Kesan Pertama di Bumi LOMBOK

Alhamdulillah,

Allah telah mengijinkan saya untuk menapakkan kaki di bumi Mataram, jika tanpa seijinNya mustahil semua ini akan terjadi. Terimakasih Rabb atas Rahman dan Rahim-Mu, semoga dari perjalanan ini hamba menjadi insan yang lebih banyak bersyukur dan mengurangi kesombongan hamba, yang jika hamba bandingkan dengan anugerah-Mu di muka bumi ini maka apalah hamba ini.

KEBERANGKATAN:

Berangkat dari bandara Juanda, Surabaya dengan waktu tempuh hanya 45 menit menuju bandara di Lombok. Sebelum hari H, sempat mengajak beberapa teman untuk bersama-sama liburan ke sana, namun mereka sedang tidak bisa dengan alasan kesibukan masing-masing tentunya. Akhirnya mengajak salah satu ibu seorang murid dan Alhamdulillah setalah diiyakan oleh suaminya akhirnya mereka berdua pun nimbrung juga dalam wisata ini. Keberangkatan dari rumah menuju bandara sempat di-complain oleh Ibu tercinta, “emang gak ada baju yang bagusan lagi apa, masak pergi pake baju gitu” kata beliau, “ya elah, jalan2 doang, santai aja, toh di sana juga pake baju santai, jadi sekalian aja lah, ngapain juga resmi2..pantai ini” sahut saya. Ditambah lagi, sempat mau dikasi uang saku, saya pun langsung menjawab “apaan lagi pake uang saku segala kayak anak kecil aja deh”, emak pun menyatakan “itu uangmu yang kmaren yang mo dipinjem gara-gara kunci kamar gak ktemu tapi gak jadi karena tukangnya gak jadi kerja”, saya : “udahlah pake aja, aku masih ada uang”, karena memaksa masuk juga uang itu ke saku celana.

TIBA DI MATARAM :

Alhamdulillah, perjalanan diberikan kelancaran karena tidak mengalami goyangan sedikit pun di dalam pesawat, setelah beberapa menit mengobrol bersama teman di samping saya, saya pun “berlabuh ke pulau kapuk pesawat” karena malamnya saya tidur sekitar jam 2-an pagi untuk googling mencari informasi seputar Lombok yang hasilnya kemudian saya print dan dijadikan guide dalam perjalanan saya. Sesampainya di Bandara SELAPARANG (cara membaca SELA, sama halnya seperti membaca SELAMAT, ini berdasarkan yang saya dengar dari seorang supir taksi yang merupakan orang asli Mataram, ouw ternyata bukan dibaca e seperti membaca SEHAT, matur suwun Pak atas ilmunya). Dengan berbekal peta konsep yang sudah saya dapatkan di Internet, saya pun mengobrol seputar Mataram dan Lombok dengan menggunakan beberapa key word yang sudah saya print tersebut dan  jawabannya pun klop, ini berarti pencarian tidak meleset dan sesuai dengan fakta yang ada.

DI SENGGIGI BEACH :

Senggigi Beach Sore

Dengan menginap di salah satu penginapan di sekitar pantai Senggigi, kami pun bisa menikmati aroma kealamian laut yang sangat jarang kami temui di kampung halaman kami. Panorama yang indah dengan makanan yang banyak didominasi oleh makanan barat yang kadang tak seiring dengan perut orang Indonesia, tapi syukurlah perut dan lidah saya cukup kompatibel untuk menikmati makanan jenis apapun, asalkan makanan/minuman yang halal. Ingin sekali menikmati suasana sunset di pinggiran Senggigi, namun sayang sang mentarinya malu-malu karena hari itu Mataram diguyur hujan deras sehingga terjebaklah saya di dalam kamar dan menikmati pulau kapuk nan empuk ditemani TV dan temaram lampu kamar,jadilah saya tidur pulas, sementara teman saya di sebelah tidak bisa tidur dikarenakan tidak terbiasa bepergian jauh dan menginap.

Sebenarnya Senggigi enak untuk santai dan menyegarkan pikiran, namun sayang sungguh sayang hanya semalam saja bisa menikmati suasana di sini karena keesokannya harus pindah ke tempat penginapan yang lain. Mau tidak mau harus menggunakan kesempatan ini untuk bertamasya di sekitar objek wisata yang berdekatan dengan Senggigi.

