Cilacap Membolang, Jogja Mengayuh Iman (Bag.2,Habis)

Alhamdulillahirabbil’alamin bisa melanjutkan kembali tulisan ini (bagian 1  ada di https://iswartirasjid.wordpress.com/2010/06/01/cilacap-membolang-jogja-mengayuh-iman-bag-1/)

Perjalanan Cilacap-Jogja ditempuh dalam durasi sekitar 6 jam-an, sampai di Jogjakarta sekitar jam 22.30 Wib, membayangkan empuknya tempat tidur ditemani bantal, guling dan selimut serta badan yang bebas dari segala macam kotoran sebelumnya. Kepada sang sopir taksi pun mengatakan ke jalan Malioboro karena berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari Internet ada banyak hotel dan losmen murah di sekitar sana. Sebelum sampai Jogja, saya sudah sempat baca-baca hasil penelusuran saya tersebut yang saya cetak dalam sehelai kertas A4. Turunlah lah saya di depan hotel itu (maaf saya lupa namanya, udah keburu saya hapus filenya, dan kertasnya juga sudah saya buang, pokoknya di sekitar Malioboro deh). Hotel yang saya incar ternyata penuh, berjalanlah ke samping kemudian ke depan dan ke depan lagi ternyata semua hotel di sepanjang Malioboro penuh. Mengistirahatkan diri dan sejenak sambil berpikir, saya menawarkan ke sepupu saya untuk makan dan sekalian sambil mencari hotel yang kosong di sekitar tempat kami akan makan. Sampailah kami di halte nasi goreng dorongan, sepupu saya yang makan sementara saya masih kenyang (entah apa yang sudah saya makan, yang jelas sejak dari Cilacap saya masih merasa kenyang). Duduk-duduklah kami di situ, sambil bercerita dan menikmati hilir mudik para pelancong yang menaiki andong/delman atau sekedar jalan kaki menghabiskan malam. Malam minggu Jogja tampak begitu hidup dan semaraknya, apakah pemandangan seperti ini hanya bisa dinikmati di akhir pekan dan di sekitar Malioboro saja? bagaimana dengan daerah-daerah yang lain?. Sebuah pertanyaan retoris dari saya, yang tentunya teman-teman sudah mengetahui jawabannya.

Sambil menikmati nasi gorengnya, saya pun membuka komunikasi dengan penjual nasi goreng dan beberapa orang yang berada di sekitar nasi goreng untuk menanyakan tentang hotel yang kira-kira masih kosong. Kebanyakan mereka menjawab sudah penuh semua. Jujur, saya tidak masalah tidur dimanapun, tapi untuk momen ini kan saya membawa sepupu  saya…dimana rasa tanggung jawab saya membiarkannya telantar begitu saja. Ok, saya pun mendiskusikannya dengan sepupu, kita cari dulu hotel murah/losmen sampai dapat (baca : ada yang kosong), kalau pun tidak ada kita tidur di masjid saja, bukannya hanya untuk semalam saja dan besoknya kita kembali ke Surabaya. Kami pun memulai pencarian dengan menggendong tas ransel kami untuk mencari angkutan yang dapat mengantarkan kami ke sebuah hotel.  Kebetulan di belakang gerobak nasi goreng ada tukang tambal ban dan tak dinyana ternyata orang yang saya ajak ngobrol tadi sedang menambal bannya. Merasa iba melihat kami, sang tukang becak ini menawarkan diri untuk memakai jasanya. Dengan santun dan sabarnya sang tukang becak itu mengatakan “tunggu dulu ya Mbak, ini masih ditambal”. Kami pun duduk manis kembali dan menurunkan ransel kami dan dimulailah obrolan kami dengan tukang becak dan tukang tambal ban itu. Tukang tambal itu tidak hanya mampu menambal ban yang bocor, tapi juga menambal iman saya, betapa tidak, tanpa bantuannya mungkin kami tidak akan pernah dipertemukan oleh Pak Supri. Sosok yang murah senyum, sabar serta penuh kasih dan tulus terhadap sesama. Selesai ditambal, kami pun menaiki becak itu. Aneka cerita pun mengalir yang merupakan lanjutan dari halte nasi goreng tadi. Mendengar ceritanya dari kayuhannya semakin mengayuhkan iman untuk merenungkan perjalanan hidup yang sering tak sesuai dengan harapan. Ya, pak Supri dulunya pernah bekerja di luar pulau jawa kemudian ke Jakarta juga. Di luar pulau Jawa, saya lupa beliau bekerja sebagai apa, tapi yang di Jakarta beliau bekerja sebagai OB di sebuah department store. “Enak mbak kalau jam istirahat, sering dikasi uang sama karyawan yang minta tolong beliin makan siang”kenang beliau dengan lugunya. Seeketika itu saya teringat dengan teman-teman OB di kantor saya di Jakarta dulu. Sedikit banyak saya tahulah bagaimana kehidupan mereka di kantor dan di rumah karena kami juga banyak bertukar pikiran saat makan siang bersama, kadang kalau tak makan siang bersama mereka saya seringg ditanyakan. Di sela-sela kosong dan kebosanan saya mereview dokumen ada OB yang selalu menghampiri saya dan meminta saya untuk mengajari komputer dan bahasa Inggris.

