My Birthday 2010 (Part.2)

Tulisan ini merupakan lanjutan dari cerita saya yang bisa dilihat di https://iswartirasjid.wordpress.com/2010/02/28/my-birthday-2010-part-1/

* Surprise Party

Dari judulnya sudah bisa kita tebak bersama bahwa akan ada yang namanya pesta kejutan atau dalam bahasa istilah diartikan kejutan yang tak diberitahu sebelumnya kepada yang diberik kejutan. Event ini berawal dari sebuah pertanyaan sederhana seorang murid saya yang saat itu bertanya mengenai kapan ulang tahun saya. Dengan jujur saya menjawab bahwa tanggal kelahiran saya adalah 28 Februari. Lantas murid-murid yang lain pun merespon dan terciptalah forum di dalam suasana belajar sehingga bukan lagi suasana belajar yang tercipta tapi diskusi yang mengajak mereka saling bertukar pendapat satu sam lain…”sumbangan berapa-berapa?”…”mau beli apa?”…”Siapa yang pegang uangnya?”. Saat itu, dengan spontan saya langsung menjawab “udah…udah, gak usah sumbangan2 segala, simpen aja duitnya buat kalian sendiri”. Mereka pun menjawab “gak kok mbak, orang ini ngomongin yang lain”.

Hampir setiap pertemuan di bulan pertengahan Februari itu yang dibicarakan adalah seputar kado dan “saya mau diapain”. Saya cuek, pura-pura tidak tahu dan sudah lah terserah mereka saja yang penting saya tidak menyuruh mereka untuk memberikan kado atau surprise party ke saya. Pada Hari Kamis sore sepulang dari ziarah ke makam Bapak tercinta, saya mampir sebentar menyapa sepupu-sepupu yang sedang berkumpul di teras rumahnya. Seorang sepupu mengatakan bahwa akan ada kejutan dari murid-murid saya. Olga yang juga sepupu dan murid saya yang tengah duduk di situ langsung berubah ekspresinya mendengar pernyataan dari sepupu saya..”Gak kok Mbak, bohong” elaknya kepada saya, lantas sepupu saya merespon lagi “iya bener, mereka pada nanya tuh mo dibeliin apa, tadinya mau dibeliin tali rambut terus aku bilang Iis gak suka yang begituan, dia sukanya coklat, beliin aja tuh sumbangannya coklat smua”. Mendengar ungkapan sepupu dan ekspresi Olga saya hanya bisa tertawa dan senyum-senyum saja. Boleh dikatakan senang, boleh juga bangga sama mereka yang begitu apik mempersiapkannya dalam ukuran anak kecil. Coba kalau saya yang jadi anak kecil pastinya tak seperti itu. Inilah benih-benih generasi yang harus kita jaga dan arahkan…InsyaAllah.

Ada lagi cerita menarik yang saya dapatkan dari kakak saya kakak saya mengenai uang hasil sumbangan anak-anak. Tadinya sumbangan anak-anak yang megang adalah Tami (ini juga saya tahu dari Kakak saya), kemudian Hasbi yang merupakan ketua kelas mereka memegang alih tanggung jawab tersebut. Kalau tidak salah jumlahnya sekitar 44 ribu, uang ini dipinjam oleh Ibu dari Hasbi dan berjanji akan dibayar 50 ribu. Ketika kakak saya bercerita itu di hadapan saya dan abang, kami hanya tertawa saja..”ya begitulah kehidupan di kampung temans !!!, tidak bisa saya jabarkan dengan serangkaian dialog dan realitas yang akan panjang ceritanya”. Lantas abang saya berkomentar “Hasbi itu jadi apa Is?”, saya :”ketua kelas, anak2 pd takut sama dia, terus dia biasanya dijuluki Bobo Ho karna gayanya yg seperti shaolin itu”, Abang : “dia jago brantem tuh walaupun kecil2″, saya :”ya kadang aku kasi tau supaya gak suka mukul2 anak2, sering tuh anak2 dipukul klo udah rame”.

