Berwisata Tembakau Gratisan di Meddalan, Sumenep (1 of 2)

Alhamdulillah,

Masa depan adalah mimpi saat ini. Oleh karenanya masa depan adalah sesuatu yang belum pasti. Kepastian tersebut adalah pilihan yang kita tetapkan pada saat ini. Untuk segeralah menetapkan pilihan tersebut.

5 W + 1 H

Obrolan iseng ternyata membuahkan hasil dengan kehadiran saya di desa Meddalan, Sumenep pada hari Sabtu, 11 September 2010 (H+2 Lebaran). Setelah beberapa kali dibujuk, dirayu dan diajak untuk ke sana sehingga pada hari tersebut saya hadir ke sana atas keinginan sendiri dan tanpa paksaan dari pihak manapun. Dengan ditemani sekaligus menemani bulek dan 3 sepupu saya, kami pun berangkat ke Sumenep di pagi hari dengan nebeng mobil Paman sampai Sampang karena hari itu ada tetangga Paman di  rumahnya di Surabaya yang meninggal. Tidak kecewa walaupun tidak jadi diantar sampai Sumenep. Dari Sampang, kami naik bis Mini Marem karena batang hidung bis PATAS AKAS tak terlihat. Tarif yang ditawarkan awalnya asal bunyi saja karena dikira kami bukan orang Madura mungkin. Beuuuuh, saat bulek saya mengatakan tariif Sampang-Sumenep 25 ribu spontan saya mengatakan untuk menunggu Akas saja dan sangat mahal padahal naiknya kan tidak dari Bangkalan…”Gak usah ikut itu, mahal, enak aja klo ngasi harga”kata saya. Sang crew Marem berusaha jaim dan kami pun makin tak peduli (strategis customer mode : on), dan kemudian mereka menurunkan harga 20 ribu dan kami pun makin menurunkan menjadi 15 ribu, saya pun mengatakan ke bulek “klo mau naik aja, klo gak mau biarin aja dia brangkat”. Bulek pun mengulang masukan kami ke para crew dan akhirnya setuju.

Saya pun menghubungi seorang sahabat yang sudah berada di rumah mertuanya 3 hari sebelum lebaran dan kehadiran saya di Sumenep merupakan bagian dari perjanjian dan komitmen kami. Saya mengatakan kalau ke sana saya minta jemput di terminal atau dimanalah dan dia berjanji untuk menjemput saya bersama suaminya. Tadinya saya akan dijemput dengan motor, namun karena kondisi cuaca yang tidak bisa diprediksi dan yang saya bawa rentengan maka ia pun menjemput dengan mobilnya. Meeting point ditentukan, kami akan dijemput di masjid Agung Sumenep.

Sambil menunggu jemputan, kami berempat menikmati originalitas Masjid Madura dengan sholat dan foto-foto. Inilah kunjungan saya kedua setelah beberapa bulan yang lalu mampir sholat maghrib bersama teman-teman kampus yang kebetulan liburan ke Madura. Jika pada kunjungan pertama saya belum sempat mengeksplorasi isinya maka untuk yang kedua ini alhamdulillah kondisi masjid sangat lengang sehingga kami bisa menikmat setiap sudutnya.

Suasana Lebaran Masih Terasa

Selamat Datang Pengunjung

Masih ingat tentang tulisan saya mengenai objek wisata di Madura di blog sebelah yang menceritakan tentang beberapa tempat wisata di Madura yang terus terang saya juga belum pernah ke sana. Dan alhamdulillah, dalam sebuah tulisan ternyata menyimpan kekuatan. Besrsyukur saya bisa mengunjungi beberapa tempat itu. Jadi menulis pun jangan hanya berorientasi hasil tapi yang lebih penting adalah berorientasi pada prosesnya.

Menuju arah masing2

Di sekitar teras masjid

Ciluk Ba

Cuci2 lalu wudhu' trs sholat

Wisata K.u.l.i.n.e.r

Selesai kami sholat dzuhur, Dian dan suaminya tiba di masjid dan kami pun meluncur ke rumah mertua bulek saya yang daerahnya bernama Lenteng (tepatnya di desa Lak Laok). Sebelum menuju ke sana suami sahabat saya tersebut menawarkan apakah saya lapar dan dengan cepat saya jawab “ya saya lapar, tap jangan makan nasi”. Dia pun menyetir dengan pelan-pelan di sekitar kota Sumenep sambil mencari penjual rujak, sebenarnya ia ingin menawarkan dan memperkenalkan makanan yang bernama KALDU namun karena tidak ada yang menjual kami pun makan rujak. Ya rujak Sumenep sangat berbeda dengan rujak Bangkalan atau rujak Surabaya, sederhana…variatif dan tidak banyak asesoris.

Masukkan bahan2nya dulu

Inilah bahan-bahan untuk membuat rujak Madura/rujak Sumenep (saya tau dunk yang beginian, tapi beli itu kok lebih enak ya) : Bawang putih yang digoreng tipis-tipis, kacang secukupnya, pisang biji supaya tidak sakit perut,cabe sesuai selera, garam dan penyedap rasa secukupnya, air, petis asin (ini yang terpenting, harga petis asin di sini hanya berkisarantara 2000-5000, kalau di Mall mungkin 12.000). Lalu ulek semua bahan.