Jalan demi jalan yang kami lalui belum juga ditemukan hotel yang kosong karena semuanya bertuliskan penuh. Pak Supri pun menawarkan kalau dia punya saudara di belakang keraton Yogya, kami pun meluncur ke sana dan ternyata sudah tutup juga (rumahnya berupa ruko gitu yang membuka wartel). “Gpp pak, kita coba cari yang lain saja”minta saya. Beliau pun mengayuhkan becaknya kembali dan alhamdulillah atas kayuhannya semakin membuka wawasan akan Jogja di malam hari, tak sekedar Borobudur, Parangtritis, Bringharjo dan nama tenar lain di Jogja yang perlu diketahui. Dari gerakan kakinya semakin menggerakkan semangat saya untuk senantiasa mensyukuri hidup bahwa kebaikan itu ada dimana-mana, lihatlah pak Supri yang rela mengayuhkan becaknya mengelilingi Jogja kota tanpa keluhan, santapan senyum dan hidangan kesabaran yang selalu keluar darinya. Benar-benar, manusia berhati malaikat yang saya temui. Sangat berbeda sekali dengan sepupu saya yang apa-apa capek dan pengen cepat istirahat. Jika sudah seperti ini maka ketegasan saya pun muncul “ya sabar lah, orang ini gak direncanain”. Diapun terdiam sejenak sambil menutupi lengannya yang kedinginan diterpa angin malam, tanpa banyak basa-basi saya keluarkan jaket yang ada dalam ransel saya, sempat dia tidak mau mengenakannya karena saya tahu yang dia butuhkan bukan jaket tapi tidur. Saya pun langsung katakan “kamu ini kedinginan, kalau masuk angin gimana, pake aja dulu”. Dia mengenakannya dan perut saya pun mulai bergejolak kelaparan. Tak bagus juga kalau saya tahan-tahan rasa lapar bisa mati kedinginan dan kelaparan ini. “Pak kita makan dulu ya, klo ada tempat makan kita berhenti saja di situ”. Pak supri pun menghentikan kayuhannya di sebuah warung makan bongkar pasang yang berseberangan dengan masjid. “Alhamdulillah Yaa Allah ketemu masjid, aku belum sholat maghrib-isya’, bisa tidur di sini  juga” pikir saya. Kami semua duduk di tempat makan itu, kali ini sepupu saya yang tidak makan dan saya menawarkan Bapak Supri untuk makan. Menunggu makanan kami, saya pun berbincang dengan Pak Supri+Sepupu mengenai hotel yang belum kami dapatkan juga. Jam menunjukkan hampir jam 1/2 2 pagi, dan kalau pun kami menginap di hotel yang lebih mahal-an ya sayang juga, sebentar lagi juga check out karena siangnya mau ke Surabaya. Kalau mau, check-in minggunya dan Seninnya balik baru lebih terasa. Sepupu saya hanya mengatakan “aduhhh, capek…pengen tidur, gak kuat”, saya hanya bisa mengatakan “ya sabar, kita tidur di masjid aja”. Tiba Bapak Supri menghilang dan beberapa saat kemudian hadir kembali dengan muka yang berair dan bercahaya. “Darimana pak?” tanya saya, “dari masjid” tanya beliau, kemudian beliau melanjutkan “masjidnya gak bisa dibuka mbak, dikunci, jadi gak bisa masuk ke dalam, klo pun mo sholat ya di luar”. “Gak bisa tidur sana ya Pak berarti, ya udah lah gpp, saya juga belum sholat ini, klo gak nunggu di sini aja dl pak, ntar shubuh baru ke sana” kata saya. Sepupu saya mengatakan “ya malu klo di sini, diliat2 orang”. “Ya gpp lah, namanya juga darurat, lagian sapa juga yg pengen kayak gini, nikmati aja”kata saya. Tampaknya naluri kemanusiaan Pak Supri begitu merasuk ke dalam relung-relung jiwanya dan dia pun iba sehingga dengan berani tanpa sepengetahuan kami dia berbincang dengan istri penjual gudeg yang sedang kami tongkrongi itu dan walhasil pasangan suami istri mengijinkan kami untuk tidur di rumahnya. Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillah.

