Saat Kehilangan yang Tercinta

Bismillahirrahmanirrahim,

Bangun pagi hari ini dibuka dengan sebuah informasi dari Ummi yang mengatakan bahwa Kyai Masduki meninggal dunia. Agak kaget tapi proses pengumpulan sukma sedang dilakukan karena baru bangun tidur. Jadi hanya bisa mengatakan “Inna Lillahi Waa Inna Ilaihi Roji’un”. Belum banyak mengumpulkan ke daftar tanya ke ummi karena takut kehilangan Shubuh.

Beberapa saat setelah itu, sambil menikmati pencarian di Internet kemudian mencoba untuk menghubungi salah seorang putri mendiang yang nomer 9 dan kebetulan dia adalah teman SMA dan kami cukup dekat satu sama lain. Alhamdulillah, panggilan saya diterimanya dan posisinya saat itu sedang di rumah abanya. Melalui telepon, saya katakan “turut berduka cita ya, nanti siang sebelum dikubur saya mau ta’ziyah ke sana”. Menurut penuturannya, jenazah akan dikebumikan jam 1 siang di pemakaman di dekat rumahnya.

Sebelum meluncur ke TKP, saya pamit dulu ke ummi dengan mengatakan bahwa saya mau melayat ke rumah Hafshah. Jarak dari rumah ke TKP kurang lebih tak sampai 10 menit. Saya di pusat “desanya” sedangkan rumah teman saya tersebut di daerah temor lorong yang cukup dekat dengan lokasi jembatan Suramadu. Si kuning menemani saya ke sana, dan saya pun memarkirnya di depan rumahnya agak ke samping. Terlihat kok tetamunya laki-laki semua dengan kostum berkopyah, bersarung dan mengenakan baju koko/kemeja. “Apakah jalan yang saya lewati ini pintu masuk buat kaum laki-laki ya? atau gimana?”tanya saya ke diri sendiri. Ya beginilah kalau sudah memasuki area pesantren, sering suka salah tingkah sendiri karena takut tak sesuai prosedur dan terkesan menyepelekan nilai-nilai/tradisi yang ada. Maka dari itu kalau diajak Aba/bapak ke saudara yang lingkungannya pesantren saya kadang suka menolak dengan alasan salamannya banyak dan panjang (itu saat masih muda belia dulu,ūüôā ). Dengan langkah mantap dan percaya diri saya pun menembus kerumunan itu dan syukurlah bahwa jalan itu adalah jalan untuk semua orang. Terdengar lantunan ayat suci yang dibacakan oleh orang-orang dan kemudian diikuti dengan pembacaan tahlil secara berjamaah di sudut musholla yang terletak di depan rumah teman saya tersebut dan di situlah tempat jenazah sementara sebelum disholatkan di masjid yang jaraknya hanya beberapa jengkal kaki dan kemudian dikuburkan yang jaraknya juga tak jauh dari masjid.

Saya pun memasuki wilayah akhwat (baca : wanita) dan di teras tampak sang penerima tamu yang tidak saya ketahui, selesai bersalaman dengannya langsung saya tanyakan “Hafshah dimana?”, beliau mengatakan bahwa ia ada di dalam, sayapun memasuki ruang tamu itu dan sebelum menjangkau ke posisi teman saya tersebut saya bersalam-salaman dulu ke beberapa tamu yang saya lewati dan yang terkhusus adalah di kerumunan itu tampak seorang wanita yang begitu loyo nan sedih menerima tamu. Beliau adalah istri mendiang KH.Masduki Fadli, saya bersalaman dan sungkeman dulu dengan Ibu Nyai Masduki, karena terlihat bingung saya mengatakan “Ini IIS mik”, dengan spontan beliau menjawab :¬† “iya, abanya sudah tidak ada Is,¬† dimaafkan ya kalau ada kesalahan”, saya : “saya juga minta maaf Mi’ kalau ada kesalahan”. Saya pun duduk ala santri di belakang beliau dan di depan saya ada beberapa putri-putri mendiang yang sudah saya kenal :Farah, Mbak Lilik yang juga seorah hafidzah, putri bungsu dan beberapa yang lain, dan tak ketinggalan juga adalah sohibiah saya tersebut yang ditemani oleh putrinya. Mereka masih belum mengenal saya ternyata, menghemat waktu saya pun langsung mengatakan bahwa saya Iis, temannya Hafshah. Dan Hafshah pun baru sadar kalau itu saya (dasar emang tuh bocah, berasa udah berapa taun aja gak ktemu, ktemuannya hanya lewat telepon aja). Saya pun duduk dengan posisi dan gaya seperti semula dan mendengarkan cerita dari istri mendiang. Kerumunan orang membuat suara beliau tidak terdengar dan yang saya dapatkan hanya bahasa tubuh beliau saja, informasi secara lisan dan deskriptif belum saya dapatkan dari narasumber. Teman saya saat itu sedang sibuk mengurus tamu dan anaknya yang sedang rewel karena minta pulang ¬†ke rumahnya yang lokasinya lumayan jauh dari Bangkalan. Sambil mengamati para tamu yang hadir dan putra-putri mendiang “Ckcckckckkckckck, begini ya kalau banyak anaknya (lebih dari 10), bisa jadi perwakilan¬† keluarga bagi para tamu yang sedang berta’ziyah, yang cowok-cowok mengurus pemakaman dan sholat, yang cewek-cewek mengurus dapur dan pelayanan terhadap tamu dan lain sebagainya”. Dalam lingkungan pesantren merupakan hal yang biasa jika banyak anak karena merekalah yang nantinya akan melanjutkan estafet perjuangan orang tuanya.

