang  tak akan terulang lagi. Jika sudah menua maka sudah tak lagi dinobatkan jadi pemuda, lebih cocoknya adalah “pernah muda”.

Selagi muda, selagi bisa. Sudah seharusnya pemuda memanfaatkan moment yang berharga ini, karena seiring dengan perjalanan waktu nilai-nilai pemuda banyak terkikis oleh derasnya gelombang gaya hidup yang hedonis dan egosentral. Siapa bilang pemuda tak boleh nongkrong, menikmati gadget terkini, berkreasi-berimajinasi tanpa batas? boleh kok, memang sudah jamannya, tapi bagaimana memanfaatkan dan menyikapinya dengan hal-hal yang konstruktif  itu jauh lebih baik dibandingkan dengan banyak melakukan hal yang destruktif.

Pemuda dan Idealismenya :

Saat menjadi mahasiswa dulu, sering terdengar lontaran-lontaran dari rekan-rekan yang bagus secara teorinya dan pada saat prakteknya terlihat banyak ketidaksesuaiannya. Siapa bilang idealis itu tidak boleh? bagus malah, tapi yang terukur sajalah wahai rekan-rekan mudaku!!!. Cobalah untuk realistis dan tepat dalam menyikapi sesuatu sehingga kampus bukan sekedar warung idealis yang menunya cepat basi ketika sudah keluar dari wilayahnya. Tapi bagaimana menjadikan kampus sebagai sarana untuk menggali potensi kepemudaan kita itu lebih penting dibandingkan hanya membaca buku teks yang terlihat bagus teori dan kata-katanya namun tak sebagus prakteknya.

Diakui atau tak diakui setiap orang pasti memiliki sisi idealisme sendiri-sendiri. Mentang-mentang masih muda dan tag line idealismenya merasa bagus dibandingkan yang lain bahkan bagi  kalangan yang  tua sekalipun maka tak tanggung-tanggung ajang pamer idealisme pun melanda para muda. Bersikaplah biasa saja dengan idealisme kita masing-masing dan tak perlu lah sampai direpetisikan di setiap moment, melalui sikap dan tindakan orang pun sudah bisa membaca dan mengintepretasikan. Tampillah sebagai pemuda yang berkarakter dan senantiasa (memperbaiki) karakter yang kurang baik. Jangan hanya menomor satukan karakter sendiri dan meng-nol kan karakter orang yang siapa tahu yang dinolkan tersebut yang mampu membangun karakter kita. Karakter jangan hanya ditunjukkan di warung idealisme kampus, tapi manisfestasikan dan investasikan dalam kehidupan di luar kampus. Bukankah hidup yang sebenarnya adalah pada saat di luar kampus…hidup yang lebih sulit dan penuh perjuangan, saat teori sudah tak lagi beriringan dengan praktek.

Sering juga mendengar pernyataan sebagian teman “gw,tuh orangnya begini, klo sudah begitu gak suka deh karna gak sesuai prinsip”, hanya bisa mendengarkan saja dan menganguk pelan tanpa bisa banyak berkomentar karena di saat yang bersamaan hati dan jiwa pun terketuk supaya menghindari pernyataan diri yang seakan-akan mengangkat diri namun secara perlahan-lahan akan merendahkan diri sendiri. Saya begitu mengappresiasi pernyataan seorang teman di salah satu statusnya “rendahkanlah dirimu, maka kau akan ditinggikan orang lain”. Jadi pemudapun demikian, tak usah sok-sok’an dengan segala idealisme dan prinsip yang hanya teori. Berkaryalah nyata, tak hanya sekedar berkarya kata. Siapa pun bisa mengungkapkan kembali isi buku, namun tak semuanya dapat mengapplikasikan nilai-nilai kebaikan yang tertulis di dalamnya. Sebagi bahan masukan bagi kita semua “Kuasailah semua buku, tapi jangan biarkan buku menguasai Anda. Membacalah untuk hidup, bukan hidup untuk membaca.” Owen Meredith (1831–1891), diplomat Inggris.

