Kedamaian Bersepeda Sore

Alhamdulillah,

Keringat karena olah raga pun mengalir, terasa segar dan mengalirkan semangat untuk menatap hidup dengan lebih segar. Berbeda dengan keringat yang disebabkan oleh cuaca yang tak bisa diprediksi temperaturnya. Beberapa jam yang lalu habis bersepeda ke zona favorit (ya apalagi kalau bukan sawah), dalam rangka mengusir stuck ide setelah beberapa jam yang lalu duduk depan laptop mengerjakan skripsi orang. Selain itu juga dalam rangka menyembuhkan batuk dan pilek sebagai rangkaian dampak dari flu yang mendera beberapa hari lalu. Semoga udara yang tanpa polusi mampu memberikan sirkulasi  yang signifikan dalam tubuh.

Tadinya berencana sendirian ke sana karena akan menikmati lebih dalam panorama sawah di sore hari, tapi secara tidak kebetulan ketika membuka pagar rumah dan memarkir sepeda di depan pagar terdengar teriakan anak-anak kecil yang memanggil nama saya dan menanyakan saya mau kemana (yaaahhhhh, kayak emak sama anak aja). Spontan, saya pun mengajak mereka bersepeda bersama ke sawah, mereka tertarik saya pun tak masalah bersepeda bersama mereka. (melihat kondisi sepeda)…halah..rada kempes, bertanyalah kepada mereka dimana tempat memompa sepeda, seorang menjawab kalau di bulek saya ada. Okelah jika demikian adanya, mari kita mampir ke sana dulu untuk memompa sepeda. Saat memompa, hadirlah seorang anak murid bersama adiknya yang ngefans berat jaya sama saya (halah….ge-er deh saya, tapi emang bener kok…klo ktemua yang digodain saya dulun, padahal sebenernya aku yang ngefans beradd jaya sama Dini). Ikut jugalah dia dan adiknya dalam rombongan bersepeda kali ini. Ternyata, menurut informasi dari yang membawa adik itu ada trio pancing (karena demen banget mancing + ngobatin ikan-ikan di sawah) di sana, syukurlah trio itu bersepeda juga. Olga+Nining berboncengan, Yenny+adiknya juga boncengan, saya sendirian naik sepeda gunung sementara trio itu membawa 2 sepeda.

(Takut Bercampur Riang)

Jalur yang dilewati adalah undakan yang dibawahnya mengalir sungai-sungai (ada jembatannya kok di atas sungainya). Sudah tradisi mungkin rasa takut ini, awalnya menjerit tapi setelah melewati turunan yang licin itu pasti akan tertawa lepas. Seperti itulah masa kecil saya dulu, tak beda jauh tempat dan suasana bermainnya. Menyaksikan itu saya hanya bisa tersenyum lantas tertawa berhenti sejenak melihat ke belakang sambil mengayuh sepeda kembali (ckckckckckc, andai bisa kecil lagi…BAHAGIA rasanya, bermain tanpa beban, berteriak karena suka, berantem lantas berdamai lagi, serta tanpa dendam di hati-kayak lagu siti Nurhaliza aja). Tatkala melihat latar suasana yang seperti itu serasa alur hidup saya adalah flash back progressive (alur mundur), yang di dalamny terangkai memori dan histori  masa kecil yang mustahil untuk saya ulang kembali. Terimakasih yaa Rabb menghadirkan ini untuk saya karena membuat saya semakin mensyukuri hidup dan semakin haus akan definisi yang tersirat maupun tersurat di dalamnya.

Sampailah di point favorit saya, di tengah-tengah jalan di antara petak-petak sawah yang menghijau dengan dibalut awan yang teduh karena dari tadi pagi hujan mengguyur dan baru reda sekitar jam setengah 3-an, andai penghuni alam di sana berkata :

Sawah : // lihatlah aku di sini, segar disiram percikan ilahi yang tanpa batas, kan kubalas percikan itu dengan menghadirkan yang terbaik untuk para omnivor sejati, tak banyak yang menyentuhku hari ini karena sang pencipta ingin membiarkan kami menikmati kebebasan alam sebagaimana halnya manusia yang damai saat menyaksikan kami di sore dan pagi hari, kami mandi hujan bersama, kami pun disirami keberkahan yang juga akan menyirami yang lain//

Sungai : // Yesss, bebas…bebas…bebas…lepas, tak ada yang sudi menyentuhku di kala hujan, inilah saatnya aku mengalir sendiri, biarkan aku mengalir sesukaku..semauku..sekehendak hatiku, tentunya di tempat yang kadang aku sendiri tak tahu, Wahai yang maha mengalirkan masukkanlah kami dengan cara yang baik dan keluarkanlah kami dengan cara yang baik pula serta berikan petunjuk-Mu untuk jalan yang akan kami lalui selanjutnya//

Awan : // Bukankah aura keteduhanku terlihat olehmu…wahai para penikmat kedamaian?, ada saatnya membiarkan diri ini kepanasan dan para penghunia dunia pun kadang tak sudi melihat kami, tapi percayalah…siraman ilahi ini telah membuat kami menundukkan kedudukan kami agar kami pun sejajar dengan yang lain, selamat menikmati dan nantikan keteduhan kami selanjutnya //

Mungkin itu ungkapan metafora dan personofikasi yang bisa sedikit diungkapkan andai mereka bisa unjuk suara. Tapi memang kedamaian itu terasa pada saat menatap mereka satu per satu, sampai-sampai kerbau pun betah berlama-lama di tengah sawah karena mereka saling memberikan kedamaian satu sama lain.

Kami pun memutar setir sepeda dan melanjutkan ke tujuan yang lain. Tadinya saya yang sendirian bersepeda dikarenakan terjadi perdebatan diantara para anak kecil itu persoalan kelebihan beban dan keberatan sehingga Olga pun saya bonceng di sepeda gunung saya. Bertambahlah beban saya dan semakin berkuranglah bobot badan saya karena energi yang dikeluarkan makin banyak.

Selanjutnya pulang ke rumah masing-masing dan saya mencari bakso untuk saya santap di tengah udara yang masih mendung ini. Yes, bakso + krupuk = NIKMAT tiada tara.

Ok, udah maghrib (17.24 WIB di jam laptop)…selamat menunaikan ibadah sholat maghrib untuk Bangkalan/Surabaya dan sekitarnya.

Waa Syukurillah…keringat sudah mengering and it’s for taking a bath.

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s