Ulang Taun+Reunian Ala Liputan6

Setelah pulang dari ziarah ke kuburan Bapak yang merupakan agenda rutin setiap hari kamis sore walaupun hanya dengan “mengirimkan” al-fatihah, surat yaasin dan ar-rahman semoga insyaAllah bisa memberikan penerangan untuk beliau dan saudara muslim-muslim yang lain di alam barzah. Sambil menunggu waktu beduk saya isi dengan menonton beberapa program TV, beberapa channel memang banyak semutnya, kalau berdasarkan versi ponakan saya (Shabrina) “TV-nya rusak”. Sampai-sampai untuk menghilangkan semutnya ia hapus dengan tangannya. Apa yang terjadi setelah dihapus? semutnya makin banyak karena tangannya ternyata menngandung gula….hahahahhaha (bcanda geeettto). Karena acaranya mengandung komposisi sinetron dan sejenisnya, saya pun ganti ke channel yang lain dan sampailah di SCTV yang menayangkan liputan6 petang.

(Tersentak) ketika sang presenter, Rieke Amru menyatakan bahwa dia siaran bersama Ira Koesno. Terpikir “kok tumben-tumbenan, emang Mbak Ira balik lagi ke SCTV lagi, bukannya dia udah bikin perusahaan sendiri-IKPRO yang membawahi sekolah journalisnya IKCOMM”. Dalam kondisi itu, sang presenter menjelaskan bahwa kehadiran Ira Koesno yang merupakan alumni liputan6 adalah sebagai tamu untuk berbagi dalam merayakan ulang tahun liputan6. Wow….makin tua aja liputan6, sama saja seperti saya yang makin tahun bertambah..”Selamat ulang tahun liputan6, semoga ratingnya makin meningkat dan kualitas materi siarannya pun makin berbobot serta mampu mengangkat isu-isu yang mampu mengungkapkan fakta yang mendidik bagi masyarakat…bukan sekedar kejar oplah dan sikut produk kompetitor”. Karena hari kebangkitan nasional juga (20 Mei) maka sebagai warga negara republik ini saya ucapkan “dirgahayu negeriku, semoga torehan sejarah mampu terukir kembali dan negeri ini bisa menjadi negeri yang merupakan home based bagi kita semua”.

(Balik lagi ke Ira Koesno)-Setelah pertanyaan singkat dari Keke (begitu sapaan singkat Rieke Amru) diajukan dan kemudian dijawab secara lugas oleh Ira maka tibalah saatnya Mbak Ira membacakan berita. Agak deg-degan katanya karena sudah lama juga tidak melakukan adegan seperti itu, namun untuk olah vokal katanya sudah biasa karena setiap hari dia mengajar di Universitas Al-Azhar. Dalam membacakan berita tersebut sang presenter senior ini rupanya tak kalah bagusnya dengan para juniornya. Adalah jam terbang dan applikasi ilmu yang sudah dilakukannya dalam dunia riil yang lebih hetrogen sehingga menyebabkan dia konsisten dengan talentanya tersebut. Sebagai mantan murid Mbak Ira ketika dulu di sekitar pertengahan tahun 2006 pernah mengambil kursus presenter Jurnalist TV yang berlokasi di radio dalam banyak hal yang diperoleh dari sekolah yang ia dirikan bersama 3 orang rekannya tersebut. Saat itu, jelas saja saya masih belum mengerti karena masih anak ingusan. Namun setelah beberapa hal yang sudah saya alami, maka saya acungkan jempol untuk dia karena di tengah ketenaran dia menjadi presenter dia berani untuk melepasnya dan mendirikan perusahaan berdasarkan cita-cita yang dia impikan. Tak banyak memang yang seperti ini, karena untuk melepaskan diri dari zona nyaman butuh sebuah keberanian dan tekad yang kuat, jika tidak demikian saya yakin yang ada hanyalah sekedar postulat yang tak terbukti. Betapa tidak, banyak karyawan yang mengatakan bahwa dia bosan dengan kerjaannya, gitu-gitu aja, stress, gak enak disuruh-suruh orang tapi masih saja begitu, jelas saja pekerjaannya kurang optimal sehingga outputnya pun kurang memuaskan karena kerjaan bercampur dengan keluhan. Siapa bilang semua orang harus keluar dari zona nyaman, itu pilihan kok, kalau memang tidak mau tidak usahlah banyak mengeluh dan buktikanlah dengan mengukir prestasi dan memberikan kontribusi yang optimal bagi perusahaan. Toh, yang keluar dari zona nyaman pun tak semudah yang dipikirkan orang, ada banyak dinamika hidup yang mesti diatasi dengan cepat dan kerangka berpikir pun harus senantiasa ditopang oleh fondasi-fondasi semangat, inspirasi dan tekad yang kokoh.

