Menenggelamkan Aneka Keraguan

Bismillah,

 

 

Menembus Batas, Tepis Keraguan

“Sudah saatnya, untuk tidak lagi membumbui burung yang terbang di atas langit, tinggalkan angan-angan kosong yang dibangkitkan setan. Realistislah meski hidup banyak tak logisnya dan beranilah untuk memberikan ketegasan pada diri”

“Silahkan saja orang lain meragukan saya, itu hak orang masing-masing. Biarkanlah keraguan mereka menyita waktu mereka. Semoga keraguan mereka semakin memantapkan keyakinan dan menenggelamkan aneka keraguan saya…InshaAllah”

Goresan ini hadir atas inspirasi dan motivasi beberapa hari belakangan yang kebanyakan diperoleh secara tidak sengaja.

(1) Melalui sebuah majalah yang tergeletak di kamar hadirlah sebuah judul editorial di tengah halaman yang berjudul  “Menembus Batas”. Di dalam tulisan tersebut tersebutlah 2 nama wanita yang baru saja saya kenal  dan selebihnya saya selalu mengingat nama keduanya, sampai-sampai informasi tentang keduanya saya cari di Internet agar rasa penasaran saya hilang . Setelah membaca hasil pencarian saya “Subhanallah, memang luar biasa keduanya, super women, dan alangkah ketinggalannya saya baru mengenal kedua sosok ini”.  Mereka adalah Hellen Keller, seorang wanita yang buta dan tuli yang mampu menjadi seorang penulis buku, inspirator dunia dan menyandang gelar sarjana dengan predikat cum laude, dan Anne Sullivan yang merupakan guru sekaligus mentor dari Hellen pada masa kecilnya  pada saat Hellen adalah seorang anak yang liar dan tidak dapat diajar. Dengan sabar si Anne mengajarkan Hellen mengucapkan kata W.A.T.E.R sambil memegang tangannya di bawah air. Helen diajar untuk membaca lewat huruf braille sampai mengerti apa maksudnya.

Helen menulis, “Saya ingat hari yang terpenting di dalam seluruh hidup saya adalah saat guru saya, Anne Sullivan, datang pada saya.” Dengan tekun, Annie mengajar Helen untuk berbicara lewat gerakan mulut, sehingga Helen berkata, “Hal terbaik dan terindah yang tidak dilihat atau disentuh oleh dunia adalah hal yang dirasakan di dalam hati.”

(2) Awalnya, saya melakukan pencarian di sebuah search engine mengenai suatu topik yang akan saya masukkan dalam power point yang akan saya buat. Namun tiba-tiba pencarian saya malah nyasar kemana-mana. Dihadirkanlah di situs tersebut beberapa materi yang out of topic dengan pencarian saya, namun karena topik tersebut selalu menjadi pertanyaan perulangan maka tak ada salahnya untuk menambah pengetahuan dan mungkin penegasan kembali atas jawaban yang mungkin kurang memuaskan. Ya, dalam beberapa postingannya tertulis judul “Selamat Tinggal Keraguan”. Penasaran isinya apa, saya pun membacanya. Saya lupa nama tokohnya dalam tulisan tersebut, yang saya ingat adalah garis besar ceritanya, yaitu seorang laki-laki yang dengan berani memutuskan untuk mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi seorang wanita yang tak dinyana adalah satu institusi dengannya. Di tengah keterbatasannya yang saat itu hanya bekerja menjadi tukang kebun di sebuah sekolah karena ia diPHK dari kantornya yang saat itu sedang mengalami kebangkrutan. Dengan semangat 45 dia mengutarakan maksud hatinya ke orang tua si wanita dan apa yang terjadi si Bapak dari wanita itu menerimanya karena wajahnya mirip seorang sahabatnya dulu saat si Bapak ditugaskan militer di daerah timur Indonesia. “MasyaAllah, ada saja skenario yang Allah berikan yang sering kita pun tidak pernah tahu”.

(3) Saya mengantarkan seorang saudara ke salon yang isinya hanya wanita semua, karena ia masih ada tambahan perawatan maka saya pun menunggu di bawah saja. Terbujur kaku 2 buah buku yang sama, untuk mengisi waktu saya mengambil salah satu buku kemudian saya bawa ke depan. Judul bukunya adalah “Cermin Diri”, maaf saya lupa penulisnya. Saya baca bukunya bab demi bab dan alamak isinya benar-benar menyentuh serta mewakili keadaan sehari-hari. Buku tersebut memasukkan juga Al-Qur’an dan Hadits sebagai kajian pustakanya berserta cerita-cerita sahabat dulu. Intinya : betapa kita sehari-hari disibukkan oleh urusan dunia (harta, tahta, wanita dan sejenisnya) dengan menomer sekiankan Sang Khalik. Padahal esensi dari semuanya adalah tetep menomer satukan Allah dalam kehidupan sehari-hari. Sering, terhadap bos dan pimpinan kita saja percaya seutuhnya, namun terhadap Allah sering ragu-ragu, padahal apa yang tidak diberikan oleh Allah terhadap manusia dan berapa banyak nikmat yang telah didustakan oleh manusia. Sampai dalam surat Ar-Rahman disebutkan sebanyak 23 kali “Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan”. Astaghfirullah. Giliran sudah mendapatkan nikmat lupa dan enggan untuk mengeluarkannya, bayangkan saja nikmat yang diterima bersih oleh kita adalah sebesar 97,5% dan yang dikeluarkan hanya 2,5%.

