Sengaja Mandi Hujan

Alhamdulillahirabbil’alamin,

Mandi hujan mari!

Terimakasih atas kesehatan yang diberikan sehingga bisa lebih fit kembali, alangkah luar biasanya nikmat sehat itu Yaa Syifa, jauhkan saya dan keluarga dari segala macam penyakit.

Laporan kembali di blog ini setelah beberapa sempat acuh tak acuh dikarenakan ada beberapa hal yang menyita waktu, tenaga serta kesehatan. Kembali menulis meski dengan tulisan yang sederhana merupakan sebuah anugerah yang tak dimiliki banyak orang dan sudah sepatutnya bersyukur untuk ini semua…Alhamdulillah.

***

Beberapa hari yang lalu meski dalam kondisi fisik yang agak-agak gimana gitu…dibilang sehat tapi sakit dan sebaliknya dibilang sakit tapi sehat, nah bingung kan? saya juga bingung waktu itu, tapi apa mau dikata namanya juga begitu ya mending tak dibingungin aja tak iye?. Saya mengguyurkan diri di tengah derasnya ujan, karena saya terhipnotis dengan cerita seorang sahabat yang pada saat kami makan bakso bersama dia bercerita betapa nikmatnya mandi hujan pada saat deras. Pada saat itu saya katakan kepadanya bahwa kalau sudah tua seperti ini bukannya mandi hujan tapi kehujanan terus. Lantas dia pun mendeskripsikan dengan bahasanya bahwa dia benar-benar menikmati derasnya hujan saat itu dengan mandi di depan halaman rumahnya bersama sepupunya. Kalau di masa-masa kecil dulu adalah hal yang biasa bagi saya untuk melakukan ini, bahkan hal ini dilakukan secara berjemaah bersama dengan teman-teman sepermainan saya di rumah. Nah, kalau untuk sekarang-sekarang rasanya saya belum pernah menikmatinya sehingga adalah hal yang baru yang mesti saya cicipin.

Sambil mencuci baju saya pun membasahi diri dengan pakaian dan jilbab saya di tengah-tengah derasnya hujan, sang ponakan sempat ikut-ikutan adegan ini, namun dikarenakan alasan kesehatan dan dilarang oleh ayahnya maka ia pun menarik diri dan menangislah ia karena tak jadi mandi hujan (makanya, anak kecil itu jangan suka ikut-ikutan orang tua,). Tadinya ingin membasahi diri di pancuran air yang berasal dari genteng rumah namun setelah memikirkan alasan higienisitas airnya yang sudah bercampur dengan debu-debu/kotoran dari genteng maka keinginan pun diurungkan. Hanya membasahi diri dengan guyuran air yang berasal dari langit. Subhanallah, alangkah adilnya Allah yang senantiasa meriingankan beban manusia dengan jawaban-jawaban alam yang dihadirkan. Bayangkan saja, kalau lantai rumah saja kotor harus dipel, bagaimana jika genteng yang kotor? apakah kita sanggup untuk mengepel/membersihkannya. Dengan hujan Allah membantu manusia untuk membersihkan kotoran-kotoran yang menempel padanya.

Hujan yang banyak memberikan esensi dan suatu flash back diri yang bermanfaat. Kesengajaan mandi hujan membuat cucian saya selesai dan genteng-genteng di rumah tak perlu dilap satu per satu.Jika dulu hanya menikmati hujan untuk sekedar main-main, maka hujan yang sekarang adalah hujan yang penuh arti. Berapa banyak debit air yang telah Allah tumpahkan ke bumi untuk kepentingan manusia namun sering kita tidak menyadarinya. Begitupula dengan nikmat Allah, alangkah banyaknya yang diberikan namun sedikit sekali yang kita syukuri. Kita banyak meminta dan menerima dari Allah, namun begitu sedikitnya kita memberi kepada Allah…memberi sedekah, memberi waktu untuk beribadah kepadaNya, memberi senyuman, memberi bantuan kepada yang membutuhkan, memberi ilmu, memberi yang lainnya.

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s