[Masih] Boncong-Tuban Mengayuhkan Rakitku

Sudahkan pemerintah memperhatikan mereka?

Rasanya menceritakan perjalanan selama di Boncong ini tak cukup dengan sederatan alinea, karena ada banyak realitas hidup yang didapat dan ini tidak bisa diungkapkan dengan serpihan-serpihan kata dalam satu judul.Sangatlah benar jika ada yang mengatakan Life is not just a bread (pas nonton Om Ary Ginanjar di TVONE setiap malam minggu jam 1/2 9 dapat ini). Ada banyak esensi hidup yang harus kita hadapi dan pelajari, bukan sekedar mengisi perut dengan roti saja, tapi tak bisa dinafikkan bahwa roti bagian dari esensi itu.

Deburan ombak pantura

Dahsyatnya angin laut

Goyang maut pantura

Rentengan trailer dan aneka transportasi jumbo sekalipun

Tak mampu mengikis jiwa kesatrian mereka

Sebagai seorang nelayan

Pencari nafkah untuk keluarga

Penggerak ekonomi mikro dan makro Bangsa

Pembuktian kemaritiman Bangsa

Maju, meradang serta menerjang semua penghalang

Asap dapur tetap harus mengepul

Anak tetap harus minum susu dan beli permen

Istri tetap mesti hadir di pasar

(semuanya membutuhkanmu hai para nelayan, terimakasih untuk jasamu yang penuh dengan pertaruhan nyawa itu, kesegaran tangkapanmu adalah prestise bagi bangsa ini, semoga apa yang sudah kau berikan bernilai di semua orang)

: “Abantal Ombak asapo’ angen” (artinya: berbantal ombak berselimut angin) itulah representasi jiwa nelayan Madura. Dan saya pikir sama saja dengan nelayan-nelayan yang lain. Negeri maritim, itulah sebutan lain bagi nusantara kita tercinta ini. Berdasarkan pendekatan bisnis, rasa-rasanya negeri ini sudah termasuk negeri yang yang memiliki tingkat kompetitif yang tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Tapi kenapa kok masih saja tertinggal? Maaf negeriku, bukan maksud menambah jumlah responden pengeritikmu, tapi ini untuk memacu diri saja agar tak kebanyakan komentar dan keluhan. Wahai negeriku ungkapan singkat di bawah ini adalah letak kemampuan bersaingmu dibandingkan negara-negara yang lain :

– Merupakan negara kepulauan, yang terdiri dari beribu-ribu pulau, ada banyak pulau yang masih kosong, bahkan ada pulau yang sudah beralih tangan ke negara lain (hiks, sedih ya?). Dengan demikian aneka ragam budaya, bahasa, kreatifitas manusia berseliweran di negeri ini serta kaya akan sumber daya alam hayati dan non hayati.

– Merupakan negeri maritim dengan porsi 2/3 wilayahnya adalah  lautan. Jelas sekali, penduduk yang berdomisili di wilayah ini adalah nelayan. Pada era pemerintahan Gus Dur (almarhum) ada menteri kelautan, sebagai orang Jawa Timur tentunya Gus Dur sudah sering melintasi daerah pantura dan sering bertemu dengan realitas sosial kehidupan nelayan yang mungkin kurang dipedulikan oleh pusat. Dengan kondisi ini, masyarakat tak perlu repot dan bingung yang menu makan tiap hari, toh alam kita sudah menyediakan, ya terserah saja…mau mancing sendiri di laut yang jauh di sana atau “titip” ke para nelayan yang sudah teruji kualitasnya.

Hasil Tangkapan, 10 ribu katanya

– Merupakan negeri agraris dengan sebagian besar penduduknya berada di sektor pertanian. Pantas saja jika banyak barang komoditas yang dihasilkan di sini. Mau mangga, apel, jeruk, semangka dan buah-buah yang lain semuanya tersedia tinggal mengembangkangkannya saja mau dibuat rekayasa genetika seperti apa lagi buah-buah alam itu sehingga bisa mengikuti perkembangan jaman.

-Negeri yang Gemah ripah loh Jinawi, yang mau menanam apa saja bisa tumbuh. Tanahnya subur dan gembur.

– Ckckckckck (apalagi ya),….dan banyak lagi yang lainnya.

Just Scroll Down To Continue

Masih terngiang dengan pembahasan thesis saya yang dalam landasan teorinya mengangkat tentang keunggulan kompetitif suatu bangsa yang dipaparkan oleh Bapak Manajemen Dunia-Michael Porter. Benar-benar banyak memberikan pencerahan bagi cara berpikir saya. Bagaimana Jepang yang kondisi geografisnya sangat labil mampu menjadi kompetitor bagi negari paman Sam dan negeri tetangganya sendiri pun (Korea Selatan) tak henti-hentinya kejar-kejaran dengannya.

