Panggilan Pendidikan; Berawal Dari Sekedar Iseng

Tolong perhatikan bahwa penulisan “iseng” di sini diartikan dengan “MENGISI WAKTU”. Karena iseng bagi iseng saya memiliki multi-tafsir; jika hal ini dikaitkan dengan keponakan saya maka berarti “menggoda/menganggu dikit”, jika dikaitkan dengan tidur maka “cooling down, refreshing atau menghindarkan diri dari sesuatu hal yang menurut saya tak penting”, dan masih banyak tafsiran iseng-iseng yang lain yang akan banyak thread-nya jika saya harus tuliskan semua dalam blog ini.

***

Bulan Desember pertengahan di tahun 2009 saya melabuhkan kembali ke Madura setelah sebelumnya sempat berlayar ke kota batavia untuk mencari rempah-rempah. Memang hijrah itu banyak memberikan ekses yang positif bagi perkembangan karakter dan pemikiran saya. Andai saya hanya berada dalam bahtera yang sama selama bertahun-tahun, mungkin saya tak akan seperti ini. Perpindahan kapal dan pelabuhan menambah macam-macam riak kehidupan dalam diri saya, semakin banyak bersyukur bahwa Allah telah memberikan ijin-Nya untuk saya melabuhkan kapal-kapal saya ke tempat itu.

Momen islami di bulan Desember itu adalah Tahun Baru Islam (1 Muharram 1431 H), terpikir sejenak dalam diri; “perubahan dan kaleidoskop apa yang akan dirancang menyambut dan menjalani tahun yang baru itu?”, saat itu status saya pengangguran karena dengan keputusan saya sendiri dan tanpa paksaan dari pihak manapun serta secara sadar saya mengundurkan diri untuk tidak memperpanjang kontrak saya di perusahaan tempat saya bekerja. Lantas hal apa yang bisa saya lakukan dengan kondisi saya yang seperti itu?.

Ada beberapa anak kecil yang berkunjung ke rumah yang berteman dengan Ibu untuk mencarikan uban-uban beliau, kalau tidak salah ada Olga, Nining, Fidi dan 2 anak bawang (Gita, Ayu). Selanjutnya yang sering mencari adalah 3 anak yang bukan bawang. Karena masih awal-awal menjelajahi kembali rumah tercinta sehingga konsentrasi banyak tercurah pada kegiatan beres-beres dan rapi-rapi barang bawaan yang telah dibawa dari Jakarta. Seperti Ibu-ibu pada umumnya yang menjadi subjek pembicaraan adalah anak-anaknya, maka begitu juga dengan Ibu saya. Entah apa yang sudah diceritakan oleh Ibu saya ke anak-anak kecil itu sehingga tercetuslah pernyataan dari mereka untuk belajar bersama (baca : les, red); “Ckckckckck,langkah awal di bulan yang penuh barokah, semoga bermanfaat”. Saya rada lupa, kapan persisnya di mulai les itu, yang jelas awal-awal bulan Muharram sudah berjalan. Awalnya muridnya hanya 5 orang : Olga, Nining dan Fidi kelas 3 SD, sedangkan Ayu dan Gita masih TK. Pertemuan perdana masih canggung mengenai apa yang akan saya ajarkan, namun karena mereka membawa buku-buku pelajarannya maka dikerjakanlah soal-soal dalam buku itu kemudian dibahas bersama dan saya nilai (inilah salah satu cara memotivasi anak kecil dengan memberikan nilai atas apa yang sudah dikerjakannya), sedangkan untuk TK saya benar-benar bingung saya harus mulai dari mana dan kakak-kakak mereka yang SD lah yang memberikan masukan ke saya untuk mengajarkan menulis huruf dan mewarnai, mereka juga memberikan contoh bagaimana menuliskan hurufnya dan apa nantinya yang dilakukan oleh murid-murid TK itu; “terimakasih ya guru kecilku sudah bersedia mengajarkan aku”. Kalau saya salah atau “ketinggian bahasanya” mereka tidak segan-segan mengkritik saya dengan mengatakan “bukan gitu caranya kata Ibu Guru” dan saya respon dengan :”ouw gitu ya…jadi gmn dunk?, makanya kasi tau”. Setelah saya tahu dari mereka, saya coba pelajari dan mengkombinasikan dengan gaya yang saya miliki.

