Lantas, Apa Lagi Yang Dicari?

Bismillahirrahmanirrahim,

Selalu Ada Pelangi Setelah Hujan Reda

Pendahuluan :

Besok adalah tanggal 27 Rajab, yang jika dikonversikan ke dalam tanggal masehi tahun ini adalah 10 Juli. Merupakan momentum bagi umat islam bagi lahirnya kewajiban sholat. Negoisasi Rasulullah dengan Allah menghasilkan sholat 5 kali dalam sehari. Rosulullah tidak ingin memberatkan umatnya dan amat tahu keadaan mereka. “Sholatullah Salamullah”…semoga kita semua senantiasa menjadi umatnya. Selamat ulang tahun ibadah shalat, semoga kita senantiasa bisa memperbaiki kualitas sholat kita.

Kemarin, 25 Rajab, ternyata ada momentum penting juga yang diingat oleh Ibu saya. Pada tanggal itu nenek (Ibu dari Bapak) meninggal. Agak tersentak ketika beliau tiba-tiba mengatakan “masak cuman ngerasain padi-nya saja, sementara hari meninggalnya tidak diingat”. Yaa Rabb, maafkan dosa-dosa kakek-kakek dan nenek-nenekku, lapangkan dan terangkanlah kuburnya. Terimakasih Mbah atas semua yang sudah diberikan untuk kedua orang tuaku, maaf ya Mbah duluu aku sering nakal dan iseng.

Isi :

Beberapa hari yang lalu dari sebuah situs jejaring sosial saya membaca notes dari seorang teman yang inspiratif, puitis dan sarat akan makna. Tersenyum, tersinggung, tersindir dan sediiiikit tersanjung juga. Lho, kok bisa tersanjung ? ya tentu saja bukan karena objeknya saya, tapi karena segmennya untuk khalayak umum dengan topik sosial yang banyak dibicarakan orang , mau terbang namun apa daya tak punya sayap (hehehehehehhehe). Setahu saya puisinya banyak menceritakan perjalanan hidupnya, mulai dari cinta, hidup dan perjalanan hatinya. Benar-benar menyentuh dan sangat relevan dengan apa yang tengah dialami oleh sebagian besar orang. Rada-rada merasa bersalah juga sebenarnya (lho kok ?, zzzzz), tapi mesti berbangga bisa memiliki teman seperti dia. Teman, di kehidupanmu yang sekarang semoga senantiasa menjadi keluarga yang sakinah mawaddah waa rahmah dan cepat diberikan keturunan yang sholeh serta sholeha serta diberikan kelancaran-kemudahan untuk harapan dan keinginan yang belum tercapai, insyaAllah kalau ada kesempatan ke sana saya penuhi tawaranmu untuk mampir ke sana.

Dalam beberapa puisi yang dibuat dengan format naratif itu ada beberapa yang cukup membuat saya tercam, saya agak lupa runutan isinya, tapi jika boleh saya redaksikan dalam bahasa saya sendiri adalah sebagai berikut :

Lantas, apa lagi yang dicari?

Jenjang pendidikan yang diinginkan sudah diselesaikan

Pekerjaan yang diinginkan sudah dapat

Suami yang baik hati dan tampan sudah didapat (Istri yang cantik dan diinginkan sudah di genggaman) serta anak-anak yang lucu juga sudah

Mobil, Rumah, Usaha dan keindahan dunia yang lain pun sudah ada

Kenapa selalu ada ruang kosong (kehampaan) dalam diri kita

Membacanya, sambil merenungkan dan mengkorelasikan diri, “benar juga ya?”, terlalu tamak kita ini menjadi manusia, satu saja belum habis sudah membayangkan dan mengharapkan serta mewujudkan hal yang lain. Astaghfirullah, apalah arti semua aksesoris dunia kalau kita menjadi hampa dan tak berarti, toh semuanya perlahan-lahan akan meluruh dan tergantikan dengan yang lain. Layaknya musim yang kehadirannya bergantian satu sama lain, begitu pula dengan drama kehidupan kita. Indahnya islam, mengatur kehidupan sedemikian harmonisnya sehingga bisa menjadi penyeimbang dan pengisi sisi kehampaan itu. Siapakah yang mampu mengisi kehampaan itu di saat semuanya sudah di genggaman ? Tentu saja Allah Rabbul ‘Alamin, yang senantiasa mendampingi kita dalam kondisi apa pun. Terkesan pasrah memang, tapi itulah realitas yang terjadi, tak perlu pendekatan matematis atau fisis sekalipun, cukup tanyakanlah pada diri Anda masing-masing. Sibuk ini, sibuk itu, jungkir balik ke sana dan kemari namun kadang kita sendiri kurang memahami untuk apa semua ini dan kenapa harus membebani diri sedemikian rupa sehingga asupan ruhiyah pun terlupakan untuk diisi. Kasihan juga sama diri sendiri, banyak diasup oleh aneka kenikmatan dunia tapi melupakan kenikmatan abadi yang lain. Ngaji masih asal-asalan, sholat khusyu’ jika  ada maunya saja, sibuk membicarakan orang lain dan rajin update status diri sendiri, ingin selalu terlihat eksis dimana-mana tapi tak paham esensi, mengambil dalil seenaknya sendiri dan tak ingin membuka diri untuk berdiskusi atau bertanya kepada yang lebih tahu, dan aneka perilaku budaya hedonis yang lain. Astaghfirullah…Astaghfirullah…Astaghfirullah, semooga bisa terus berusaha menjadi lebih baik walaupun untuk melakukannya sering tertatih-tatih dan kadang banyak alibi tak penting yang dikumandangkan. Yaa Syahid, Engkaulah yang maha menyaksikan, Engkau mengetahui dan melihat apa yang sudah, sedang dan akan kami lakukan, tolong bimbing kami (bimbinglah saya dan keluarga saya Rabb agar tak menjadi manusia yang seenaknya sendiri), yaa Lathiif, lembutkan dan lunakkanlah hati kami sehingga mampu menerima dan menyerap hikmah dari siapa pun.

Dalam kehampaan itu sendiri terjadi proses peng-NOL-an dari diri kita, melihat diri seolah-olah tak punya kekuatan apa-apa padahal atas Rahmat Allah sebenarnya itu merupakan proses pergerakan kita untuk mengisi ruhiyah.

Penutup :

Alhamdulillah

Dalam titik nadir kami

Kami sudah pesimis, galau dan terasingkan

Namun, Yaa Hayyu

Engkau hidupkan kembali ruhiyah kami sehingga kami pun bangkit dari titik nadir itu

Dan atas kuasaMu, Engkau pertemukan dengan titik bangkit kami

Kami pun bergerak menuju absis dan ordinat yang telah Engkau tentukan

Melalui koordinat itu, kemudia Engkau hantarkan kami ke titik puncak

Agar tak terbuai kemudian Engkau turunkan kami di titik minimum

Engkau pun mengingatkan  bahwa ada harmonisasi di pergeseran titik itu

Yaa ‘alim, Engkau maha mengetahui keadaan kami

Namun, kami sering sok tahu atas diri kami

Rabb, padaMu kami bergantung

Berilah kemudahan bagi kami untuk senantiasa mengingatMu

Bersyukur sepanjang waktu

Baik di saat lapang maupun sempit

Amin Yaa Mujiib, Yaa Dzal Jalali Wal Ikram.

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s