Tak Ada Dufan, Jatim Park pun Jadi

Alhamdulillah Waa Syukurillah,

Kumpul2 sek rek

Pesta rakyat sekolah dasar kelas 6 telah usai (baca : EBTANAS) dan sebagai acara pisah kenang biasanya diadakan acara jalan-jalan ke luar Madura. Kebiasaan ini tidak hanya berlaku di sekolah-sekolah yang ada di Madura (khususnya Bangkalan), di sekolah-sekolah lain pun (baik perkotaan sekalipun) mengadakan acara serupa supaya para peserta didiknya memiliki kenangan yang tak terlupakan semasa SD.

Realitasnya, Malang adalah pilihan hampir seluruh sekolah yang ada di Bangkalan. Habis kalau ke Jakarta kejauhan dan mahal juga, ke Jogjakarta juga begitu, ke Bali…??? masih SD dan belum cukup umur. Jaman-jaman saya sekolah SD dulu jalan-jalannya juga ke Malang, kalau tidak salah ingat waktu itu kami pergi ke Sengkaling, Selecta dan pasar apa gitu (lupa namanya). Malang jaman saya dengan Malang jaman sekarang sangat berbeda. Sekarang sudah banyak tempat-tempat rekreasi yang baru dan menggemaskan bagi anak. Benar-benar pilihan tepat bagi anda-anda yang ingin melepas stress dan menikmati hawa dingin alamiah.

Atas ajakan dan tawaran tante saya yang kebetulan adalah guru di SD Soket Dajah Kecamatan Tragah maka saya pun mengamini hal yang baik ini. Sudah gratis, jalan-jalan dan belum pernah juga ke sana. Untuk memverifikasi kesediaan saya tersebut sampai-sampai sang tante yang khawatiran ini datang ke rumah sore-sore untuk menanyakan saya siap atau tidak. Ya elah, sudah berasa seperti apa? insyaAllah dibungkus lek, saya ikut. “Awas bangunnya pagi-pagi, jangan sampe telat…ntar ditinggal, bawa kamera sama handycam-nya” titahnya, saya : “ya iyalah bangunnya pagi, emang gak sholat shubuh apa, kamera tanpa disuruh pun saya bakal bawa, handycam juga bawa, asalkan gratis tuh”jawab saya.

Sudah saya prediksi, pasti bolak-balik nelpon ke HP, rumah dan Ummi. Dan prediksi pun benar, karena berkali-kalinya saya pun tak mengangkat teleponnya. Tiba-tiba hadir seorang sepupu yang lain dan teriak di depan pagar supaya saya cepat-cepat karena bus-nya sudah menunggu di depan. “G.A.W.A.T” kata saya ke sepupu yang menjemput. Sampai-sampai tak jadi sarapan pagi di rumah dan saya pun membawa kotak makan karena ibu sudah memasakkan telor ceplok untuk saya. Ibu khawatir karena menu yang ada dalam kotak itu hanya telor, dengan santai saya menjawab “udah gpp, tambahin kecap aja, yang penting keisi aja perutnya” kata saya. Masalah makan tak usah dibawa ribet, yang penting makan..halal, kenyang dan bertenaga, asalkan sehat makan apa saja juga masuk.