Ada pernyataan dari mereka “bayarnya berapa Mbak IIS?”. Sebelum saya menjawab, saya melihat kondisi dari mereka terlebih dahulu : hanya Bapaknya yang bekerja dan ada abangnya yang baru saja kuliah, ada juga hanya ibunya saja yang bekerja sebagai guru dan Bapaknya sedang sakit beberapa tahun belakangan, seorang penjual rujak yang hanya cukup dimakan sehari dan modal berjualannya pun kadang masih meminjam tetangga dan kalau rujaknya sudah habis baru melunasi modal tadi, dan yang paling esensial lagi adalah mereka TETANGGA atau masih ada yang memiliki hubungan KERABAT dengan saya, dengan tegas saya katakan pada mereka : “gak usah bayar, gratis”, mereka dengan senang menyambut pernyataan saya : “ye ye ye ye….”. Jika sedekah berupa uang/harta belum bisa saya wujudkan, semoga sedekah ilmu ini menjadi bagian pembuka dari pintu-pintu rizki yang lain. Toh, yang namanya rizki itu tidak selalu melulu uang bukan?, meski tak bisa saya nafikkan bahwa saya juga sangat butuh uang. Jadi teringat kata-kata Bapak saya bahwa “rezeki itu sudah ada takarannya, ada yang satu cangkir, ada juga yang satu gelas, makanya beristiqomahlah untuk berdhuha karena di dalamnya mengandung do’a untuk kemudahan rizki”.

Seiring dengan berjalannya waktu, 5 orang pioner ini membawa dan mengajak teman-teman yang lain, hampir setiap minggu dan setiap bulan bertambah jumlah murid-murid saya, sehingga atas dasar inisiatif mereka sendiri terbentuklah pengurus kelas yang di dalamnya ada Ketua Kelas, Wakil, Bendahara dan Sekretaris, dan pembagian piket untuk menyapu area belajar mereka di rumah saya, tak lupa juga pembuatan absensi. Saat mereka membuat ini semua saya hanya bisa tersenyum dan mendukungnya serta merasa dejavu mengingat masa-masa saya di Jakarta dulu “beda generasi saja”.

Ada lagi penambahan murid di luar lingkungan rumah saya. Penambahan jumlah murid ini juga atas unsur ketidaksengajaan saya sendiri dan merupakan skenario yang telah Allah berikan untuk saya. Di siang hari (sekitar jam 12-an) selesai sholat Dzuhur saya membeli rujak cincang asam yang berlokasi di sekitar jalan umum di luar area rumah. Terlihat 2 orang murid saya : Sari dan Ovi yang sedang membeli juga dan menunggu giliran. Saya menyapa mereka dan begitupun mereka seraya mengambil tangan saya dan menciumnya. Sang penjual mengatakan “sungkeman sama gurunya ya?”, selanjutnya mereka bertanya :”Mbak nanti malem les gak?”, saya menjawab : “ya les ntar malem, dari beberapa hari yang lalu aku di Surabaya ada keperluan dan baru nyampe hari ini ke Madura”, mereka merespon  :”pantesan dipanggil-panggil sama anak-anak gak ada yang jawab”. Dari pertanyaan sederhana itu tiba-tiba seorang pembeli yang lain yang berasal dari kampung dan desa yang lain bertanya ke saya : “ngelesin ya Dik?”, saya : “iya mbak malem-malem”, Mbak yang belum saya kenal :”dimana rumahnya?”, saya : “deket sini mbak, blakang Masjid”, kemudian sang penjual rujak yang juga masih sanak saudara serta kerabat dengan saya menjelaskan ke pembeli tersebut, super komplit penjelasannya, mbak yang baru kenal tersebut menyambung lagi :”saya mo ngelesin ponakan saya, udah kelas 2 tapi masih blm bisa (baca : lancar, red) membaca, ada juga anak saya tapi udah kelas 6, bayarnya berapa Dik?”(ini dia pertanyaan yang paling membingungkan buat saya, ini aja baru pertama kali dan iseng-iseng, eh malah ditanyain bayaran). Saya (clingak..clinguk) :”wah, ntar aja deh Mbak aku kabari lagi”, Mbak yang baru saya kenal :”no hp-mu berapa?”, kami pun bertukar nomer telepon seluler dan dari situ baru saya tahu namanya; “Mbak  Yatik” orang Jambu. Desa Jambu merupakan salah satu desa di sebelah selatan Burneh  dimana Bapak dan Om saya pernah mengajar dulu.

Karena lokasi rumahnya yang agak jauh dan lumayan rawan sehingga ponakannya dilesin sore hari. Awal-awalnya dia sendiri yang mengantarkan ponakannya; ada 2 orang dan berbeda kelas, mereka itu adalah Matus (kelas 2 SD) dan Silvi (kelas 3 SD). Sambil mengantarkan ponakannya, dia juga konsultasi masalah pendidikan ke saya, dari curhatannya tersebut banyak hal baru yang saya dapatkan dari beliau dan saya pun  berharap semoga jawaban  dan solusi yang saya berikan bisa memuaskan. Selang beberapa minggu, bukan hanya ponakannya yang dibawa tapi anak sulungnya (namanya Didik) dan sepupunya  (namanya Sahid) dibawa juga ke rumah.

