Renungan Atas Realitas Sosial

Alhamdulillah,

Sejak secara resmi menjadi seorang pengangguran begitu banyak mata kuliah kehidupan yang didapat. Jadi semakin mensyukuri dan menghargai hidup. Lebih-lebih jika melihat realitas sosial yang ada di masyarakat, kalimat apa lagi yang pas untuk kita pergunakan selain kalimat syukur alhamdulillah. Setiap orang memiliki masalah masing-masing, begitulah skenario sang khalik untuk senantiasa mengasah rasa ikhlas para mahluknya dan terus menggantungkan diri padaNya, ya dalam surat Al-Ikhlas (setelah membaca dan menyimak artinya) dikatakan bahwa “Allah tempat bergantung segala sesuatu”. Huffft, tak bisa dipungkiri bahwa manusia selalu terombang-ambing dalam pemantapan rasa ikhlas dan ketergantungan diri pada sang Maha Tinggi.

Beberapa jam yang lalu mendapatkan informasi dari seorang sanak saudara yangg sedang membungkus bihun untuk dijual ke anak-anak TK di sekolah dimana seorang tetangga bekerja di situ bahwa tadi pagi si tetangga yang dititipkan bihun ini mencari lauk untuk dimakan hari ini. Astaghfirullah, sebagai tetangga saya pun turut prihatin dan benar-benar baru tahu kondisi ini, tadinya saya pikir hanya gajinya saja yang pas-pasan, tapi realitasnya adalah kondisinya begitu amat sangat kekurangan. Bayangkan saja, karena suaminya sakit-sakitan sehingga yang bekerja hanya istrinya saja, itu pun sebagai THL (tenaga harian lepas) dengan gaji 400 ribu/bulan dan jumlah anak 4 orang. Jika sedang tidak ada uang, anak-anak itu tidak bersekolah dan kalau sudah tidak punya makanan untuk dimakan hari ini pagi-pagi sudah ke tempat tetangga. “Kalau dia memang benar-benar gak mampu, sampe-sampe mo minta sayur sisaan kemaren kalo ada” tutur kerabat tersebut ke saya, “sebegitunya mbak, terus bayar listrik, dan lain-lain gimna?”balas saya, sang kerabat pun menjawab lagi “ya pinjem sama orang, uang 400 di jaman skarang mana cukup, kadang beras dikasi orang”. Ya ya ya, pantesan anaknya yang kebetulan belajar di rumah juga memiliki karakter yang berbeda dengan anak-anak seusianya. “Udah suruh belajar lagi aja ke rumah, namanya juga anak kecil, ngomong kadang sekeluarnya, biar dia bisa berteman sama yang lain juga” kata saya.”Iya nanti dibilangin ke orangnya” kata kerabat saya tersebut.

Di hari yang sama dengan waktu lebih awal, saya kayuhkan sepeda ke zona favorit. Terlihat area persawahan yang sudah menguning dan tumpukan tanaman padi yang menggunung karena musim panen telah tiba. “Musim gajian-nya para petani telah datang, mereka bekerja dari pagi sampai petang dan dengan fisik yang terkuras habis di tengah teriknya mentari, sementara saya yang hanya seperti ini tak perlu berpanas-panasan di tengah sawah….MASIH saja mengeluh dan mengadu”guman hati saya di tiap kayuhan sepeda yang saya naiki.

