Morning With Three Cups Of Tea

Bismillahirrahmanirrahim,

(Terkesimak) menonton acara nikmatnya sedekah yang dibawakan oleh Ustadz Yusuf Mansur dan Syeikh Ali menanggapi pertanyaan dari seorang Bapak yang sangat ekspresif dan penuh keterbukaan, saking terbukanya sampai dia mengatakan “saya bosan menjadi orang yang tidak sabar”. Tak banyak orang yang bisa berkata demikian mengakui dirinya dan pagi ini saya mendapatkan itu….Alhamdulillah, selalu ada ilmu di setiap saat. Apa respon dari para da’i tersebut, yup..betul betul! tersenyum dan memberikan jawaban yang singkat dan applikatif. Supaya menjadi sabar baca “Laa Haula Waa Laa Quwwata Illa Billah” seperti yang dipesankan oleh Rosulullah. Semoga pembukaan tulisan ini menjadi bekal buat kita semua untuk menjadi orang sabar, tidak hanya dalam menghadapi ujian dan cobaan, tapi juga pada saat menghadapi suka cita…InsyaAllah.

**

Karena teh di dalam gelas masih panas, maka orang yang tak bisa diam seperti saya harus ada yang dikerjakan, tulisan ini pun merupakan bagian dari penantian teh itu dan sebagai pembuka inspirasi bagi kelanjutan tulisan saya atas permintaan sepupu saya dalam skripsinya.

Sepupu yang aneh memang, jelas-jelas basic saya bukan berasal dari keguruan dan ilmu sastra tapi setiap ada tugas kampusnya selalu melibatkan saya di dalamnya, mulai dari minta tolong membuat puisi sampai dengan ide membuat skripsi pun dilimpahkan ke saya. Tante saya saja sampai terheran-heran “dia kan bukan jurusan itu, kenapa ke dia”, lantas sang sepupu ajaib itu menjawab “dia bisa, tahu semua itu, tugas-tugasku aja pas dia lg di Jakarta banyak yang dikerjain”, saya pun menjawab “iya emang aneh tuh orang”. Jadi singkat ceritanya, saat ini kan lagi marak (padahal dari dulu sudah ada tapi gak terkuak aja) yang namanya makelar kasus, nah saya seakan-akan berada di posisi ini (becanda kali).

Ok sepupu yang ajaib, saya akan bantu skripsi jika dan hanya jika topik yang dibahas adalah mengenai Three Cups Of Tea, sebuah buku yang saya beli di setelah masa nganggur saya di daerah Jakarta Selatan sebelum menonton film Emak Ingin Naik Haji. Pada saat membaca buku ini makan terasa  tidak enak, tidur tidak nyenyak gara-gara penasaran cerita akhirnya seperti apa. Luaaarrrr biasa dahsyat buku ini, mampu menghipnotis pembacanya dan membuat semakin mensyukuri hidup….”ya apalah artinya semua ini jika dibandingkan dengan mereka yang di dalam buku itu”, dan serta merta sosok Greg Mortenson membius saya untuk semakin mengenalnya melalui setiap goresan dalam buku tersebut. Pejuang pendidikan yang humanis, rendah hati, optimis dan penuh tanggung jawab baik kepada keluarga maupun lingkungan dimana dia mengabdikan dirinya.

Setelah saya menuliskan judul yang akan diajukan dengan menceritakan dan menjelaskan terlebih dahulu kepada sepupu tersebut, ternyata sang dosen belum bisa menangkap inti dari  judul yang saya tulis tersebut (kalau tidak salah judulnya “Internalisasi nilai-nilai dalam buku three cups of tea dalam dunia pendidikan di Bangkalan”). Gara-gara saya menuliskan “internalisasi” itulah sepupu saya pun ditanya mengenai artinya dan dengan kecewanya sang pendidik itu tak menangkap artinya dan sampai mencari di kamus. Ia pun curhat ke saya dan mengatakan dosennya tak mengerti arti internalisasi, di kamus bahasa Indonesia tiada. “Ya mana adalah, itukan kan bahasa serapan yang diambil dari kata internal, jadi kalau ada kata isasi di belakangnya itu kan berarti proses, jadi internalisasi adalah proses memasukkan nilai-nilai yang ada untuk kemudian dijadikan sebagai bahan masukan”. Kemudian dosennya pun minta sinopsis ceritanya, sepupu saya pun rajin datang ke rumah seakan-akan saya dosen pembimbing, saya yang minta menuliskannya, saya enggan menuliskan, “berusaha dulu dunk!, kan udah saya ceritakan kisah buku itu, sekarang kamu tulis dalam bahasa kamu sendiri, laptopnya ambil di dalam kerjain di teras aja, aku mau nyapu sama nyuci piring dulu, ntar klo udah aku cek, gitu doang masak gak bisa…katanya Guru, gimana muridnya ntar”, dia pun sering berkata “udahlah Is, aku pasrah aja sama kamu”, “pasrah sama Allah bukan sama aku” tegas saya. Ketika dia mengambil laptop ke dalam dan bertukar pikiran dengan adiknya yang baru saja lulus SMU saya ingin tertawa rasanya, dalam hati pun berkata “biarin aja, biar gak suka mengentengkan sesuatu, klo gak gini kapan majunya, (tapi kok kasian juga ya..)”. Setelah selesai menyapu dan mencuci piring di dapur, saya cek hasil karyanya dan ternyata tak sampai satu halaman. Saya pun mengambil alih dan melanjutkannya. Spontan mereka mengatakan “wah..cepet amet, perasaan tadi kami ngerjain kok terasa lama ya,”, berikut sinopsisnya :