Tidak hanya itu, rezeki kita pun sudah dijamin oleh Allah sehingga tak usah ragu dan takut karena tak punya pekerjaan atau mengalami kegagalan, pasrahkan dan minta petunjuk pada Allah dan biarkanlah Allah yang membuat skenarionya untuk kita semua. Jangankan manusia, hewan melata saja sudah Allah jamin rezekinya. Jadi diperlukan keyakinan yang terus digali dan diperbaiki terhadap Allah agar ketenangan dan kebahagian hidup.

Semua orang bisa menjadi kaya dan sukses, tapi tak semuanya bisa bahagia, tenang dan bersyukur dengan kesuksesan dan kekayaan yang telah diraihnya. Agama begitu indah membingkai bagaimana untuk menjadi pribadi yang bersyukur dan bersabar serta terwujud kebahagian dan ketenangan dalam hidupnya. Tak sekedar materi untuk bisa membuat orang bahagia, lihatlah hal kecil di sekeliling kita, mungkin hanya karena pertanyaan sederhana bisa membuat kita tersenyum dari hati dan menatap betapa indahnya dunia meski dengan kesederhanaan dan apa adanya.

(3) Beberapa hari yang lalu, tidur agak larut malam (sekitar jam 2 pagi), sebelum benar-benar memejamkan mata seperti biasa menyalakan TV dulu, memencet remote dari satu nomer ke nomer yang lain. Berhentilah di sebuah stasiun TV swasta yang sedang berdialog dengan seorang da’i terkemuka yang saat ini namanya mulai meredup dikarenakan keputusannya untuk menikah lagi. Ya, beliau adalah Aa Gym, salah satu da’i favorit saya (urusan beliau menikah lagi itu bukan urusan saya dan bukan menjadi alasan untuk berhenti mendengar taushiyah-taushiyahnya). Program TV yang bertajuk “Tokoh” tersebut mengupas tentang pandangan dan keseharian sang da’i di rumahnya. Luar biasa !!!, pada saat sang da’i ditanya apa rencana Aa selanjutnya dan beliau pun menjawab : “menata hati dan memberikan apa yang saya miliki (baik harta, ilmu dan yang lain) untuk kepentingan umat”. Dan satu pernyataan lagi yang masih saya ingat dari beliau sebelum saya benar-benar tertidur “apa lagi yang membuat kita ragu, klo tujuannya sudah JELAS dan JELAS apa yang akan kita lakukan”.

(4) Semalam menonton acara reality show di sebuah stasiun TV swasta. Betapa terharunya menyaksikan kesabaran dari beberapa kekeluarga yang sebagian anak-anaknya mengalami kondisi anak-anak berkebutuhan khusus (ada yang lumpuh, tunarungu). Sedih campur aduk menyaksikannya…”mereka saja bisa sesabar itu dan bisa menari dalam badai serta membuktikan kepada dunia bahwa mereka saja bisa menjadi seperti orang normal”.

***

Lalu,,,lantas!!! hal apa yang bisa dibangkitkan dalam diri agar aneka keraguan tenggelam dan terus berusaha menjadi manusia yang yakin dalam setiap langkah dan keputusan. Keraguan sebenarnya berasal dari dalam diri, orang lain hanyalah sebagai whistle blower untuk semakin menambah keraguan kita, biarkanlah peluit mereka berbunyi…nanti kalau sudah capek dan terbukti siapa yang akan tiba di “garis” juga akan berhenti dengan sendirinya. Jika kita saja ragu dengan apa yang akan kita lakukan dan putuskan, lantas siapa lagi yang akan meyakini diri kita??????? (tanyakan dan renungkan pada diri sendiri).

3 Langkah berusaha menuju arena keyakinan :

1.Bismillahirrahmanirrahim, berikanlah kekuatan untuk meluruskan niat, memantapkan hati dan membuat keputusan.

2. Alhamdulillah, jadikanlah kami adalah manusia yang senantiasa bersyukur untuk apa yang telah kami lakukan dan capai. Terimakasih untuk mengijinkan kami bergerak, berusaha dan berubah menuju yang lebih baik. Berikanlah petunjuk dan rahmatMu untuk langkah yang tengah kami jejaki.

3. Laa haula Waa Laa Quwwata Illa Billah, Engkau Maha Besar Yaa Allah dan skenarioMu adalah yang terbaik serta ketelitianMu menyangkut segala hal. Dan apabila ada hal dari apa yang telah kami lakukan tidak sesuai dengan harapan kami maka berikanlah kesabaran dan gantilah dengan yang terbaik menurut ukuranMu karena kami sendiri sering tidak paham ukuran kami yang terbaik seperti apa. Engkaulah yang menciptkan kami dan tentunya Engkaulah yang lebih tahu komposisi dan takaran kami dalam menghadapi semua ini.

Semoga bermanfaat, dan bisa menjadi semangat untuk terus bersyukur dan berusaha menjadi manusia yang tidak hanya bernilai untuk diri sendiri tapi juga bermanfaat bagi orang lain dan sekitar.

-Alhamdulillah-

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s