Pada saat memandangi lukisan alam yang begitu sempurna, saya parkir sepeda di samping jembatan penyebarangan yang menjadi pembatas antara sawah sebelah kiri dan sebelah kanan. Kemudian saya mengambil beberapa gambar, ehhhh tiba-tiba ada yang datang dan mau menuju ke sawah sebelah kiri dan sepedanya pun diletakkan berdekatan dengan sepeda saya, bedanya sepedanya ditempelkan ke badan jembatan. Saya mengawali sebuah senyuman dan dia pun membalasnya, dia mengatakan “udah di situ aja gpp, cuman naro sepeda aja kok”, “iya pak, mataharinya udah bersinar, udah mulai panas, mau balik dulu ke rumah” alasan saya (padahal gak enak tuh, keliatan ngambil gambar di sini dan di sana, sok kota aja ya klo kata sepupu saya). “kamu masih kuliah apa sudah selesai ” tanya bapak si bapak berkumis yang masih terlihat segar bugar itu, saya : “saya udah selesai pak”, bapak berkumis:”enak ya, gampang nyari kerjanya”, saya : (mesem-mesem dalam hati)”insyaAllah, do’ain aja pak”, dia lagi : “abangmu udah nikah ya”, dalam bahasa Madura berbahasa saya jawab :”enggi lastare (= ya sudah), sampeyan geduan pottra sanapa (= Bapak punya anak berapa)”, dia menjawab : “ada 3 orang, satu di Surabaya, yang nomer 2 sudah SMA, yang nomer 3 masih SD”, saya respon lagi : “ooooo, ada yang di Surabaya juga, kuliah ya pak di sana?”, Bapak :”mana ada uang buah nguliahin, kan mahal, di sana kerja jadi satpam di hotel Marriot”, sepertinya respon saya yang ini kurang begitu tepat pertanyaan…alangkah lebih baiknya jika saya menanyakan “tinggal dimana di sana?” (perlu banyak belajar berinteraksi dan berkomunikasi sosial. Saya pun menutup komunikasi dengan mengatakan “pak pamit dulu ya, mau balik, udah siang juga”, pak kumis :”iya ya, ini mo pindahin kerbau”, saya :”ouw jadi itu kerbau Bapak, mari ya Pak”. Saya ngacir dengan sepeda dan sambil menikmati kesegaran udara pagi sawah. Hebat Bapak kumis itu, selain tukang bangunan juga petani, jika tidak ada proyek di bangunan dia beralih ke sawah. Salut lah untuk perjuangan Bapak yang satu ini.

Bertemu lah dengan seorang Ibu yang tiba-tiba mau pinjam uang ke saya dan saya mengatakan bahwa saya sedang tidak mempunyai simpanan dan Ibu cukup tahu lah kalau saya ini mantan anak kosan, walaupun sudah bekerja ya uangnya habis untuk bayar ini itu, apalagi saya sekarang belum bekerja, saya belum memiliki uang sejumlah yang Ibu mau pinjam. Saat ditebak saya memiliki tabungan, saya hanya mengatakan dalam hati “Alhamdulillah” dan Yaa Allah Engkaulah yang Maha Mengatahui keadaanku saat ini. Sambil menyarankan “Ibu coba aja tanya Mbak X, mungkin dia punya, emang Ibu buat apa?”. Si Ibu yang penampilannya selalu resah gelisah dan tidak tenang itu mengatakan “buat beli hadiah buat dikasi ke orang”. Dalam hati saya mengatakan “Astaghfirullah, ngapain siy maksain diri banget klo gak punya, biarin aja napa klo emang gak punya, untuk diri sendiri aja masih susah, ini malah mo ngasih hadiah dan pinjem lagi, kayaknya agama gak maksa deh”.

Dan masih banyak lagi problematika sosial lain dari urusan karakter yang masih seperti anak kecil walaupun sudah memiliki anak, menceritakan aib rumah tangga tanpa filter ke orang lain, penyebaran fitnah yang belum terbukti secara peer to peer, perselingkuhan (yang selalu marak), kesadaran akan tanggung jawab, celotehan dan curhatan anak-anak dan lain-lain. Dan tentu saja kehidupan saya dan keluarga juga merupakan bagian dari realitas sosial itu, bukan untuk dikeluhkan atau diupdate terus statusnya karena itu bukan jalan keluarnya, tapi bagaimana ditanyakan ke diri sendiri dan dimintakan jawabannya ke sang Maha Pemberi Jawaban, dan kalau pun ada yang mau mengeluh ya monggo aja toh itu hak setiap manusia…bukankah telur dalam satu kandang itu semuanya tidak sama? tergantung pribadi masing-masing saja.

Semakin menghargai dan mensyukuri hidup dengan melakukan dan membuat yang lebih baik (make and do it better), please stop complaining. Mendewasakan diri dengan membuka komunikasi dan interaksi selebar-lebarnya kepada siapa pun, bukan hanya sekedar memperluas networking tapi juga menimba hikmah dan menjadi keberhati-hatian dalam menapaki ranjau-ranjau kehidupan.

Waa Syukurillah.

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

2 Responses to Renungan Atas Realitas Sosial

  1. arob says:

    nice inpo mbak…

  2. Is says:

    Semoga bermaanfaat ya Arob dan salam kenal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s