Menyikapi Masyarakat Anti-Perubahan

“Life is change”

Jangan hanya di titik itu, Masih ada titik yang lain

Pernyataan ini bukan sekedar alegoris (majas) semata tapi merupakan hidangan realitas yang sudah umum kita nikmati bersama. Absolut sekali jika dikatakan bahwa  hidup adalah perubahan. Lihatlah diri kita yang senantiasa bermetamorfosis dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Setelah tiba di suatu fase manusia pun melakukan regenerasi dan setelah itu mereduksi karena tergantikan oleh generasinya sendiri. Begitu apik dan telitinya tahapan yang ditentukan oleh sang maha pengatur sampai-sampai kita sendiri tidak sadar sudah sampai di fase seperti sekarang ini.

Sering terdengar di indera pendengaran kita tentang manusia yangg resistant to change atau dalam bahasa melayunya kita mengatakan manusia anti-perubahan. Mendengar istilah ini, tentunya pengertian harfiahnya sudah kita pahami bersama, yaitu manusia yang tidak mau berubah, senangnya di situ-situ saja, anti pergerakan, anti tantangan, anti pengorbanan, anti peningkatan diri, anti persaingan bahkan anti kritik dan masukan. Ada ya seperti ini? pastinya ada. Kalau boleh tahu dimanakah ia bermukim? di sekitar masyarakat dimana kita tinggal banyak kok seperti ini. Tak usahlah jauh-jauh saya memberikan contohnya sampai ke benua lain. Tempat dimana saya lahir dan dibesarkan adalah salah satu potret masyarakat anti-perubahan, bagaimana tidak?. Terlalu memegang teguh tradisi negatif yang sudah seharusnya di update dan menganggap diri superior serta merasa benar sendiri. Astaga, mengaku sudah modern dan mengikuti perkembangan jaman, tapi kenapa masih seperti itu? maka lebih baik dikatakan wong deso tapi memiliki hal yang out of the box dari masyarakat desa namun tetap tak meninggalkan/melupakan tanah air.

Ada banyak contoh kasus dari masyarakat anti-perubahan ini. Hal ini berdasarkan atas apa yang saya temui di lingkungan sekitar saya dan mungkin kolaborasi kasus yang saya temui di lingkungan yang lain :

– Saking tidak ada kerjaan atau karena sudah mengakar tradisinya sampai membicarakan kejelekan atau aib orang lain adalah sebuah hiburan di pagi atau sore hari. Kumpul-kumpul bukan untuk mendiskusikan atau mengkoreksi satu sama lain, malah menjadi ajang gosip bersama. Tak kalah dengan infotainment yang merupakan gaya adopsi masyaarakat perkotaan terhadap kebiasaan yang tak sepatutnya diri dari masyarakat pedesaan. Ajang adu domba persepsi pun terjadi tanpa pernah mengklarifikasi kebenaran yang sebenarnya seperti apa, frekuensi pernyataan “katanya” pun dibumbui dengan pernyataan yang seakan-akan mendekati kebenaran dan akurat. Ujung-ujungnya adu mulut, berantem dan tidak saling tegur sapa sampai bertahun-tahun bahkan sampai meninggal, dan jika tidak disikapi secara dewasa bisa tujuh turunan dikarenakan hal sepele yang sebenarnya bisa dikomunikasikan.

– Faktor senioritas selalu menjadi isu utama, bahwa yang tua itu paling benar dan diutamakan, jadi tak usah heran jika tiba-tiba ada yang muda tampil kemudian ada pernyataan “tau apa anak sekecil itu”, lah…yang mengkritik saja tak berani tampil ke depan ini kok bisanya mengkritik saja, tunjukkanlah kepada dunia bahwa kalian-kalian adalah orang tua yang patut untuk diteladani. Peran orang tua bermain di sini, bagaimana mereka mampu mengantarkan anaknya untuk memainkan peran di masyarakat dengan memberikan contoh dan kontribusi yang positif bagi masyarakat. Sejak dini anak-anaknya diajarkan untuk peduli terhadap masyarakat baik secara aktif maupun pasif sehingga ketika sudah dewasa nanti mampu melanjutkan estafet orang tua.