Oleh pak Supri kami diantar ke rumah penjual gudeg itu, di daerah Serangan, tak seberapa jauh dari warung tempat mereka berjualan. Kami turun dari becaknya dan sedikit diskusi dengan sepupu saya “mau dikasi berapa?”kata sepupu, “segini dulu, soalnya besok kan dia mau jemput lagi dan jalan-jalan sekitar kota jogja sambil cari oleh2″kata saya. Saya pun memberikan uang dengan nilai nominal yang tak sebanding dengan kemurahan hati dan kayuhan beliau, begitu berharganya sampai tak kuasa bagi saya untuk mengungkapkannya, “terimakasih banyak ya Pak, jangan lupa besok jemput kami di sini, ini no HP saya” ungkap saya kepada beliau.

Masuklah kami ke dalam rumah pemilik warung gudeg itu, di sebelahnya ternyata ada sungai dan tampaknya rumah tak ada orang, namun terdengar lantunan lagu dari sebuah radio/tape. “Maaf ya rumahnya berantakan, ini kamar adek saya, orangnya lagi gak ada, pake kamar ini aja, kamar mandinnya di belakang” papar sang ibu. “gpp Bu, terimakasih atas tumpangannya” balas saya. Sang Ibu keluar rumah untuk kembali ke warungnya kembali karena warungnya biasanya tutup menjelang shubuh. Sepupu saya langsung tidur, sementara saya beres-beres isi tas dulu dan siap-siap untuk menjamak ta’hir qashar sholat maghrib-isya kemudian sholat yang lain juga. Alhamdulillah, di saat kami berada di titik nadir Engkau masih berikan jalan keluar dan nikmat iman, islam serta ihsan, Engkau ijiinkan aku untuk menunaikan kewajiban sholat. Selesai sholat kemudian tidur, pplong rasanya setelahh semalaman bergulat dengan angin malam dan jiwa yang pasang surut oleh suatu kondisi yang jalan keluarnya ternyata ada di depan mata. Alangkah bodohhnya dan tukang mengeluh kami ini yaa Allah.

