(65 Tahun) Makin Tua, Makin Pikun

Negeri ku 65

“Kemerdekaan itu bukan sekedar deklarasi dan tanda tangan suci pendiri bangsa, tapi bagaimana memerdekakan dari tirani perubahan itu jauh lebih penting”

Teknologi telah berkembang, ada facebook, twitter, chatting dan sejenisnya. Ada banyak ekspresi dalam balutan nan variatif dariisetiap pengguna teknologi dalam mengungkapkan dirinya sebagai bentuk pengakuannya terhadap kedaulatan dan kemerdekaan bangsa. Berdasarkan pengamatan yang saya lihat di lapangan maya bentuk ekspresinya antara lain : mayoritas memasukkan kata Merdeka dalam status facebook mereka, ada yang menonton film Gie (film yang memiliki cita rasa idealis yang kental sekali, maksud hati ingin memberantas korupsi namun apa daya sudah menjadi penyakit dan meradang dalam masyarakat, sehingga tag line Gie pun tak asing di telinga “Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan), ada juga yang mendengarkan lagu kebangsaan, merindukan masa-masa upacara bendera, malah ada juga yang tidak merasa bangga menjadi orang Indonesia (entah ada apa dengan orang ini, tidak bangga tapi masih ini saja menginjakkan bumi Indonesia, rajin bayar pajak dan kerja pula di kantor Indonesia…perlu dipertanyakan pelajaran PPKN dan Agama dulu ngapain aja) dan beragam luapan ekspresi yang merupakan bagian dari ekisistensi mereka. Pro dan kontra pun sikap mereka bahkan saya atas perayaan kemerdekaan ini tidak kan pernah mengurangi umur kedaulatan negeri ini atau malah memutar waktu untuk kembali ke titik nol negeri ini saat pertama kali dibangun.

Tak terasa sudah 65 tahun, dan tak terasa juga kurang lebih seperempat abad saya menjadi bagian dari negeri ini. Sudah pernah belajar PPKN, sejarah, PPKN, geografi untuk semakin mendekatkan diri dengannya, tapi apa yang didapat? kebanyakan teori semata dan mungkin gurunya sekalipun belum mampu meresapi apa yang diajarkannya ke siswa-siswinya. Kualitas guru adalah kualitas bangsa. Bagaimana bisa menjadi bangsa yang berkualitas jika tidak mampu menghadirkan guru-guru yang berkualitas, bukan sekedar senioritas dan otoritas atau loyalitas terbatas.

Berkaca pada Jepang yang pada saat Indonesia sudah mendeklarasikan kemerdekaannya, Jepang malah tengah “asyik” memperbaiki hiroshima dan nagasaki yang hancur luluh setelah dibombardir oleh tentara sekutu. Tapi kenapa kok yang lebih maju malah Jepang ya?, kemajuan Jepang membuat “takut” para negara penguasa dunia dan eksistensinya senantiasa diperhitungkan dalam kancah internasional.

Kemerdekaan dan kedaulatan itu bukan sekedar deklarasi, tapi juga implementasi untuk membuktikan bahwa kebebasan adalah bagian dari hak hidup, baik sebagai bangsa maupun individu. Apa gunanya menyatakan diri merdeka dan berdaulat kalau mau apa-apa saja susah dan dibelenggu, inikah yang namanya kedaulatan? lalu untuk siapa kedaulatan itu? (bingung euy, kau yang berjanji kau yang mengingkari, kau yang nyalakan…engkau pula yang padamkan).

Inilah beberapa realitas yang terjadi di negeri kita tercinta, terkasih dan tersayang yang sampai saat usinya 65 tahun ini masih kalah dibandingkan dengan negara lain yang usia kemerdekaannya lebih muda dari Indonesia :

– Resistant to change (susah berubah), lihatlah orang-orang di sekitar kita yang siklus hidupnya cenderung monoton dari tahun ke tahun “ya begitu begitu saja”, kurang ada gebrakan dalam dirinya. Perilaku semacam ini memunculkan sebuah habit dalam masyarakat sehingga terbentuklah yang namanya tradisi begini begini saja atau begitu begitu saja. Coba kalau ingin sedikit variatif, tahun kemarin sudah begitu, tahun ini begini (ckckckckck) gimana kalau tahun depan begini begitu atau memperbaiki yang begitu atau tambahkan sedikit yang begini. Jika ada sedikit saja variasi maka dinamika masyarakat pun berkembang sehingga mampu memberikan pembaharuan dan pencerahan bagi sekitar. Memang, sering kali yang namanya perubahan dipandang sebelah mata pada tahap awal, tapi kalau sudah tampak hasilnya beberapa tahun ke depan maka pernyataan universal yang keluar adalah”ooooooooo” (buleeeeet kali tuh). Coba sejak awal memberikan dukungan dan appresiasi yang positif, tentu saja akan memberikan pengaruh yang besar bagii agent of change yang menghendaki adanya sebuah perubahan.