Nurul & Olga

Saat menuju rumah tante saya, tampak buru-buru menuju ke jalan yang terletak di gang depan. Dalam keterburuannya itu, sepupu saya Nurul mengatakan “ayo mbak cepetan, busnya udah nungguin”, dengan santai saya jawab : “kayak gak tau aja, dia kan emang suka gitu…G.A.W.A.T”. Pas di depan gang, apa yang terjadi? busnya belum datang, dan baru datang beberapa tak sampai 5 menit kami berdiri di situ. Kami berempat pun masuk (saya, bulek, Olga dan Nurul) dan di dalam sudah ada seorang guru yang domisilinya di Bangkalan. Bus kami pun meluncur ke sekolah yang dimaksud untuk menjemput para murid-murid kelas 6 yang akan meninggalkan sekolahnya dan masuk ke jenjang sekolah menengah. Sementara sang bulek turun dan menghampiri murid-muridnya, saya makan bekal yang dibawa dari rumah. Naik-naik ke bus tante saya bersama rekan-rekan gurunya mengatur posisi muridnya dan saya masih menikmati makanan saya. Selesai makan, saya jalan-jalan ke belakang untuk melihat murid-muridnya karena akan saya foto. Karena itu salah satu isi MOU saya dengan tante. Saya mulai melangkah dari tempat duduk dan tiba-tiba ada yang menyapa “eh Bu Iis”,  “(whew) kok ada yang kenal”dalam hati saya. Tante pun mengatakan “murid yang ikut sekarang adalah murid yang pernah saya ajar dulu di kelas 4”, “Astaga, udah pada gede-gede ya” kata saya. Sebelum bus melaju menuju tempat pelanconga, tiba-tiba ada beberapa ibu-ibu yang naik ke atas sekedar untuk mengatakan hati-hati, awas uangnya simpan baik-baik dan aneka petuah yang lain. Menyaksikan ini saya hanya mesam-mesem dan mengatakan ke sepupu yang duduk di sebelah saya “udah kayak orang mo berangkat haji aja, ini niy yang paling gak saya demenin…super heboh”. Bus kami pun meluncur melewati jembatan Suramadu. Dalam perjalanan menuju Suramadu tante saya memperkenalkan kepada kepala sekolah yang baru (bukan kepala sekolah yang pernah saya temui dulu pada saat mengaajar di sana : “pak ini bla bla bla….”, sang kepala sekolah menjawab : “ouw iya tau yang nulis sekolah soket dajah di Internet itu ya (Baca Internet = Blog, red)”, “alamak kok terkenalnya gara-gara itu ya, blog oh blog, don’t make me go blog terus deh”. Yang membuat saya malu bukan karena blog saya, tapi karena tulisan yang kalau tidak salah berjudul “menjadi guru SD” dan terdiri 2 bagian itu dicetak oleh tante saya dan kemudian dibaca di depan teman-temannya dan juga sepupu yang lain. Sudah serasa penulis kawakan saja yang karyanya dibaca dimana-mana….hehehehehhehe, amin waa InsyaAllah.

Kok berasa mau pergi Haji aja

Perseba Mania v Arema = Sama2 JATIMnya, gak usah berantem

Detik-detik akan sampai di jembatan Suramadu pun lah tiba dan tante menginformasikan ke murid-muridnya bahwa kita sudah sampai di jembatan Suramadu. Ke teman sebelah saya mengatakan “G.A.W.A.T, udah pada tau kali tuh sama jembatan”. Dan ooopss, ternyata saya udah suudzon sama tante sendiri karena ternyata banyak dari mereka yang belum pernah melihat dan menyebrang di jembatan Suramadu…Astaghfirullah, maaf lek ya.

Dalam perjalanan menuju Malang banyak ditemui bis-bis pariwisata yang berisi murid-murid SD dengan guru dan ibunya. Alamat Malang akan macet jaya ini. Alhamdulillah perjalanan Madura-Malang ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 jam. Lokasi Jatim Park berada di Batu dan bukan kotanya. Menuju lokasi wisata ini ditempuh dalam kurun waktu 1/2 jam.

Sampai juga di lokasi parkir Jatim Park. Luar biasa, parkiran berisi bis pariwisata semua, melihat jejeran bis sudah seperti melihat tumpukan rotii yang siap didagangkan. Dari lokasi parkiran menuju lokasi wisata ternyata lumayan jauh dan jalannya menanjak. Kami berjalan berjamaah tidak hanya bersama rombongan tapi juga dengan rombongan bus yang lain. Ya, kamilah kafilah pelancong Jatim Park. Dalam rombongan kafilah-kafilah itu saya bertemu dengan teman SD saya, kami mengobrol sebentar dan setelah itu kami mensgregasikan diri ke rombongan kami masing-masing.

Reunian SD

Jatim Park yang Ono

Bikin penasaran saja, apaan siy Jatim Park, sebagus apa, kok gak nyampe-nyampe ke lokasinya, ada apa aja di sana?, kalau hanya cerita kok rasa-rasanya belum puas. Sampailah di jembatan yang berbunga-bunga menuju lokasi.

Dan setelah beberapa saat mengantri di jembatan ini karena kepadatan pengunjung yang jumlahnya sudah tidak bisa dihitung dengan sempoa. Sampai juga di depan pintu masuk Jatim Park.

