Cilacap Membolang, Jogja Mengayuh Iman (Bag.1)

Alhamdulillah,

Allah telah mengijinkan saya untuk mengunjungi bumi Cilacap dan Yogya. Pertemuan dengan Cilacap adalah yang perdana karena ada salah seorang teman yang menggelar akad sekaligus resepsinya di sana. Saat membaca undangan pernikahannya di sebuah milis, saya pikir acaranya di Jakarta sehingga kemungkinan besar tidak bisa hadir, Eh…tiba-tiba seorang teman menyapa di YM dan mengatakan kalau pernikahannya diadakan di Cilacap, spontan saja saya langsung menjawab “ke sana yuk, insyaAllah ikutan”. Singkat cerita, saya dengan mengajak salah seorang sepupu saya pun sepakat untuk pergi ke sana. Dengan melakukan beberapa survey mengenai transportasi ke sana, baik Internet maupun bertanya via sms ke abang saya, saya pun mengolah seluruh informasi dan menuju ke beberapa pemberhentian transportasi tersebut. Sebutlah Stasiun Gubeng, walaupun sering melewatinya namun  merupakan kali pertama saya menginjakkan kaki ke sini. Setelah itu berlanjut ke Terminal Purabaya (bisa juga disebut Bungurasih), sebenarnya bukan untuk pertama kalinya memasuki area ini, tapi semenjak bermukim di Jakarta ini baru pertama kalinya juga saya melabuhkan diri ke sini. Tak banyak berubah dari terminal ini, masih saja kotor dan banyak calo di sana-sini, “tapi ya sudahlah”…”buat apa juga dipikirkan, toh ada pemerintah ini, semoga ke depannya kualitas transportasi menjadi semakin baik sehingga pendapatan negara dari sektor ini menjadi makin meningkat”. Setelah menimbang, memikirkan lalu memutuskan diambillah bis sebagai solusi transportasi menuju Cilacap karena beberapa pertimbangan. Pertimbangan tersebut adalah :

– Biaya yang dikeluarkan kurang lebih sama jika harus naik kereta yang ekonomi sekalipun

– Kenyamanan dan keamanan

– Akses transportasi yang mudah menuju ke terminal(hanya dengan naik AKAS sekali), tak perlu transit dan merepotkan kakak di Surabaya karena bisa langsung berangkat dari rumah  Ongkos bisnya pun murah, hanya 15.000 dan sayangnya bis ini tidak bisa lewat jembatan Suramadu karena berdasarkan kebijakan yang ada bahwa bis-bis harus melewati pelabuhan Ujung, Kamal. “lagi-lagi, harapan itu didengar, karena sebelumnya saya ingin iseng-iseng naik kapal, ritual yang sudah lama ditinggalkan sejak hadirnya Suramadu, perubahannya adalah makin sepi saja dan alunan pedagang kaki lima tak lagi banyak terdengar,peradaban pun mengubah jalan hidup manusia menuju ke sesuatu yang cepat dan tanpa batas”.

Kami pun berangkat dari rumah setelah sholat Ashar. Dengan segala tetek bengeknya kami pun menuju ke jalan depan sekitar jam 4 dan oooohhhh mengapa bis yang kami nantikan tak jua kunjung datang. Fatim pun sempat berkata “gak ada ini sepertinya, bisa ditinggal nanti sama travelnya”, saya : “tenang aja, kita tunggu sampai jam 1/2 5, klo gak dateng naik bis mini aja, walaupun agak ribet juga karena dari terminal kamal harus ke kapal lagi dan  setelah itu ganti bis AKAS”. Jawaban pun datang biasanya pada saat kita sudah putus asa (klo tak percaya buktikan saja…:) ), bisnya pun hadir dan bersedia mengangkut kita. “Hati-hati di jalan, jangan lupa oleh-olehnya” kata para penghuni Burneh, Bangkalan. “Terimakasih bulek dan umiku tercinta atas sangunya, lumayan buat ongkos transportasi, semoga Allah menambahkan dengan rezeki yang lebih banyak”.