– Instant people. Saya tidak katakan seluruhnya bahwa warga negara Indonesia adalah warga yang semuanya apa-apa ingin instant atauu cepat tanpa melalui suatu proses/usaha. Contohnya : skripsi minta dibuatkan padahal yang kuliah juga siapa, masuk sekolah negeri nyogok, bikin KTP bayar, mau bikin usaha birokrasinya ribet dan kalau ingin cepat setiap meja dibayar dulu baru prosesnya cepat, nilai ingin bagus ikut les ke gurunya supaya ada tambahan nilai dan lain-lain.

– Makin tua, makin pikun. Kalau untuk ukuran individu hal semacam ini sudah alamiah karena sudah mengalami degenenerasi fungsional dalam tubuh, tapi untuk ukuran sebuah negeri bukankah justru semakin matang dan dewasa dalam menyikapi persoalan bangsa yang hetrogen karena sebelum-sebelumnya sudah berhadapan dengan gelombang masalah yang jauh lebih besar. Sistemnya yang salah ataukah sumber daya manusianya yang kurang, padahal jumlah penduduk semakin membludak dari tahun ke tahun. Pemerintah semakin pikun kalau punya rakyat, dan rakyat pun membalas dengan frekuensi yang sama atas sikap pemerintah yang demikian. Tarif dasar listrik, harga kebutuhan pokok pun naik, harga buku ikut-ikutan naik, malah gaji PNS ikut-ikutan dinaikin juga…”memangnya ini negeri PNS ya?, bagaimana dengan pekerja lain yang juga menjadi bagian dari penggerak ekonomi makro negeri yang sudah berumur 65 tahun ini, kok malah pikun ya?”. Pidato RAPBN 2011 pun hanya menjadi pidato rutin kenegaraan yang mengganti angka, tidak dikaji secara bijak dan memiliki orientasi arahan yang jelas. Katanya punya banyak staf ahli tapi kenapa tidak difungsikan perannya, diminta masukannya. Jika hanya sekedar numpang terkenal dan cari perhatian serta dukungan parlemen lebih baik buat “ceremonial” yang lain. Sampaikanlah dengan bahasa kerakyatan dan bukan bahasa politik yang menyesatkan rakyat.  Tambah umur jangan sampai mengurangi ingatan bahwa negeri ini merdeka bukan hanya peran para golongan berdasi dan berbintang tapi juga  harapan serta do’a rakyat kecil yang melancarkan kemerdekaan negeri  ini.

Tak hanya pemerintahnya yang pikun, rakyatnya pun makin pikun, lupa kalau ada veteran, lupa kalau punya lagu kebangsaan, tak peduli dengan generasi bangsa yang masih kecil-kecil yang kelak akan menjadi penerus. Cenderung egois dan hedonis, sok kebarat-barat dan malu mengakui ketimurannya, tinggal juga masih di Indonesia, bahasa yang bisa diucapkan juga hanya bahasa Indonesia, warna yang diketahui juga “hanya” merah putih, boleh mengglobal asalkan tak lupa lokal mangkalnya dimana.

Kalau semuanya pemerintah yang memikirkan, bisa kanker otak pemerintahnya, ada baiknya semuanya saling memberikan kontribusi dan apresiasi yang saling membangun satu sama lain. Kalau ada yang salah jangan anti untuk dikritik, atau tak usah takut untuk bersuara, selama kaidahnya benar…tak menyalahi aturan serta didasarkan realitas “kenapa gak?”.

– Birokrasi yang amburadul, kebanyakan departemen, banyak orang, banyak titipan, banyak pengeluaran, banyak masalah. Daripada pemerintah menggaji orang-orang yang tidak memiliki kinerja yang bagus lebih baik uangnya dibuat usaha saja atau dibangunkan gedung sekolah di daerah terpencil supaya pendidikan merata ke semua wilayah. Sudah saatnya pemerintah melakukan perampingan (downsizing) struktur birokrasi. Dengan demikian, enak ke pemerintahnya juga enak bagi warga dan para calon investor, tak perlu repot mengurus dari satu meja ke meja yang lain yang panjannnnnngggggg dan lamaaaaa.