(Balik lagi ke topik)-Secara historis genre Mbak Ira dan kawan-kawan di ranah dunia jurnalis TV di Indonesia mampu membangkitkan semangat pers sehingga pers menjadi lebih terbuka dan memiliki sayap yang fleksibel yang tak dibelenggu lagi oleh kekuasaan. Sebagaimana pernah dikatakan oleh Indiarto Priadi yang juga seperjuangan dengannya dulu pada saat memberikan materi di IKCOMM bahwa liputan6 lahir dipertemukan oleh momen. Ya benar “dipertemukan oleh moment” (hal yang sering disarikan juga oleh salah seorang teman saya), saat itu banyak peristiwa historis seperti timbulnya era reformasi, tumbangnya rezim orde baru, perang di Irak, gempa bumi dan lain-lain sehingga materi beritanya pun bukan sekedar tujuan komersial tapi juga untuk memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai situasi dan kondisi yang terjadi, baik secara global maupun lokal. Generasi mereka mampu memberikan rasa baru dalam dunia siaran di Indonesia, dengan tag line-nya “aktual, tajam dan terpercaya (untuk bahasa Indonesia yang benar, kata guru Bahasa Indonesia saya seharusnya tepercaya,, hal ini terkait dengan nasalisasi/peluruhan kata, namun karena faktor lidah yang tak biasa jadilah seperti itu)”.

Sampai dengan saat ini, dari generasi mereka itulah berhamburan ke stasiun TV yang lain untuk memberikan perubahan agar tayangan siaran dikemas semenarik mungkin, tak terkesan menggurui dan membosankan penontonnya. Lihat saja, Bang One yang merupakan pentolan liputan6 loncat dari AnTV kemudian ke TVONE, Arief Soeditomo ke RCTI, Rosiana Silalahi di Global TV dengan programnya Rosi, Indiarto Priadi dan Indi di TVOne ikutan bang One, Bayu Sutiyono dengan program Motivatalk-nya di MHTV, Nunung Setyani dan Jeremi Teti masih stay tune di SCTV yang banyak tampil di belakang layar.

Tentunya banyak contoh generasi muda yang lebih baik dari mereka, tapi ini sekedar cerita…semoga yang baik bisa diambil dan menjadi pecut untuk mengencangkan langkah kita dalam memberikan sebanyak-banyaknya yang kita bisa. Seperti pernah dikatakan oleh Eyang J.F Kennedy “jangan pernah bertanya apa yang bisa bangsamu berikan, tapi bertanyalah apa yang bisa kalian berikan untuk bangsa”.

Majulah Indonesia, Tuntaskan Century dan kroni-kroninya, Jangan biarkan Brain Drain mengalir deras….hormati dan hargai mereka supaya betah tinggal negeri sendiri. Semoga menjadi INDONESIA YANG KUIMPIKAN, KALIAN IMPIKAN dan KITA-KITA IMPIKAN.

KEBANGKITAN NASIONAL

(20 Mei 1908-20 Mei 2010) — Seabad+2 = TUA BANGET ya.

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s