RUTE :PANTAI SENGGIGI-PELABUHAN BANGSAL-3 GILI

Setelah keluar dari Senggigi, sebelum memasuki penginapan yang baru di tengah kota Mataram maka diputuskan untuk menghabiskan waktu dengan mengelilingi di sekitaran Senggigi, dipilihlah  Gili yang menjadi trend setter-nya Lombok tersebut, dengan menaiki taksi dan menempuh jarak tak sampai setengah jam dari lokasi penginapan di Senggigi, kami pun menuju pelabuhan bangsal yang merupakan tempat turun-naiknya penumpang dari dan ke pulau Gili. Ada 2 jenis perahu di siana: public dan private, jelas yang private lebih mahal, kembali lagi  ke orangnya masing-masing mengenai keputusan untuk memilih tipe yang mana, tergantung kocek dan waktu tentunya. Jika ingin menyusuri semua gili dengan waktu yang terbatas maka pilihlah private boat, namun jika hanya satu gili maka public adalah pilihannya. Biaya untuk public boat menuju ke 3 gili tersebut tidak jauh berbeda. Gili trawangan merupakan gili yang paling jauh sehingga ongkosnya pun lebih mahal yaitu 10.000, sedangkan gili meno seharga 9 ribu dan gili air hanya 8 ribu rupiah saja (semuanya untuk sekali berangkat). Sedangkan untuk private boat biayanya sekitar 480 ribu dan itu bisa menyusuri semua Gili plus paket ditunggu dan siap mendayung kapan saja, tak perlu menunggu kapal sampai penuh seperti halnya pada public boat.

Perjalanan dari Senggigi menuju Pelabuhan Bangsal agak berkelok-kelok dan bagi yang mabuk darat disarankan untuk makan terlebih dahulu dan minum obat anti mabok karena membuat perut mules-mules. Mengatakan demikian karena teman saya mengalami hal seperti ini selama dalam perjalanan. Namun bagi saya, cukup menikmati kelokan-kelokan ini karena pemandangan yang biru nan segar selama dalam perjalanan semakin membuat saya betah di dalam kendaraan, sedangkan teman saya bertanya terus “masih jauh kah?”.

SAMPAI Di GILI :

Menurut seorang narasumber atas pertanyaan saya kepadanya, gili merupakan pulau di tengah laut, setahu saya menurut Internet (berarti saya sok tau ya): dari pelabuhan Bangsal ada 3 gili yang akan kita temui, yaitu Gili Trawangan yang merupakan Gili yang terjauh, gili Meno yang merupakan pertengahan dan Gili Air yang terdekat dengan pelabuhan bangsal. Walaupun terjauh, gili Terawangan merupakan gili yang paling ramai pengunjungnya, di sana bisa snorkeling dan diving, tapi saya belum mencobanya, karena untuk yang beginian saya tidak berani, lebih baik saya naik gunung saja (yang penting jangan suruh nyemplung dan menenggelamkan diri ke dalam air, itu paling tidak bisa). Gili Meno dan Air agak sepi, pengunjungnya masih bisa dihitung dengan jari.

Saat berada di gili Terawangan di siang hari nan panas, rasanya saya sedang tidak berada di Indonesia, suasananya agak-agak mirip di Patthaya, Thailand. Di sepanjang pantai berjejer resort dan cafe-cafe yang dikunjungi oleh manusia dari ragam bangsa dan budaya. Julukan Lombok sebagai pulau seribu masjid benar-benar terbukti karena dimanapun berada dijumpai Masjid. Di gili Terawangan pun masjid juga ada sehingga  tak ada alasan untuk meninggalkan shalat, kecuali yang yang memang disyaratkan. Saat hari Jum’at berada di Gili Terawangan terdengar sayup-sayup qiraah untuk menyambut Jum’atan dan ternyata itu tak jauh di tempat saya nongkrong di pinggir pantai, karena sedang mencari toilet saya pun melangkahkan kaki kamar mandi dekat masjid tersebut. Ada seorang penjual wanita di depan masjid tersebut dan saat itu masjidnya sedang dalam tahap renovasi namun kumandangnya terus berusaha merenovasi tauhid saudara muslim semua untuk memakmurkannya di tengah heterogenitas yang kompleks tersebut.

RUTE : MATARAM KOTA

Setelah hampir seharian berada di pulau gili, sorenya dengan diiringi rintikan hujan menuju ke kota Mataram, zona yang beberapa hari ini jauh dari pembicaraan. Di sini menginap di salah satu hotel yang lokasinya tak begitu jauh dari Mataram Mall dan juga bandara Selaparang. Menuju mall-nya saja tinggal jalan kaki, sedangkan menuju bandara hanya 10 menitan. Karena hampir semalaman diguyur hujan yang sangat deras sehingga asa untuk berwisata di sekitar area hotel dengan berjalan kaki pun diurungkan, aktifvitas mencuci pun menjadi pilihan karena beberapa baju ada yang sudah tidak layak pakai karena faktor kotor dan basah terkena air laut selama berada di pantai.