***

28 Februari pun datang, ketika saya melintas secara tidak sengaja di jalanan kampung dan bertemu dengan murid-murid saya yang mereka tanyakan adalah “mbak Iis, nanti malem les?”, saya hanya menjawab “iya”, kemudian mereka menjawab “yeeee, horeeee”. Selepas maghrib, anak-anak pun datang, karena sebelumnya saya provokasi Mama Shabrina untuk pulang ke Madura karena ada maulid abang, lamaran sepupu dan juga Ulang Taun saya sehingga yang menemui anak-anak adalah Mama dan Shabrina. Sementara saya masih di dalam baru selesai mandi dan sedang sholat Maghrib. Ponakan saya mengetuk-ngetuk pintu kamar dan memanggil saya “Tante IIS, onok temennya tuh”. Seperti biasa, gayanya anak kecil yang sok eksis dan super caper (cari perhatian, red) kalau banyak orang, begitu pula dengan ponakan saya.

Saya pun keluar kamar dan menanyakan kehadiran yang lain kok hanya beberapa orang saja yang hadir padahal tadinya suaranya bergemuruh. Fidi mengatakan bahwa yang lai masih keluar sebentar. Bertanya dan pura-pura bodoh (hahahahhahahhaa) “ngapain mereka?”. Fidi menjawab “Rahasia”. (Dipikir saya tak tahu aksi dan rencana mereka, saya sudah dapat bocoran dari banyak nara sumber). Kemudian Fidi meminta saya duduk, dan mata saya ditutup dengan jari-jari telapak tangannya “Astaga..sakit banget niy bocah nutupinnya”, Fidi menjawab “iya ya mbak”. Sementara ponakan saya histeris sendiri dan berteriak-teriak melihat saya seperti itu. Kemudia saya bilang ke dia “Apa Na?, gak usah teriak-teriak gt”, dia diam dan beberapa saat kemudian datanglah anak-anak yang lain menghujani saya dengan kertas-kertas yang digunting kecil-kecil dalam jumlah yang tak habis-habis, lantai rumah pun banjir kertas. Sambil mengucapkan selamat ulang tahun, mereka masih membanjiri saya dengan kertas-kertas itu. Shabrina teriak-teriak lagi dan menangis “udahhhhhhh” dengan aksennya yang medok jawa itu membuat anak-anak jadi rehat, beberapa detik kemudian dikumupulkan lagi kertas-kertasnya kemudian dihujani ke teman-teman yang lain, jadilah suasana saat itu meriah, Shabrina juga ikut-ikutan. Kami duduk sejenak, kemudian diserahkan sebuah kado yang terbungkus dengan bagus dan rapi…”siapa yang bungkus?”, mereka menjawab “Esti mbak” (tersenyum lagi saya, dalam “hati mengatkan kecil2 udah jago bungkus, saya aja segede gini blm tentu bisa membungkus kayak gt”). Saya mengucapkan terimakasih buat kadonya dan Shabrina pun bertingkah dengan mengambil kadonya dari saya dengan menganggap itu hak miliknya. Saya biarkan dia memegangnya dan kemudian kami siap-siap makan bersama (terimakasih ummi atas dukungan dan bantuannya mempersiapkan makanan). Lagi-lagi Shabrina caper, tiba-tiba dari kulkas dia mengambil toblerone untuk ditunjukkan dan dimakan di hadapan muridnya, sebelum keluar saya cegah dulu dengan mengatakan “taro dulu di dalam kulkas, makan nanti aja”, dengan sambil menangis dia menaruh ke dalam kulkas. “Shabrina, tante IIS kasi tau ya, coklatnya itu cuman ada satu, klo dimakan di depan anak2 gak bakal kebagian smua, kasian kan yg laen, taro dulu ya…bsk baru dimakan”.  Saya jadi teringat dengan nasihat Bapak saya sewaktu SD dulu “klo punya makanan bagikan ke teman-teman, klo memang tidak mo dibagikan  karena sedikit atau yg laen jangan makan di depan teman2A”. Air matanya pun raib dan berganti kegembiraan dengan membantu Ibu mengangkat piring-piring nasi buat santapan makan malam anak-anak.

Hore, kami makan malam bersama, Indahnya kebersamaan, supaya lebih mantap makannya saya minta dibuatkan sambal ke Ibu dan kami pun menikmati makan malam itu dengan sambal buatan Ibu saya. Pesan saya saat makan “tolong dihabiskan makanannya, jangan sampai ada sisanya”. Alhamdulillah pesan pun sampai mereka berlomba-lomba untuk menghabiskannya walaupun ada 1/2 orang yang masih ada sisanya karena porsinya tak proporsional dengan ukuran lambungnya.