(bentar dengerin lagu the calling dulu “wherever you’ll go “yang  selalu menemani  sejak di Surabaya-Jakarta sampai kembali lagi ke Surabaya)

My Fave collection

Karya Greg Mortenson & David Oliver Relin, 2006, Terbitan Penguin Books, New York, USA, Tahun 2007, Diterbitkan oleh : HIKMAH (PT Mizan Publika)

Three cups of  tea merupakan kisah nyata menakjubkan dan inspiratif seorang petualang  dan pendaki dari sebuah negeri yang mendapat julukan sebagai negeri Paman Sam. Merupakan kisah sejati dengan saratnya nilai-nilai kemanusiaan di dalamnya yang mengharukan. Aktor utama dalam kisah tersebut telah mampu mendirikan sekolah dengan secara berproses, satu demi satu di sebuah “pekarangan belakang” Taliban. Tokoh sejati dan inspiratif tersebut adalah seorang laki-laki yang bernama Greg Mortensoon. Dalam satu kesempatan, sang laki-laki tersebut berkeinnginan untuk menaklukkan puncak gunung tertinggi di Himalaya. Namun semua tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, dia jatuh tergelincir karena ada segumpalan es yang mengenai dirinya yang mengakibatkan dia terperosok ke desa terpencil di Afrika yang belum pernah ia temukan sebelumnya di dalam peta. Di desa itu  ia bertemu dengan seorang tokoh desa yang bernama Haji Ali, di gubuk beliaulah dia dirawat dengan penuh perhatian dan diperlakukan seperti tamu istimewa.  Salah satu jamuan istimewa dan merupakan budaya unik dari masyarakat setempat adalah dengan menyuguhkan Mortenson dengan 3 cangkir teh. Makna denotasi dari 3 cangkir teh ini adalah berkaitan dengan nilai budaya dan aspek psikologis tradisi masyarakat, yaitu pada cangkir pertama ia masih dianggap orang asing, cangkir kedua ia dianggap sebagai teman dan pada cangkir ketiga dianggap sebagai keluarga yang siap untuk berbuat apapun bahkan untuk mati.

Sinopsis tersebut pun diterima untuk diajukan dalam skripsinya, sepupu senang…saya pun riang…tetangga pung girang (lebai deh), tapi ada tambahannya, menurut sang dosen buku ini harus dibandingkan dengan buku Laskar Pelangi. Makin-makinan aja, kenapa harus 2 buku, saya pikir satu buku sudah cukup jika pembahasannya komprehensif dan mengenai sasaran. Tapi ya sudahlah, toh yang namanya Dosen kan memang tak pernah salah, kecuali kalau dosennya saya maka bakal selalu salah.

Ckckckckckck, ini dia yang saya bingung sekarang, terngiang-nginag dengan 2 buku tersebut…”Dimanakah saya akan mempertemukannya”, latar belakang yang sok nyastra pun sudah saya buat separuh dan sisanya saya sedang cari inspirasi dulu (ada masukan mungkin ?). Si sepupu pun memberikan buku berkaitan dengan contoh-contoh skripsi di kampusnya, Heyyyyrann! ini sapa yang kuliah ya?. Dari fotokopian segepok tersebut ada beberapa tulisan yang membuat saya  mesem-mesem karena metafora tulisan yang dituangkan begitu bagusnya…..sayangnya saya hanya lulusan Sastra Komputer, dan perangkat-perangkat komputer itu tak pernah luluh dengan gaya tulisan yang indah dan mendayu-dayu tapi dengan script yang singkat, efektif, efisien serta kompatibel. Ada sebuah buku yang saya rasa agak-agak mirip dengan tulisan yang akan saya angkat nanti, yaitu resensi dan penelitian dari buku “Pertemuan Dua Hati” karya tante NH.Dini dan buku “Laskar Pelangi” karya Om Andre Hirata. Saya sudah membaca buku skripsi tersebut yang mengangkat tema mengenai Potret dan Perjuangan Kehidupan Tokoh Guru Dalam 2 novel Om dan Tante tersebut. Apa yang seharusnya saya lakukan? (jawablah sendiri!), padahal antara buku Om Greg dan Andrea sosok guru yang ditampilkan berbeda latar belakang, Greg adalah mantan pendaki gunung dan profesinya di bidang militer, sedangkan Bu Mus memang sudah memiliki basic di bidang pendidikan. Mau dibawa kemana 2 buku ini?.

Kok saya jadi tertarik dengan buku pertemuan 2 hati, adakah yang punya softcopy-nya? karena berdasarkan resensi yang saya baca bukunya tak sampai 100 halaman, jadi masih ok-ok kalau sambil dibaca di waktu-waktu senggang.

(hadirlah wahai inspirasi !!!)

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s