– Keberhasilan selalu diukur dengan seragam dan materi. Menjadi pegawai negeri adalah kebanggan dan sebuah pencapaian sosial tertinggi, anaknya saja bisa menggaet pegawai negeri sudah bangganya setinggi puncak gunung Rinjani. Selalu hadir ungkapan “sudah PN atau masih THL?”. Suatu ketika saya pernah dengar cerita dari seorang sahabat saya karena suaminya THL dan istrinya sudah PN, maka sang istri pun bertindak semena-mena terhadap suaminya karena menganggap penghasilannya lebih dibandingkan suaminya. Astaghfirullah, saya yakin tidak semuanya seperti ini dan jika ada yang seperti ini tak mesti saya kasi tahu apa yang seharusnya Anda lakukan. Ada lagi cerita seorang teman wanita saya yang secara ekonomi sudah mapan, lantas dia mengatakan seperti ini “kurang apa aku ini Is, sudah PN, gaji ada, pensiunan punya, dokter juga, rumah dan mobil juga sudah ada, udah punya praktek sendiri juga”, spontan saya langsung kaget dan beristighfar dalam hati kemudian memandangi dia secepat kilat dan sambil tersenyum saja tanpa banyak ba bi bu. Bersikap pasif dengan tidak mengiyakan atau menyanjungnya bukannya ingin menjadi dan berharap seperti dia, tapi perlu dipertanyakan ke dalam hati sendiri..bagaimana jika saya sudah seperti itu? perlukah saya mengatakannya? Yaa Ghaniiy Yaa Mughniiy, Engkaulah yang maha kaya dan pemberi kekayaan, hambaMu kecil diihadapanMu.

– Kurang mau berbagi dan membuka diri. Jejaring sosialnya hanya berkutat di situ-situ saja. Pernah membaca sebuah buku yang mengatakan “10 tahun yang akan datang kita adalah tetap diri kita yang sekarang, kecuali buku yang kita baca dan orang-orang di sekitar kita”. Jadi, bagaimana bisa berubah lha teman-temannya itu saja, cobalah sesekali pergi menjauh dari titik yang sekarang dan kemudian benamkan di sebuah titik yang lain. Maka akan terjadi akselerasi diri untuk terus belajar bagaimana menempatkan diri kita sebagai seorang yang bukan dilihat dari ras tertentu tapi sebagai manusia yang senantiasa mendambakan perdamaian dan persamaan. Aspek humanis pun diasah dalam pergeseran titik ini, sehingga kelenturan dan minimalisasi kekakuan pun terjadi manakala akan bergeser ke titik yang lain ataupun bergerak kembali ke titik semula. Coba renungkan sendiri tentang filosofi pegas, karena kalau saya ilustrasikan di sini tulisannya terlalu panjang dan lama.

– Secara historis, orang tua memang senantiasa memberikan warna bagi anak–anaknya, tapi merupakan sebuah gradasi warna yang menarik jika anak dan orang tua saling bisa memberikan warna satu sama lain. Bukan untuk maksud membangkang terhadap orang tua, tapi bagaimana mengubah persepsi orang tua yang telanjur mendarahh daging dengan cara memberikan sebuah bukti dan pencapaian yang lebih baik. Menjadi orang tua pun jangan terlalu kaku dan tidak mau menerima masukan anak, tapi jadi anak pun jangan yang sok modern tanpa memperhatikan perasaan orang tua. Rasa-rasanya Islam mengatur dengan indah tentang hal ini, semoga saya bisa mempelajarinya dengan mendapatkan ilmu yang saya belum tahu dan paham tentang hal ini lalu mengapplikasikannya. Sering kali terjadi, karena kekakuan orang tua menyebabkan anak menjadi durhaka terhadap orang tuanya, siapakah yang patut disalahkan? jangan tanya saya karena yang tahu jawabannya adalah pihak-pihak yang terkait, dan siapakah yang salah atas kedurhakaan itu? saya juga tidak tahu, karena saya belum nonton filmnya dari awal. Yaa Lathiif, saya sadar kalau saya sering melawan terhadap orang tua saya, tapi saat saya menyadarinya bahwa tidak ada orang tua yang sehebat orang tua saya maka Rabb lembutkan dan lunakkanlah diri kami terhadap orang tua kami, jangan biarkan kami menjadi anak durhaka.

