Dipertemukan Kembali Dengan Momen Nisfu Sya’ban

Alhamdulillahirabbil’alamin,

26 Juli 2010 (14 Sya’ban 1430 H) merupakan momen yang penting, tidak hanya bagi masyarakat sekitar rumah tapi juga bagi keluarga besar Sirkan (Keluarga dari pihak Ibu). Di hari tersebut, salah seorang sepupu yang bernama Fatima Zahro (Fatim) telah melangsungkan akad nikahnya dengan seorang pria bernama Utsman, dikarenakan alasan “nenek moyang” resepsi tidak bisa digelar pada hari yang sama (panjang ceritanya kalau dituliskan di sini, mending langsung ditanyakan saja), insyaAllah resepsinya diadakan setelah lebaran. Disamping itu, tanggal 14 Sya’ban merupakan malam nisfu sya’ban. Secara harfiah, kata nisfu mengandung arti pertengahan, dengan demikian nisfu sya’ban berarti hari di pertengahan bulan sya’ban. Dalam islam dikenal dengan yang namanya puasa tengah bulan (ayamul bid…mohon koreksinya kalau salah), jadi teknis puasanya adalah berpuasa di tanggal-tanggal pertengahan setiap bulannya (tanggal 13, 14, 15). Yang sedang ingin saya bagikan di sini adalah bukan puasa ayamul bid-nya tapi momen malam nisfu sya’ban-nya yang sudah sempat menghilang dari diri saya.

Adalah profesor kehidupan saya (baca : Bapak) yang pertama kali memperkenalkan dengan nisfu sya’ban ini. Sejak kecil sudah dilatih untuk mengisi malam nisfu sya’ban dengan hal-hal yang bersifat ibadah vertikal. Karena sedari kecil sudah dilatih, kerinduan akan momen ini seringkali hadir walaupun raga menjauh dari kampung halaman. Dan kadang melakukannya sendirian di rumah “kedua”. Dan di tahun ini Alhamdulillah Allah pertemukan kembali dengan momen ini di Masjid yang sama dan dengan pengenalan diri yang tentunya agak berbeda dengan saya beberapa tahun yang lalu ketika masih ditraining oleh Bapak saya. Rutinitas apa yang biasa dikerjakan pada malam nisfu sya’ban tersebut :

– Sholat maghrib berjemaah di Masjid tercinta, Masjid Besar Al-Falah

– Setelah itu dilanjutkan dengan mengerjakan sholat tasbih sebanyak 4 rakaat yang terdiri dari 2 salam, dan dalam tiap-tiap gerakan sholatnya diiringan dengan bacaan “Subhanallah Walhamdulillah Waa Laa Ilaa Haa Illallah Wawalllahu Akbar” sebanyak 15 kali pada saat setelah membaca do’a iftitah atau setelah berdiri dari sujud untuk membaca Al-fatihah, sedangkan untuk gerakan yang lain membacanya hanya sebanyak 10 kali. Jadi dalam satu rakaat itu bacaan subhanallah…. sebanyak 75 kali. Jadi jika ditotal 4 rakaat berarti sejumlah 300 kali. Nah kenapa berjumlah sebanyak itu saya belum tahu, coba saja dicari sendiri mengenai tuntunan sholat tasbih. Rakaat pertamanya membaca Al-Kafirun dan yang keduanya membaca Al-Ikhlas.

Saat masa kecil dulu, ini merupakan sholat terlama yang dijalankan dan bikin keringetan, Masih kata profesor saya, sholat tasbih tidak harus dilakukan waktu-waktu tertentu saja, bisa saja dilakukan kapan saja, bisa sehari sekali, seminggu sekali, setahun sekali (dalam hal ini biasanya untuk menyambut datangnya Ramadhan) bahkan seumur hidup sekali. Untuk niatnya adalah niat sholat tasbih karena Allah Ta’ala.

– Selesai mengerjakan sholat tasbih dilanjutkan dengan membaca surat Yasin sebanyak 3 kali, Yasin yang pertama berdo’a untuk panjang umur, Yasin yang kedua berdo’a untuk rezeki yang halal, dan Yasin yang ketiga untuk keteguhan iman.

– Pembagian tumpeng yang dibawa oleh dermawan/donatur dengan lauk, sayur dan nasi yang masih panas dengan dibungkus daun….Mantapnya.

– Sholat isya’ berjemaah dan kembali ke rumah.

Lagi..lagi waktu masih kecil, indikasi yang menguatkan bahwa malam itu adalah malam nisfu sya’ban adalah jika pohon-pohon tidak bergoyang ( alias tidak ada angin ), kalau ada pohon yang bergoyang berarti malam nisfu sya’bannya tidak valid. Kalau untuk masa sekarang…saya titip senyum saja karena ilmu saya tidak mumpuni untuk menjawab fenomena dan anggapan yang seperti ini. Untuk saat ini, esensi malam nisfu sya’ban adalah bukan sekedar meneruskan tradisi atau momen yang sudah baku terjadi, tapi bagaimana mempersiapkan diri menuju bulan Ramadhan untuk lebih serius dan lebih baik lagi dari ramadhan-ramadan sebelumnya, jika tradisinya bagus dan membuat asupan nutrisi ruhiyah kita semakin bertambah ya mari kita jaga bersama-sama dan jangan sampai dibumbui oleh hal-hal yang dapat merusak nilai di dalamnya. Selain itu, adanya momen semacam ini juga menjadikan kehidupan masjid menjadi semakin hidup dan bervariasi, masjid bukan hanya tempat sholat saja tapi juga tempat berkumpulnya masyarakat untuk berlomba-lomba mencari dan mendapatkan kebaikan serta ajang interaksi sosial spiritual.

Terimakasih telah mempertemukan saya kembali dengan momen ini, semoga memberikan kebaikan tidak hanya bagi diri sendir tapi juga bagi keluarga saya, masyarakat sekitar dan saudara-saudara muslimku yang lain. Semoga kita semua bisa meraih keberkahan bulan Ramadahan…Amin Yaa Mujib. Tak lupa semoga kedua orang tua saya diberikan ampunan dan rahmat, khususnya untuk Ibu saya semoga senantiasa diberikan kesehatan dan keselamatan serta diberikan kemudahan untuk segala kesulitan yang sedang dihadapi…Amin Amin Allahumma Amin.

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Islam, Madura. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s