My Birthday 2010 (Part.1)

Bismillahirrahmanirrahim,

Alhamdulillah, hari dan bulan pun telah sampai pada saat dimana saya keluar dari rahim Ibu tercinta. Tahun pun juga semakin bertambah, yang berarti usia pun semakin bertambah. Semakin tua, makin dewasa, makin sepuh atau apalah itu namanya…yang jelas setiap 28 Februari adalah hari kelahiran saya. Terimakasih banyak untuk Ibu..Ibu..Ibu yang telah mengandung, melahirkan, menyusui serta membesarkan saya. Maaf  ya Ummi jika sampai dengan detik ini masih belum bisa menjadi anak yang sholihah…masih sering marah, masih sering melawan dan masih-masih yang lain, InsyaAllah selalu berusaha menuju ke situ, namun sesuai dengan kapasitas diri tentunya…Yaa Kholiq, ajari aku bagaimana mengerti beliau. Terimakasih untuk Bapak yang telah menafkahi Ibu dan anak-anak dari Ibu tercinta, menjadi pengajar..pendidik serta guru kehidupan yang paling inspiratif, walaupun ada ilmu-ilmunya yang sampainya ke diri ini melalui pengantar tapi sudah memberikan banyak kontribusi dalam proses perjalanan sampai dengan sekarang sehingga menjadikan saya seperti sekarang ini. Terimakasih untuk semua kakakku yang tanpa lelah, sering ngomel, kadang menjadi pengganti orang tua, teladan kehidupan baik negatif maupun positif, penyampai ilmu-ilmu Aba, penghimpun cita-cita keluarga, perwakilan keluarga dan sebagainya. Kalian semua adalah “dosen-dosen” pilihan Allah terbaik yang diberikan untuk saya, mendampingi perjalanan dan langkah-langkah saya.

Tiap tahun, selalu ada cerita yang menemani kematangan dan pendewasaan diri kita. Beberapa tahun belakangan banyak dihabiskan di luar pulau, tentunya ada banyak cerita mengenai dinamika diri ini yang tak bisa terungkap secara lugas dalam satu judul tulisan ini. Tahun ini adalah tahun menapaki kembali histori-histori masa lalu di kampung, semakin dekat dengan keluarga dan terlebih semakin mengenal kerabat sehingga kuantitas mengenai pertanyaan dan pernyataan “Siapa itu?, anak siapa?” sudah mulai tereduksi sedikit demi sedikit. Eksitensi di masyakarat  pun sudah mulai muncul walaupun hanya “ujung jilbab-nya” yang terlihat. Sedikit demi sedikit kesadaran sosial dalam diri muncul, tidak seperti dulu yang hanya mengandalkan kesadaran anggota keluarga yang lebih senior. “Kalau bukan sekarang? lantas kapan lagi bermasyarakatnya” tutur para senior. Kalau ada tetangga yang menikah, bantulah seperlunya dan hadirilah undangannya, kalau ada pengajian datanglah “wong cuman beberapa jam saja”, kalau ada syukuran di rumah saudara/kerabat luangkan waktu sebentar untuk membantu atau menghadirinya, kalau ada saudara yang sakit maka jenguklah dan kalau tak mampu memberikan materikan berikanlah perhatian walaupun hanya dengan menemani beberapa menit saja, kalau ada yang meninggal maka berta’ziyalah jangan suka menunggu orang tua/para senior yang datang…………….SIAPPPPPP Jenderal!!!!perintah Laksanakan, tapi saya punya cara sendiri bagaimana melakukan itu semua.

Berikut ini adalah rangkaian moment yang berharga menjelang hari kelahiran saya :