Jangan Jadi Pemuda (i) yang Standar

Definisi dari hal ini adalah, jadilah pemuda yang dinamis, aktraktif, sensitif dan proaktif. Jangan hanya egois mementingkan kepentingan sendiri, berikanlah sedikit waktu dan tenaga untuk memberikan imbasan positif bagi  pemuda  lain. Dan bukan pemuda yang baku dengan tuntunan dan tuntutan masyarakat yang hanya makin menambah patologi masyarakat saja. Kebakuan itu terlihat dari : saat sekolah harus peringkat, kuliah di perguruan tinggi negeri atau di jurusan yang paling banyak diincar dunia kerja atau mendatangkan materi yang melimpah (saya rasa sudah tahu jawabannya apa), lulus kuliah kerja di suatu  perusahaan dengan gaji tinggi, posisi top atau kalau tidak berdasi dan berblazer Ok juga yang penting terlihat bekerja dan tak banyak pertanyaan masyarakat setelah lulus “kerjanya apa dan dimana?” (capekkkkk deeehhhh).

Bagaimana penyakit masyarakat tak  makin bertambah jika pemudanya repot memenuhi tuntutan masyarakat. Jadilah pemuda sebagai agent of change dan juga agent of humanity sehingga patologi sosial terdegradasi secara perlahan-lahan. Tak ada salahnya memenuhi tuntutan masyarakat karena kita adalah mahluk yang mono dualisme, namun alangkah lebih mulianya jika tuntutan disinergikan dengan eksistensi pemuda yang sebenarnya.

Jadilah pemuda yang bisa menggebrak (tak secara fisik semata) dan banyak-banyaklah mencoba untuk hal-hal yang positif dan membangun karakter. “Buat apa hidup kalau kita tidak berani mencoba sesuatu?” Vincent van Gogh (1853–1890), pelukis Belanda”. Sehingga ketika sudah menjadi tua nanti dan periode sudah kita lewati kita akan banyak memberikan kebijakan kepada orang lain karena kita sudah melaluinya dengan sesuatu dan merasakan sendiri esensinya.

Pemuda; Bangunlah Jiwamu, Bangunlah Badanmu

Pemuda tak sekedar kekar dan six pack, dan pemudi tak sekedar molek dan seksi. Apalah artinya jika jiwanya tidak terisi dan sehat. Maka untuk menjadi pemuda(i) yang matang alangkah lebih baiknya untuk membangun dulu jiwa, kemudian badan. Sinergitas kedua hal ini akan semakin menambah semngat hidup dan kekuatan untuk memahami eksistensi makin tergali.

Apa yang seharusnya digali dalam diri sebagai pemuda (i) :

– Kesadaran akan tanggung jawab, dengan jabatan dan pekerjaan apa pun sadarlah akan tanggung jawab. Tempatkan diri pada tempatnya, saat menjadi mahasiswa jadilah mahasiswa yang bertanggung jawab yang sadar akan peran dan keberadaannya sebagai bagian dari institusi, anak dari orang tuanya, generasi penerus bangsa dan bagian dari umat.

– Tak hanya berorientasikan gender. Yang pemuda hanya paham dunianya saja dan pemudi demikian. Jadilah pemuda dan pemudi yang saling memberikan kontribusi positif satu sama lain. Sebagian pekerjaan laki-laki kadang-kadangg bisa juga dikerjakan oleh perempuan atau sebaliknya. Jangan banyak berargumen dan berpostulat bahwa “ini pekerjaan perempuan dan itu pekerjaan laki-laki”. Selagi bisa…”kenapa gak”, sejalan dengan perjalanan usia toh akan terasa manfaatnya untuk anak dan cucu.

– Pemuda yang tak sekedar jago kandang dan keok pada saat sudah di luar kandang. Pemuda yang adaptif dan kompatibel serta user friendly lebih bagus dibandingkan yang stand alone dan onboard.

***

Semoga tulisan ini bermanfaat dan mampu menggali diri saya untuk bisa menjadi manusia (pemuda) yang berguna serta bisa memiliki pemuda yang mampu menggebrak dunia seperti pernah dinyatakan oleh Eyang Soekarno. Pemuda…yuk bikin sekolah!!! (kok curhat ya). Jika ada isi yang kurang berkenan mohon maaf saja, silahkan dikoreksi saja dan sangat terbuka sekali untuk dikritisi. Sekian dan terimakasih.

 

 

 

 

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s