Keoknya Tim Tango dan Samba di 2010

Bulan Juni-Juli merupakan Tahun Bola bagi dunia, betapa tidak demam piala dunia menjangkiti seluruh antero negeri, mulai dari kafe remang-remang sampai dengan kafe yang terang-terangan. Topik dan diskusi pembicaraannya tak luput dari benda bulat itu.

Saya bukanlah seorang bola mania, tapi saya mengikuti beritanya apalagi menjelang babak 1/8  1/4  1/2 sampai dengan 1 final saya tak mau ketinggalan. Sesampai di Surabaya, saya tidak tahu kalau jadwal pertandingan hari itu adalah Netherland (Belanda) melawan Brazil. Sebagai mantan bola mania (karena dulunya sering menemani Bapak saat menonton TV) kurang lebih dia tahu tim-tim mana yang layak untuk dijagokan. Sementara saya, berdasarkan literatur Internet dan diskusi bareng teman saja tahunya, tak begitu banyak berkecimpung dalam dunia pertontonan karena memang saya kurang begitu suka menonton, yah…tergantung apa dulu yang ditonton dan momennya juga. Mikir-mikir dulu lah kalau mau menonton bola, karena siarannya menggunakan bahasa inggris yang tak biasa bagi saya karena terlalu cepat, maka mending saya ganti channel yang lain yang lebih edukatif dan informatif…fair dunk? (maaf bagi penggemar bola). Berbeda kalau saya main sendiri di lapangan, pastinya saya suka dan ini pernah saya lakukan semasa jaman-jaman dahulu kala karena komunitas mayoritas adalah laki-laki.

Tiba-tiba berteriaklah Kakak saya karena ada gawang yang kebobolan (yah, mungkin karena musim hujan saja, makanya bolong dimana-mana, netes-netes deh airnya). Setelah dia berteriak saya pun menanyakan “emang siapa yang main?”, dia menjawab : “Brazil vs Belanda”. Spontan saya pindah ke kamar sebelah dan menikmati acara pertandingan sendirian karena disampingnya ada anaknya yang sedang ditidurkan dan suaminya sedang dinas malam…”Wah, Brazil ya yang maen, mau nonton ah, udah lah palingan juga Brazil yang menang, Belanda kan kompeni, tapi kaosnya kok keren ya warna orange” (jadi milih kaosnya apa timnya). Sehabis mandi dan sholat jama’ qashar maghrib-isya’ saya langsung pantengin TV dalam keadaan duduk karena kalau sambil berbaring maka TV yang bakal nonton. “Ayo Brazil, hajar tuh Belanda, masak kalah sama kompeni”. Sampailah pada injury time dan detik-detik penentuan kemenangan pun sudah bisa dibaca. Belanda mampu mengalahkan Brazil dengan skor 2-1. Lemas deh jadinya, udah malas ngobrol dan diskusi sama kakak meski antar kamar.

Keesokannya, kami pergi ke beberapa pusat grosir di Surabaya(daerah kapasan dan pasar turi) untuk membeli beberapa barang dagangan kakak saya. Tampak jejeran kaos-kaos bola di sana. Saya pun mengatakan kepada dia “belikan aku kaos bola ya”, kakak pun menjawab “buat apa beli kaos bola”, saya : “ya seneng aja ngeliatnya, bisa juga dipake klo olah raga di rumah, kan biasanya bahannya panas tuh jadi cepet ngeluarin keringatnya”, kakak : “ya udah ntar liat-liat aja dulu, klo ada beli aja”, saya : “nanti malem yang bertanding sapa?”, kakak :”Argentina vs Jerman”, saya : “aku beli kaosnya Argentina aja soalnya tim ini udah melegenda dan gak usah diraguin lagi kemampuannya” (kayak yang ngerti aja saya), kakak:”aku juga milih Argentina, kan pelatihnya si Maradona” (saya masih belum update klo yang ini, bodo amet deh yang penting nyari kaos Argentina hari itu).