****

Pagi pun hadir, dengan matahari yang sama tentunya. Raga boleh melancong kemanapun namun jiwa jangan sampai melenceng dari sang Khaliq. Sholat shubuh kemudian beres-beres lagi dan memastikan tidak ada sampah di dalam tas. Mau tidur lagi, nada sms pun berbunyi, kemudian saya buka ternyata dari Pak Supri yang mengingatkan saya mau dijemput jam berapa. Saya membalasnya dengan mengatakan jam 9-an lewat aja dijemput dan tunggu di depan gapura. Sepupu saya juga bangun dan mengenang petualangan kami semalam, dia merasa tidak ingat apa-apa dan tidak ingat juga apa yang saya katakan karena saking capeknya. Saya katakan pada dia “ya seperti itu hidup, kadang kenyataan tak sesuai dengan harapan, makanya bersyukur dan nikmati aja”. Kami pun memakan ransum yang kami bawa dan beberapa yang masih bagus kami berikan ke tuan rumah. Dan tiba-tiba terdengar suara anak seumuran SD-SMP, saya pun memberikan makanan berupa wafer dan sejenisnya kepada anak itu dan saya mengobrol sedikit dengannya. Dan apa yang terjadi? ternyata anak itu bukan anak sang pemilik gudeg, tapi anak kos yang berasal dari Padang. Makin kaget saja saya “anak sekecil itu sudah ngekos, di kota yang sangat jauh pula” pikir saya. Kemudian dia bercerita kalau dia bersama abangnya di Jogja dan abangya juga sekolah di sini. Pecinta grafiti ini pun masuk kamar dan saya mengikutinya karena saya masih ingin berbincang dengannya. Mendengar ceritanya lagi dan secara langsung mengamati aktifitasnya yang mandiri membuat semakin rontok hati saya berada di Jogja (hehehehehehe, lebayyyy deh).

Kami pun mandi dan bersiap-siap “check out” dari hotel tumpangan. Kami mohon diri dengan pamitan ke Mbak yang membantu di sana dan juga Bapak (kebetulan Ibunya sedang ke Pasar). Dengan uang sekedarnya kami berikan sebagai ucapan terimakasih kami atas kemurahan hati keluarga ini. Kami menuju ke depan. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang melambaikan tangan. Saya pun mendekatinya karena saya pikir pak Supri. Sepupu saya langsung mengatakan “itu bukan bapak yang semalam”. “Maaf pak, kami sudah memesan becak yang lain” kata saya. “iya tadi saya yang sms Mbak, saya abangnya pak Supri, kebetulan Supri lagi pulang kampung ke Bantul, dia minta saya yang menggantikan, saya Pak Gun” cerita beliau. Wahhhhh, makin tersanjung diri ini, alangkah mulia hati Bapak yang satu ini, dia tidak ingin mengecewakan orang sampai-sampai saudaranya yang diminta tolong. “Matur suwun sanget nggeh Pak Supri”.

Bertemu kembali di sini

Ke sini dulu cari tiket kereta

Berasa seperti orang yang sudah kenal lama saja, kami bercerita tentang kehidupan kami masing-masing. Jalan hidup pak Gun yang sampai menjadi tukang becak yang dulunya pernah menjadi karyawan Bank di sebuah daerah di Kalimantan yang kemudian dipecat karena ketahuan korupsi. Beliau juga menuturkan bahwa ia minta maaf karena balas smsnya lama karena matanya bermasalah sehingga bacanya harus satu per satu. “Makanya mbak, saya gak narik becak sampe malem karena gak ngeliat, klo malem biasanya si Supri”cerita beliau. Huffffttttt, makin terkoyak saja jiwa ini, di saat sisa semangat yang tinggal setipis kulit ari menghadapi hal demi hal dalam hidup ini masih ada saja orang yang dengan tangguh dan ramahnya menghadapi dunia. Kami pun diajak-ajak berkeliling kota Jogja, dia tunjukkan rumah Ebiet G.Ade, batik yang murah, kaos-kaos yang murah, tempat membeli bakpia patok dan lain-lain. Sengaja tak ke bringharjo karena kondisi lalu lintasnya yang super duper macet di hari minggu itu sehingga dari stasiun kereta api yang ternyata tiket dengan tujuan Surabaya sudah ludes terjual kami mengitari tempat-tempat lain di Jogja. Ya, ini perjalanan kedua saya ke Jogja dan alhamdulillah saya dapatkan ilmu dan tempat baru di sini. Kami pun berbelanja batik, saya membelikan untuk Ibu dan ponakan serta saya sendiri, sementara sepupu saya membelikan titipan dan juga insyaAllah untuk calon suaminya.

