Binder Bikin Blinger

Dari sebuah diskusi naratif dengan anak-anak kecil di rumah banyak pertanyaan-pertanyaan dari mereka yang belum bisa saya jawab dengan bahasa anak-anak, apalagi pertanyaan yang berhubungan dengan agama “perasaan kok masih belum konek sama bahasa mereka, faktor usia kali ini”. Rasanya harus banyak membuka kamus anak-anak, kamus yang beberapa tahun belakangan saya tinggalkan karena alur hidup telah mengalirkan saya dalam lembah yang jauh-jauh dari dunia anak-anak. Oleh karena itu, harus membuka kembali kamus masa kecil yang selama ini pernah tersimpan dalam diri.

****

Namanya juga anak kecil, sisi dan fenomena hidup yang penuh dengan tangis dan tawa yang melintas dengan cepat dan senantiasa dalam ingatan yang tak ada basinya. Sekarang ini lagi musim binder-binderan, jadi adegan barter binder sudah merupakan hal yang biasa, tukar motif ini dengan yang itu dan yang itu dengan yang ini “hebadddd!!!…kecil-kecil sudah berjiwa entrepreneur, kalau banyak yang seperti ini perekonomian mikro dan makro negeri ini semakin terdongkrak sehingga kuatitas utang luar negeri bisa dieliminir sedini mungkin”.

Dari binder ini juga, ada sistem penitipan (baca : agen)  dimana agen tersebut yang akan menjualkan ke teman-temannya yang lain, hasilnya dibagi 2. Makin-makinan penasaran dibuatnya, keindahan masa kecil yang pernah saya tinggalkan dan harus saya lalui itu.

Nah, beberapa hari yang lalu saya mendapatkan titipan dari seorang anak uang sebesar 6000 ribu rupiah untuk membelikan binder dengan disertai contohnya seperti yang diberikan ke saya karena frekuensi saya ke kota lebih banyak jika dibandingkan mereka, “terserah mbak belinya kapan, yang penting klo pas ke Bangkalan tolong beliin, yang kayak ini ya Mbak” kata anak tersebut. Respon yang saya berikan hanya “iya”. Beberapa hari kemudian saya belikan binder itu dan ternyata harganya 5500, contoh yang saya bawa adalah binder berwarna biru dan bertuliskan Sagitarius. Persepsi saya bahwa bindernya yang mengandung zodiak dan berwana biru juga. Saya pun menanyakan pada pramuniaganya dimana tempat binder karena selama ini memang tak pernah melakukan adegan demikian “Hufffffftttt, susahnya bukan main untuk menjatuhkan pilihan pada binder yang mana, takutnya salah dan ntar gak mau anaknya, gak lucu aja klo saya yang make binder yang imut abis itu, lalu buat apa juga tuh binder buat saya”kata saya dalam pikiran. “Tapi ya sudahlah, jikapun tak berkenan saya bisa memberikannya sama yang lain, gitu aja repot, daripada lama-lama hanya milih binder gak penting juga kan, masih banyak agenda lain yang mesti dikerjain” pikir saya lagi, supaya tak mengecewakan mereka dan memenuhi janji juga sama mereka. Saya pun mengambil yang warna hijau yang ada biru-birunya sedikit, kalau tidak salah tulisan zodiaknya Cancer. Kemudian saya berikan binder itu, dan inilah responnya : “mbak, emang gak ada yang zodiaknya sagitarius ya?”, “ouw gitu maksudnya” kata saya. Saat itu sagitariusnya sedang sold out (baca : laris manis) sehingga saya jelaskan kepadanya bahwa yang ada hanya itu (padahal ada juga yang lain yang lebih bagus, tapi saya kan kurang begitu mengerti…maaf), “ya udah gpp” katanya. Dari binder titipan yang saya belikan tersebut dia memberikan satu atau dua lembar sebagai ucapan terimakasih. Sebagai bentuk penghargaan saya, saya menerimanya dengan senang hati dan sedikit bingung dengan menaruhnya di meja komputer “buat apaan ya?”.

Seceria keseharian kami (buat apaan ya?)

