Mahalnya Harga Kepercayaan

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

“Meraih kepercayaan itu GAMPANG, namun menjaganya SANGAT SULIT”

Teringat akan kata-kata seorang Bapak di rumah dalam kondisi yang tak formil yang terbingkai dalam sebuah pantun menggunakan bahasa Madura. Maaf, sebagai anak dari Bapak itu saya agak lupa pantunnya,  yang saya ingat hanya buntutnya saja “lecek sakaleyan salanjangnga tak eparcaja (artinya : “berbohong sekali seterusnya tidak akan dipercaya). Begitu dahsyatnya esensi dari kepercayaan sampai sekali saja menodainya seterusnya tidak akan dipercaya.

Kita semua mungkin pernah mendapat petuah yang sama dari orang tua kita, tapi tidak semua dari kita memiliki pemahaman dan ketertarikan yang sama dalam memaknai kepercayaan. Boleh jadi orang tua berulang-ulang mengatakan hal ini dan berulang-ulang pula kita menoktainya dengan pengkhianatan dan ketidakjujuran. Apa mau dikata? serenteng alasan pun hadir, karena untuk kebaikan bersamalah, karena tak enak sama teman, takutnya nanti kalau jujur dimarahi dan seterusnya. Jelas, sadar atauu tidak kita seringg melakukan ini, mempercayai atau dipercayai. Sering mempercayai sesuatu kepada seseorang namun ternyata mengecewakan atau dipercayai orang lain untuk suatu hal namun kadang berkhianat dan tak bisa menjaganya dengan baik. Lantas sampai kapan akan begini terus? seperti orang yang tak punya prinsip saja dan selalu dihantui ketakutan serta pengaruh orang lain yang belum bisa dibuktikan kebenarannya.

Suatu ketika, saya pernah mendapat cerita dari seorang teman tentang teman yang juga teman kami. Saya agak kaget mendengarnya dan hampir raib rasa percaya saya terhadap teman tersebut. Namun, sambil mendengarkan cerita teman dan berpikir saya pun  sampai pada sebuah titik pemikiran bahwa tidak sepantasnya saya memberikan penilaian langsung jika saya saja belum pernah mengkonfrontir dan mengklarifikasi hal ini kepada teman yang bersangkutan. Apalah hak saya sampai hampir tidak mempercayainya lagi dan apa yang akan terjadi kalau hal itu yang terjadi pada saya. Pastinya saya akan bingung sendiri bukan? jadi belajar untuk menjadi orang yang objektif pun juga susah. Di satu sisi sebagai manusia yangg mudah terpengaruh terstimulasi dengan hantaran cerita orang lain, namun di sisi yang lain kita pun harus menempatkan diri seolah-olah kita adalah orang yang menjadi objek pembicaraan.

Kepercayaan memang mahal harganya, tak bisa dibeli dengan semangkok bakso dan segelas cendol. Eksistensinya hadir tak hanya sesaat, namun dalam jangka waktu yang lama. Melalui tulisan ini, saya minta maaf jika pernah atau hampir tidak mempercayai beberapa teman karena pemikiran subjektif saya atau karena oleh-oleh cerita dari orang lain. Maaf temans, namanya juga masih belajar dan terus berproses untuk menjadi lebih baik. Mungkin saja teman-teman yang hampir tidak saya percaya tersebut lebih baik memegang kepercayaan dibandingkan saya.

Ibaratnya gelas, kepercayaan mudah retak jika tak dijaga dengan baik dan terus mengkilat serta kinclong “Cling” jika terus dirawat dan dibersihkan. Bukankah orang yang baik itu bukan orang yang tidak pernah melakukan kesalahan, tapi yang menyadari kesalahannya dan memperbaikinya (ini kata Bang Rhoma Irama ya). Mari kita mulai dari diri kita dengan hal-hal yang kecil supaya menjadi kebiasan karena ala bisa karena biasa. Dan jangan sampai menodainya dengan noktah karena akan memudarkannya dan sulit untuk membersihkannya meski bisa namun dalam proses yang lama.

Bagaimana cara untuk menanamkan dan menyuburkannya :

– Menjaga hubungan secara vertikal dengan lebih baik lagi, mengakui akan kebesarannya, mengakui juga kesalahan serta ketidakjujuran kita. Tanpa penjagaan dariNya kita akan banyak terjerumus dalam lubang-lubang ketidakjujuran.

– Sadar akan tanggung jawab dan eksistensi

– Continous improvement, dengan terus-menerus melakukan perbaikan baik untuk diri sendiri, orang lain maupun lingkungan

– Memupuk sense of belonging dengan baik, bahwa dengan mempunyai rasa saling memiliki akan semakin menyadarkan diri kita bahwa kita dalam hidup ini akan senantiasa membutuhkan orang lain, dan sebisa mungkin berusaha untuk menjaga kepercayaan yang diberikan oleh orang lain agar orang lain pun menjaga kepercayaan yang kita berikan.

Mungkin segitu saja dari saya,semoga bermanfaat bagi kita semuanya dan menjadi pengingat serta motivasi bagi saya untuk program perbaikan diri di tengah-tengah kompleksitas persoalan yang dihadapi.

-Salam-

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s