Bleh, Ini Toh Jatim Park-nya

Pak kepsek yang pake kemeja putih

Sambil menunggu membeli tiket yang juga ngantri jaya dahsyat. Kami pun duduk-duduk dan saya mengamati satu per satu mulai dari orang dan gedung-gedungnya. Pada saat mengamati, tiba-tiba terjadi kehebohan karena tante saya bertemu dengan tetangga sekampung, jadilah kami “ngerumpi” dulu di depan pintu masuk, karena rombongan mereka juga sedang mengantri tiket. Saya salaman dulu kemudian saya berjalan-jalan kecil sekitar situ supaya tak terpisah dengan rombongan dengan sambil memperhatikan ada apa saja (maklum, namanya juga pertama kali ke sini). Ya ya ya, Jatim Park tak beda jauh dengan Dufan, yang beda tiket masuknya saja lebih murah dan arena permainannya mini dan beraneka. HTM-nya hanya 35.000 (apa 36.000 ribu gitu, entah namanya juga gratis saya tak tahu pasti, pokoknya sekitar segitu yang saya dengar dari sepupu saya). Ada apa saja di Jatim Park, ini gambaran buat yang belum pernah ke sana :

Ini dia arenanya

Masuk juga ke dalam arena Jatim Park, sajian budaya nusantara pun menghampiri pemandangan kami di awal-awal pintu kemudian masuk ke hal-hal yang berbau pelajaran anak-anak sekolah, lalu ke aneka arena permainan mulai dari yangg basah-basahan sampai dengan yang jantung-jantungan. Hufffttttt, tak ada Dufan Jatim  Park pun jadi. Saya sambil belajar juga di sana, tapi kerinduan bermain pun hadir sehingga atas ajakan sepupu saya untuk menaiki roller coaster pun saya iyakan. Jadilah saya bersama sepupu dan sepupu lain (anak tante) yang baru sampai “menikmati” permainan ini. Muka sepupu saya memerah dan tak mau lagi naik. Selesai dari sini kami berpindah ke tempat yang lain, permainan yang serupa dengan roller coaster, hampir saja sepupu yang nyusul tak mau naik, namun atas bujuk rayu kami dia naik juga dan saat masuk dalam arena ini mukanya sudah memerah dan ini membuat saya makin ngakak-ngakak saja “katanya kuliah di sini, naik ini saja takut n mau muntah….huuuuuuu”.

Tante dan Ponakan-s

Sini..sini!!! Ibu foto dulu

Selesai bermain, kami mencari tante yang tak terlihat dari peredaran arena kami. Setelah bertemu, sepupu saya pamit ke emaknya karena ada jadwal kuliah, kami pun menuju musholla untuk sholat. Seperti biasa, karena musafir shalat pun dijamak qashar. Ada hal menarik setelah kami selesai sholat dan akan menuju pintu keluar musholla, bu lek mengatakan “udah bedak-an aja dulu, habis itu baru ke tempat yang tadi lagi”, saya:”bedak-an apaan, orang aku gak pernah bawa bedak juga, langsung aja”.

Marilah Menuju Kemenangan

Bareng Emak Angkat

Sebelum menuju tempat yang dimaksud, kami duduk sebentar di depan musholla untuk menunggu rekan yang lain yang sedang sholat di dalam. Sambil menunggu kami ngobrol dan astaga…tante saya ketemu lagi dengan tetangga (saya tak begitu mengenalnya), seperti biasa…namanya ibu-ibu ketemu ibu-ibu. Track selanjutnya adalah menemani si Olga mandi di kolam renang, namanya juga anak kecil kalau ketemu air naluri nyeburnya sudahh tumbuh secara alamiah. Daripada nangis dan ngambek dan memang sudah janji saat les di rumah kalau akan menemani dia di kolam renang. Saya dan Nurul pun menemani si ucil ini bebek-bebekan di kolam renang, yang penting kaki dan bajunya sama rambutnya basah dia sudah sangat senang, masalah renang gaya apa saya tak terlalu paham tentang ini. Sambil menunggu dia cebar – cebur, celap-celup dan cemplang-cemplung semaunya saya menikmati pemadangan sekitar dan sambil bertanya-tanya “yang itu permainan apa ya?”.

Gaya Batu Olga

Belum Nyoba yang ini

Terimakasih Yaa Rabb sudah mengijinkan saya untuk melancong di Malang kembali. Setelah sekian lama tak ke sana Kau pertemukan kembali dengan Malang dan para murid-murid yang sudah besar. Semoga mereka diberikan kesuksesan dalam perjalanan mereka di SMP dan menjadi anak-anak bangsa teladan yang tidak hanya berprestasi secara akademis tapi juga secara sosial…Amin Yaa Mujib.

Special Thanks : buat guru-guru di SDN Soket Dajah… terimakasih banyak atas transportasi dan akomodasi yang sudah diberikan, semoga berkah selalu dan sekolahnya menjadi sekolah yang makin baik dan berprestasi.



About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s