Konsep keunggulan kompetitif adalah sebuah konsep yang menyatakan bahwa kondisi alami tidak perlu dijadikan penghambat karena keunggulan pada dasarnya dapat diperjuangkan dan ditandingkan. Jadi sebenarnya kondisi alam Indonesia yang sudah  potensial sekalipun belum menjadi sebuah parameter sukses bagi kemampuan daya saing bangsa. Dan keunggulan suatu negara bergantung pada kemampuan perusahaan-perusahaan di dalam negara tersebut untuk berkompetisi dalam menghasilkan produk yang dapat bersaing di pasar. Di negeri kita ini banyak produk-produknya tapi karena banyak faktor kesengajaan sehingga produk-produk itu banyak yang tidak mampu bersaing di pasar atau malah belum sempat memasuki pasar yang sebelumnya sudah ditentukan….tanya kenapa? (jawab sendiri aja ya).

Ini Bu hasil tangkapan hari ini

Peran utama negara adalah sebagai “home base” untuk perusahaan, tempat yang menyediakan teknologi inti perusahaan dan keahlian yang mumpuni.  Pandangan tentang negara sebagai  seperangkat variabel kontekstual yang memiliki beberapa keuntungan ini dilihat dari sudut pandang analisis perspektif.

M.U.N.G.K.I.N saja negeri maritim dan agraris tercinta kita ini belum bisa menjadi home base (base camp) yang asyik bagi warga negaranya; ribet di birokrasi, pungutan liar tanpa dasar hukum yang jelas, semaunya sendiri, serba instan dan cepat untuk meraih suatu hal, sogok-menyogok dimana-mana, pendidikan dasar yang payah, kurangnya pelatihan dan pengembangan bakat, pemerataan pembangunan yang masih tebang pilih, penyebaran informasi yang kurang akurat dan sering simpang siur sehingga menyesatkan dan disesatkan oleh masyarakat dan lain-lain. Dengan kondisi ini, warganya saja ogah apalagi investor asing yang tergerak hatinya untuk melakukan alih teknologi atau memperlebar pasarnya.

Kalau tak ada ikan, Kemana rakit kami?

Jangan jadikan nelayan dan petani semacam outsourcing politik yang bisa dipakai seenaknya sendiri pada saat butuh, saat panggung politik digelar beramai-ramailah melakukan pencitraan melalui mereka. Benar-benar deh, hanya dianggap sebagai screen saver semata. Padahal kiprah dan perjuangannya adalah background negeri ini, eksistensi mereka inilah martabat bangsa ini. Jika pusat saja mudah untuk memasuki segmen mereka, maka kenapa tidak untuk mereka, lebih mudahkanlah dan berilah informasi yang dapat ditangkap secara jelas oleh mereka. Jangan pergunakan bahasa politik yang tidak mereka mengerti, apa adanya saja dan terbukalah karena yang mereka perlukan bukanlah kursi yang empuk di pemerintahan, mereka hanya butuh aspirasinya didengar dan ditindaklanjuti, kerjaan pemerintah bukan sekedar berkarya kata tapi juga berkarya nyata. Jadi jabatan pemerintah bukan sekedar ambisi personal semata, tapi juga ambisi bagaimana bisa menjadi penyambung aspirasi masyarakat. Tak perlu menyatakan rasa cintanya pun pada negeri ini mereka sudah membuktikannya dengan mengibarkan sang merah putih di rakit-rakit mereka, mengenakan kaos bermerk Sby-Boediono di kesehariannya, mempromosikan kaos kebanggaan mereka yang brand-nya adalah kepartaian yang sudah seharusnya mereka pertanyakan juga misi dan kontribusinya bagi mereka.

Seperti halnya seorang nelayan, masing-masing kita sebenarnya memiliki rakit sendiri-sendiri. Terserah dan tergantung saja mau dikayuhkan kemana rakit kita. Jika di tengah gelombang saja, seorang nelayan berani mengayuhkan rakitnya…kenapa tidak dengan kita. Pakaian yang basah kuyup tiap hari adalah hal yang biasa bagi mereka, angin..badai..gelombang sudah pernah mereka taklukkan. Mampukah kita seperti mereka, tetap kuasa mengayuhkan rakit di tengah pasang surut kehidupan yang sering tak sejalan. Yaa Aziz…Engkaulah yang maha perkasa, berilah kami kekuatan untuk menghadapi ini semua, Yaa Mukhlis…berikanlah keikhlasan kepada diri kami, Yaa Razzaq..karuniakanlah kepada kami rezeki yang halal, banyak dan barakah.

“Dan semua pekerjaan adalah hampa kecuali kalau ada kecintaan; Dan apabila kau bekerja dengan cinta, kau satukan dirimu dengan dirimu, orang lain dan Tuhan” (Kahlil Gibran, Dari Buku Sang Nabi).

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s