Nguleknya pake dua tangan, hebat tenaganya

Nah, saat bumbunya sudah halus, makanya bumbunya siap untuk dituangkan dan disiramkan ke buah yang sudah disiapkan sebelumnya.

Serok bumbu halus dengan daun yang ada di pinggir ulekan

Komposisi rujak sumenep

Komposisi rujak sumenep : mentimun (mentimun di Sumenep bersih dan renyah), tahu, toge pendek, mangga muda (kalau lagi musim) dan aneka keripik singkong yang dikremes-kremes. Bumbu yang sudah dihaluskan tadi disiram ke atas buah ini yang sudah dikremesi keripik singkong. Inilah hasilnya :

Ini baru rujak yang gak R.I.B.E.T (like this)

Selesai makan rujak, kami melanjutkan perjalanan menuju ke rumah mertua bulek saya. Inilah perdana saya ke daerah sana. Walaupun bertahun-tahun bersatuskan ponakan bulek saya, lebaran 1431 H inilah yang membawa saya ke sana. Hal ini dilatar belakangi dari pertanyaan iseng saya di masjid saat sholat shubuh beberapa hari menjelang lebaran “lek gak pulang ke Sumenep?, klo pulang aku ikut ya”, tampak aura kebahagiaan bulek saya karena tumben-tumbenan saya berinisiatif untuk ke Sumenep. Maka dengan respon yang sangat positif dia pun mengajak saya dan tentu saja semua akomodasi beliau yang menanggung.

Saya tahu sebenarnya adik bungsu ibu saya ini paling MALAS kalau diminta mudik ke sana. Saking dari tidak betahnya diajak mudik ke sana sampai-sampai suaminya berangkat duluan ke sana. Untung saja masih Madura-nya, tak membayangkan kalau suaminya orang luar pulau bisa-bisa ketemu mertuanya bukan setahun sekali. Ia lebih betah di kampungnya sendiri dibanding kampung suaminya. Kebalikannya sahabat saya yang kerap pulang ke Sumenep menemani suaminya, dia merasa nyaman di sana karena selain bisa menemani suaminya juga suasananya yang masih natural di sana (ini yang bikin saya penasaran..).

Sampai juga di rumah mertua bulek saya, keluarlah Om saya dengan mengenakan sarung dan topi hitam yang bergaya Madura. “Om, jauh bener rumahnya” kata saya. Kami pun masuk ke dalam ruang tamu, bersalaman dengan para pengisi rumah, duduk dan menunggu santapan lanjutan (sudah pasti ini mah, udah tradisinya di Madura). Dalam penantian santapan itu, saya bertanya ke bulek saya “ketemu dimana sama Om? kok bisa sejauh ini rumahnya” (hehehehehehhehe). Sahabat saya pun menyambung “ntar rasakan lek klo dapet suami orang gunung”, saya : “wuiihhh, asik tuh, bisa mendaki tiap taun buat mudik”.

Sebelum pamitan untuk menuju TKP selanjutnya, kami makan dulu hidangan yang disediakan oleh tuan rumah (baca : mertua bulek). Inilah soto Sumenep, sangat berbeda dengan soto Bangkalan yang ramai isinya, soto di sini cukup bersahaja dan tidak neko-neko (tapi untuk soto saya lebih suka Bangkalan punya, lebih enak..mantap dan ajiiiib) :

Soto Sumenep

Asalkan berkuah, makanan apaun enak

Menuju ke rumah Mertua Dian di Meddalan

Selama di perjalanan, saya selalu bertanya ke sahabat saya “gimana di sana?, rumahnya sebelah mana?”. Dia pun memberikan analogi tentang suatu desa di dekat rumah kami, tentu saja saya mengatakan “desa banget klo gitu, kok bisa siy ktemu sama suamimu itu” (dengan nada bercanda dan suaminya terbahak-bahak). Dari rumah mertua bulek menuju mertua Dian kurang dari setengah jam (untuk ukuran desa ini jauh), dengan jalan berkelok-kelok dan sawah di kiri kanan serta rumah dengan ciri khas Madura dimana teras depannya luas (ini dipergunakan untuk tamu-tamu yang datang saat diundang acara pengajian/perayaan lain). Woooow….banyak tembakau, pohon jati, pohon kelapa dan penduduk yang rumahnya dipisahkan oleh sawah. Komentar pancingan saya pun hadir “ini lebih parah kayak desa di kampung kita Dian, ini mah desa banget, pantesan aja Mashuri makin bersih tinggal di Burneh”, suami teman saya makin ketawa-tawa mendengar pelecehan dari saya.

