Berwisata Tembakau Gratisan di Meddalan, Sumenep (2 of 2)

Bismillah,

Esensi sebuah perjalanan bukan sekedar untuk menikmati pemandangan, tapi lebih memandang diri dengan semakin bersyukur dan mengakui betapa kecilnya kita

Kembali lagi dengan cerita tentang perjalanan saya ke Sumenep, cerita sebelumnya bisa dilihat di postingan dengan judul yang sama tapi bagiannya saja yang berbeda. So, just enjoy !!!.

Hari Pertama di Desa Meddalan, Sumenep

Menjelang sore kami bertiga (Saya, Dian Feat Suami) sampai di desa Meddalan. Di kampung yang baru pertama saya tapaki tersebut saya bersyukur karena atas ijin Allah saya bisa ke sana, berwisata desa dan sambil silaturrahim juga. Keinginan untuk bercengkrama dengan alam pun terpendam. Bahasa hati saya pun terdengar oleh sahabat, dia mengatakan bahwa nanti sore adalah waktu yang tepat untuk jalan-jalan ke sawah menikmati alam sekaligus mengambil gambar.

Kehadiran kami disambut oleh guyuran hujan yang deras dan baru berhenti sehabis maghrib. Keinginan ke sawah pun tertunda dan berganti dengan interaksi bersama anggota keluarga mertuanya. Saat sampai di rumah mertuanya dan duduk-duduk sebentar kemudian setelah ditunjuk kamarnya dimana seperti biasa saya yang pelor (nempel langsung molor) tertidur sejenak sampai akhirnya terbangun kaget karena belum sholat ashar. Selesai sholat ashar duduk-duduk di ruang tamu dan menikmati obrolan lanjutan bersama anggota keluarga yang lain. Senyum ketulusan dan beberapa baris kalimat tanya yang apa adanya hadir dari mereka. Kata tidak bisa mengungkapkan isi hati, hanyalah pengembalian senyum yang bisa membalas kebaikan  hati mereka.

Malamnya, setelah sholat maghrib saya keluar rumah sebentar dengan ditemani sahabat saya untuk berkunjung ke rumah tetangga dan menunaikan janjinya dengan memperlihatkan sebuah rumah yang masih bernuansa rumah Madura tempo dulu. Kalau diuraikan dalam bentuk kalimat arsitektur rasanya saya tak mumpuni, yang jelas rumah ini benar-benar terjaga originalitas kemaduraannya dan perabot yang di dalamnya pun masih kuno. Ada tempat tidur ukiran yang katanya bawaan sang suami saat dulu menikah, ada juga tungku yang unik dengan konfigurasi berjejer 2 (kayak kompor gas)., ada sepeda ontel yang lawas (sayang sepedanya ada palangnya dan ketinggian jadi susah dipake buat cewek), dll..”wow, beneran Madura banget, masih ada ya yg begini”kata saya.

Rumah Mbah yang Madura Abis

Selesai melihat-lihat ke rumah Mbah, duduk-duduk sebentar bersama mbah dan suaminya yang di dalamnya mengangkat topik tentang tembakau karena kebetulan di teras rumahnya ada tembakau yang dijemur. Hadirlah istilah-istilah proses tembakau yang baru saya kenal dan yang terpenting adalah banyak pengetahuan tentang tembakau yang saya dapat dari mereka. (Menarik), begitu adilnya Allah membagi-bagikan rejekinya ke setiap daerah atau pedesaan, ada yang dengan tembakau, ada juga dengan teh, ada pula yang cokelat serta yang lain. Obrolan bersama mbah dihentikan dulu karena sahabat saya mengajak berkunjung ke rumah tetangga sebelah mbah yang kebetulan sedang ada beberapa penduduk yang berkumpul. Senyum pun saya tendang dan mereka pun menangkap senyum saya dengan mengatakan “ouw ini yang dijemput tadi itu?, silahkan duduk dik” kata salah seorang dari mereka. Saya menjawab pertanyaan mereka dengan “iya” dan kemudian sahabat saya memperkenalkan dan menceritakan sedikit tentang saya. Walau agak berlebihan sedikit, tapi ya sudahlah namanya juga sahabat sekali-kali kan boleh menaikkan pamor sahabatnya (kok saya yang lebay ya). Obrolan pun tercipta dan chemistry-nya pun semakin dapat dengan semakin beragamnya topik dan variasi obrolan yang dituangkan. Sampai-sampai merasa sudah lama mengenal mereka. Dengan dihidangkan aneka kue lebaran, obrolan semakin asik dan sahabat pun menawarkan apakah saya mau makan bakso, “yup, tentu saja, saya mau, pengen ngerasain bakso sini” kata saya. Lantas dia pun membalas “emang tamunya gak tau malu”, dan orang-orang yang berkumpul di situ mengatakan “enak yang kayak gitu, tapi baksonya gak seenak di sana (baca : di Burneh)”, saya : “nanti klo malu-malu bisa kelaperan mending diungkapin aja, bakso di rumah saya emang enak tapi gak bisa tiap hari makannya soalnya bisa bikin enek, makanya ntar main-main ke rumah nanti saya beliin bakso”.

