Kebudayaan Maju? Kayak Gimana Siy?

Inspired me for writing continously

Terkesan dan terpesona saat pertama kali membaca buku yang disodorkan oleh sepupu saya untuk dijadikan referensi dalam skripsinya, yah buku itu ditulis oleh Bapak Profesor. Budi Darma,Ph.d. Beuuuuhhhh, bahasa dan alur tulisannya benar-benar tidak membosankan dan bisa membawa orang yang tak berbackground sastra jadi semakin penasaran dengan yang namanya sastra yang merupakan bidang ilmu yang membuat esensi bidang-bidang ilmu lain semakin beraroma. Tapi tenang saja teman sekalian, saya sedang tidak ingin membahas lebih lanjut karena pikiran saya sedang menggelayut pada halaman 11 buku tersebut yang pada introduksi paragrafnya menyatakan “kebudayaan yang dianggap maju tidak akan melakukan kompromi”. Mengenai ini, langsung terhanyutlah sama yang namanya negeri Sakura, merupakan salah satu negari idaman dan favorit serta kapan Yaa Allah saya bisa ke sana?. Oke, melanjutkan kembali lanjutan isi bukunya ….melalui kompromi, sebuah kebudayaan melepas sebagian nilai-nilai lama dan menggantikannya dengan nilai-nilai baru. Atau melalui kompromi, sebuah kebudayaan meramu berbagai nilai. Dinamika terjadi, manakala sebuah kebudayaan terbuka untuk menyadap darah segar dari luar. Kompromi memiliki prasyarat, yaitu kekuatan untuk mengadakan tawar menawar. Kunci kekuatan tersebut tidak lain adalah jati diri.

(Menarik lagi di paragraf selanjutnya)…Jati diri ada di otak dan hati, jati diri sulit dijabarkan. Lebih mudah bagi kita menjabarkan pengejawantahan jati diri, yaitu perilaku.

Jadi semakin menantang membaca kelanjutan isinya, namun yang perlu dibahas di sini terkait dengan kebudayaan yang maju. Mengapa pada awal paragraf saya menyebut Jepang sebagai salah satu dari bagian ini. Tak lain karena kebudayaan yang sudah lama tertanam dalam jati diri mereka mampu memajukan peradaban masyarakatnya, tak malu dengan budaya lamanya yang apa adanya malah menjadi khasanah bangsa yang patut untuk dijadikan teladan, tak mudah terkontaminasi dengan arus globalisasi. Sungguh, merupakan potret negara yang memiliki jati diri yang tak hanya berkualitas dalam bidang teknologinya tapi juga dalam bidang sosial-budayanya. Betapa banyak negara-negara lain yang banyak melakukan kompromi hanya karena malu jika budayanya up to date, padahal jika budaya boleh ngomong “biarkanlah aku apa adanya, mengalir bersama deras dan kerasnya zaman” (maaf kalau ungkapan metafora yang saya ungkapkan terkesan sok tau, padahal saya sendiri tak pernah berposisi sebagai budaya).

(Udah dulu ah ngantuk euy…ntar lanjut lagi ya kalau dapat ide)

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s