(Gunung Jaddih; kami hadir) 3 in 1 Around I Like, I Do

Alhamdulillah,

“Mencapai PUNCAK itu PILIHAN, namun Turun ke BAWAH adalah MANDATORI

 

Mereka: "Ingin memegang langit"

 

Setelah lama tidak bertemu dan menyapa dengan gunung, minggu kemarin menyapa gunung juga. Benar-benar nikmat yang tiada tara, apalagi temanya alam semua, tak diragukan lagi pokoknya kepuasannya dan hanya bisa berkata Waa Syukurillah sudah mengaruniakan ini semua kepada saya dan para sahabat kecil saya.

Gunung yang kami kunjungi adalah Gunung Jaddih yang terletak “cukup” jauh dari kampung kami, karena sudah beda desa dengan desa kami. Desanya adalah desa Jambu yang kata orang-orang di sana banyak maling dan sepi. Kan saya jadi makin penasaran, apalagi para sahabat saya sudah ketakutan duluan, sehingga saya pun menantang mereka “siapa yang mau ikut ke gunung Jaddih, klo ada yang mau kumpul di rumah abis shubuh bawa sepeda, kita naek sepeda ke sana”. Rencana ini sebenarnya sudah terbesit saat bulan Ramadhan beberapa minggu yang lalu bersama dengan salah seorang sahabat yang sudah tak kecil lagi (sudah SMA) saat kami hunting ke sawah, namun dikarenakan lokasinya yang jauh sehingga tidak bisa direalisasikan saat bulan puasa dengan alasan puasanya bisa batal gara-gara kehausan. Saya terserah saja, mau kapan juga bisa asalkan tidak ada urusan yang penting dan genting.

Dengan diikuti sekitar 7 orang sahabat kecil (8 kalau ditambah saya) kami pun mengayuh sepeda kami menuju lokasi dan yang punya gagasan tidak bisa ikut dikarenakan teman-teman sebayanya tidak ikutan (harus diubah ini, masak mau jadi follower terus!!!). Karena menyusuri jalan raya, maka untuk menjaga para sahabat tersebut saya mengambil posisi paling belakang supaya mudah terkontrol kalau ada apa-apa. Di tengah perjalanan, tiba-tiba sang pimpinan yang berboncengan membelokkan sepedanya ke jalan yang lain yang bukan tujuan kami. Karena dia belok, maka saya pun turuti keinginannya dan saya masih belum menegurnya lantas sahabat yang lain pun mengatakan “katanya mau ke Gunung Jaddih, kok lewat sini?”, kemudian saya bertanya ke yang membelokkan arah : “emang bisa lewat jalan ini ke gunung itu, kamu tahu jalan ke gunung Jaddih gak?, klo gak ganti yang di depan sama yang tahu, bukannya perjanjiannya ke Gunung Jaddih dan bukan ke sini”. Sambil tertunduk melihat tatapan saya dia pun membelokkan sepedanya dan cepat sambil meneriakkan “belok…belok smuanya, ayok ke Jaddih”. Saya pun tersenyum dalam hati menyaksikan adegan ini ditambah lagi dengan celetukan yang lain yang mengatakan “ye ye ye ke Gunung Jaddih”.

 

Mari duduk di jembatan ini

 

Kami pun sudah sampai di desanya dan untuk mencapai gunung tersebut kami masih harus mengayuh sepeda kami beberapa saat lagi. Melihat kondisi anak-anak yang terlihat mengkhawatirkan, saya pun mengatakan kepada mereka “berhenti di jembatan sungai itu, kita foto-foto dulu di sana”. Kami pun berhenti, memarkir sepeda di samping kanan sungai dan kami duduk-duduk di atas jembatan sambil menikmati kesegaran udara dan kehijauan desa Jaddih.

 

 

Ini yang bikin saya jatuh cinta sama sawah

 

Setelah beberapa menit duduk, kami melanjutkan perjalanan kembali, dan sesaat atas permintaan saya karena terlihat gardu di tengah sawah saya minta mereka berhenti lagi dan kami pun duduk-duduk sebentar di sana. Saat beberapa dari kami sedang menuju ke gardu dan yang lain menunggu di atas, ada beberapa pengendara motor yang melototin saya (kata mereka) dan mereka berteriak memanggil saya untuk tak berlama-lama di situ karena bisa berbahaya dan takut diapa-apain. Saya pun bertanya kepada mereka “emang bakal diapain?, diapa-apain gimana?”, mereka mengatakan :”di sini bahaya banyak penjahatnya”, makin tertawa saya dibuat walaupun memang realitas seperti itu kata kebanyakan orang lalu saya mengatakan kepada mereka:”terus buat apa ada laki-lakinya di sini, gak mau bantuin gitu, laki-laki kok penakut”, mereka pun langsung mengatakan :”gak takut mbak, aku berani sama mereka”, terus sang pemimpin yang melencengkan arah tadi menjawab juga dengan mengatakan :”nanti saya lempar batu klo macem-macem” (lol aja deh dibuatnya, terimakasih para pahlawanku).

Perjalanan menuju gunung pun dilanjutkan, saya baru pertama kali ke sini sehingga harus banyak bertanya sama orang yang kebetulan sedang di sawah mengenai lokasi gunung Jaddih. Saat menuju track yang diberikan oleh sang petani tiba-tiba ada seorang pengembala sapi atau apalah namanya yang menggerutu di hadapan anak-anak dan itu membuat mereka takut. Kemudian saya pun menyapa laki-laki yang sudah separuh baya tersebut dengan mengatakan “iya pak, kenapa?”, dia pun diam dan melanjutkan perjalanannya. Saya pun mengklarifikasi kepada mereka mengenai apa yang dikatakan orang tersebut dan mereka mengatakan “kecil-kecil kok ke sana, ntar bisa-bisa dibunuh”, saya menenangkan mereka dengan mengatakan : “mana ada penjahat, buktinya banyak rumah juga tuh, ada juga pesantren, udah lah gak usah takut, orang kita juga gak bikin salah, jangan lupa permisi klo ada orang soalnya kita orang baru di sini”.