***Ngobrol-ngobrolnya masih panjang***

Hari Kedua di Desa Meddalan, Sumenep

Karena sudah mau malam (padahal masih jam 9an lewat), kami pun kembali ke rumah dan karena mengantuk berat jaya saya tidur duluan. Di hari pertama saya tidur di desa ini tiba-tiba terbangun sekitar jam setengah 4 pagi (nuansa-nuansa Ramadhan masih terasa), setelah melihat HP jam segitu saya pun melanjutkan tidur lagi dan baru bangun lagi sekitar jam 5an. Selesai sholat shubuh kami pun Horeeeee!!!! jalan-jalan ke sawah yang isinya tembakau kebanyakan.

Pagi Perdana di Desa Meddalan

Sambil berjalan menuju sawah, saya melihat ada sebuah rumah yang asri karena depan belakang dan kanan kiri ber-wall paper alam. “Wah…bagus niy rumah klo buat hari tua, apalagi klo ditambah musholla di depannya, terus banyak anak2 kecil yang ngaji biar rame, bisa berkebun sendiri lagi, seru kali tuh” kata saya ke sahabat.

Rumah masa tua, seru kali tuh

Alhamdulillah, segarnya udara sawah di pagi hari. Tapi tak bisa tiap hari juga tinggal di desa yang begini karena tak punya privasi, setiap orang bebas keluar masuk rumah, cek isi rumah dan isi dapur bahkan isi dompet, kadang butuh waktu sendiri juga untuk berpikir kalau kayak begini kan bisa bertambah pusing, untuk selingan dan refreshing boleh lah.

Perjalanan selanjutnya adalah menuju area tembakau, yang pada awalnya saya menebak itu adalah daun bayam karena daunnya mirip daun bayam tapi setelah berada benar-benar di dekatnya memang bukan seperti daun bayam, ternyata kesalahan ada kacamata yang tak dikenakan.

Menghisap daun tembakau (gak pake uhuk uhuk)

Sambil berjalan-jalan, Dian mengedukasi dan memberikan informasi tentang daun tembakau dan kondisi petani tembakau saat-saat ini yang sedang mengalami banyak kerugian dikarenakan kondisi cuaca yang tidak bisa diprediksi. Petani tembakau itu banyak modalnya dan paling rumit kerjaannya dibandingkan dengan petani-petani yang lain, tapi tentu saja kerumitan dan modal yang besar terbalas dengan hasil yang besar juga jika cuaca mendukung.

Meski daunnya rusak, tetap bernilai ekonomis

Tampak pada gambar di atas daun tembakau yang berwarna kuning dan bolong-bolong. Meski demikian, tak berarti dibuang begitu saja, daun-daun ini tetap akan diproses untuk menghasilkan tembakau yang dijual ke industri-industri rokok dengan media tengkulak. Harga yang diberikan oleh para petani sendiri sebenarnya murah tapi untuk permainan harga di pasar diaktori oleh para tengkulak dan produsen rokok. Sasaran industri rokok untuk kualitas tembakau yang kurang bagus adalah pabrik rokok yang segmennya adalah menengah ke bawah. Selain daun, batang tembakau juga bisa digunakan untuk memasak (nah yang ini saya masih belum paham, harus kembali ke sana lagi kayaknya).

Daun tembakau dengan kualitas kurang bagus sedang dikeringkan

Daunnya sedang berbunga, ini yang bagus

Di sekitar petakan-petakan sawah tersebut tidak hanya ditanam daun tembakau tapi juga ada beberapa tanaman yang lain seperti pohon bambu, singkong dan yang paling khas di Sumenep adalah adanya pohon jati.

Setelah berinteraksi dengan sawah, sandal pun rusak karena keberatan menahan beban tanah liat yang berkilo-kilo sehingga perlu cuci-cuci dulu dan mengakangkat kotoran di sandal pinjaman agar sandal kembali beroperasi normal dan dikembalikan ke pemiliknya. Tanah liat ini diakibatkan oleh guyuran hujan yang tiada hentinya sehingga mengakibatkan kondisi tanah di persawahan menjadi becek. Tak menyesal walau kaki becek dan sandal pinjaman hampir putus, bisa menginjakkan kaki di petakan tembakau saja sudah sangat bersyukur.

