Indonesia; Imaji yang Senantiasa Tarik-Menarik

Alhamdulillah, terimakasih untuk nikmat yang Engkau limpahkan hari ini kepadaku dan keluargaku dan orang-orang di sekitarku Yaa Razzaq.

(Ding Dong Ding Dong Ding), memang pancaran keceriaan selalu hadir saat bersama anak-anak kecil, seperti itulah sang Khalik menciptakan periode dan siklus dalam hidup, masing-masing periode memiliki nilai tersendiri dan tentu saja harapan sosial tertentu. Meski di titik kekesalan yang klimaks pun, anak kecil mampu mengubahnya menjadi seutas senyum dari hati yang tak bisa dirangkai oleh kalimat konkrit. Terimakasih nak untuk sedekah senyum dan keceriaan yang sudah diberikan, semoga dibalas dengan tambahan ilmu yang bermanfaat yang natinya bisa kalian amalkan untuk saudara-saudara terdekat.

Sambil “menemani” mereka belajar biasanya saya isi dengan membaca majalah atau buku lain yang kebetulan berseliweran di sekitar mereka, kalau kata pepatah menyelam sambil minum air, ilmu terbagi dan pengetahuan pun bertambah. Lumayan juga bukan? untuk mengasah, mengasih dan mengasuh otak. Judul tulisan ini berangkat dari sebuah majalah favorit abang saya yang setelah dia baca pasti dipindahtangankan ke saya, jadi kalau kata beberapa teman bacaan saya berat sebenarnya tidak benar juga karena apa yang saya dapatkan itu menyangkut fenomena dan isu yang terjadi dan bahkan pembahasan komprehensif mengenai analisis suatu momen historis. Seperti biasa, majalah hibahan itu selalu mengupas dari akar , apalagi jika berkaitan dengan sebuah moment penting dalam sejarah. Kali ini pembahasannya adalah mengenai Boedi Oetomo (B.O, red). Tapi maaf, dalam tulisan ini saya sedang tidak membahas tentang B.O karena saya yakin anda-anda semua sudah tentu lebih paham tentang ini. Yang ingin saya tulis dan kemukakan adalah yang terkait dengan imaji sang hindia Belanda. Bukan karena saya sok nasionalis (karena beberapa produk yang saya pergunakan masih ada yang bukan produk nasional) atau bukan juga karena saya sok kritik, intinya tulisan ini bukanlah tulisan yang sok-sok’an, mengalir saja mengikuti tangan, hati dan pikiran.

Sebelumnya, saya sudah membaca majalah yang cukup tebal ini dari halaman depan sampai belakang, meski begitu kalau sudah terpaut biasanya saya letakkan di tumpukan paling atas atau saya posisikan di lokasi strategis yang sering saya tongkrongi supaya kalau ada waktu senggang bisa saya baca-baca lagi dan bertemulah kembali saya dengan bacaan itu. Terharu dan takjub sangat mengamati gaya penulisan dari sang penulis, tak sembarangan dan terkesan hati-hati bahkan penuh dengan bukti-bukti sejarah untuk setiap pernyataan tambahan yang dipaparkan.

Siapa yang tak kenal Raffles dan Eduard Douwes Dekker? Jujur saja, saya tak pernah mengenal mereka, sejarah  dan media lah yang melebarkan pengetahuan saya tentang mereka berdua. Di tengah kesediha Thomas Stamford Raffles ditinggal mati istri dan astasannya, Lord Minto, ia pulang ke London dengan membawa dokumen seberat 30 ton tentang Jawa. Dari situlah lahir buku  yang berjudul “The History of Java” yang merupakan buku babon 1000 halaman lebih yang berisi pembahasan luas mengenai geografi, agrikultur, adat istiadat, sastra, agama, tumbuh-tumbuhan, ekonomi dan statistik kependudukan  Jawa.  Sedang kan Douwes Dekker dengan nama aliasnya adalah Multatuli  (yang berarti “aku telah banyak menderita”) dalam keterasingannya (dari kamar loteng sebuah hotel kecil di Brussel, tempat pelariannya setelah kariernya sebagai asisten residen  Lebak hancur) berhasil membuat buku yang berjudul Max Havelar, dengan gamblang ia membeberkan ketidakadilan sistem tanam paksa Hindia Belanda. Dengan berani ia menampilkan kelicikan kepentingan Belanda dan praktek pemerasan negeri kincir angin terhadap bangsa jajahannya saat itu.