Jalan menuju gunung pun semakin dekat dan menanjak pula. Mereka sudah tak berdaya lagi mendaki ke atas, dengan santai saya mengatakan “udah capek ya? apa pulang aja kita dan turun aja”, ada satu yang mengatakan : “jangan mbak, sayang udah sampe sini, masak balik”, saya : “masih kuatkan?”, mereka dengan serempak menjawab : “kuat” (dengan muka yang sudah memerah dan separuh nafas).

 

keserasian warna

 

Gunung sudah terlihat berwarna putih, serasi sekali dengan warna langit yang membiru terang dan mengandung rona keputihan. “Itu gunungnya” kata mereka, “ayo kita ke sana, kita letakkan sepedanya di sini, kita jalan kaki ke sana” kata mereka lagi. Saya langsung menjawab :”hah, sepedanya di parkir di kuburan, yang bener aja, emang gak ada tempat lain apa, parkir dekat gunung aja biar kliatan, lagian gunungnya masih ke sana, harus turun lagi terus naik”. Baik saya maupun mereka kurang begitu tahu ihwal gunung itu, maka posisi di depan saya ambil alih supaya tracknya lebih terbaca dan dimana kami akan turun. Saat melihat hamparan gunung yang berwarna putih itu karena dijadikan sebagai tempat pengambilan dan pengolahan batu bata berwarna putih alangkah senangnya mereka dengan mengatakan “wow..bagus mbak”, saya bertanya balik : “seneng gak?”, dengan serentak dan kompak mereka menjawab : “Senengggggggg!!!!”.

 

Berasa ada di Ice Skating "Senengggg"

 

Setelah beberapa menit menikmati lembah gunung, mereka pun memulai pendakian dan saya di bawah dulu untuk menjaga sepeda dan investigasi lokasi sekitar apakah aman atau tidak. Walaupun tadinya sudah menitipkan sepeda ke seorang ibu yang sedang memotong batu dan menyaringnya tetap saja masih was-was karena baru pertama kali juga ke sini. Mereka sudah mencapai puncak dan saya masih di bawah, saya berteriak dari bawah supaya jangan terlalu ke atas nanti takut jatuh dan ada apa-apa. Bak para bocah petualah dan pejuang 45 mereka menyusuri sisi-sisi gunung dengan berjemaah. Saya kan penasaran juga ingin ke sana “kok belum ada yang turun ya?”. Akhirnya beberapa menit menunggu, ada juga yang turun dan saya pun meminta mereka untuk menjaga sepeda dan kalau ada apa-apa teriak saja karena saya mau naik ke atas gunung menghampiri yang lain.

 

Guanya kok lengket ya?tanya kenapa?

 

 

Pak pinjem dulu ya

 

 

Horrreee

 

Wah, pantas saja mereka tidak turun-turun karena ternyata banyak mainan di atas mulai dari gua, bapak pemotong batu yang sedang asyik dengan pekerjaannya sampai ke puncak gunung yang kata mereka dekat sama langit dan mereka ingin ke atas terus supaya bisa memegang langit.

Setelah puas menuju puncak gunung maka kami “diperintahkan” untuk turun karena kami harus kembali ke rumah masing-masing. Agak lama membujuk mereka karena ada saja macam-macam penawarannya. Sesampai di lembah, 2 penjaga sepeda menceritakan kepada kami bahwa ada ibu-ibu pemotong batu bata yang kasihan melihat kami karena kami dari desa seberang “kalau tahu mau ke sini dibikinin pisang goreng sama minum”kata ibu-ibu tersebut yang ditirukan oleh kedua anak tersebut. “Terimakasih ya Ibu-ibu atas kebaikan hati ibu-ibu sekalian, lain kali kalau kami akan pasang pamflet dulu supaya ada sambutan untuk kami” (bcanda ya Bu). Kami pun kembali ke kampung kami dengan oleh-oleh cerita yang tak bisa ditukar dengan semangkok bakso dan segelas cendol. Kami senang karena sudah sampai ke sana. Bersepeda, Mendaki dan Bersawah Ria merupakan kenikmatan pagi yang tak terhingga nikmatnya. Apalagi sepulangnya dari Jaddih mampir dulu ke pasar buat beli es cendol, es kelapa dan es melon untuk menghilangkan dahaga kami, ditambah makan sate bumbu bersama-sama….”Indahnya bersama, Indahnya Pagi”.

 

Ini baru namanya sate madura

 

 

kapan ya naik kuda?

 

Sekian, semoga ceritanya bermanfaat.

-Great Journey, Great Weekend by Great Kids-

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

2 Responses to (Gunung Jaddih; kami hadir) 3 in 1 Around I Like, I Do

  1. nenn says:

    waw bagus juga tempatnya, oh ya mbak boleh saya tanya mengenai gunung kapur di jeddih itu?
    apa benar sangat berbahaya kesana sendirian? soalnya saya mau meneliti daerah kapur tersebut untuk TA saya, tapi sedikit takut karena lokasinya yg sangat jauh. makasi sebelumnya😀

  2. Is says:

    Gak bahaya juga siy, yang penting gak macem2 aja sama penduduk lokalnya. Intinya siy, dimanapun itu tetep jaga sikap dan hormati kearifan lokal setempat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s