Semangat 45 Sang Kyai

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

“Selamat menunaikan ibadah puasa dan dirgahayu negeri…Merdeka, Berdaulat dan InsyaAllah adil dan makmur”

Atas dorongan sang hati dan jiwa, kemarin sebelum memulai urusan saya di kota yang berjarak tak kurang dari 15 menit dari rumah saya mampir dulu ke rumah salah satu ponakan saya. Sebenarnya sudah lama keinginan ini, tapi karena ada beberapa hal yang mesti diselesaikan sehingga hal ini menjadi tertunda terus. Sekitar jam 9an pagi saya memasuki lokasi pesantren yang berada tak jauh dari tengah kota itu, walaupun tidak besar tapi eksistensinya tetap konsisten untuk memberikan ilmu keagamaan kepada para santrinya. Saya parkir motor di sekitar masjid (musholla) pesantren, suasana tampak sepi, hanya ada seorang lelaki yang berpeci dan bersarung (entah dia adalah santri atau kyai dari pesantren itu…pastinya saya tidak tahu). Saya gantungkan helm melalui jok motor, kemudian saya menuju rumah ponakan yang akan saya kunjungi. Saya berjalan beberapa langkah dari tempat dimana motor diparkir, kebetulan rumah ponakan saya paling ujung sehingga sebelum menjangkau rumah tersebut harus melalui beberapa rumah yang lain dulu dan seperti yang sudah diajarkan sejak kecil baik pada saat rezim bapak dan kakak maka sudah seharusnya menyapa dan bersalaman dulu dengan para penghuni yang kebetulan sedang terlihat di rumah. Memasuki kompleks kyai dan nyai, terlihat dan terdengar suara seseorang yang cukup saya kenal. Saya pun mengucapkan permisi dan kemudian bersalaman, beliau dan istrinya masih berekspresi bingung, supaya tak lama bingung-bingungnya makanya saya langsung mengatakan bahwa saya adalah ……., dan mereka pun mengatakan “ooooo, yang nomer berapa?”, saya : yang terakhir ba, bertanya lagi : yang di surabaya apa dimana?, saya : dulunya di Jakarta, sekarang sudah di sini lagi ba, beliau : iya ya (sambil duduk dan memegang alat terapi untuk meggerakkan kaki), ponakanmu sedang tidak di sini, sudah sejak puasa pertama dia ikut pamannya dan dia bersama abangnya juga, sepertinya mengajar dan belajar juga di sana, duduk dulu aja di sini. Saya : (ckckckckckck, sudah mau main kabur aja tapi ngobrol-ngobrol dulu sebentar sambil berdiri). Padahal dari tadi disuruh duduk tapi karena alasan ingin cepat-cepat menyelesaikan urusan yang lain saya menolak dengan mengatakan “iya, nanti kapan-kapan maiin ke sini lagi Ba, saya mau balik aja”. Karena ternyata keramahan dan ketulusan mampu melunakkan hati, saya pun duduk di teras depan dan sang kyai tetap duduk di halaman depan teras untuk berjemur. Dengan mengenakan baju koko, bawahan sarung, berkopyah putih dan menyelendang surban di lehernya, kami berbicang dengan didampingi istrinya juga. Walaupun tak begitu lama durasi obrolan kami, tapi banyak memberikan pencerahan bagi saya. Salah satunya adalah ketika sang kyai menceritakan bahwa beliau menghadiri undangan resepsi seorang sepupu saya yang digelar sekitar seminggu sebelum ramadhan menjelang, resepsinya kebetulan berlangsung di rumah dan lokasinya hanya beberapa langkah dari rumah orang tua saya. “Saya duduk di depan rumah saudaramu, dan beberapa saat setelah saya duduk ponakanmu datang dari pesantren dan seorang sepupumu yang rambutnya panjang memberikan kunci rumah dan membukakannya” papar beliau, saya : (dalam hati mengatakan –> luar biasa) “padahal saya di depan rumah itu Ba, yang dekat sama kotak-kotak makanan, kok bisa gak ketemu ya”, beliau lagi : “selesai resepsi, dari rumah saudaramu ke depan masjid saya diantar naik motor sama saudaramu yang lain. Makin takjub saya, dengan kondisi beliau yang seperti itu, masih sempat beliau untuk memenuhi undangan. Dengan bahasa Madura yang versi enggi bunten (tingkatan terhalus dalam percakapan bahasa Madura) dalam kosakata yang terbatas dan kadang bercampur dengan versi yang lain saya mengatakan :”Jennengan ini hebat, penuh semangat, anak muda kalah sama jennengan, yang sehat aja sering gak hadir dengan berbagai alasan tapi aba ini semangatnya 45, coba klo pas jaman Belanda dulu ada Aba pasti bisa dikalahkan”, sang kyai pun tertawa, dan beliau pun melanjutkan lagi “jangankan hanya di Burneh, di tempat lain pun saya datangi”, saya : “iya, saya masih ingat waktu bulan Maulid beberapa bulan yang lalu, aba membacakan sholawat dari dalam mobil yang diparkir di depan halaman rumah, benar-benar semangat yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang”. Beliau (tertawa lagi), saya : “sebagai yang muda terus terang saya malu, Jennengan aja bisa kenapa kami yang muda tidak bisa lebih dari jennengan”.

Itulah salah satu pelajaran yang saya dapatkan pagi itu mengenai semangat dan penghargaan. Begitu beliau menghargai dan mengakui yang namanya persaudaraan, walaupun sakit (sambil menunjukkan kakinya yang selesai dioperasi oleh dokter yang kini dipecat karena kinerja yang dipertanyakan terkait dengan profesinya tersebut) tapi tak pernah absen untuk menghadiri undangan dan panggilan saudara. Semoga beliau diberikan kesehatan, kesembuhan serta keberkahan rezeki. Tak selalu semuanya itu berasal dari orang lain, tapi kalau kita yang bisa memulainya kenapa tidak ????, jika ingin dihargai dan dihormati orang lain MAKA terlebih dahulu hargai dan hormati orang lain. Jangan pernah banyak berharap diberi jika kita saja tidak pernah memulai dan memprakttekkan memberi walaupun dengan hal yang kecil. Selamat mencoba dan rasakan sendiri hasilnya !.

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s