Farah (adik ke berapa gitu dari teman saya) menemani saya selama saya berta’ziyah di sana. Dan Alhamdulillah saya pun mendapatkan informasi kronologis mengenai mendiang. Dan kebetulan juga Farah lah yang menemani mendiang sejak pertama kali masuk rumah sakit sampai sang aba tercinta pulang ke rahmatullah pada hari Sabtu, 24 Juli 2010 sekitar jam 2 pagi. Beliau menceritakan bahwa abanya 20 hari berada di rumah sakit, 13 hari di RS Pamekasan-Madura dan satu minggu berada di RS Husada Utama-Surabaya. Sebelumnya sang aba memang terkena diabetes, namun pada saat di RS mengalami sesak napas dan hari Jum’at sore kemarinnya beliau mengalami kritis. Hmmmm, jadi teringat ¬†kronologis Bapak sendiri dan saya lumayan tahu awal bapak sakit karena sayalah yang dulu masih sering tidur sama aba-ummi, 3 kakak saya yang lain tidurnya di kamar yang lain. Ya ya ya, membuka memori masa lalu yang tidak akan pernah terlupakan dan senantiasa akan menjadi bagian penting dari bab-bab kehidupan yang tak akan lekang oleh waktu. Berdasarkan narasi yang dipaparkan oleh Farah, saya pun menanyakan : “loh,kenapa gak di RS Bangkalan saja?, kok jauh banget ke Pamekasan (FYI : jarak Burneh-Pamekasan kurang lebih 2 jam)”, Farah pun mengatakan : “pelayanan di Pamekasan lebih bagus dibandingkan di RS Bangkalan”. “Tuuuuuuul, RS Bangkalan memang payah dalam hal pelayanan dan infrastrukturnya, jadi tak usah kaget jika sebagian orang Bangkalan akan lebih memilih Surabaya untuk urusan rawat inap dan pengobatan” (ini kata saya yang sudah merasakan dan melihat sendiri bagaimana kondisi RS di kota yang cukup saya cintai ini…Huffffttttt, kapan majunya kalau begini, kurang memanusiakan pasien, dan perawatnya pun juga kurang ramah, apalagi dokternya…wuiiiih galak euy, sepertinya elemen RS di sini perlu membekali diri dengan ilmu psikologi dan customer satisfaction deh supaya ke depannya tingkat kepercayaan pelanggan terhadap instansi kesehatan pemerintah ini lebih terangkat)

(Singkat cerita), menjelang dzuhur prosesi penyolatan sekaligus pemakaman jenazah pun akan segera dilakukan. Salah seorang meminta istri mendiang untuk keluar dari ruangan untuk melihat keberangkatan suaminya yang terakhir menuju ke liang lahat. Para tamu ikut berhamburan keluar dan saya pun mengikuti mereka. Iringan kumandang tahlil dari para tamu yang hadir melepas keberangkatan beliau menuju liang lahat, isak tangis pun tak terelakkan menerpa kepada para hadirin, lebih-lebih istri mendiang, sambil duduk dengan didampingi Farah dan putrinya yang lain beliau menangis dan berteriak sambil mengatakan “Mas, 41 tahun kita bersama, sekarang mas sudah pergi, tinggal 2 anak kita (baca : yang belum menikah), nanti saya ngomong sama siapa, siapa yang menjaga anak-anak kita mas”. Tamu sekaligus saudara dari pihak keluarga berusaha menenangkan beliau untuk sabar dan ikhlas dengan meyakinkan bahwa beliau sudah tenang di sana. Saya pun larut dalam suasana ini dan ikut merasakan apa yang beliau rasakan, jangankan beliau yang sebagai istrinya, saya saja sebagai anak yang pernah ditinggal oleh Aba sendiri merasakan betapa kiamatnya dunia saat ditinggalkan oleh orang yang kita cintai dan kesedihan karena ini tidak bisa ditukar dengan apapun. Tetes air mata pun tak terbendung mengalir dan sebaris do’a pun terpanjat untuk almarhum. Sosok yang sangat kondang bagi masyarakat Madura karena pernah menduduki jabatan sebagai anggota DPR pusat dari fraksi PPP dan setelah PPP pecah sekalipun (karena banyaknya partai yang bermunculan) beliau tetap konsisten di partai ini, sebagai pengisi ceramah/taushiyah di beberapa tempat, sebagai pemimpin rumah tangga sekaligus kyai yang tidak menganut paham poligami. Salut dan bangga bagi sosok¬† KH.Masduki Fadli, karena di samping kesantunannya juga kiprah sosialnya yang patut untuk dijadikan teladan.

