Bersegara di Boncong, Tuban

Alhamdulillah,

Negeri Nelayan

Ajakan pun hadir dari salah seorang kakak untuk menemaninya ke Tuban karena ingin bersilaturrahim ke teman-teman lamanya yang tak terlupakan serta banyak menorehkan jasa kebaikan dalam bab-bab perjalanan hidupnya.

Mengangkat judul segara, mungkin ada beberapa yang belum begitu familiar dengan diksi saya ini. Segara berarti lautan. Sama seperti halnya akronim Madura yang merupakan kepanjangan dari Madu di Segara. Jadi bisa dikatakan bahwa secara menurut cerita legenda bahwa penemuan pulau Madura dikarenakan adanya kandungan madu di sekitar segaranya. Untuk lebih detailnya bagaimana sejarah Madura, saya tidak cukup mumpuni untuk membahasnya di sini karena pengetahuan yang minim dan ala kadarnya.

Bagaimana Menuju Boncong, Tuban :

Sebenarnya ada banyak macam cara menuju ke sana, tapi yang perlu saya bagikan di sini adalah dengan menggunakan transportasi umum. Ada 2 terminal yang bisa dipilih untuk menuju ke sana, yait Terminal Bungurasih (Purabaya) dan Oso Wilangon (Atau cukup bilang Wilangon saja orang-orang juga sudah mengerti). Mau memilih terminal yang mana itu terserah saja, tapi berdasarkan efektifitas rute terminal Oso Wilangon lebih dekat katanya. Kami pun menuju ke terminal Wilangon dengan menggunakan mikrolet /len (di Surabaya tidak mengenal kata angkot). Dari rumah kakak saya, kami berganti angkot 2 kali untuk menuju terminal ini. Keluar dari gang dengan menggunakan becak (sebenarnya ada len-nya juga) kemudian kami berpindah ke len dengan jurusan pasar turi. Kami berhenti di belakang tugu pahlawan atau orang lebih mengenal dengan daerah ta’miriyah (karena ada sekolah sama masjidnya, kalau di Jakarta 11 12 sama Al Azhar). Dari ta’miriyah kami berpindah angkot warna kuning menuju terminal. Ini perjalanan perdana saya ke terminal ini, saya pun menikmati perjalanan dalam mikrolet walaupun dengan asap rokok yang mengepul dan kemacetan yang diakibatkan angkutan besar lalu lalang keluar masuk pabrik. Kakak saya terus saja berguman “kok lama ya, gak nyampe2”, dengan tampang innocent saya tak respon keluhannya karena dia memang suka mabuk darurat (dari dulu sampai sekarang gak sembuh-sembuh). “Biarin aja, suruh sapa ngajak jalan”guman saya. Saya lihat tampangnya yang mau muntah dan mengajak ngobrol orang yang disampingnya supaya dia bisa melupakan rasa mabuknya itu, saya hanya mesem-mesem dalam hati. Setelah turun dari angkot untuk memasuki terminal saya menertawakannya dengan terbahak-bahak “whahahahahahaha, gitu aja mo muntah” kata saya, pemandangan ini disaksikan oleh petugas peron dan terminal dan mereka pun ikut tertawa. “Iya sebenarnya tadi mo minta jemput sama ayahnya Shabrina dan gak jadi berangkat, tapi karena udah niat ke sana ya ditahan-tahan aja”katanya. Selagi kakak saya membayar peron, saya mencari toilet (beser-an klo kata orang betawi). Kakak saya menunggu di depan pintu masuk menuju terminal, kemudian kami pun masuk ke dalam terminal. Sebelum masuk bis, kakak saya makan dulu karena jika tidak makan dia bisa muntah lagi di dalam bis (itu kan perasaan dia saja, ntar muntah juga, wong naik peswat saja muntah…dasar katro).

Perdana di terminal Oso Wilangon

Kaget ketika melihat terminal ini yang begitu sepi penumpangnya, pantas saja cukup bersih, tak seperti Purabaya yang jika sudah masuk terminalnya saja baunya bikin kepala muter-muter. Kakak saya makan di area sekitar ruang tunggu penumpang, sementara saya menikmati bekal yang dibawa dari rumah kakak saya, untuk perjalanan jauh saya tidak begitu suka makan makanan berat karena faktor beser tadi, minum pun biasanya saya bawa sendiri. Ada tiga jalur bus di situ, yaitu : Malang, Tuban, Semarang, Bojonegoro. Kami menaiki bus yang ke arah Semarang karena Tuban yang akan kami datangi bukan Tuban Kota melainkan desanya dan merupakan perbatasan Jawa Tengah karena setelah Tuban akan bertemu dengan daerah Rembang, Kudus dan Jepara. Ya ya ya, itu rute yang saya lewati beberapa minggu yang lalu bersama Lorena. Tak menyangka harus bertemu lagi dengan daerah ini.

