Lagi Lagi Israel Berulah (Dari Barometer,@SCTV)

Selalu, selalu dan selalu serta setiap saat tayangan media Internasional disuguhkan oleh berita keberingasan dan kebengisan Israel. Tak ada kata damai bagi Israel, yang penting Serang..Serbu…Hajar…Tembak!!!!, katanya tempat orang-orang pintar dan cerdas tapi kok seperti itu caranya.

Beberapa hari belakangan tentara Israel menyerang para relawan Palestina yang akan menuju jalur Gaza dengan menggunakan kapal Mavi Marmara (yang belakangan dikenal dengan tragedi Mavi Marmara), di dalamnya terdapat beberapa warga negara Indonesia dengan membawa misi yang berbeda ada yang benar-benar relawan serta ada juga yang wartawan.

Media kita, “selalu saja begitu kamu” (kata sebuah lirik lagu), baru ada korban maka ekspos beritanya pun besar-besaran, padahal korban-korban Israel sudah banyak dari dulu. Relawan-relawan pun banyak yang pulang pergi ke sana. “Ya sudah lah” mau diapakan lagi, biarkan mereka berkreasi dengan cara mereka. Semoga hal ini menjadi pelajaran penting bahwa kemasan dan isi berita tidak sekedar mengejar rating dan oplah, namun bagaimana bisa seiinformatif, seedukatif dan senentral mungkin.

Beberapa menit setelah sampai di rumah selepas berekreasi bersama anak-anak SD dari kota “Bogornya” Jawa Timur saya menyalakan TV dan mengarahkan channel menuju SCTV karena channel sebelumnya menampilkan sinetron yang bikin pusing kepala dan terlihatlah sang presenter, Rieke Amru dalam tayangan Barometer yang membahas tentang Tragedi Mavi Marmara. Ada beberapa narasumber, yaitu direktur MerC, Bapak Din Syamsuddin, Ketua Hizbut Tahrir serta ada juga ibu dari wartawan TVONE-M.Yasin. Nah, untuk narasumber yang saya sebut terakhir ini tidak saya ikuti begitu banyak karena tampilnya paling awal dan saya baru menyalakan TV sekitar jam 12-an lewat.

Tayangan video yang cukup informatif yang disajikan mengenai sejarah perselisihan Israel-Palestina. Saya tidak terlalu ingat mengenai tahun, yang saya tahu adalah tokoh yang terlibat dan berbagai road map menuju jalan damai yang telah dilakukan oleh para tokoh tersebut. Alhasil, road map itu sampai dengan sekarang tak memberikan efek yang signifikan, malahan Israel makin menjadi-jadi. Sebuah pertanyaan dari Rieke untuk para nara sumber adalah “kenapa Israel-Palestina tetap tidak bisa berdamai padahal banyak jalan damai telah dilakukan?”. Dengan pandangan dan pendapatnya, ketiganya  pesimis bahwa keduanya akan berdamai.

Dan jika boleh saya menyarikan kepesimisan mereka dalam rangkaian pandangan yang saya pernah baca dan kemudian saya tuliskan dari sebuah skripsi Abang saya yang berjudul “Politik Luar Negeri Israel”. Berdasarkan skripsi yang saya baca tersebut, ia memaparkan mengenai Israel dilihat dari sudut pandang sosial dan politik serta applikasinya dalam suatu hubungan internasional. Berikut ini adalah ringkasan tulisannya :

Pada awal abad ke-20 orang-orang Yahudi masih dalam keadaan bercerai-berai yang sejak tahun 135 M kaum Yahudi mulai bertebaran ke seluruh pelosok dunia (Diaspora), dan senantiasa selalu mendambakan berakhirnya diaspora mereka untuk segera kembali ke negeri yang telah dijanjikan (Palestina) seperti yang dikatakan dalam Taurat disertai alasan-alasan histeris, religius dan kemanusiaan. Dalam keadaan berpecah-belah antara pelarian dan kesengsaraan hidup sebagai kaum yang teraniaya dan mereka yang bergelimang kenikmatan hidup, ataupun dengan adventure baru untuk mengembalikan kejayaan kerajaan Israel pada masa raja Daud maupun Sulaiman, tiba-tiba muncul pihak lain yang pada dasarnya memberikan perhatiannya tentang Palestina dan negara-negara Arab lainnya yang sampai perang dunia pertama secara politik masih berada di bawah kekuasaan kerajaan Ottoman, yaitu Inggris bersekutu dengan zionis yahudi untuk merealisasi tujuan bersama dalam membasmi realitas Arabisme Palestina dan kemudian memindahkan haknya kepada bangsa yahudi, dengan syarat negeri itu nanti harus menjadi kawan atau alat untuk imperialismenya.