Seperti anak kecil memang, pergi saja dikasi uang saku, tapi atas masukan Fatim yang katanya bulek kita itu mendapatkan rapelan jadi sebelum pergi ada baiknya untuk pamit ke dia supaya dikasi uang. Adik bungsu ibu saya ini memang sering memperlakukan kami-kami seperti anaknya sendiri karena anaknya memang hanya 1 dan satu-satunya sehingga yang lain pun dianggap sebagai anak. Kadang-kadang suka keterlaluan, pada saat saya berjajan di warung yang berlokasi di belakang di rumah saya sering ditraktir, apalagi kalau ada penjual makanan yang melintasi rumahnya sudah pasti saya disuruh beli padahal saya tak begitu tergoda. Belum lagi kalau mengantarkannya jalan atau minta tolong transfer uang untuk buah hati satu-satunya yang kuliahnya di Malang pasti setelah itu ditawarkan mau beli apa dan seperti biasa kalau memang saya sedang tidak mau atau ada agenda yang lain saya menolaknya dan mengatakan “gampanglah, nanti saja”.

Perjalanan dengan AKAS menuju Purabaya ditempuh dalam kurun waktu 1.5 jam (karena lama di dalam kapalnya). Kami turun sebelum terminal Purabaya, karena pool bis Rosalia Indah yang akan mengantar kami ke Cilacap berlokasi di dekat Medaeng (Merupakan lokasi LAPAS-Lembaga pemasyarakatan di Surabaya). Setelah itu, kami shalat maghrib yang sekalian dijamak qashar dengan isya’ (berarti 3 untuk maghrib, 2 untuk isya’). Jama’ qashar merupakan hadiah yang diberikan oleh Allah bagi meraka yang sedang melakukan perjalanan jauh,begitu banyak kemudahan yang diajarkan dalam agama saya ini, siapa bilang agama ini memaksa atau kaku atau malah mengatakan berat, InsyaAllah enak dan enjoy serta merasa selalu ada yang melindungi. Perjalanan yang paling indah adalah perjalanan yang senantiasa bisa mengingatNya, dimanapun dan kapanpun dan tetap konsisten untuk menjalankan kewajiban yang memang sudah disyariatkan.

Sekitar jam 1/2 8, bis kami meluncur menuju Cilacap, berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari karyawannya bahwa bis akan berhenti di Ngawi untuk istirahat dan makan. (Mengasyikkan memang) perjalanan malam melalui kota-kota di Jawa Timur yang biasanya hanya bisa saya dengarkan saja, dan kali ini saya menampakkan diri ke sana dan menyapa kota-kota itu melalui deruan bis yang kami tumpangi “permisi, numpang lewat, aku hadir…vini vidi vici (tau apaan artinya)”. Tak hanya Jawa Timur, Jawa Tengah sebagian pun dilewati “it’s wonderful trip”.

Di beberapa poolnya di beberapa kota, bis ini berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Sepupu saya dilanda mabuk darat dan mati gaya dalam gerakannya, sementara saya sampai dengan jam 2-an malam masih tetap on air bersama dengan ipod kesayangan sambil menikmati panorama malam yang situasinya tak jauh beda antar satu kota dengan yang lainnya. Tas doraemon yang kami tenteng berisi beragam makanan belum kami sentuh karena memang kondisi perut masih aman terkendali.

Sekitar jam 6-an pagi kami sampai di Cilacap, Alhamdulillah dapat sholat shubuh di dalam bis karena ketika saya minta ijin untuk sholat dulu, sang petugasnya mengatakan untuk sholat di atas saja “ora opo-opo kok Pak-e, wong iki musafir, dadine isok ae sholat nang kendaraan (bahasa jawanya pun keluar, bagi yang tak tahu artinya silakan pakai fasilitas google translate, paling programnya belinger).