Indonesia INSIDE

Kami naik bis dengan merk Indonesia karena kami memang cinta Indonesia (hehehhehhehe, cuman itu satu-satunya yang ke arah Semarang). Tampilan bus yang ergonomis dan nyaman serta tanpa asap rokok membuat perjalanan mengasyikkan buat saya. Sementara kakak saya sudah mabuk dan plastik hitam pun mengiringi perjalanannya untuk menumpahkan rasa muntahnya itu (aneuh bin ajaib memang, sudah tua masih aja begitu). Jarak tempuh Surabaya-Tuban adalah sekitar 91 Km, Tuban-Boncong sekitar 41 Km, sedangkan waktu tempuh menuju TKP adalah sekitar 3.5 jam. Kami berangkat sekitar jam 1/2 1 siang dan sampai di Boncong sekitar jam 4 sore. Termasuk cepat kata kakak saya yang sudah berpengalaman tinggal di sana selama beberapa dekade.

Sesampainya di Boncong, Tuban

Pada saat akan turun dari bis, kakak saya masih ragu apakah benar turun di situ dan saya tak peduli karena saya memang tidak tahu harus turun dimana, yang penting dia turun saya juga akan turun. Kami mau turun tapi kami tetap saja duduk, sang kenek pun mengatakan “mau turun kok duduk, iya bener itu Boncong”. Horeeee, sampai juga, saya lihat kanan kiri depan belakang. Sebalah kanan adalah rumah-rumah seperti halnya di desa, ada musholla yang dijadikan tempat mengajinya anak-anak kecil dan tempat sholatnya penduduk sekitar. Sedang sebelah kiri juga rumah-rumah tapi di belakangnya dilatar belakangi oleh laut dan kapal-kapal nelayan yang masih parkir dengan rapinya. Kakak saya menyapa orang-orang di sana (nampaknya sekampung itu sudah dikenalnya), saya hanya numpang tersenyum. Ada beberapa orang dari kampung ini yang sudah pernah bermain ke rumah dan saya cukup mengenal mereka dari cerita kakak-kakak dan orang tua saya. Maka tak heran kalau beberapa dari mereka selalu bertanya tentang saya. Karena kakak saya sudah dekat dengan penduduk di sini maka saya pun ikut kecipratan, secara cepat kami sudah akrab satu sama lain. Pastinya, kalau sudah barengan sama dia saya dikatakan pendiam karena auranya tersedot oleh kesuperbawelan kakak saya. Sampai heran juga, diantara teman-teman saya sudah terbilang heboh ini masih ada super heboh lagi, mana ada saja yang diomongin, jika sudah begini biasanya saya diam dan melototi kakak saya supaya jangan banyak yang omongan.

Selama semalam dua harii di sana, agendanya adalah sebagai berikut :

– Kakak saya sambil melakukan transaksi barang dagangannya

– Silaturrahim ke beberapa penduduk di sana dan juga orang-orang yang dulu pernah main ke rumah. Pada kaget setelah melihat saya “kok udah gede aja, padahal dulu masih SD”. Sampai ada juga yang menyimpan foto masa kecil saya dan kakak diatas saya “foto waktu dek iis masih kecil masih disimpen lho”kata istri dari orang yang pernah ke rumah. Saya juga lebih kaget, kalau mereka sudah pada tua dan juga punya anak (hayooo, kompetisi kaget kita)

– Mengunjungi rumah teman kakak saya yang lokasinya di kampung yang berbeda. Tanpa mengatakan, dengan ikhlasnya mereka meminjamkan kami sepeda motor

Begitu Kenal, begitu akrab

– Saya mengamati aktivitas penduduk sekitar yang penuh dengan histeria anak-anak kecil dan wanita-wanita yang tinggal di rumah serta laki-laki yang membawa jala-jala ikan. Hmmm, pantas saja jika Bapak begitu jatuh hatinya dengan masyarakat ini “nelayan itu boros hidupnya, klo punya uang banyak dibelanjakan macam-macam, nanti klo sudah gak musim ikan barang-barangnya itu yang dijual”cerita beliau di sela-sela waktu santai di rumah.