Di tengah-tengah keceriaan dan kegembiraan tersebut, ada saja tingkah laku ponakan saya yang membuat saya mengontrol emosi dan mengamatinya. Kalau masih sekali dua kali saya maklumi, ini sudah berkali-kali sehingga saya pun ambil sikap “Shabrina, jangan egois jadi orang, jangan mentang-mentang di sini rumah sendiri, jadi seenaknya, semuanya sama, ” kata saya dengan muka serius,  anak-anak yang di situ terdiam sebentar karena mereka berpikir saya akan membela Shabrina…”biarin aja biar gak kebiasan” kata saya ke anak-anak, dia pun menangis dan mengadu ke kakak saya, kakak saya juga demikian membela saya dengan sedikit memukul. Kalau saya paling anti main tangan ke anak-anak karena dari kecil tidak pernah dipukul sama Bapak dan tidak bagus juga untuk pembentukan karakter anak kecil karena akan membuat mereka jadi kasar, paling banter saya diam atau tatap tajam dengan mata saya, itu saja sudah pernah membuat ponakan saya menangis lama. Tidak mendapat pembelaan, Shabrina pun mengadu ke Ibu saya. Ibu saya langsung menghampiri saya “diapain kok nangis?”, saya : “aku yg bikin nangis, abis jadi org egois, biarin aja”, Ibu saya pun menemani cucunya sebentar sementara saya asyik dengan anak-anak.

Sesi pembukaan kado pun dimulai, anak-anak meminta saya membuka kadonya, Shabrina hadir ke tengah-tengah lingkaran dan meminta kadonya supaya yang meminta dia. Saya ingin marah sebenarnya arena  anak-anak  membungkus kado ini untuk saya namun Alhamdulillah emosi masih terkendali tapi kasihan juga kalau saya pikir-pikir “ya sudah, sudah, Shabrina aja yang buka ya anak-anak”, ada yang nyletuk “lama mbak”, saya :”ya udah kan bareng-bareng juga ngeliatnya”. Shabrina pun membuka dan saya meminta dia untuk mengucapkan terimakasih kepada teman-teman.

Isinya kadonya adalah :

– Kartu ucapan yang ditulis tangan dengan isi yang membuat saya mesem-mesem

– 2 Batang coklat berukuran besar

– 1 bros berwarna hitam

– 1 penghapus white board

– 1 spidol permanent marker

Kemudian saya bertanya “siapa yang beli” dan “belinya dimana”. Agak malu-malu mereka menjawabnya. Akhirnya mereka pun bercerita dan cerita mereka membuat saya terharu dan makin cinta. Jadi yang membeli ada 4 orang, Hasbi satu-satunya cowok yang ikut, saat mereka naik angkutan umum mereka menawar dengan harga yang murah karena mereka masih anak kecil dan sekolah. Supir pun tak tega mungkin sehingga ongkosnya hanya 1500/2000. Ternyata mereka tidak diturunkan di dekat swalayan yang dimaksud, namun diturunkan di depan SMU 1 Bangkalan sehingga mereka harus berjalan kaki lagi ke sananya lagi. Dengan melewati jalan-jalan perumahan mereka menembus swalayan yang dimaksud. Untuk ukuran anak kecil, jarak dari SMU 1 ke swalayan yang dimaksud cukup jauh.

Sekali lagi, terimakasih buat laskar-laskar kecilku, semoga kita bisa terus bersahabat, bermain dan belajar bersama. Kalau kalian beranggapan bahwa saya adalah guru kalian sebenarnya terbalik, kalian adalah guru saya yang banyak memberikan masukan dan pelajaran bagi saya.

Karena harus menghadiri lamaran balasan sepupu ke kampuung sebelah, maka setelah acara suprise party yang bocor ini saya minta ijin dulu ke anak-anak kalau saya akan pergi ke kampung sebelah mengantarkan sepupu saya. “Horeeeee…pulang cepat!!!!” kata mereka, ada juga yang berkata “yaahhhh kok pulang siy…kan aku besok ulangan”.