Berpindah-pindah ke beberapa toko belum juga saya temukan juga kaosnya. “Beli di pasar turi saja” pikir saya. Apa yang terjadi? kaos-kaos Argentina stocknya sudah menipis di pasaran yang tertinggal hanya beberapa potong saja dan potongan yang tersisa kebesaran di badan saya. “Huffffft, udah firasat ini mah, Argentina bakalan menang, liat aja hampir Sesurabaya mendukung dia” sahut saya ke kakak, ia pun membalasnya “iya neh, gila2an emang, masak di pusat grosir kayak gini tuh kaos pada mau ludes”.

Tibalah di saat-saat yang menegangkan menantikan permainan Jerman vs Argentina, saya menonton di depan dan kakak saya menonton di kamarnya. Diskusi antar ruangan pun masih terjadi. Anaknya memarahinya karena menonton bola, begini katanya “mama itu perempuan kok nonton bola seh, kayak ayah baru nonton bola, klo perempuan itu nontonnya sponge bop Ma” (whahahahahhaa, onok2 ae sampean iki cah cilik). Jantung berdebar-debar, apalagi kalau bolanya sudah sampai di kaki bernomor punggung 10…”langsung goal-in dunk, ini kan udah 1-0″. Daripada nonton bola bikin saya penyakitan saya pun mengganti ke channel yang lain. Kakak berteriak lagi dari kamarnya “udah 2-0”, saya kaget dan saya langsung ganti lagi channelnya “ayo dunk Messi, Tevez…gak usah diover-over lagi bolanya, goal-in aja langsung” (gregettannnnnn deh). Kamera selalu menyorot seseorang yang berada di luar garis mengenakan jas yang selalu mondar-mandir, saya katakan kepada kakak saya “orang yang jaga di luar itu berapa ya gajinya, mondar-mandir khawatir gak jelas gitu” (ternyata itu Maradona, maaf Om gak ngenalin…saya biasa ngeliat om jadi pemain bukan pelatih, sabar ya Om mondar-mandirya, coba rambutnya tuh dipotong udah kepanjangan), kakak saya menjawab “ya gede lah”. Kami pun serius dengan TV layar masing-masing dan apa yang terjadi kami berteriak karena kebobolan lagi gawang Argentina padahal tendangannya nyantai banget bok, team work yang bagus Gan. Beberapa menit pertandingan akan usai, datanglah Ibu mertua kakak, saya masih asik dengan dunia bola saya dengan sambil mempersilahkan masuk , namun mata dan hati terpaku pada bola. Kakak saya mengajak untuk membeli nasi Goreng di depan untuk dihidangkan bagi Ibu dari suaminya itu…”udah sana jalan sendiri aja, aku mo nonton bola..apalagi udah ganti kostum, udah males ah keluar2″. Sesampai di rumah kembali, kakak saya menceritakan bahwa paman kami (adik dari Ibu saya) juga lagi histeris nonton bola bareng-bareng warga di gang-nya, nasi gorengnya udah habis juga dari tadi. Weleh..weleh..weleh, Argentina telah membuat Surabaya jadi segitunya, pantesan tadi lewat di sekitar kedung doro dan membungkus Bakso Kondang Rasa tak begitu padat jalanan.

Walhasil, Jerman meruntuhkan kelegendarisan Tim Tango dengan tak memberikan apa-apa (alias kosong). Makin lemas saja saya..rasanya kurang bersemangat saja (halah…lebay banget). Ya sudahlah, saya relakan kekeokanmu wahai tim tango dan samba, semoga di piala dunia yang akan datang salah satu kalian mampu memenangkannya. Masih belum terima, saya ikuti diskusi pengamat bola mengenai kekalahan tim tango, “sebenarnya pemain-pemain argentina sudah bagus, ibaratnya gado-gado…sayur-sayurnya pada seger tapi bumbu kacangnya kurang pas. Maradona cocoknya sebagai pemain bukan pelatih (nah, kan udah tua critanya, ngapain maen terus?)” papar si pengamat itu. Biarin deh kalah, yang penting nanti saya cari kaosnya lagi (hehehehehehhehe) dan semoga ada ukuran yang pas di badan. Bravo Samba, Viva my Tango…see you later.

Nah penyisihan selanjutnya mau menjagokan siapa (Uruguay, Spanyo, Belanda apa Jerman)? Semoga Belanda jadi juara saja…Gpp kan ya Brazil kalau juaranya dipinjam Belanda sekali saja? ntar balik lagi kok.

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s