– Berdasarkan cerita yang didengar, sepertinya kehidupan artis dan infotaimnent banyak juga terjadi. Kawin, cerai, perselingkuhan dan gosip menggosipkan satu sama lain. Astaga naga, saat suaminya sedang miang (berarti : mencari ikan di laut) istrinya berselingkuh dengan lelaki lain dan pas paginya kepergok otomatis sang istrinya diceraikan. “Sudah biasa” kata kakak saya, bikin saya merinding saja dan harus lebih berhati-hati juga dalam berkata atau berperilaku supaya tidak salah persepsi, jika seperti ini saja sudah biasa bagaimana dengan generasi yang kecil-kecil itu meilhat itu semua. Jadi ingin bikin sekolah yang bagus di sana supaya anak-anaknya bisa lebih maju, “lulus SMP saja sudah pada nikah, siapa yang mo sekolah?” kata kakak saya ke saya. “ya masak gak ada yang pengen anaknya pintar” kata saya. Ekonomi bukan persoalan utama, tapi kurangnya sosok atau figur teladan saja yang bisa menjadi agent of change di sana, coba kalau ada saya yakin dan insyaAllah masyarkatnya akan lebih maju. Menurut saya : “biarlah orang tua itu dengan persepsi dan pembenarannya masing-masing, tapi buatlah anak-anak kecil berani bermimpi dan berharap, kalau gak bisa mengubah cara berpikirnya orang tua, masih ada generasi penerus yang bisa memberikan perubahan”.

Bersama Mbak Ida

Bareng Mbak Eka

– Foto-foto dan rujak-an bareng di sekitar pantai. Benar-benar anugerah yang tak terhingga untuk daerah ini, lautnya yang kaya akan ikan, wilayahnya pun segar dengan alamnya. Kami mengunjungii TPI (tempat pelelangan ikan) dan bermain-main di TPK (tempat pelelangan kayu). Di TPK kami berpesta rujak, menikmati panorama alam, melihat lebih dekat kehidupan nelayan yang sedang mencari ikan di siang hari, bersepeda motor ria di tanjakan jalan yang bergunung, menyaksikan adegan sepasang manusia berlainan  jenis di sekitar pantai (semoga mereka cepat menikah saja sehingga aktualiasasinya bisa menjadi pahala), bermain-main air dan berpindah dari satu batu ke batu yang lain.

Bareng Adeknya Ibu Inggih

Cabenya Seons, Kakak pun tepa

– Ngisengin anak-anak kecil

Mau juga difoto

Naura, kenapa nangis? atut ya?

– Menikmati keakraban dan kehangatan bersama mereka. Sampai-sampai saat kami akan kembali ke Surabaya yang mengantarkan kami ke depan adalah warga sekampung, sampai kata sopirnya “seng budhal wong loro, seng ngeterno sa’ kampung” (artinya : “yang berangkat cuman 2 orang, yang nganterin sekampung).

Terimakasih untuk warga Bocong, Tuban. Semoga kehadiran yang pertama bagi saya dan kesekian kalinya bagi kakak saya bisa menjadi pengikat silaturrahim buat kita semua. Ditunggu kehadirannya di Madura atau Surabaya. Kami tahu bahwa saat ini ombaknya sedang besar sehingga banyak dari kalian yang tidak melaut, senyum dan kehangatan kalian adalah lebih dari oleh-oleh untuk kami. Terimakasih untuk legen, ikan kering dan terasi yang sudah dibuatkan. Kapan-kapan kalau mencari oleh-oleh khas Tuban di Boncong saja.

– Salam Hangat-

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

4 Responses to Bersegara di Boncong, Tuban

  1. Naga212Geni says:

    Info yang menarik nih Bos. klo bisa di lengkapi infonya, akan lebih bagus lagi. Di tunggu kunjungan balasannya ya. salam

  2. Is says:

    Silahkan ditanyakan saja Boss, klo ada yg bisa saya jawab dan informasikan nanti saya balas, thx balik atas kunjungannya.

  3. amirudin iskandar says:

    kapan anda k boncong lg…. salam buat orang2 d boncong….dari cah lampung yang lama tinggal d boncong

  4. Is says:

    Beberapa bulan yang lalu pak Amiruddin, ntar saya salami klo ktemu sama mereka lg, Boncong is recommended place

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s