Bertengkar = Protest of Learning

Tak gampang memang berhadapan dengan dunianya anak kecil, tak hanya kesabaran yang diperlukan tapi seni mendengarkan dan mendidik pun diperlukan di sini. Sabar bukan berarti tak pernah marah, tapi bukan berarti selalu marah akan meredam kenakalan para anak kecil. Mendengarkan bukan berarti selalu pasif dan diam, tapi bagaimana merespon secara cepat dan tanggap atas setiap pertanyaan dan pernyataan yang diuraikan. Mendidik tak selalu menyuguhkan hal-hal naratif yang bersifat nasihat, tapi bagaimana membekali sesuatu yang dapat dibawa sampai tua kelak dan memberikan sedikit perubahan dan semangat tidak hanya bagi si anak itu, tapi juga sekitarnya.

Tadi malam, sambil berselancar ria di Internet ditemani tontonan TV, secara tidak sengaja hadir Upin dan Ipin yang sedang berbincang dengan santai dan begitu mendidik celotehannya. Tayangan yang menjadi trend setter-nya anak-anak ini selalu membuat saya tersenyum tipis saat menonton, bagaimana tidak, selain kelucuan dan keluguan dialognya, dialeknya pun tak biasa terdengar di telinga, sapaan “cik Gu” kerap kali mereka masukkan dalam adegannya. Dan sapaan ini yang sering saya dengar ketika saya melintasi rumah salah seorang sepupu saya yang juga diamini oleh yang lain “hello cik Gu, mau kemana?” (hahahahahaha, ada2 saja memang). Pernyataan “betu..betul..betul” pun sering diekspresikan oleh Upin-Ipin dan ini banyak dikopi oleh para murid saya setiap membahas soal pilihan ganda dan jawaban yang mereka pilih adalah benar maka secara otomatis pun mereka akan menyatakan “betul, betul, betul”.

Selesai program Upin-Ipin di stasiun televisi pendidikan Indonesia, kemudian dilanjutkan ke TVOne yang juga menayangkan acara bertemakan anak-anak, kali ini acaranya berkaitan dengan obsesi anak-anak kampung yang ingin membuat  film, jadilah mereka berakting seolah-olah produser, sutradara, cameraman(wati) dan peran-peran pemdukung yang lain. Lagi lagi membuat hati serasa tersiram air dingin dan semangat semakin membara bagaikan api, senang rasanya melihat mereka yang bisa mengaktualisasikan dirinya dengan cara mereka. Selesai menonton ini kemudian dilanjutkan ke MHTV, ada acara motivatalk di situ yang dibawakan oleh Bayu Sutiyono dengan narasumber adalah Pak Edy, topik pembahasannya adalah Pertengkaran Kakak-Adik, dalam hal ini dibahas mengenai masalah utama terjadinya pertengkaran tersebut dan bagaimana menyikapinya. Ketiga acara yang secara tidak sengaja saya tonton menitik beratkan pada aktualisasi diri anak-anak kecil. Yang cukup menarik adalah tayangan yang ketiga karena  setiap harinya saya sering berhadapan dengan hal ini, walaupun beberapa dari mereka bukan saudara kandung, tapi ada beberapa yang saudara kandung bahkan ada juga yang om dan keponakan. Menurut Bapak Edy, frekuensi bertengkar sering terjadi pada kakak-adik yang rentan usianya 1 s.d 2 tahun. Misalnya kakaknya kelas 3, adiknya kelas 1, itu paling sering berantem. Waktu masih kecil dulu, saya juga sering begitu dengan kakak saya yang nomer 3, usia kita tak beda jauh (selisihnya tak sampai 3 tahun), berbeda dengan kakak saya yang nomer 1 dan 2 yang usianya berbeda antara 5 sampai degan 7 tahun.  Menurut pak Edy, jika anak sudah sering berantem sejak kecil maka akan terbawa sampai tua. Makanya usahakan anak-anak untuk meminta maaf dan menanyakan kenapa bisa sampai berantem supaya tak berlarut-larut. Dalam hal ini, orang tua bertindak seperti halnya polisi, mengklarifikasi dari 2 pihak yang sedang berselisih, jika sudah klop informasinya maka ambil tindakan yang bijak. Selain itu, sang narasumber juga memaparkan bahwa dengan membelikan mainan yang baru secara bersamaan bukanlah hal untuk mengurangi pertengkaran. Dengan membelikan mainan secara bergantian maka akan meningkatkan rasa bertanggung jawab seorang anak terhadap mainannya, sedangkan pihak yang belum dibelikan akan meminjam denga terlebih dahulu meminta ijin kepada pemiliknya. Dengan demikian memupuk rasa berbagi dan membatasi hak anak  sehingga mengurangi rasa egoisnya.

“Bertengkar merupakan protest of learning” ujar beliau, jadi sah-sah saja kalau ada anak yang berantem karena mereka ingin melakukan protes terhadap apa yang dia inginkan. Namun bagaimana setelah berantem, mereka bisa saling memaafkan, berpelukan dan bermain lagi itu yang harus terus dibina dan dididik sedari kecil supaya ketika sudah dewasa menjadi orang yang mau memafkan kesalahan orang lain dan menerimaka kritikan serta masukan dari orang lain, bukan orang egois yang semaunya sendiri dan sok-sok berprinsip, padahal dia sendiri rapuh dengan prinsipnya tersebut, MUNGKIN hal ini disebabkan dia terlalu memperlebar area egonya dan mempersempit empati dan simpati area sosialnya, jadilah seperti itu sering omongan dan perilaku tak terkendali dan tidak pada tempatnya. Ada beberapa kasus khusus MUNGKIN  berbeda, didikan sedari kecil sudah bagus tapi tidak didukung oleh lingkungan yang kondusif semasa kedewasaannya terbentuk maka akan mengelimanasi nilai-nilai positif yang sudah didapat.

Jadi sebenarnya kalau ada anak yang tidak baik atau baik menurut kaca mata manusia maka siapakah yang patut disalahkan atau diacungkan jempol? Orang tua tak selalu menjadi jawaban yang pasti, karena ada beberapa lingkungan yang jauh dari pengawasan orang tua, jadi cobalah para manusia yang dengan mudahnya melihat aib orang lain dan sulit mengakui aib sendiri untuk lebih BIJAK melihat itu semua. Orang tua mana yang tak menginginkan anaknya menjadi baik, anak seorang penjahat pun menginginkan anaknya dan dia sekalipun untuk masuk surga…apalagi yang bukan, benarkah? silahkan tanya sendiri!.

Jadi, jika melihat anak-anak berantem, coba lerai mereka dan tanyakan kenapa bisa seperti itu, jangan dimarahi dulu terus diinterogasi karena dengan seperti itu pemikiran anak-anak tentang orang tua khususnya emak-emak (ibu-ibu) adalah suka marah. Hal ini saya dapatkan ketika saya melihat ada seorang murid perempuan yang marah-marah karena hal yang kecil, kemudia seorang murid laki-laki dengan diikuti oleh kaumnya yang lain menyatakan “ini kayak ibu-ibu, kerjaannya marah mulu”, mendengar mereka mengatakan demikian saya hanya tersenyum dan tertawa saja, untung saja saya belum ibu-ibu (hahahhahahahahaha), jadi nanti kalau sudah jadi ibu-ibu dan mau marah terus-terusan gunakan saja tape recorder atau dvd yang tak menampilkan tokoh ibu-ibu supaya sosok ibu-ibu sebagai pemarah tak terbayang lagi dalam benak mereka.

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s