Gak jadi beli ini, beli yg kaosnya aja

Tak sekedar mengantarkan di situ saja, pak Gun juga mengantarkan kami sampai ke terminal bis Giwangan karena bis Rosalia Indah yang akan kami naiki ternyata juga ludes terjual (sudah nasib memang, we’re very very super pure backpackers).

Anak sekecil ini

Ada banyak hal yang tak bisa diceritakan di sini karena akan panjang. Mengingat cerita, wajah dan ketulusan hati dua kakak beradik ini semakin ingin mengunjungi Jogja….InsyaAllah kalau ada rejeki. “Jangan lupa telepon saya ya Mbak klo ke Jogja lagi, biar dapet hotel” pesan pak Supri malam itu. Sementara pak Gun mengatakan : “Maen2 ke Bantul ya, rumah saya gede di sana, di sana harga bawang merah murah, pertanian bawang merah di sana, klo mo jalan2 di sana saya juga ada mobil walaupun jelek”. Ya ampun luar biasa sekali orang-orang ini….Ramah dan Pemurah.

Astaghfirullah, kecil2 sudah..???zzzz

****

Sesampainya di rumah, saya sms pak Supri dengan mengatakan bahwa saya sudah sampai di rumah dan kabari aja kalau ke Surabaya biar bisa saya jemput dan main ke rumah. Lantas apa jawaban dari sms saya (sampai sekarang belum saya hapus, akan saya hapus stelah ada dokumentasinya di blog ini) :from +628190377…… –> “Syukurlah kalau udah nyampai madura mudah mudahan panjang umur dan cepat dapat jodoh dan bulan madu ke jogja jangan lupa telpun dulu biar dapet hotel”. Amin yaa Pak, semoga kita bisa dipertemukan lagi dan saya bisa berkunjung ke Bantul untuk kulak-an bawang merah supaya bisa saya jual kembali di sini…:).

Sementara sms kedua dari beliau saya terima lagi saat saya sedangg berada di Jakarta beberapa minggu yang lalu (tepatnya saat saya menginap di rumah Sri), begini bunyinya : “Bagaimana mbak takada kabar sehatkan. dari mas suprii jogja. balas”. Saya pun membalasnya dengan mengatakan bahwa saya sedang di Jakarta saat itu.

Special thanks to Pak Supri dan Pak Gun atas bantuan dan navigasinya selama semalam di Jogja, semoga Allah membalas kebaikan yang sudah Bapak berikan dengan sebaik-baiknya, semoga semua kesulitan Bapak diberikan kemudahan dan semoga kita bisa menjaga tali silaturrahim ini dengan baik.

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

2 Responses to Cilacap Membolang, Jogja Mengayuh Iman (Bag.2,Habis)

  1. wulandari says:

    mbak..seru banget nih pengalaman mbolang ke jogja, jadi kangen nih sama jogja. mbak iis gmn nih kabarnya? sukses ya..!!

  2. Is says:

    Alhamdulillah Mbak Wulan, kabarnya baik niy, berkat do’a dan dukungan Mbak jg, smg mbak diberikan kabr yg lbh baik lagi.
    Jangan lupa klo ke Jogja ajak2 saya aja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s