Menghubungi salah seorang teman saya yang sudah sampai duluan di TKP dengan membawa mobil. Terdengar jawabannya sudah seperti orang teler dan aromanya sepertinya NTT (ngantuk tingkat tinggi), saya menunggu saja di pool bisnya di Jalan Gatot Subroto. Menikmati udara pagi dan makanan dalam tas doraemon kami, beberapa menit kemudian hadirlah 2 orang teman menjemput saya, ya seorang supir dan majikannya yang juga baru pertama kali ke Cilacap. Kami pun diangkut dan beberapa saat berputar mengelingi daerah itu untuk melihat lokasi pernikahan sang teman dan mencari sarapan pagi. Berhentilah di sebuah warung yang berlokasi di sebuah sekolah dasar untuk membeli nasi uduk, sudah terpikir bahwa ini merupakan jajanan anak SD tapi karena kemauan mereka begitu “ya sudahlah ikut saja”, (coba kau bayangkan) nasi uduk saja harganya sekitar 1000-an + gorengan+kue-kue ala pasar sekitar 500, menurut saya ini hanya numpang lewat di dalam perut mereka,dari pada tak ada yang lewat jadi mending memang beli yang ini.

Lokasi pernikahan pun ditunjukkan dan sepertinya persiapan untuk acaranya sudah tinggal menghitung menit. Kami pun menuju ke penginapan mereka. Berdasarkan request saya ke salah seorang dari mereka bahwa saya hanya menumpang saja buat mandi  dan tak mau bayar(hahahaha, gak mo rugi banget deh, sekali-kali gpp kan, anyway thx temans atas tumpangannya). Masuklah ke kamar itu, (kok rada merinding dan baunya pun agak-agak kurang enak, tembok-temboknya pun kok berasa gak hidup, apalagi setelah memasuki kamar mandinya) temperatur badan pun agak-agak memanas…berkeringat tapi tak keluar, sepupu saya tiduran sambil menelpon temannya, sementara saya bingung kalau sudah begini, melihat karpetnya saja yang ada kotoran bangkai hewan kecil-kecil itu membuat saya geli “gimana bisa kyk begini”, sandal pun melekat di kaki saya. (Hey…gak usah sok deh jadi orang) saya pun menuju kamar mandi kemudian mengambil wudhu untuk membersihkan kemerindingan dan kegelian itu dilanjutkan dengan sholat dhuha 2 rakaat (alhamdulillah sajadah tipis lebar yang sering saya bawa-bawa dan merupakan pemberian umi tercinta itu bisa menjadi alas sholat menutupi karpet itu), setelahnya saya merebahkan diri di kasur dan menikmati alunan ipod. Untuk membuat badan lebih segar tas  berisiobat pribadi pun dikeluarkan supaya angin-angin tak penting dalam tubuh saya keluar dan badan pun menjadi hangat. Mendapatkan dering dari seorang teman sebelah untuk bersiap-siap, saya pun mandi dan sliiiiiiiiiitttttt…kok airnya licin banget ya, seperti air laut,(hey..gak usah banyak komentar deh, mandi aja!), karenanya ingin cepat-cepat keluar dari kamar mandi.

Alhamdulillah, penginapan ini mengajarkan banyak hal bagi saya, dalam kondisi apapun tetap harus menikmati dan ketika itu yang harus dihadapi kenapa kita tak berkompromi saja dengannya, toh kondisi seperti ini tak setiap hari. Terimakasih Yaa Allah telah memberikan air ini, kamar ini, jadikanlah kami orang-orang yang suka akan kebersihan.

Sekitar jam 9 kami menuju ke tempat akad dan resepsi. Sesi demi sesi telah dilewati dan syukurlah sang teman ini lancar dalam melafalkan ijab kabulnya, status di KTP dan facebook pun berubah menjadi Married. Selamat menempuh hidup baru teman, semoga dikarunikan keluarga yang sakinah, mawaddah waa rahmah, semoga teladan yang sudah kau berikan mampu juga diikuti oleh yang lain. Hebaddd Urfan, kecil-kecil sudah jadi manten kata saya ke sepupu saya, dia pun menjawab “emang umur berapa?”, saya :”semuran lah”, sepupu :”ya udah tua juga kali”, saya :”iya juga ya, abis ngeliatnya kyk masih kecil gitu alias baby face, tapi klo emang jodoh mesti ke tujuh samudera sekalipun tetep disamperin , demi cinta dan atas kehendak Allah, emang kamu cuman berjarak beberapa meter doang…mampir ke pasar nyebarang dikit udah nyampe”, sepupu:”bersyukur kayak gitu, kykna klo sejauh ini aku gak mampu, emang Allah maha adil, padahal dulunya aku pengen dapet yang jauh tapi mau gimana lagi dapetnya yang ini”, saya :”semoga diberikan kelancaran sampai menuju ke sana”.

