Lanjutan Atas Para Keseriusan

Alhamdulillahirrabil’alamin,

“Mendingan jadi orang yang terlihat santai namun banyak buah keseriusan yang dihasilkan, daripada selalu terlihat serius namun hanya membuahkan keluhan universal” (D’voICE, red).

Always serious and fun, Friedship Forever

Menafsirkan makna keseriusan tak cukup dengan hanya membuka kamus besar bahasa Indonesia, dicari kata dasarnya dilanjutkan dengan memaknai imbuhan dan akhiran yang mengiringi kata dasarnya. Ada banyak makna tersirat dibalik kata yang sangat kaku ini. Kenapa saya katakan kaku ? karena memang kaku dan terkesan kurang asyik saja, terlalu banyak saraf-saraf dalam tubuh yang harus ditegakkan saat mendengar kalimat ini. Tapi pada saat menuliskan ini syukurlah beberapa saraf sedang asyik menikmati segelas teh panas, kue kering dan alunan musik. Berharap semoga siapapun yang membaca tulisan ini tak sekaku keseriusan itu.

Jika diibaratkan dengan pohon, keseriusan seperti akar, daun dan cabang-cabangnya. Sebuah entitas diri adalah pohon itu. Akar yang kuat, daun yang lebat serta cabang-cabang yang banyak lagi tidak mudah patah meningkatkan nilai suatu pohon, tidak hanya nilai subjektif tapi juga nilai objektifnya. Dalam kehidupan keseharian yang kita lalui begitu banyak keseriusan yang kita perankan. Bagaimanapun profil yang ditampilkan seseorang sudah pasti memiliki sisi keseriusan. Para keseriusan membentuk entitas mereka menjadi manusia yang memiliki pribadi yang unik satu sama lain. Ada saatnya keseriusan mulai mengendor akarnya karena dikikis oleh erosi kehidupan, ada juga cabangnya yang patah karena memang sudah waktunya untuk regenerasi diri dalam menghasilkan cabang yang baru dan lebih bagus … atau mungkin cabangnya patah karena faktor yang disengaja atau tidak disengaja, dan ada lagi daunnya yang sudah mulai meranggas, rontok bahkan berganti warna. Kondisi keseriusan macam apakah yang sedang kita alami saat ini? pastinya sangat berwarna dan penuh dengan terpaan alamiah dan non alamiah yang harus kita hadapi. Jika anak kecil selalu serius dengan bermain dan sekolahnya juga tak lupa sangat serius sekali dengan rutinitas jajannya. Anak remaja serius untuk meninggalkan kelakuan masa anak-anaknya dan ingin cepat kuliah kemudian menjadi besar. Orang dewasa serius untuk cepat-cepat lulus kuliah kemudian mencari penghasilan sendiri dan menikah. Bapak-bapak dan Ibu-ibu serius untuk menjadi partner hidup yang siap membantu dan mencukupi kebutuhan anak-anak mereka. Orang yang sudah lanjut usia (tua) serius untuk mendekatkan diri ke sang Maha Pencipta. Sang pencipta pun selalu serius mendengarkan dan memberikan apa yang dibutuhkan oleh masing-masing ciptaannya.

Terlalu cepatkah, terlambatkah atau sudah tepatkah siklus dan proses keseriusan yang sedang atau sudah kita jalani ? jawaban yang sangat tentatif, karena pertanyaan ini bukanlah pertanyaan matematika yang terukur dan sudah pasti jawabannya. Tak ada pendekatan yang pasti untuk menjawab ini, lihatlah sekitar dan tanyakanlah pada diri sendiri serta diskusikan dengan Sang Kuasa. Menurut saya, keseriusan merupakan sebuah keberlanjutan dari hal-hal yang sudah pernah kita nyatakan baik yang tersurat maupun tersirat dengan dibarengi oleh suatu langkah konkrit dan komitmen untuk merealisasikannya. Tidak ada batasan waktu, jalani saja semampunya, karena setiap orang memiliki keterbatasan dan kita juga sudah tahu semua bahwa Tuhan tidak selalu memberi apa kita minta tapi percayalah bahwa Ia senantiasa memberikan apa yang kita butuhkan. Tagihlah janji-janji keseriusan ke dalam diri kita, bagaimanakah progress dan sudah sampai dimana?. Jika tidak ada progress sama sekali maka ada baiknya untuk memberikan pernyataan dan ketegasan kepada diri sendiri bahwa di luar sana masih banyak hal yang menjanjikan dan dikontribusikan. Melangkah dan bergeraklah sedikit demi sedikit untuk masing-masing keseriusan yang sedang kita jalani dan biarkanlah masing-masing titik bertemu dengan sendirinya, karena ada kalanya titik-titik yang sudah kita tentukan tadi tidak ada korelasinya satu sama lain namun karena kehendakNya lah maka titik-titik itu bisa juga bertemu.

Konkritnya dari uraian di atas seperti apa? berani melangkah, bergerak terus walaupun secara statistik manusia pada umumnya terlihat mengalami penurunan kualitas, fokus menata diri dan hal-hal yang sedang dilakukan, sabar dan pantang menyerah serta banyak mendekatkan diri kepada sang maha pembuat keputusan, inovatif dan produktif walaupun dengan hal yang dilihat sepele oleh orang lain (biasa kan? orang bisanya mengkritik dan giliran dikritik pada senewan dengan aneka pembenaran diri yang subjektif), KENALILLAH DIRI SENDIRI karena inilah yang senantiasa melekat dalam diri kita, tinggalkan yang tidak jelas dan tidak pasti  serta penuh dengan teka-teki karena hanya akan membuang waktu dan menguras jiwa saja…padahal masih ada banyak hal produktif yang mesti dilakukan dan dijalankan (memang susah, tapi kalau terus direnungkan dan diiisi terus jiwanya insyaAllah bisa mendapatkan jawaban), jika orang lain tidak bisa bersikap tegas dan sulit ditentukan kompasnya maka sadarkanlah diri sendiri untuk cepat-cepat bangun dan mengurangi ketergantungan,Write down and state what’s on your mind and execute it SERIOUSLY !!!. Let’s continue the serious things we’ve made

Semoga diberikan kemudahan dan keberkahan untuk para keseriusan yang sedang dijalani dan membuahkan hasil yang tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri tapi juga bagi orang lain….Amin yaa Mujiib.

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s