Kelas Sore dan Malam

Jadi kondisi sekarang adalah :ada 2 pembagian kelas, yaitu sore dan malam hari. Kalau yang kelas sore untuk murid-murid yang lokasinya rumahnya jauh dari saya. Di kelas sore ini ada murid yang tersenior karena tingkat sekolahnya paling tinggi diantara yang lain (SMP kelas 3). Ada cerita menarik dari dia bahwa untuk bayar les ini dia mendapatkan upah dari seseorang dengan menyapu halaman depan rumahnya, makanya sayang sekali kalau sampai dia tidak masuk. Saat itu saya katakan ke dia : “gak usah dipaksain klo gak punya, gak bayar juga gpp, yang penting kamu mau belajar, klo kamu lg males atau capek gak usah les dulu juga gpp, belajar jgn jadi beban tapi dinikmati aja”, dia :”gpp mbak, klo gak masuk ntar dimarahi sama Ibu”, saya :”gpp, ntar saya bilang ke Ibumu”. Benar-benar salut sama dia, Bapaknya yang pekerjaannya sebagai seorang supir angkutan umum rute Burneh-Bangkalan (mungkin ke Kamal juga) tapi semangat Ibunya untuk memperbaiki kualitas akademis anaknya sangat patut diacungi jempol. Bukan hanya anak sulungnya saja yang dia kirim ke rumah, anaknya yang kedua yang masih SD kelas 2 pun dia daulat juga ke rumah. Testimoni tentang saya dari sahabat yang rumahnya dikontrakkan oleh Ibu ini membuat Ibu ini mempercayakan anaknya ke saya. “Terimakasih atas kepercayaannya kepada kami, terimakasih sahabat atas terstimoni itu”. Melihat Didik dan Sahid juga membuat saya semakin termotivasi; sekitar jam 3 lewat mereka sudah sampai di rumah dengan mengendarai sepeda roda 2 dan boncengan, dengan sabar mereka duduk dan menunggu saya, baru  sekitar jam 1/2 4 sore saya masih baru bangun dan kemudian sholat Ashar dulu. Bangun-bangun saya usahakan tebar sapa dulu ke mereka dengan mengatakan “buka dulu bukunya, terus kerjakan yang bisa, klo gak bisa dilewati aja, saya sholat dulu ya, tunggu bentar”. Sementara Matus dan Silvi karena keduanya cewek maka orang tuanya tidak mengijinkan naik sepeda dan mereka diantar jemput setiap hari dan sering juga pengantar-penjemputnya menunggu sampai selesai.

Berbeda dengan anak kelas malam, yang sebagian besar adalah tetangga sekitar; kalau kelas sore tak perlu banyak acara “pidato” dulu, sementara kelas malam masih ada acara pidato dulu untuk menenangkan mereka karena kondisinya yang sangat gaduh. Ada yang menangis, tertawa, kejar-kejaran, pukul-pukulan, mengadu, glendotan dan aneka tingkah polah anak kecil. Kalau kelas sore, selesai belajar menulis-nulis atau bercerita dulu kemudian pulang, sementara kelas malam selesai belajar atau saat belajar sudah panik mau main petak umpet. Asalkan sudah selesai belajar dan mengerjakan pekerjaan rumahnya saya akan ijinkan mereka untuk bermain, bagi yang belum maka dikerjakan dulu, bagi yang ke rumah hanya sekedar ingin bermain ya terserah  “silahkan, yang penting sudah dikasi tahu dan diingatkan”. Bagi yang menangis saat bermain resikonya tanggung sendiri, kalau cengeng lebih baik tidak usah main dan kalau sudah menangis tidak perlu terlalu lama-lama (ini mengajarkan mereka untuk tidak manja dan gak selamanya yang namanya nangis harus dirayu-rayu buat diam, biasanya saya tanyakan “kenapa?, siapa yang bikin nangis?” setelah itu tanpa banyak merayu dan memojokkan anak yang telah membuatnya menangis saya hanya mengatakan “udah gak usah nangis, belajar atau main lagi aja”.

Kesalutan saya terhadap anak-anak kelas malam ini :

  • Semangat belajar (tambahkan juga bermain) yang tinggi, sampai-sampai kalau tidak les mereka yang marah “Lahhhhhhhhhh, saya gak boleh pergi2 niy!!!’. Saking dari semangatnya sebelum maghrib mereka sudah persiapan untuk berangkat les, padahal  jam segitu saya masih loncat-loncatan depan rumah mengambil rambutan dan masih belum mandi. Sekitar jam setengah 7 malam mereka datang baru saya mandi.
  • Kompak (tambahkan juga “sering juga berantem”) sampai-sampai saling menjemput satu sama lain ke rumahnya, meeting point-nya di rumah sepupu saya Olga kemudian berlanjut ke rumah yang lain.
  • Inisiatif, aktif dan kreatif; Aktif membuat orang menangis, kreatif jailin teman-temannya, inisiatif mau bermain dan mau mengadakan acara apa saja

Daftar Murid :

Kelas Sore (dari kelas yang kecil sampai besar) : Ainu, Matus, Silvi, Didik, Sahid, Mukhlis.

