Jalan Menuju PASSION

Where's the passion going on?

“Diam dan bicara adalah sebuah keterampilan. Berbicaralah untuk menguntungkan orang lain dan Diamlah  untuk banyak berpikir”

INTRO :

Dalam menjalani rotasi aktivitas harian dikenal istilah yang namanya juga baru saya dengar pada saat saya menonton sebuah program TV swasta di Jakarta. Entah, lupa nama stasiun TV-nya, sambil bersiap-siap menuju ke kantor saya mendengarkan acara bincang-bincang santai itu. Hadirlah istilah “Whinee People”, mungkin beberapa ada yang sudah mengenal istilah ini, dan bagi yang baru tahu saya coba untuk menyampaikan kembali, whinee people berarti orang yang kerjaannya mengeluh saja, begini sedikit mengeluh apalagi begitu, tiada pernyataan tanpa keluhan pokoknya. Dan perlu diketahui bahwa hal ini “menular”, makanya jangan “dekat-dekat” dengan orang ini supaya tidak tertular. Kata siapa mengeluh itu tidak boleh?, sebagai manusia yang punya akal, rasa dan karsa mengeluh merupakan hal yang sah-sah saja dan bagian gejala psikis manusia, tapi kalau dosisnya berlebihan dan keseringan harap dikurangi saja karena tak bagus buat kesehatan jiwa dan orang lain. Kalau mengeluhnya ada sebuah way out maka monggo saja, tapi kalau keluhannya hanya sekedar pernyataan repetitif dan ia sendiri tak mau “keluar” dari penyebab keluhannya maka tanyakanlah dalam hatinya “sudahkah besyukur hari ini?”, masih bisa bekerja…masih bisa makan…masih punya teman…masih punya uang untuk keluar dari rumah, sementara di luar sana masih banyak orang yang mencari pekerjaan, mengai-ngais makanan di tong sampah, mencari teman, tergeletak tak berdaya karena sakit dan butuh semangat dari temannya dan tak punya uang sepeser pun tapi masih bisa bersemangat menatap hidup.

***

Beberapa jam yang lalu, secara tidak sengaja saya menonton sebuah program TV bernama Motivatalk di MHTV yang dipandu oleh Bayu Setyono dan diisi oleh Rene Suhardono. Topik bahasan kali ini adalah tentang passion. Passion yang dibahas dikaitkan dengan pekerjaan, judul bakunya saya kurang ingat tapi intinya adalah apakah pekerjaan yang kita lakoni sudah menjadi passion kita.

Jika saya tafsirkan secara bahasa passion berarti kegemaran, keinginan besar, minat, ketertarikan. Passion tak perlu dicari, tapi ia sudah bersemayam dalam diri, tinggal MENGGALI saja dengan cara berani jujur kepada diri sendiri dan mencoba banyak hal. Banyak orang yang sudah bekerja dengan gaji dan jabatan yang tinggi tapi masih saja sering mengeluh karena apa yang dia kerjakan hanyalah rutinitas semata dan tidak ada passion dalam pekerjaan yang dia lakukan, sehingga keluhan dalam kebosanan pun menghantuinya setiap hari, jadi stress sendiri. Untuk apa menjadi tertinggi dalam sebuah pekerjaan tapi tidak memberikan makna apa-apa, khususnya bagi diri sendiri. Bekerja tak hanya menghasilkan numerasi yang tinggi dan berlimpah tapi juga excitement.

Passion berperan dalam diri untuk mendeterminasikan kenikmatan dan kebermaknaan yang kita dapatkan dari yang kita kerjakan. Masing-masing orang punya pilihan sendiri untuk positioning passion-nya. Untuk medapatkannya kita terus berinvestasi di titik-titik ketertarikan kita. Bukankah semuanya harus melalui proses, passion pun demikian. Bisa juga mencari passion dengan mereflesikan masa lalu, merancang visi masa depan, dan kemudian mengkolaborasikan keduanya.