Pada abad ke-19 dua karya ini merupakan contoh magnum opus yang tak terbantahkan oleh sejarah. Keduanya kontradiktif namun realistis, yang satu menampilkan eksotisme alam sang Hindia-nya, sedangkan yang satu lagi membentangkan eksotisme tragis yang terjadi. Apakah sebuah kutukan sejarah bahwa negeri Indonesia yang kita diami ini senantiasa berada dalam kutub yang saling tarik -menarik satu sama lain, saat kutub eksotismenya mendominasi maka hadirlah kutub berlawanan yang siap untuk meruntuhkan kedominanannya. Polarisasi imaji pun tak terelakkan terjadi sehingga yang terjadi adalah memperlihatkan dan memamerkan keunggulan masing-masing kutub. Semuanya pun merasa yang paling benar, ego pun susah untuk diturunkan dan yang tampak adalah kepentingan masing-masing.

Kalau Indonesia bisa ngomong pasti akan mengatakan bahwa ia tak butuh polarisasi, ia butuh sebuah aktualisasi kecil namun cukup berarti bagi perkembangan jangka pendek maupun jangka panjang. Tak usah sok-sok’an sibuk di forum kalau ternyata banyak titip absen, giliran disorot saja baru terlihat kevokalannya. Atau warganya juga begitu selalu melihatnya dari hal yang negatif, begitu bangganya tatkala melihat aib bangsanya sendiri lalu dipamerkan dan digosipkan ke yang lain, baik yang sesama maupun yang bukan. Lalu apa sebenarnya yang dicari? negeri ini jika boleh berteriak arrrrrrgggghhhh sudah muak dengan aneka imaji yang saling tarik-menarik, bikin jatuh bangun jatuh dan bangun lagi. Capek juga ya? sudah berabad-abad kena jajah, ini juga saban hari dijajah keluhan sama warganya sendiri, yang pintar-pintar ngacir ke negeri seberang karena alasan kurang dihargai dan diakui, yang kurang pintar jadi “babu” di negeri sendiri, dan lain-lain. Ckckckckc, kalau dipikir-pikir biarkanlah negeri ini dengan keimajiannya yang demikian : yang mau selalu berkomentar silahkan saja, yang mau kabur juga monggo, yang mau ngapa-ngapain juga silahkan,…tapi ingatlah negeri ini bukan hanya segenerasi saja yang mendiami dan bermukim di dalamnya, akan hadir generasi-generasi lain yang akan menjadi pilar-pilar imaji untuk eksistensi negeri ini selanjutnya. Jadi, imaji apakah yang akan kita kontribusikan? apakah seperti history of java-nya Raffles yang membuat kita semua berdecak kagum dan memiliki daya tarik untuk terus menggalinya sampai terangkum imaji-imaji lain yang lebih dahsyat tingkat eksotismenya. ATAUKAH seperti max havelaar-nya Multatuli yang membuat kita semua semakin menarik untuk mempertontonkan aib negeri ini. Silahkan memilih yang ingin dipilih karena pilihan tidak bergantung pada tingkat intelektualitas seseorang, tapi bergantung pada nurani masing-masing.. TOH… “bukan hanya orang terpelajar yang menggerakkan sejarah tapi juga orang kecil”, makanya tak usah pamer sama yang namanya gelar akademis tapi ilmunya hanya untuk kepentingan egonya sendiri, lihatlah seorang tukang tambal ban yang tanpa gelar akademis saja mampu menularkan ilmunya ke yang lain dan mengantarkan yang terpelajar ke peraduan eksistensinya.

Selamat hari anak nasional (Maaf Terlambat, seharusnya 23 Juli, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali), semoga semuanya bisa memberikan hal yang kecil yang dimulai dari sendiri dan saatnya SEKARANG melakukannya.

– LOVE Inside  for all  little ones-

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s