Ini dia sesi yang paling dinanti-nantikan, makan…makan dan makan. Melihat makanan yang berjejer membuat produksi enzim meningkat, tak terlalu lapar tapi ingin makan. Apalagi saat sebuah gerobak bakso memasuki kawasan makanan makin saja saya ingin memakannya. Pijakan pertama sebenarnya ingin ke sana tapi apa daya sang sepupu mengajak saya ke makanan depan, demi kenyamanan bersama saya pun ke sana dan mengambil makanan tanpa nasi karena jika ada nasi saya tidak bisa melirik yang lain karena kondisi perut yang kekenyangan dan bukannya tidak bagus untk kesehatan membiarkan perut dalam keadaan begah dan kenyang.

Memperbaiki pola pencernaan makanan, maka diambillah buah-buahan dulu supaya produksi asam di dalam perut terbentuk dengan cepat untuk membantu proses selanjutnya dan buah-buahan juga banyak mengandung air sehingga proses penggilingan makanan pun lebih cepat jika dibandingkan dengan makanan yangg mengandung lemak atau karbohidrat, dengan demikian proses pembuangan pun akan semakin mudah. Ilmu ini saya dapat ketika berkunjung ke salah seorang teman di Medan, simpel tapi sangat berguna dan mampu mengubah pemikiran saya yang tadinya berpikir harus makan nasi dulu sebelum makan buah.

Agak-agak kenyang dengan konsumsi buah dan kue-kue saya beristirahat sejenak, menurunkan makanan dan mengobrol dengan beberapa tamu yang kebetulan banyak yang berasal dari Madura karena ayah dari mempelai laki-laki asli Madura. Rumah orang tuanya bersebelahan dengan rumah kakek-nenek-bulek sepupu yang saya ajak, jadi sepupu saya kurang lebih tahu struktur keluarga ini melebihi pengetahuan saya tentang keluarganya. Yang saya tahu bahwa teman saya ini ada hubungan saudara dengan ponakan dari Bapak saya, sebelumnya saya mengajak beliau juga karena pasti mendapat undangannya tapi sayang beliau dan suaminya sedang melaksanakan umrah dan baru kembali sekitar tanggal 7 Juni. Tak hanya mengobrol bersama keluarga Madura, saya juga secara tidak sengaja mengobrol bersama pihak keluarga mempelai wanita dan juga adik mempelai laki-laki yang juga junior saya di kampus. Dari obrolan itu, terangkai aliran cerita tentang Urfan sampai menemukan tambatan hatinya tersebut, dalam cerita tersebut sepeti yang diutarakan oleh keluarga Madura masuk juga nama saya karena saya pernah berkunjung ke rumah nenek urfan pada saat Urfan mudik ke Madura…”halah!ada2 aja, saya hanya bisa ketawa aja,wong saya cuman maen & silturrahim kok.”

Pembicaraan melepaskan energi dan saatnya mengisi energi dengan makanan yang berimbang, kaki pun melangkah ke gerobak bakso “tidak pakai saos, tapi pake sambel+kecap,mie+kuahnya dikit aja” (mantaaaappppp), bayangan bakso yang menggeliat di kepala saat di atas bis hadir dalam nyata…”sungguh nikmat yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata”. Hahahahahhaaa, lagi-lagi lebay, ya yang namanya bakso dimanapun dan kapanpun gak akan ada matinya, makanan favorit yang belum ada kompetitornya. Setelah bakso, beberapa saat kemudian beralih ke kambing guling. Sepupu saya pun hanya geleng-geleng “digilir semuanya ya, gak kenyang apa”, saya :”kan gak makan nasi tadi, makanya ruangan pun masih tersedia”.

Acara makan dan foto-foto pun selesai, kami pun keluar dari TKP dan mereka bingung mau kemana setelahnya. Dengan atau tanpa meraka saya memang mau ke Jogja karena rute yang kami susun begitu, jika tidak sebelum atau setelah ke Cilacap kami akan melanjutkan/transit di Jogja dulu untuk sekedar jalan-jalan atau istirahat. Karena mentari masih bersinar terang mereka memutuskan untuk jalan-jalan di Cilacap dulu dan sampailah kami di sebuah teluk yang bernama teluk penyu yang dari sana bisa menyebrangi Nusa Kambangan. Kami pun menuju Nusa Kambangan menaiki perahu kayu menggunakan motor dan melihat karang-karang atau bisa juga dikatakan wisata laut.