Teringat akan pengalaman sendiri juga bagaimana upaya untuk menggali dan mencari passion dalam diri. Pernah yang merasakan yang namanya kuliah saat semester awal hanya ke kampus dan pulang ke kosan….”kok rasanya standard banget?”, kemudian mencoba lagi ke hal yang lebih variatif lagi, yaitu kuliah sambil ikut satu organisasi…”[ummm], masak cuman satu, kan kata organisasi yang bersangkutan ahli berekspansi juga berkoalisi”, cobalah aktif kembali di organisasi yang lain…”[aha], ketemu banyak orang yang kelihatannya homogen tapi ternyata karakternya hetrogen”, sudah jadi alumni di suatu organisasi, masih saja aktif dalam beberapa event bukan karena haus kekuasaan, tebar pesona atau praduga-praduga orang lain yang tak terbukti kebenarannya, digagasalah dan direalisasikan suatu event yang sebelum-sebelumnya tidak pernah dilakukan dan walhasil mendapat dukungan dari para teman, jadilah itu menjadi agenda rutin tiap tahun yang tidak sekedar menjadi contoh bentuk kerukunan dalam hetrogenitas tapi juga contoh penerapan nilai-nilai kemanusiaan yang tak pandang bulu dan bisa dilakukan oleh siapapun dan tanpa kenal etnis…”[takjub]…klo dengan mereka saja bisa, kenapa tidak dengan mereka yang satu lagi”. Menantang diri sendiri lagi dengan ikut terlibat di tempat mereka yang lain yang mungkin selama ini terabaikan karena lebih fokus di tempat yang lain…”[lumayan juga] banyak belajar bagaimana menghadapi sensitivitas para wanita karena selama ini banyak berhadapan dengan kaum adam”.

Masih tetap dengan aktivitas pemeliharaan network yang sudah terbentuk, dikarenakan diberikan nikmat untuk melanjutkan studi maka fokus utama adalah di sini, variasi pun berkembang lagi. Rasanya kalau hanya kuliah kurang enak sehingga sambil melamar-lamar pekerjaan dan memenuhi interview ikut juga kursus untuk sebuah program khusus. Sehingga pagi sampai siang berkecimpung di kursus dan di sela-sela waktu kosong maintain existing network dan malamnya kuliah. Pada saat libur (sabtu dan minggu) digunakan untuk acara berkumpul bersama teman-teman dan event tertentu. Program kursus selesai (besoknya hari terkahir dalam schedule kursus dan merupakan ujian akhir semester dari semester akhir) langsung mendapatkan panggilan kerja dan atas request saya supaya jadwal interview-nya selesai saya mengikuti ujian kursus dan Alhamdulillah diterima dan diterima juga di perusahaan itu untuk bekerja. Tak sampai seminggu setelah interview saya diminta untuk masuk kerja di daerah Jakarta Barat juga, tanpa psikotest pula (psikotest-nya menyusul setelah saya 1 bulan bekerja di sana….memang, Allah Maha Kuasa). Ritme pun berganti, yang tadinya kuliah sambil kursus, saat itu kuliah sambil bekerja. Pagi sampai sore bekerja dan pulang kerja langsung menuju kampus, sholat dan makan malam di kampus.

Dikarenakan ingin lebih fokus lagi dengan thesis dan ritme pekerjaan di kantor yang begitu-begitu saja, maka saya putuskan untuk resign, saya pun menuliskan surat pengunduran diri saya untuk tidak melanjutkan kontrak, bos dan rekan kerja saya agak kaget dan berusaha menahan saya untuk tetap di sana. Saya pun mengatakan bahwa saya akan di sini sampai dapat penggantinya dan saya tidak menandatangani kontrak yang baru serta beri waktu untuk saya ke kampus untuk memenuhi jadwal konsultasi thesis. Demi cepat-cepat selesai thesis, setiap Jum’at jam sholat Jum’at saya ke kampus untuk konsultasi dan alhamdulillah dosen pembimbingnya wanita dan rekan-rekan seruangan saya laki-laki semua jadi mereka sholat Jum’at. Sekitar jam 2-an siang saya balik lagi ke kantor, walaupun kadang melihat mereka rekan yang masam dan ada sindiran karena kurang all out di kantor but I don’t care lah dan tetap berpikiran psoitif dengan selalu menjaga hubungan baik dengan mereka dan memberikan yang terbaik yang mampu diberikan. Rutinitas seperti ini saya lakukan beberapa bulan. Setelah lebaran saya pun keluar dari kantor ini dan seminggu sebelum keluar teman saya menghubungi untuk mengirimkan CV ke kantor dia karena sedang ada lowongan di sana dan dia tahu bahwa saya sebentar lagi akan keluar dari kantor itu. Saya coba kirim email melalui email kantor dimana saya bekerja saat itu tapi ternyata tidak berhasil..”belum berjodoh kali ini, biarin aja deh, emang disuruh buat fokus di thesis”.