Keeseokannya, kami pun melanjutkan agenda perjalanan kami menuju beberapa tempat seperti pasar Cakra, disayang-sayang untuk membeli oleh-oleh, desa Sukarare yang merupakan tempat menenun. Tadinya dari tempat menenun ingin sekali ke desa Sasak sekalian ke pantai Kuta namun diurungkan karena dari kemarin sudah melihat pantai. Mungkin ini akan menjadi agenda utama ketika nanti bisa kembali lagi ke sana : DESA SASAK-KUTA, GUNUNG RINJANI (just wait yah…inshaAllah).

Ini dia yang menarik, pada saat berada di desa Sukarare saya diajari oleh seorang penenun untuk menenun. Dengan badan “dipasung”, saya mendadak jadi penenun, ternyata sulit juga ya? butuh konsentrasi yang dalam, Allah memang maha Adil…coba saya jadi penenun mungkin motif yang bisa saya kerjakan hanya  satu baris saja dalam sehari. Terimakasih ya Mbak mau mengajarkan saya untuk menenun.

Ada tenun, ada juga lukisan, ada lagi mutiara & banyak lagi yang lain

Selain belajar menenun, di sini juga tersedia show room aneka tenunan dan kerajinan tangan untuk bisa dibawa pulang a.k.a dibeli untuk oleh-oleh bagi sanak saudara, kerabat dan sahabat.

Kalau di Senggigi ada pasar seni yang merupakan tempat untuk membeli oleh-oleh mulai dari baju-baju sampai dengan souvenir dan aksesoris, maka di kota Mataram ada pasar Cakra dan disayang-sayang, lebih baik pilih pasar Cakrra saja karena merupakan toko grosir, sayang saya hanya lewat saja karena oleh-oleh sudah dibeli pada saat di pasar seni dan disayang-sayang.

KEMBALI KE SURABAYA :

Belum sempat mencicipi ayam taliwang ala Lombok, tak terasa sudah harus kembali ke kampung halaman tercinta. Tak apalah, toh sudah pernah menyipinya pada saat berada di Bali beberapa dekade yang lalu. Yang penting kangkung plecingnya sudah disantap bersama tahu goreng hangat…menu yang cocok saat hujan tiba. Alhamdulillah tiba dengan selamat di kampung tercinta dengan membawa segenggam cerita dan sedikit oleh-oleh karena memang tujuannya bukan untuk berbelanja tapi sekedar tahu dan mengendorkan urat-urat pikiran.

***

Terimakasih Yaa Rabb, mator sakalangkong ka kanca-kanca kabbi, terimakasih Lombok, Arigato Gozaimaisu minna san untuk semuanya sehingga perjalanan ini lancar dan penuh hikmah.

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

4 Responses to Kesan Pertama di Bumi LOMBOK

  1. Hidayat says:

    Emang Lombok pulau yang indah dan menawan, kabari saya kalau pengen kemari lagi Bu, mungkin ada yang bisa saya bantu

  2. Stella Jeanette says:

    hallo mba, senang sekali bisa baca info ttg Gili dari Mba. Oh iya, Aku sekarang lagi kuliah di Bali, sekarang lagi libur sih. Pengen banget liburan. Nah, rencananya tanggal 28Januari mau ke Gili, aku dah cek tiket pesawat. tp, blum pasti, coz aku blum tw how to get to Bandara Mataram ke Pelabuhan Bangsal. Apa saya musti pesan taxi sebelumnya, atau ada angkot langsung ke Pelabuhan Bangsal??, trus satu Lagi mba, this is going to be my first trip yang aku lakuin sendiri, takutnya sih kena tipu beberapa org yang mungkin nyari keuntungan, kira2 gimana tips’nya ya supaya gak gampang kena tipu. Mohon banget diinfo ya Mba…Makasih🙂

  3. Stella Jeanette says:

    oh iya Mba, ada yang kelupaan. Kalo bisa mba langsug info ke Email aku aja ya. Thanks😀

  4. Is says:

    Hai Ella,

    Pertanyaannya udah aku kirim ya ke emailmu, thx for visiting and happy enjoy for your 1st alone trip.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s