1. Hari Jum’at (26 Februari) dalam perjalanan menuju Surabaya., Alhamdulillah Allah masih selamatkan kami. Di pintu tol keluar Suramadu tas ransel, jaket yang tak sempat ganti dalam seminggu, kaos serta jilbab yang saya kenakan robek. Sementara jempol tangan kanan dan kiri Ibu terluka. Hal ini disebabkan ada benang layang-layang yang terlilit ke bagian depan saya. Benang yang mengandung campuran kaca/beling mampu merobek gendongan tas saya yang cukup tebal serta menembus bagian jaket , jilbab dan kaos saya. Alhamdulillah, apa jadinya kalau saya sampai tidak sadar dan tidak mau berhenti sesuai anjuran Ibu, mungkin sudah menembus kulit saya dan selanjutnya….astaghfirullah. Demi melepaskan lilitan benang dari badan saya, jempols ibu pun ikut jadi korban. MasyaAllah musibah kecil yang berpotensi besar. Berikut do’a yang ibu sarankan selagi kami dalam perjalanan. “sehabis sholat jangan lupa baca BISMILLAHILLADZI LAA YADURRU MAASMIHI FIL ARDHI WALA FISSAMA’ WAHUWAS SAMI’UL ‘ALIM (klo kurang jelas bisa ditinjau di AL-Ma’tsurat)”. Sedangkan saya mengatakan pada Ibu saya “kalau dalam perjalanan sambil baca Shalawatan-an aja”. Sekali lagi Alhamdulillah Rabb, Engkau masih menyelamatkan kami, semoga kami menjadi lebih berhati-hati serta menghati-hatikan orang lain juga.

2. Pada Sabtu,   27 Februai digelar acara perdana Maulid Nabi di rumah abang di Surabaya (bentrok.com dengan acara tujuh bulanan sepupu, syukurlah bisa bantu sedikit di sepupu walaupun cuman bentar&dikit..sekedar marut kedondong buat rujak dan mengudek-ngudek santan serta melirik orang yang sedang bikin cendol). Jika biasanya tiap tahun acara Maulid hanya digelar di rumah, alhamdulillah ia bisa menyelenggarakannya di rumahnya bersama istrinya dengan mengundang para tetangga dekat. Karena dalam rangkaian acara itu sarat dengan do’a, maka saya pun “titip do’a” pada saat acara khatam Qur’an dan shalawat Nabi…”Bang minta tolong do’ain ya sama orang yang ngaji, sama kyai-nya juga buat hari kelahiran ku, moga makin berkah..sukses pribadi, sukses keluarga dan sukses juga di masyarakat”.

3. Pada tanggal 28 Februari, paginya balik ke Madura. Memulai penambahan usia dengan berpuasa, melaksanakannya antara yakin dan tidak yakin dikarenakan banyaknya agenda. Tapi kalau dipikir-pikir “ini kan setaun sekali, lagian acaranya juga malam semua, (tapi aku udah lama gak jajan ke pasar…mumpung hari minggu kan banyak jajanan…pengen bakso yang abang-abang lewat, pengen rujak, pengen cendol dll),”. Syaithanirrajim menggenangi saya dan alhamdulillah paginya bisa memantapkan niat untuk berpuasa untuk memulai penambahan usia yang makin tua. Hal ini seperti pernah disarankan oleh Bapak tercinta “daripada ngerayain ulang taun, mending kamu puasa di hari ulang taunmu, jgn suka ikut2an budaya barat”. Beberapa agenda itu adalah Maulid di rumah abang-Mas Helmy, Maulid di rumah salah satu sahabat, menghadiri surprise party bikinan sahabat kecilku, lamaran balasan sepupu.

* Maulidan di Mas Helmy

Tadinya, kalau sudah sampai di rumah saya akan langsung ke rumah abang saya tersebut untuk bantu-bantu. Namun dikarenakan naluri bersih-bersih saya muncul dikarenakan tetesan makanan yang dibawa dari Surbaya hari ini sehingga harus bersih-bersih dulu kemudian dilanjutkan mengepel karena jika tidak begitu semut akan dimana-mana dan membuat ubin jadi jorok. Selanjutnya mandi dan mau langsung bantu-bantu juga tidak memungkinkan karena badan kurang bertenaga, sambil menggu adzan Dzuhur kemudian Sholat dan bobok-bobok siang. Selagi tidur siang..sekitar jam 2an, Ust.Hafidz datang, saatnya belajar mengaji. Selesai mengaji minta do’a dulu sama beliau untuk hari kelahiran saya. Menjelang ashar pelajaran mengaji selesai, rebahan sebentar di kasur kemudian terdengar suara ashar mengambil wudhu’ kemudian sholat. Selesai, lanjut ke rumah abang untuk bantu-bantu, ternyata rumah dalam keadaan sepi dan penghuninya tidur “apa niy yang bisa dibantu,…rawonnya udah? beseknya udah dibungkus? udah beli minuman? udah beli buah?”, ternyata sudah semua. Duduk-duduk dulu depan tivi dengan didampingi orang-orang yang tidur dan para ponakan. Karena mendengar suara saya, yang tidur pun jadi bangun, kami menonton salah acara perjodohan di salah tv swasta negeri. Ada obrolan yang menarik di sini, setelah melihat adegan demi adegan dalam acara itu saya berkomentar dengan adegan yang cukup romantis tersebut kemudian Naufal (abang tertua mereka) mengatakan “Lek (akronim dari Bu Lek)…kenikmatan dunia mengurangi kenikmatan akhirat”. Saya langsung mengatakan kepada seorang lelaki yang sudah nyantri sejak TK tersebut sampai dengan sekarang usia SMA dengan pernyataan “Wuiiih, dalem banget maknanya, jadi tersinggung” .