Lagi-lagi, hari ini saya mendapatkan donasi beberapa lembar binder dari 3 anak yang berbeda gara-gara saya mengomentari isi binder dari salah seorang anak yang begitu cerah ceria dan colorful “wah bagus tuh, lembaran biodatanya, keren”. Lembaran biodata merupakan bagian binder yang paling diincar karena di situ mereka bisa mengisi informasi seputar pribadi mereka. Karena ekspresi ketertarikan saya tersebut sehingga ada satu anak yang memberikan 2 lembar binder untuk saya “ini buat mbak” , kemudian diikuti 2 anak lain dengan memberikan beberapa lembar. Setelah memberikan lembaran tersebut, saya diminta untuk mengisi biodata yang ada dalam binder mereka, mulai dari nama lengkap, zodiak, sekolah, tempat tanggal lahir dan lain-lain (standar lah ya, sama kayak masa kecil kita dulu, kalau dulu mungkin buku diary). Sambil menulis biodata tersebut, hadirlah dialog, ekspresi serta pernyataan dari mereka. Mereka mengambil binder-binder yang saya pegang supaya saya gampang menulis dan kemudian mengatakan sambil menghitung bindernya “ini binder buat mbak IIS, suami mbak, anaknya lagi, anaknya lagi, anaknya lagi terus anaknya lagi” kemudian dipisahkan lagi dalam hitungan yang lain “ini buat mbak, suaminya, ibunya mbak, ibunya suaminya”. Saat menghitung seperti itu kemudian ada yang nyeletuk ” loh buat Bapaknya mana?”, “kan Bapaknya Mbak IIS udah meniggal, jadi gak dapet” ujarnya, yang lain lagi mengatakan “Hushhh, jangan ngomong gitu”, lantas yang mengatakan meninggal tersebut langsung minta maaf sama saya “maaf ya mbak”. Saya tersenyum saja lalu mengatakan “ya gak apa-apa kan emang sudah meninggal”. Kemudian dialog masih berlanjut “huuuu, anaknya banyak banget, jangan banyak-banyak mbak…satu aja”kata Ovi, terus Olga dengan pendapatnya yang kontra “gpp banyak biar langsing, kan klo banyak jadinya repot” (membuat saya makin  :)🙂 :)) ), namanya aja anak kecil.  Terus Olga juga mengatakan “yang buat suaminya jangan binder yang ada gambar cewek cantiknya nanti cemburu” (whahahhahaha, makin ada-ada aja, lah itu gambarnya cewek semua Olga!!!…16 Mei Olga Ulang Taun…Selamat ya semoga cepet naek kelas & tabungannya yang 16 ribu bisa jadi banyak biar bisa cepet2 ke Bali kita).

Masih saja berlanjut “klo udah menikah berarti gak ngajar anak-anak lagi dong?” kata Dani. Lalu Ovi menjawab “iya kan ngurusin suaminya”, saya langsung klarifikasi “ya masih ngajarin dong, emang seharian ngurusin suaminya”, terus Dani bilang “ouw ya ya, emang suaminya itu anak kecil apa yang diurusin tiap hari”. Makin nyengir dan tertawa saya dibuatnya, ada-ada saja anak-anak ini, kadang pernyataan ada benernya juga, kadang juga asal bunyi dan asal keluar.

Biography sheet, MOST WANTED! (herrrran...sampe berlembar2)

Binder aja bisa jadi omongan dan persembahan yang demikian berati bagi mereka. Semoga lembaran binder itu sampai pada alamat yang tepat. Jadi lebih baik membicarakan hal yang mereka gemari untuk kemudian diselipkan hal-hal edukatif dan inspiratif namun dalam kemasan santai dan tetap kena di hati mereka.

***

Sebelum binder ada transaksi sendok ice cream yang kemudian dijual lalu dijadikan permainan tiup-tiupan seperti Upin-Ipin, setelah ini ada apalagi ya? (jadi penasaran, don’t go anywhere mari kita tunggu kreativitas dan aktualisasi diri mereka, same channel..same station!)

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

2 Responses to Binder Bikin Blinger

  1. annisa zhaffira azzahra says:

    Bagus betul miss apa aja?

  2. Is says:

    Terimakasih Annisa🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s