* Lamaran balasan

Ini merupakan salah satu tradisi di Madura, yang entahlah siapa yang mencipatakan ini, andai saya tahu orangnya maka ada baiknya saya kenalan dulu. Sekitar 3 mingguan yang lalu dari pihak mempelai laki-laki melamar salah seorang sepupu saya dari Ibu yang sudah dipacarinya (entah berapa lama..saya kurang terlalu tahu, belum seumuran pemilu, tapi lebih dari umur jagung). Dengan membawa kue khas lamaran yang kemudian dibagi-bagikan ke tetangga yang menandakan dan mengumumkan bahwa sepupu saya ini sudah ada yang punya acara lamaran pun terlewati. Saya katakan ke sepupu saya yang sudah dilamar tersebut “udah ya, jangan ada lagi kyk gini, cukup ini saja yang terakhir, abis itu langsung nikah aja,bikin ribet deh, pake ngundang2 sgala..udah kyk org mau akad nikah aja”. Sepupu saya menjawab dengan senyuman dan tertawa, kemudian dia berkata “abis ini ada lamaran balasan Is, nanti ikut ya?”, Saya :”astaga, apalagi itu, untung ya rumah tunanganmu itu deket, lah klo di ujung berung penting apa yg beginian, tinggal naek sepeda pagi2 jg bs langsung ke tunanganmu, itu kan rute-ku tiap pagi, apa balesannya naek sepeda aja sambil jogging, ribet ya org Madura pake ini lah pake itu lah, gak harus diikiti kok gpp”, sepupu saya ketawa terbahak-bahak dengan menguatkan pernyataannya “beneran Is ya ikut, nanti aku pake jilbab ke sana”, saya : “iya iya, insyaAllah aku ikut ke sana”.

Sampailah pada waktu yang ditentukan, lamaran balasan pun digelar dan keluarga besar dari Ibu saya mengantarkan sepupu saya ke rumah tunangannya itu dengan membawa aneka bawaan dan hantaran. Ada 3 mobil yang mengantarkan maka kalikan saja berapa orang yang ikut di dalamnya (“Astaga Madura oh Madura…demen banget deh rame-rame, jadi saya ini sebenernya orang Madura bukan ya?”). Terjadi pemisahan tamu antara laki-laki dan perempuan (hampir sebagian besar di Madura budayanya seperti ini). Para tamu pun duduk dan menikmati hidangan yang telah disediakan oleh keluarga pihak laki-laki. Karena sudah makan malam bareng anak-anak tadi, keinginan makan saya menurun, hanya makan buah-buahan, kerupuk dan soto Madura yang sangat saya rindukan tersebut.

Tercetuslah pernyataan dari keluarga laki-laki yang menjadi penerima tamu kami. Saya tidak tahu, wanita itu sebenarnya siapa (apakah Ibunya atau adik dari Ibunya..entahlah) “sepertinya gak bakal lama ini, mungkin sekitar bulan Rasol (dalam Madura bulan yg digunakan adalah bulan islam, bulan Rasol adalah Bulan setelah Maulid, bahasa Indonesianya apa ya????)”. Karena ibu dari sepupu ini sudah meninggal di tahun yang sama dan bulan yang berbeda (bulan Ramadhan) dengan meninggalnya Bapaknya saya, maka yang menjadi perwakilan adalah Ibu saya dan juga adik bungsu ibu saya (lek Nur), ibu saya menjawab : “iya bagus” terus saya bisikin ke beliau “lebiih cepat lebih baik”, sementara bu lek saya mengatakan : “masih skripsi orangnya”, karena saya tahu sepupu saya juga ok-ok saja, saya langsung mengatakan “skripsi gampang, nanti saya yang bantuin menyelesaikan”. Kebetulan dosen pembimbingnya adalah mantan guru bahasa Indonesia saat SMP dulu dan beliau cukup mengenal saya baik pada saat SMP maupun sekarang karena setiap kali mengisi acara di pernikahan saya selalu meyapa dan sungkem dengan beliau. Ketika pada suatu moment saya dan sepupu bertemu dosen pembimbingnya tersebut dia mengatakan “pak, ini nanti yang jadi pembimbing skripsi saya, masak masih banyak revisi, kan sudah tau gmn orgnya” (sepupu yang kurang ajar memang, gak usah didenger ya Pak).

Untuk sepupu saya : semoga dipercepat dan diberikan kelancaran prosesnya, jangan suka hinggap atau mancing-mancing kumbang-kumbang yang lain…udah saatnya insyaf tuh)

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s