Kelas Malam : TK -> Afthon, Ayu, Gita, Lana, (Kadang Shabrina-ponakan sendiri), Kelas 1 -> Doni, Fajar, Kelas 2 -> Olga, Nining, Fidi, Liana, Kelas 3 -> Puput, Alin, Kelas 4 -> Tami, Dani, Kelas 5 -> Sari, Esti, Yeni, Resi, Kelas 6 -> Hasbi, Ovi, Ilham, Ada lagi penambahan (masih belum terlalu kenal) : Ardo, Ardi, Oni, Bima, Wardah, dll.

Kenapa anak kecil ??? :

  • Mereka adalah tunas bangsa yang kelak akan menjadi penerus
  • Tidak terlalu banyak tuntutan dari mereka, di kampung mending berteman dengan anak – anak kecil karena tidak sibuk memperhatikan urusan  orang lain
  • Di jam-jam malam itu, daripada mereka bernutrisikan sinetron lebih baik bernutrisi kan belajar dan bermain di rumah saya, sekalian biar saya ada temannya di rumah
  • Dari anak kecil untuk anak kecil juga, karena jika saya sudah overload mengajari mereka maka saya minta anak-anak kecil yang lebih senior untuk adik-adiknya dan kalau mereka tidak bisa baru bertanya ke saya.

Jadi kalau kata orang atau saudara “kok mau-maunya repot atau tidak minta bayaran sama mereka, sayang sekolah kamu tinggi”, saya tanpa banyak menjelaskan karena akan panjang dan susah juga menjelaskan :”I’m Ok kok,” . InsyaAllah yang namanya rizki pasti ada jalannya, justru kaerna pendidikan saya itulah banyak memberikan penerangan yang kadang orang tak melihatnya, sekolah yang tinggi bukan sekedar mengejar gelar dan membaguskan nama di Undangan tapi bagaimana kita mensyukuri nikmat lebih yang telah diberikan dengan berbagi dengan yang lain karena kita tidak pernah tahu dari pintu mana rizki itu dibuka. Mungkin karena pintu pagar rumah saya terbuka untuk mereka sehingga memudahkan terbukanya pintu-pintu pagar rizki yang diizinkan Allah, atau dari merekalah dimulainya dinamika saya sebagai seorang manusia. Jangan terlalu banyak bertanya apa yang bisa kita dapatkan, tapi bertanyalah apa yang bisa kita berikan. “Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah bukan karena materi, jabatan, kecantikan dan asesoris dunia yang lain, namun KADAR KETAQWAANnya”. Rabb, ajari aku untuk memahami semua ini dan luruskan kembali langkahku serta berikanlah keridhaanMu.

Saya memang bukan master dalam bidang pendidikan, namun lingkungan dan pengalaman, didikan dan asuhan langsung dan tidak langsung yang telah dialirkan oleh Bapak saya tercinta di bidang  sosial-pendidikan banyak memberikan pengaruh dalam kehidupan yang sedang saya jalani  sehingga menjadikan what i’m today. Semoga keisengan ini memberikan pembelajaran dan perbaikan diri serta langkah awal untuk  menapaki langkah selanjutnya….Amin waa InsyaAllah.

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

4 Responses to Panggilan Pendidikan; Berawal Dari Sekedar Iseng

  1. triYanti says:

    dipikiran saya selalu ingin mengajari anak2 di kampung saya,,, dengan gratis,, membina akhlak mereka,, klo anak muda nya sudah tidak bisa saya ajak,, tetapi anak2nya setidaknya bisa saya bina biar tidak jadi pemuda2 yang tanpa arah dan tujuan

  2. Is says:

    Assalamu’alaikum Triyanti, salam kenal ya dari saya, apapun berawal dari pikiran, coba bergerak dan melangkah sedikit saja untuk merealisasikan di pikiran, InshaAllah akan slalu ada jalan dari pintu2 yg sering tidak kt sangka-sangka, muridnya mah gak mesti banyak, yang penting kt sudah pernah mencoba

    Salam kenal,
    -IIS-

  3. hasief says:

    aku suka gayamu,,, semoga orang sekitarmu bisa mengerti dengan apa yg kamu lakukan

  4. Is says:

    Terimakasih ya atas motivasinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s