Saat iringan jenazah sudah mulai menjauh dari pandangan kaum hawa, kami pun masuk kembali ke dalam, dan kesedihan pun masih berlanjut disertai isak tangis yang tak terbendung dari istri mendiang. Bayangkan saja, 41 tahun bersama, begitu banyak asam garam kehidupan yang telah beliau-beliau lalui bersama, sang istri dinikahi oleh mendiang saat berumur 19 tahun dan mendiang sendiri berumur 26 tahun. Kontrak pernikahan yang Allah berikan untuk beliau adalah selama  41 tahun, bagaimana dengan Anda?, semoga mampu meneladani kebaikan yang sudah beliau contohkan. Jadi teringat dengan status facebook beberapa teman saya berikut :

1. Saat mi’raj rasul bertanya kepada jibril. wahai jibril siapakah yang memakan makanan busuk padahal disampingnya ada makanan yang lebih baik. Lalu jibril berkata: itulah manusia yang lebih suka menggoda suami/istri orang lain. dan tidak mensyukuri suami/istrinya….hayoooooooooooooooooooo, ngaku…???

2. KEINDAHAN PRIBADIMU MENENTUKAN KEINDAHAN PENDAMPINGMU -Mario teguh-

(thanks friends for these inspiring quotes, semoga kita semua mendapatkan rahmatNya).

(Kembali ke cerita), dikarenakan sudah siang dan para tuan rumah terlihat sibuk maka saya pun pamit diri. Ada banyak hal yang saya dapatkan dari aktivitas ta’ziyah dan silaturrahim ini :

– Menyambung kembali ikatan persaudaraan yang sudah lama tak terikat, saking dari keselnya teman saya sampai-sampai saya dilempari dua jilbab dengan mengatakan “kalau aba gak meninggal kamu gak bakal maen ke sini” (gak segitunya kale, ya gimana saya ke sana, orang dianya sendiri udah gak di situ lagi coz udah punya santri sendiri di tempat nun jauh di sana, giliran dia di situ lah sayanya yang di sana…belum dipertemukan saja)

– Mengamati dan belajar secara langsung mengenai ilmu sosial yang berkaitan dengan interaksi antara santri dan keluarga kyai. Jadi begini ya cara salaman dan jalannya santri ke Nyai (nyai = panggilan untuk keluarga santri yang cewek). Saya mah susah euy pakai yang begituan, yang umum-umum saja. Menggunakan bahasa Madura yang halus saja mikirnya kelamaan dan kadang dipadukan dengan bahasa Madura yang umum yang kurang pas pasangannya, harap maklum kosakata bahasa Madura saya yang versi halus dan tingkat tinggi sangat terbatas, makanya dikarantina dulu di sini supaya lidah Maduranya tak tereliminasi oleh jaman (lol, lebay). Oleh karena itu, kalau di Madura banyak diamnya takut-takut salah karena masalah budaya adalah hal yang sensitif.

– Adik-adik teman saya sudah gede-gede (kaget.com) dan para kakaknya juga sudah memiiliki anak-anak yang lucu-lucu.

– Air mata adalah hal universal untuk mengintrpretasikan kesedihan atau kebagiaan seorang manusia.

– Semakin memaknai hidup bahwa kehilangan itu tidak hanya berlaku untuk kita saja tapi orang lain pun pada gilirannya akan mendapatkannya.

– Kehilangan seorang istri terhadap suaminya ternyata lebih besar dibandingkan rasa hilangnya anaknya terhadap Bapaknya. Maaf Ummi jika selama ini kami kurang peka terhadap ini.

-Menambah pengetahuan mengenai realitas sosial dan kehidupan masyarakat sekitar.

Semoga amal ibadah almarhum di terima di sisiNya …Yaa Rahman Yaa Rahiim

Diampunkan segala dosa-dosanya…. Yaa Ghaffar

Diterangkan kuburannya ….Yaa Nuur

Terhindar dari siksa kubur

Yaa Shobbur, karunikanlah kesabaran kepada keluarga yang ditinggalkan dan berikanlah keikhlasan juga Yaa Mukhlis

Allahumma Fighlahu Warhamhu Waa Afihu Wa’Fuanhu….Amin Yaa Rabb.

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Madura. Bookmark the permalink.

2 Responses to Saat Kehilangan yang Tercinta

  1. elok says:

    mb’ is

  2. Is says:

    Elok,,,,adiknya Hafshah, apakabar neng?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s