Setelah bersih, diiringi oleh turunnya hujan yang rintik-rintik, kami menuju kandang sapi untuk melihat sapi yang katanya sangat besar dan dijuluki dengan limosin. Diberi nama demikian karena merupakan sapi dari Australia. Kalau sapinya hasil perkawinan antara Madura dan Australia namanya Madurasin jika tidak salah (ada aja deh, sapi aja ada yang peranakan/indo). Sayang limosinnya tak bisa dilihat secara menyeluruh karena bau kandangnya yang menyengat ditambah tanahnya yang super becek di sekitar kandang (gak ngebayangin bakal nyuci kaki sampe berapa lama).

Limosin di paling ujung

Dikarenakan kondisi limosin yang sangat gemuk makanya ia tidak dipekerjakan di sawah dan tinggal di “rumah” menunggu supply makan dari majikan. Dan rencananya ia akan dijual dengan kisaran harga sekitar 20-30an juta. Pertanyaan saya pun muncul ke salah seorang ibu di sana “lah, ke sawah aja gak bisa, kenapa mahal harganya?”, beliau menjawab :”jangankan ke sawah, ke pasar aja gak bisa jalan sendiri, harus ada mobil angkutan yang membawa, mahalnya di dagingnya”, saya: “ouw ya ya” (kaya juga jadi pedagang sapi).

Kami pun kembali ke rumah dan emak (sapaan untuk mertua Dian) sedang sibuk memasak di dapur. Sebelum memasak saya ditawari mau makan apa dan seperti biasa saya katakan bahwa makan apa aja saya juga mau jadi santai saja kalau masalah ini. Sepupu bebek pun disembelih untuk sarapan pagi itu, dagingnya agak alot tapi gurih ajibbb dan baru kali itu saya makan sepupunya bebek (ntah bahasa Indonesianya apa saya gak tau, klo bahasa jawanya Mentok).

Mentok mentok, Mak...jangan lupa baca basmalah pas nyembelihnya

Sayur ini ditambah beras jagung = AJIBBB

Sarapan tak terlupan : sepupunya bebek+sayur maronggi ditambah beras jagung+sambel mangga+nasi jagung = begitu kental cita rasa desanya dan I LIKE THIS. Ouw ya, berbicara tentang sambal ada hal yang menarik di sini dimana sambel di sini jarang sekali menggunakan cabe merah, terasi dan kawan-kawan. Sambel di sini biasanya menggunakan petis asin+cabe yang kecil-kecil+mangga yang dicincang kecil-kecil (kalau lagi musim mangga), jadi setiap hari orang di sini menyediakan petis asin…”wah walaupun saya orang Madura juga saya tidak cocok klo tiap hari makan petis asin, bisa-bisa kumat alerginya”.

Setelah selesai sarapan pagi, sekitar jam 8an kami bertiga ditambah dengan 3 orang teman Mashuri bersilaturrahim ke rumah temannya yang berlokasi di sekitar pantai Lombang. Kebetulan teman yang dikunjungi tersebut memiliki pesantren dan sekolah serta perkebunan kelapa yang luas. Kami pun keciprtan kelapanya untuk dibawa pulang. Menu yang menarik saat kunjungan itu adalah es kelapa dengan kompisisi sebagai berikut : kelapa muda yang dikerok isinya+air kelapa+susu+es = MANTAP dan Tak terlupakan kesegarannya, lain kali boleh mencoba bikin sendiri.

Sepulangnya dari silaturrahim, kami mampir dulu ke pantai Lombang yang khas dengan cemara udangnya. Ini merupakan kunjungan saya yang kedua setelah sebelumnya bersama teman-teman saya dari Jakarta. Suasananya cukup berbeda dan kaget melihat kerumunan orang yang sebanyak itu ditambah dengan banyaknya perahu-perahu yang bisa digunakan untuk menikmati tengah pantai lombang, ada juga kuda, pedagang bakso, penjual kelapa muda, rujak dan lain-lain.

Bersama teman2 seperjuangan di Pantai Lombang

Tak cuman di kota, di kampung pun jadi

Menuju pantai Lombang

Kini, Masuk pantai Lombang GRATISSSSSSSS

Untuk yang kedua kalinya kunjungan ke pantai ini kami melihat-lihat panorama pantai dan saya sendiri memandang bonsai-bonsai cemara udang dan bonsai lain yang dijual di pintu masuk menuju pantai. Kami juga naik perahu ke tengah pantai dan berjajan kecil-kecilan di sekitar pantai, saya dan Dian membeli bakso (penjual pentol) yang sedang berdiri dengan sepedanya menunggu pelanggan terakhir karena baksonya sudah mau habis.