Selesai mengobrol, bosan di dalam makanya jalan-jalan dulu ke luar rumah, awan tampak mendung sang Babah sedang memandangi langit “gimana klo ujan acara Maulid-nya”. Saya mampir sejenak ke rumah sepupu yang lain dan ada yang saya lihat-lihat juga sekitar situ untuk memastikan apakah pesanan saya sudah selesai sebelum saya berangkat ke Surabya hari Jum’at kemarin, setelah dilihat ternyata sudah selesai walaupun dengan beberapa komentar yang membuat saya tertawa dan nyengar-nyengir.

Jalan lagi ke rumah sepupu yang lain yang jika tidak ada pekerjaan saya akan langsung ngacir ke rumah mempersiapkan buka puasa dengan juice alpukat. Tiba-tiba sepupu saya menyahut “Is, mau bantu-bantu gak?”. Saya : “Iya lah mau”. Sepupu : “tolong hitungin dan bersiin piring sama sendok”. Saya : “Sep deh”. Selesai membersihkan piring sendok serta memindahkan alat tempur untuk konsumsi utama saya kembali masuk ke rumah abang dengan mencari istrinya. Karena masih mandi, malas menunggu saya pun mengajak Naufal “bisa naek motor gak?”, dia : “bisa, tapi dikit”, Saya : “anterin ke rumah temenku yuk di Embong Miring”, bocah ajaib menjawab : “gak biasa bonceng cewek”, saya:”ya elah,tante-nya sndiri juga, udah ah sama Wasyi’ aja”. Adiknya pun mengantarkan saya ke rumah sahabat saya yang juga menggelar maulid nabi tapi dengan undangan para wanita semuanya.

* Maulid di rumah Sahabat

Saaya datang ke sana dengan kondisi para tetangganya sudah berkumpul dan beberapa saudaranya. Karena beberapa hari yang lalu sudah berjanji akan mengantarkan dia ke Bangkalan ini juga sebagai bentuk penjadwalan kembali janji saya “jadi kapan ke Bangkalan?, besok ya?”. Dengan galak menjawab : “ntar nunggu kiamat”, saya : “makanya sms dibalas dunk, acara kan bisa berubah sewaktu2”.Selanjutnya……..

Dalam acara maulid di rumahnya terlihat berbagai aneka gantungan, mulai dari baju-baju, makanan kecil, balon (yang kyk gini saya juga baru tau…meriah euy) dan didirikan tenda juga (yaaahhh..udah kyk org mo kawinan aja). Yang baru saja marah mengajak saya untuk hadir ke maulid nanti malam, saya mengatakan kepadanya tidak bisa karena ada acara juga nanti malam, dan kakak iparnya yang juga tetangga saya mengatakan kalau kakak saya juga menggelar acara Maulid (realistisnya kan saya pasti milih yang saudara sendiri dunk). Kemudian umminya mengatakan : “itu kan laki-laki semua, di sini kan perempuan, sudah dateng aja”. “Maaf teman dan ummi aku gak janji bisa dateng karena bukan acara maulid saja nanti malam”.  Beberapa saat setelah itu saya bertanya : “Dian udah datang belum dari Sumenep”. Sang ibu hamil menjawab :”udah, aku dikasi buah lontar sama dia”, saya :”ouw asikkk, berarti aku dapet srikaya”.

Sudah mendekati maghrib saya pun pamit dan mampir sebentar ke rumah Dian. terlihat dia sedang duduk-duduk di belakang rumah orang tuanya. Saya langsung menyatakan “Srikaya dapet gak?”, Dia :”gak dapet, adanya lontar”, saya :”boleh deh”. Dapatlah seplastik lontar dari dia yang kemudian saya bagi-bagikan ke ponakan, kakak ipar dan sepupu saya.

* Surprise Party

* Lamaran Balasan

(Bersambung ke Part. 2)

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s