– dan lain-lain (kalau semua saya ungkap bisa menjadi buku).

Lalu, bagaimana menyikapi masyarakat yang seperti itu, semoga solusi di bawah ini bisa menjadi masukan atau mungkin kritikan bagi saya :

– Senantiasa mengasah pemahaman agama. Agama bukan sekedar dalil indah untuk diperbincangkan, tapi alangkah lebih indah apabila dicoba sedikit demi sedikit untuk diapplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tahu agama bukan berarti paham agama kan? Jago ngaji tapi kalau arti/terjemahannyanya tidak pernah dibaca kan sayang saja. Tak usah kejar rating dalam agama  tapi berusahalah untuk mengejar kualitas. Yang baik bukannya yang khatam Qur’an-nya berkali-kali atau wirid-annya beribu-ribu tapi yang mampu mengapplikasikan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.

– Mensinergikan hamblum minallah dan hablum minannas secara adil dan bertangguung jawab. Baik dalam berhubungan dengan Allah juga berusaha lebih baik berhubungan dengan tetangga/sesama manusia.

– Teringat kata Bapak tercinta “jangan suka jadi lalat merah (namimah), yang hinggap dari satu kotoran ke kotoran yang lain”, intinya kalau mendengar atau mendapatkan hantaran gosip dari tetangga jangan suka membagi-bagikan dan menceritakan ke tetangga yang lain, lebih baik diam dan seolah-olah tidak tahu.

– Bertetanggalah seperlunya, tak usah berlebihan sampai seharian nongkrong dari rumah tetangga satu ke yang lain. Lebih baik kan mencuci, mengepel, menyapu, menyetrika atau kegiatan rumah yang lain dibandingkan bergosip tak jelas dan tak ada manfaatnya.

– Tak usah mudah terpancing dengan perilaku atau perkataan tetangga yang menyinggung perasaan. Biarkan saja seperti itu nanti juga jera dan berhenti sendiri kalau sudah diberikan penyakit/ujian/cobaan. Kata bapak saya lagi “biarkan saja orang berbuat jahat, nanti mati juga”.

– Bersikap objektif terhadap fenomena yang terjadi dan tidak memihak kepada pihak-pihak tertentu.

– Tetap bermasyarakat dengan memberikan kontribusi positif yang kecil dan sederhana serta mampu memberikan pergerakan perubahan jikapun tidak bisa dirasakan saat ini mungkin beberapa waktu yang akan datang. Yang penting bergerak.

– Mendewasakan diri dan mau bergaul dengan siapa pun. Terus mempelajari kebaikan dari komunitas yang ada. Tua bukan ukuran kedewasaan seseorang, karena banyak juga orang yang sudah tua tapi pemikirannya masih seperti anak kecil. Maka bukan berati memandang sebelah mata tapi memberikan pelajaran bagi kita bahwa kalau sudah tua jangan sampai menjadi seperti itu.

Semoga bermanfaat, dan terus berusaha memperbaiki diri kita dengan melakukan perubahan walaupun kecil.

Tak mudah memang untuk berubah, Jika tidak dimulai dari diri sendiri dan dengan  hal yang kecil..terus kapan berubahnya?

-Salam Perubahan-

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Madura. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s