Sehabis mudik, saya menikmati saat-saat menjadi pengangguran di kosan dan mengisi waktu dengan melakukan konsultasi rutin (bahkan hampir tiap hari, sampai dosennya bingung)  dan atas permintaan junior mengisi acara di kampus untuk menjadi pembicaara (lihat topiknya dulu, kalau kira-kira berat jelas saya tolak karena pertanggung jawabannya besar). Nah, dalam masa-masa menganggur dan konsultasi itu teman saya menghubungi lagi supaya saya mengirimkan CV lagi, sambil saya mempersiapkan material untuk job expo di kampus esoknya, sorenya saya mengirim email dari kamar sebelah karena kebetulan Interenet sengaja saya putus sejak bekerja untuk menghemat keuangan, email pun terkirim dan saya menuju tempat fotokopi untuk mempersiapkan keperluan job expo. Selagi di tempat fotokopi, berdering telepon genggam dari nomer yang tidak dikenal dan itu dari kebon sirih, saya diminta interview besoknya. (Ckckckckc) interview + job expo, pilih mana? ok, pagi interview dan selesai dari sana memasukkan lamaran di Job Expo (sama-sama dapet). Di job expo jadi ajang reunian karena bertemu dengan teman seangkatan dan juga senior maka mengobrollah di warung kita bersama dulu selepas mendrop CV. Dengan hanya dua kali interview (interview pertama hanya bertanya-tanya tentang kesibukan dan skripsi saya, saat itu kesibukannya hanya menyelesaikan thesis dan waktu diinterview adalah hari terkahir ujian akhir semester di semeter yang terakhir…setelah itu tidak ada kuliah lagi…yang ada hanya konsultasi. Sedangkan interview kedua hanya diberikan beberapa soal yang kisi-kisinya saya sudah dapatkan dari orang yang meng-interview saya pertama kali dan sekalian nego gaji) saya pun diterima bergabung di suatu departemen perusahaan itu.

Ritme pun bergejolak lagi, thesis sambil bekerja. Apa yang terjadi ? campur aduk, campur rasa dan campur sari (berasa Didi Kempot aja) karena pekerjaan saya yang ini lebih banyak menyita waktu dan butuh konsentrasi yang tinggi apalagi sedang melakukan transisi ke system yang baru, yang tadinya konvesional akan diubah menjadi otomatis menggunakan suatu applikasi tertentu. Pergi pagi pulang larut malam tiap hari, setiap minggu bahkan hampir tiap hari meeting. Di tengah-tengah bekerja ada tawaran untuk interview dari sebuah perusahaan  yang memegang sistem beberapa bank (hasil job expo rupanya), saya hanya mendengarkan dan maaf saya tidak bisa memenuhi undangan interview karena saya sudah mendapatkan pekerjaan…”siapa cepat dia dapat, first in first serve”. Thesis pun agak slow jalannya, tapi setiap sampai ke kosan selalu berusaha membuka laptop dan menuangkan ide walaupun hanya sebaris kalimat dan setelah itu tidur. By the time goes by, di tengah kesibukan bekerja thesis pun selesai dan alhamdulillah waa syukurillah lulus sidang (terimakasih Yaa Allah selalu hadir di setiap hal yang saya hadapi dan Engkau berikan kelancaran dan kemudahan untuk semuanya).