Bukan saya yang bikin

Dipilih dipilih

Penakut malah minta naik perahu...yeee

Meski ke Pantai Jibab Tetap Dipake deh

Puas dengan pantai Lombang kami melanjutkan perjalanan ke kota untuk mengisi perut. Kami pun berhenti di sebuah warung yang berjualan rujak juga kaldu. Mashuri menawari saya untuk makan rujak atau kaldu, saya langsung menjawab : kaldu. Saya penasaran dengan jenis makanan ini seperti apa, sedangkan Dian lebih memilih rujak. Alamak, setelah saya makan kaldunya saya tahan-tahan keenekannya dan saya hanya mampu menghabiskannya separuh karena makanan ini kurang begitu kompatibel dengan lidah dan perut saya. Bayangkan saja, kaldu merupakan kacang ijo yangg diberi bumbu…hal yang tak biasa bagi saya.

Bukan kacang ijo biasa (Apa rasa?)

Kenyang dengan menu khas Sumenep, kami pun kembali ke rumah di desa Meddalan. Selesai sholat ashar saya dan Dian jalan-jalan sore melewati sawah untuk ke melihat pasar Lenteng lebih dekat. Rupanya banyak sapi di sana karena hari itu adalah hari minggu.

selamat senja tembakau, kok bagus2 ya daunnya

Karena sudah mau menjelang maghrib kami pun kembali ke rumah dan bersiap-siap untuk sholat maghrib. Berhubung nanggung waktunya sehingga sekalian menunggu waktu isya’. Selesai sholat isya’ kami makan dengan sambel khas di sana (dengan petis asin) kemudian duduk di ruang tamu dan Bapak menampilkan VCD pernikahan Dian-Mashuri yang saat itu tidak bisa saya hadiri karena saya baru saja tiba dari tanah suci. Penayangan video pun berlanjut dengan tayangan-tayangan lain yang berhubungan, yaitu :  pernikahan di Sumenep, Bangkalan di gedung Rato Ebu, akad nikah sampai tukar cincin/pertunangan yang semuanya tidak saya hadiri dikarenakan waktunya yang tidak pas. Satu komentar saya  terhadap sahabat saya setelah melihat semua tayangan itu : “whew, banyak banget ritualnya, ini niy yang gak saya suka dari Madura, padahal tujuannya satu tapi ritualnya serenteng”.

Hari Ketiga di Desa Meddalan

Merupakan hari pamungkas kunjungan kami di sana karena kami harus kembali ke desa kami tercinta. Sang mertuanya pun meminta saya untuk tetap tinggal beberapa hari lagi di sana dengan merayakan lebaran ketupat di sana dan biarkan saja Dian-Mashuri pulang duluan. “Waduhh, nanti emak bosan sama saya klo lama-lama di sini”kata saya, beliau pun membalas :”enggak kok, malah senang ada kamu di sini jadi rame, takutnya kamu yang gak betah di sini”, saya:”wah, saya siy betah-betah aja mak”. Disamping emak, ibu yang lain juga merayu saya supaya tak cepat-cepat kembali ke Bangkalan, sampai-sampai ada yang menawarkan saya untuk mengajak ke taman bunga, pantai lombang dan pantai apalagi gitu..”halah emang saya anak kecil pake dirayu begituan”(dalam hati). Seraya tersenyum mengatakan :”nanti lain kali, insyaAllah ke sini lagi, klo gak Ibu ntar yang ke rumah makanya do’ain aja”.

Kiriman oleh-oleh pun bertaburan dari para tetangga dan tuan rumah mulai dari kue bikinan mbah, timun+petis asin yang dibeli di pasar lenteng oleh salah seorang kerabat tuan rumah, pisang yang mengambil sendiri dari belakang rumah, singkong yang dipetik sendiri oleh Bapak dari kebun, untung saja ayam sama sepupunya bebek tak dibawakan. Terimakasih semua atas oleh-olehnya.

Pisang raja buat oleh2

Selain oleh-oleh yang diperoleh gratisan, kami juga membeli oleh-oleh tambahan yaitu buah lontar (dalam bahasa Maduranya Ta’al) yang harga per plastiknya 800 rupiah (jika bukan lebaran hanya seharga 500 rupiah).

Lontar Lontar

Sebelum meluncur langsung ke desa kami, mampir dulu ke salah satu sahabat SD kami dulu di Sampang yang memiliki toko pakaian di sebuah pasar di tengah kota untuk bersilaturrahim.

Sahabat2 Masa SD dulu

Epilog

Alhamdulillah, perjalanan yang menyenangkan karena merupakan wisata silaturrahim, wisata kuliner sekaligus wisata desa. Semoga memberikan keberkahan bagi semuanya dan terjaga dengan baik silaturrahimnya. Yaa Jami’…kuatkanlah silaturrahim kami dan limpahkanlah kasih sayangmu kepada kami semua.

Terimakasih semuanya atas keramahan dan pelayanan yang diberikan, jangan lupa kunjungan baliknya ke desa saya tercinta.

-Salam Persaudaraan untuk Semuanya-.

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s