– Terbelenggu oleh tradisi yang menyulitkan diri sendiri. Berbudaya itu bagus, tapi tolong yang realistis dan logis, bukankah bangsa ini bangsa yang berketuhanan yang maha esa kok masih saja percaya yang namanya mitos, perklenikan dan perdukunan yang jelas-jelas hanya menambah pening saja. Wong dukunnya saja tak bisa meramal dirinya sendiri, percayalah dengan yang sang Maha Pencipta.

– Kurang atau malah tidak membuka diri, lihat saja di sekitar : cari teman suka milih-milih kalau tidak sedaerah tidak mau berteman, ketemu orang baru/orang asing kabur, mengisolasi diri dari pergaulan yang hetrogen. Kehetrogenan bukan untuk meleburkan nilai-nilai kebaikan yang kita miliki tapi justru meneguhkan pendirian yang kita miliki dan semakin menghargai dan menghormati keberadaan orang lain.

– Boleh melihat negara/bangsa lain, tapi lihatlah Indonesia lebih dekat, kunjungi satu per satu maka akan terucap “terimakasih telah menghadirkan saya di bumi yang indah ini, I love Indonesia”. Dari kemajemukan ras dan golongan serta pulau-pulaunya sebenarnya tersimpan nilai integritas yang kuat.

– Kurikulum pendidikan yang terlalu kaku dan baku, murid/siswa bersekolah hanya untuk menggugurkan kewajibannya sebagai seorang anak dan bagian dari tuntutan masyarakat. Coba kalau kurikulumnya dibuat semenarik dan seinovatif mungkin dengan menggunakan teknologi yang saat ini sedang berkembang, tentunya akan membuat anak-anak semakin betah di sekolah dan senang belajar. Jangan sekedar mengisi kompetensi atau menulis berlembar-lembar tapi ujung-ujungnya tidak membuat mereka menjadi penulis, berikanlah yang konkrit dengan mengapplikasikan apa yang sudah mereka pelajari sedikit dalam lingkungan sosial dimana mereka tumbuh. Ilmu bukan sekedar untuk pengetahuan tapi juga penerapan, sudahkah guru-guru dan komponen pendidik memahami ini?. Siapapun bisa menjadi guru, tapi tak semua guru mampu menjadi pendidik. Hentikan budaya main tangan/kekerasan di sekolah, menjatuhkan semangat murid karena kenakalan atau kebodohannya, kebiasan sering ngomel-ngomel dan marah-marah karena alasan yang kurang masuk akal. Sebelum menjadi guru atau pendidik, bukankah dulunya anda pernah menjadi seorang murid?, jangan sampai membawa dendam masa kecil dalam profesi anda karena akan mengurangi keberkahan ilmu yang diberikan, namun berikanlah sebuah perubahan yang baik bahwa jika dulu pernah begitu jangan sampai sekarang terjadi lagi.

– Kurang tegas untuk menyatakan makna dan eksistensi kedaulatan yang dimiliki. Tak perlu ragu-ragu untuk menindaklanjuti secara hukum jika ada negara lain yang memasuki wilayah Indonesia tanpa ijin untuk sekedar memancing/mencari ikan atau mencari kayu di hutan, tetangga boleh tetangga…serumpun boleh serumpun…tapi kalau tak punya aturan ya diingatkan secara tegas saja kalau peringatan saja tak mempan, bukankah sudah ada hukum internasional tentang kedaulatan wilayah.

Tak hanya kedaulatan wilayah, kedaulatan budaya dan aspek yang lain pun harus memiliki ketegasan sehingga tidak mudah dirongrong dan diusik bangsa lain.

– (dan beberapa yang lain ……, ).

Semoga di usianya yang 65 ini, Indonesia makin matang dan dewasa dengan generasi muda yang siap memberikan perubahan dan sumbangsih menurut kapasitas yang dimiliki. Kalau kata Bung Karno : Beri aku sepuluh pemuda yang membara cintanya kepada Tanah Air, dan aku akan mengguncang dunia”.

Bangunlah pemudi…pemuda

Lihat sekitarmu

Apa yang bisa kau berikan

Berikanlah sekarang

Jangan menunggu nanti, besok

Atau saat kau sudah menjadi penguasa

Bukan sekedar materi

Tapi juga sumbangsih pemikiran dan karya nyata

Sebagai anak bangsa, anak negeri dan anak pulau

Karena setetes perbuatan sejuta rakyat terselamatkan

Dari belenggu penjajahan negerinya sendiri.

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s