Si Fatim dari Gua Kambangan

Berasa menjadi bocah petualang, kami melalui jalan yang menanjak untuk menuju wisata laut itu, sebenarnya track-nya tak begitu menantang namun karena melihat sepupu saya yang ngos-ngosan karena dia jarang berolah raga dan meggerakkan badan saya pun tak tega sehingga sedikit memelankan langkah saya. “Masak anak kampung kalah sama anak kota, bukannya tempat kita bermain masa kecil dulu lebih dahsyat dari ini, makanya jangan tidur aja!!!!bergerak, melangkah dan berpetualang!”(hehehehehehe, kayak saya yang gak gitu aja).

Bagus tempatnya, penduduknya pun bermental bisnis karena apa-apa bayar dan alasannya cukup logis kenapa kita harus bayar. Sepanjang pengamatan saya di sekitar lokasi terlihat penduduk di daerah sini tak begitu banyak “ckckckckck, apa ya hiburan mereka?, terus bersosialisasinya gimana, bagaimana mereka mengenal dunia luar, apa dunia luar yang sengaja ingin berkenalan dengan mereka, dan sederetan diskusi internal yang jawabanyya hanyalah sekedar hipotesis personal”. Syukurlah saya tinggal di kampung ini, yang kemana saja bisa dan aksesnya pun cepat.

Adegan foto-foto pun menjadi adegan yang paling digandrungi, ya beginilah ciri-ciri anak kota “apa aja di foto, di setiap objek pun dijepret dengan pose dari yang standar sampai yang enggak banget” namanya juga aktualisasi diri dan pelepasan kepenatan diri, mau masuk majalah tak lolos verifikasi jadilah berpose suka-suka ala majalah. Selesai foto-foto dan menikmati pemandangan kami menyebrangi lautan untuk menuju tempat dimana mobil diparkir.

Karang Bolong, Air yang di bawah dingiiiin

Yah ini dia adegan yang dari tadi dinanti bersih-bersih dan cuci kaki. Paling gak demen yang namanya kaki becek dan sandal basah apalagi kecipratan benda-benda asing karena dampaknya selain menimbulkan alergi juga tak nyaman dalam perjalanan. Padahal kan perjalanan untuk dinikmati, apalagi perjalanan jauh seperti ini kalau sampai kebersihan dan kenyamanan diri terganggu maka akan mengganggu kualitas perjalanan. Lap kaki dan sandal denga npengering yang ada, ganti yang basah dengan yang kering.

Kami pun berpisah di pool Rosalia Indah di Gatot Subroto, saya bersama sepupu saya menuju Jogjakarta dan mereka yang tergabung dalam rombongan Jakarta bertolak ke Jakarta untuk membersihkan monas yang sudah mulai kotor.

Pool @ CILACAP

Terimakasih teman-teman semuanya atas bantuan dan tebengan serta sedekahnya, semoga silaturrahim ini bisa terjaga dengan sebaik-baiknya, kabari-kabari saja kalau ada yang menikah lagi, asal bisa..insyaAllah diusahakan hadir, salam buat gerombolan yang ada di sana dan semoga bisa berjumpa kembali di kesempatan trips yang lain. Maaf ya kalau sudah merepotkan dan sedikit mengganggu agenda perjalanan kalian.

(Berlanjut…Dengan Judul yang sama  Bagian.2)

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

2 Responses to Cilacap Membolang, Jogja Mengayuh Iman (Bag.1)

  1. bina laudhi says:

    Ada lagi di Cilacap, sekarang tambah lagi kulinernya : Tahu Bakso “Jeng Lien” Jl. Rinjani cilacap…legitnya bener2 ngangenin…….Pas makan hangat2 dengan cabe wiiih….. nikmat banget

  2. Is says:

    Iya, ntar klo ke sana boleh juga tuh dicoba, thx ya buat nice infonya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s