Alhamdulillah sampai juga di rumah Mashuri, saya masuk ke dalam ruang tamu dan setelah duduk sebentar saya bertanya ke Dian lokasi kamar mandinya di sebelah mana karena saya ingin cuci kaki disebabkan genangan air di dalam sepatu karet saya saat hujan mengguyur masjid agung tadi. Selesai cuci kaki saya duduk kembali dan sahabat saya senyum-senyum kemudian bertanya “kamar mandinya gimana?”, saya : “biasa aja”, dia :”emang kamu gak nutup pintu tadi?”, saya :”gak, wong cuman cuci kaki aja, lagian gak ada orang juga”, dia :” hahahaha…pintu kamar mandinya gak ada kuncinya”, saya: “wuuiiiih, bagaimana ceritanya klo saya mandi nanti, mending saya gak mandi deh”, dia:”dulu pas pertama kali setelah tunangan ke sini juga kaget pas gak ada pintunya, ntar diintipin dan segala macem, tapi gak kok, udah biasa kyk gitu, udah tau klo ada yang mandi dan gak bakal masuk”. Berusaha menenangkan diri dulu setelah mendapatkan informasi tentang kamar mandi (lebay dimulai deh), Bapak dan Ibu mertua pun hadir di ruang tamu menyambut saya dan bertanya-tanya. Rupanya sahabat saya sudah banyak menceritakan tentang saya, sehingga pertanyaan yang keluar menurut saya adalah bagian dari pernyataan klarifikasi yang kadang hanya bisa nyatakan dalam bentuk senyuman.

Seperti biasa, rangakain tawaran hidangan pun hadir dan syukurlah sahabat saya menceritakan ke Ibunya supaya tidak perlu disuguhkan secara istimewa karena sudahh biasa hidup susah dan tamunya rada tidak tahu malu karena kalau mau minta apa-apa pasti akan ngomong sendiri. Dengan demikian mertuanya tak banyak menyiapkan makanan berat. Sekali lagi saya bersyukur..coba kalau iya bingung saya menghabiskannya. Obrolan demi obrolan pun hadir, dan serangkaian pertanyaan pun hadir dari tuan rumah. Pertanyaan apalagi selain pertanyaan yang belum kita miliki dan belum diraih, manusiawi lah pertanyaan seperti itu dan memang harus dijawab sediplomatis mungkin serta apa adanya.

Mbah, makasih ya apennya

Sore-sore menjelang maghrib, seorang nenek yang masih terlihat guratan kecantikannya membawakan apen ke rumah mertua sahabat dan rupanya beliau adalah Ibunda dari ibu mertua sahabat saya. Saya pun bersalaman dan sungkeman dulu kemudian berbincang-bincang santai dengan bahasa agak roaming. Walaupun sama-sama Maduranya tapi aksen dan kosakata antara kabupaten satu dengan yang lain agak berbeda. Salah satu triknya adalah banyak mendengarkan dan lihat bahasa tubuh mereka dan jika tidak mengerti langsung katakan apa sebenarnya maksudnya “maaf bahasanya berbeda dengan Bangkalan”. Walaupun belum setengah hari di Meddalan namun aroma kekeluargaan sudah terjalin dari obrolan-obrolan santai kami tadi, tidak hanya mbah yang ikut nimbrung di dalam ruang tamu, namun beberapa ibu yang lain yang masih ada hubungan kekerabatan dengan Ibu mertua sahabat juga ikutan dan mengajukan beberapa pertanyaan dan pernyataan repetitif.

InshaaAllah, mendapatkan yang lebih baik dari ini

Mbah, makasih ya atas masakannya

Tentang keluarga mertua sahabat :

Saya melihat ketulusan yang mendalam dan pembawaan yang apa adanya. Mereka bukanlah dari orang-orang dengan gelar akademis panjang bak rel kereta api, namun ketulusan dan kebaikan hati mereka sudah cukup merepresntasikan bahwa indeks prestasi sosial mereka di atas rata-rata. Memperlakukan tamu dengan begitu baik dan ramahnya, hal ini belum tentu dimiliki oleh orang berpendidikan tinggi. Luaaar biasa! mungkin inilah salah satu alasan kenapa sahabat saya memilih Mashuri sebagai suaminya. Saya masih ingat dengan kata-kata suaminya itu “kita lah yang harus memulai sejarah untuk diri kita” kata mantan aktivis dan ketua sebuah himpunan di Jawa Timur ini.

Jadi mending bertamu ke orang yang biasa-biasa saja tapi dengan keramahan yang luar biasa dan mampu memperlakukan tamu sebagaimana kita ingin diperlakukan. Daripada bertamu ke rumah orang kaya tapi tidak bisa memperlakukan tamu dengan baik…rasanya walaupun rumahnya bagus dan semuanya ada tapi kenyamanan hati kurang tercipta. Toh tamu sendiri pun sebenarnya tidak perlu disuguhkan hidangan yang macam-macam dan enak, karena tidak semua tamu orientasinya ke sana…keramahan adalah suguhan istimewa tuan rumah. Dengan kondisi tuan rumah yang minim sekalipun tamu pun jadi betah untuk berlama-lama atau berkunjung sesering mungkin ke rumahnya.

Barengan saudaranya emak

To Be Continued…..

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s