Sementara itu, Inggris sebagai anggota sekutu sedang berperang melawan negara poros tidak ingin melihat negeri-negeri Arab tetap di bawah kekuasaan negara Islam, yaitu negeri ottoman (1926-1924) yang di waktu perang dunia pertama bagi Inggris merupakan negara musuh yang melawan sekutu.  Dalam usahanya menghadapi Ottoman Empire (Daulah Usmaniah) yang berpihak kepada poros, Inggris merangsang dan membantu negara-negara Arab memberontak melawan Turki. Untuk mendapatkan kekuatan dari bangsa Arab, kemudian Inggris menawarkan kepada bangsa-bangsa Arab agar menyokong sekutu dan setelah selesai perang akan diberikan kemerdekaan penuh bagi setiap negara , termasuk Palestina

Disaat bangsa Arab memiliki keyakinan, bahwa mereka berjuang untuk kemerdekaan dan kebebasan  negerinya dari kekuasaan kerajaan Ottoman, ternyata mereka telah ditikam dari belakang oleh Inggris, yang secara rahasia telah mengadakan perjanjian BALFOUR dengan zionis yahudi, yang memuat dukungan resmi pemerintah Inggris untuk “The Establishment In Palestine of a National Home for the Jewish People”. Disamping pengkhianatan Inggris  terhadap bangsa Arab dengan perjanjian Balfour pada tahun 1917, pada tahun 1916 Inggris juga telah mengadakan perjanjian dengan Perancis, yaitu pada tanggal 16 Mei 1916. Inggris dan Perancis secara rahasia telah menandatangani persetujuan SYKES-PICOT yang isinya membagi tanah di benua Asia bekas wilayah kerajaan Ottoman antara kekuasaan Inggirs dan Perancis, yaitu Libanon dan Suriah di bawah Perancis, sedangkan Jordan dan iraq di bawah penguasaan Inggris. Mengenai Palestina sekalipun dalam pernyataan itu disebutkan akan diletakkan di bawah internasional, namun kenyataannya berada di bawah kekuasaan Inggris.

Jadi jika menanggapi pertanyaan Rieke tersebut, berikut ini mungkin beberapa alasannya :

– Secara eksternal

–> kekukuhan Israel dalam mempertahankan politik ekspansi sebagai kebijakan politik luar negerinya. Adanya obsesi yang merasuk dalam benak zionis Israel, yaitu masalah keamanan negaranya, mereka sadar bahwa Arab merupakan lingkungan eksternal yang setiap saat akan merobohkan dinding eksistensinya. Dimana zionis Israel terobsesi untuk mempersempit ruang gerak Arab seoptimal mungkin dengan memperluas wilayah negara Israel sebagai buffer zone untuk menangkal ancaman Arab.

–> Keterlibatan dunia luar, yaitu Inggris, Perancis atau yang lebih eksplisit lagi adalah negeri Paman Sam, ikut memainkan peran yang tidak netral di Timur Tengah. Para “pakar” PBB inilah yang senantiasa membela Israel di kancah internasional.

– Faktor Internal

–> Adanya doktrin Yahudi yang terdapat dalam protokol of Zion yang pada dasarnya sangat bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan harmonisasi kehidupan. Mereka menganggap bahwa bangsa Yahudi adalah bangsa pilihan Tuhan dan lebih superior dibanding bangsa lain.

Semoga kemenangan berpihak pada yang benar dan membinasakan yang salah. Semoga hati-hati para pembela zionis itu dibuka dan diberikan penerangan dalam menentukan sikap dan kebijakannya. Tengoklah wahai dunia….Palestina-pun sangat butuh kedamaian seperti idaman setiap orang yang hidup di dunia!!!!. Rabb, karuniakanlah kesabaran, perlindungan, keberkahan serta rezeki yang melimpah untuk saudara-saudara kami di Palestina sana. Semoga do’a-do’a kami mampu menembus jalur Gaza dan meluluh lantahkan kekejaman Zionis…..Amin Yaa Mujiib.

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s