Berpekan di Rumah Juga

Alhamdulillah,

Tidak seperti orang kebanyakan, akhir pekan biasanya menikmati kesunyian dan keheningan pedesaan, namun bagi saya akhir pekan saya malah menikmati kebisingan perkotaan. Yah, beginilah pengangguran Every day is holiday, so every day is weekend, isn’t it?.

Setelah beberapa minggu belakang menghabiskan akhir pekan di Surabaya, syukurlah minggu ini menikmati weekend di rumah orang tua. Menikmati estetika silaturrahim dengan menghadiri undangan resepsi pernikahan sahabat dari abang yang juga bersahabat dengan kami semua (ibu, saya dan kakak-kakak). Dengan alasan yang kurang kuat, akhirnya mampu meyakini diri sendiri untuk menghadiri undangan tersebut…”Selamat menemph hidup baru Bang Sofik, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah waa rahmah..amin yaa rabbal ‘alamin”. Sengaja tak sarapan pagi dulu karena adanya rencananya ke kondangan, namun demikian pisang rebus satu piring mampu dihabiskan sebagai pengganjal sarapan pagi, Ibu pun heran “sayakah yang menghabiskan smuanya?” (saya : betul, itu saya). Sepulang kondangan mampir dulu ke rumah saudara yang akan pulang ke kampung halaman istrinya di Sulawesi, lumayan juga mendapatkan pencerahan yang masih merasuk ke pikiran dan diskusi dengan sepupu-sepupu dari Bapak yang membuat semakin bertambah ilmu analisis saya (di situ hanya menjadi pendengar setia saja, takut salah kalau ikutan nimbrung..saatnya “silent is gold”). Kemudian kembali ke rumah sebentar untuk sholat dan ganti kostum yang lebih lebih santai dan diteruskan mencari jajanan. Mampir di penjual rujak dan terlihat pengunjungnya banyak sehingga berlabuh dulu sebentar ke rumah tante. Bertemulah dengan para murid dan saya ditagih janji “besok lomba Volleynya jam berapa mbak?”, (lah, ini sapa yang punya rencana, kok malah saya yang kecipratan pertanyaan…kan tadinya saya mau berkunjung ke rumah sahabat yang laen, gpp lah itung2 buat smangatin&solid-in mereka), ¬† saya : “jadi, abis kita jalan pagi bareng”, mereka :”di rumahnya mbak IIS”, saya:”jangan, di lapangan sini aja (berdekatan dengan penjual rujak ada lapangan luas yang biasa dibuat main sepak bola), klo rambutan di rumah udah abis baru maen di rumah, aku takut dimarahin Ummi ntar”, mereka : “lapangannya gimana mbak?”, saya : “bikin aja dari bambu terus pake tali rafia atau sejenisnya, gak usah beli tali di rumah ada, beli aja bola nya”, mereka: “bola yang gimana? plastik?,”..ada yg nyeletuk..:”gabus aja mbak ada, harganya 6500″, saya :”ya udah beli itu aja, tp JANGAN SEKARANG ntar ktemu di rumah aja, aku mo makan rujak”, hasbi : “yg bikin lapangannya gimana..terus hadiahnya apa?, lombanya cewek vs cowok apa campuran”, saya:”bseok aja omongin lagi”. (Pasti anak-anak itu sudah minta Ibunya untuk membangunkan mereka di Shubuh hari supaya bisa ikutan jalan pagi + lombanya, susah janjian sama anak kecil terlalu on time + paket jemputan lagi). Selesai makan rujak, ngobrol sebentar bareng tante dan saudara, karena ada sisa uang maka dipanggillah Hasbi untuk membeli bola gabus. Benar harganya 6500, uang keembaliannya 3500, biar tak jadi tradisi sengaja saya tidak memberikan upah atas jasanya tersebut. Setelah itu, saya kembali ke rumah.

**

Sampai di rumah, tergodalah melihat ranumnya buah rambutan di halaman depan, untuk lokasi-lokasi yang bisa dijangkau dengan tangan saya mengambilnya langsung dengan tangan, saya langsung makan kemudian kulit dan bijinya di buang ke tempat sampah yang berlokasi di sekitar pohon rambutan. Semakin penasaran dengan rasa rambutan di pohon-pohon yang lain maka mbak Su membantu saya mengambilkan galah agar saya bisa menjangkau tempat-tempat yang tinggi dan alamak semaki menarik saja dan tak terasa sudah banyk buah yang saya makan. Dengan ditemani semilir angin sore dan lantuanan musik islami karena malam ini tetangga sebelah menggelar acara Maulid Nabi jadi semakin asik saja suasananya. Ini mungkin yang dinamakan kebahagiaan batin dan kedamaian hati, perasaan tenang dan senang mengalir saat itu walaupun dalam pikiran ada banyak teka-teki dan permasalahan yang butuh banyak jawaban. Inilah kenikmatan yang terlihat kecil dan biasa namun terasa begitu bermakna setelah lama tak bersamanya. Saat saya masih kecil dulu, ini merupakan hal yang biasa, namun pada saat sekarang dimana saya sudah tak dewasa lagi dengan aneka permasalahan dan tuntutan rasanya hal ini adalah sesuatu yang luar biasa yang jarang saya nikmati beberapa tahun belakangan.

Bagi saya, memang tiada tempat terindah di dunia ini selain di Rumah, dengan kelebihan dan kekurangannya rumah akan selalu menjadi tempat yang dirindukan oleh penghuninya. Kenyamanan rumah tidak bisa dikalahkan oleh kemewahan apartemen, hotel, cottage , villa atau condomonium sekalipun. Bagi yang merantau, kosan mungkin rumah kedua bagi mereka, saya pun pernah merasakan demikian. Selamat menikmati tempat tinggal masing-masing, that’s the most comfort zone of yours, syukuri apa yang ada dan buatlah senyaman mungkin.

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

2 Responses to Berpekan di Rumah Juga

  1. bisniswulan says:

    hai..salam kenal ya.. dari wulan..yang sama2 ibu rumah tangga. tapi tetep semangat ya.

  2. Is says:

    Hi mbak Wulan, salam kenal balik, seneng deh bs berkenalan dgn mbak, hmmm, saya msh anak rumah tangga kok mbak, smg bs menjadi ibu rumah tangga yg sukses-mulia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s