Sebenarnya, setelah melihat kerjaan yang selalu dikerjar-kejar seperti itu dan thesis pun agak tersendat jalannya sudah ingin memutuskan untuk tidak melanjutkan kontrak lagi, namun karena suatu hal maka kontrak yang kedua pun dilanjutkan lagi. Thesis pun mampu diselesaikan di tenga-tengah pikiran dan permasalahan yang bercabang kemana-mana…”inilah bukti rahmat Allah, akan selalu ada jalan keluar untuk tiap-tiap perkara”. Di kontrak kedua sudah tidak ingin berlanjut lagi, saya akhiri kontrak dengan perusahaan yang mengoutsource saya dikarenakan tidak fair mengenai masalah gaji dan pengaduan saya tidak ditindaklanjuti…”emang saya bekerja sama penjajah, mending keluar aja”, eiiittts ditangkaplah saya oleh perusahaan outsource yang lain dengan gaji yang lebih besar dan fasilitas yang dieliminasi untuk beberapa option…”tak masalah karena saya juga tak menggunakan fasilitas itu”, jadilah saya masih bekerja lagi untuk perusahaan itu walaupuun dengan perusahaan outsource yang berbeda. Tahun yang lalu, menjelang Ramadahan saya sudah ingin keluar karena ingin berpuasa di rumah bersama keluarga tercinta, saya pun menuliskan email pengunduran dir dan saya pikir kontrak saya berakhir pada bulan dimana awal puasa dimulai, orang-orang pada kelabakan dan meminta saya untuk bertahan dulu dan diselesaikan secara kekeluargaan. Panjang kalau diceritakan. Singkat cerita setelah masa kontrak habis, saya tidak meneken perjanjian lagi alias resign. Dan saat ini saya “pengangguran” dan menikmati yang saya kerjakan.

Kenapa saya menceritakan itu? untuk dijadikan pelajaran saja bagi yang ingin mengambil hikmahnya, sesibuk apapun kita ya biasa ajalah karena semua orang pun juga sama. Dengan beberapa hal yang telah dilakukan diatas apakah saya sudah menemukan dan menggali passion? tentu saja saya sudah menemukan dan menggalinya serta insyaAllah terus menggalinya, jika tidak mana mungkin saya bisa enjoy dengan yang saya lakukan, di tengah kesibukan itu saya masih bisa ke sini ke sana…main dengan itu dan yang ini…hadir acara ini dan juga itu. Alhamdulillah, Allah telah mengaturnya sedemikian rupa. Perlu adanya work balance untuk menjalani itu dengan cara memahami prioritas yang kita lakukan.

Pada saat gaji saya sudah dinaikkan dan network di kantor sudah terbentuk kenapa memutuskan untuk keluar? tak munafik memang kalau saya masih butuh yang namanya uang, tapi apalah artinya kalau semua itu tanpa makna dan semakin jauh dengan keluarga serta mengurangi sense of belonging dengan keluarga “kok jadi malah lebih dekat dengan komunitas luar dibandingkan dengan keluarga, klo saya sakit siapa yang berada di samping saya? bukan dokumen kantor saya dong”, “apakah pekerjaan mencintai saya?, sementara keluarga walaupun sebenarnya biasa-biasa saja tapi akan selalu mencintai saya”. Bukan berarti yang sudah memilih pekerjaan tertentu harus keluar, bukan seperti itu maksud saya, tapi berdasarkan apa yang tonton hari ini coba jadikan passion sebagai barometer dalam menjalani pekerjaan yang sedang dilakukan. Jangan jadikan pekerjaan sebagai ladang keluhan karena akan mengurangi nilai keberkahannya, kalau kira-kira sudah banyak mengeluh mungkin passion-nya dalam bidang yang lain?. Mumpung masih muda, cobalah banyak hal, nanti kalau sudah tua tak banyak menyesal karena sudah melewati banyak hal yang tak akan mungkin terulang lagi.

Simpulan : Berarti yang selama ini dicari itu adalah passion? (tanya pada diri sendiri).

By the famous song from Barry Manilow…PASSION, I Just Can’t Smile Without You.

“Get a Life NOT just a JOB”

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s