Hubungan Tajwid dan Akad Nikah

Bismillahirrahmanirrahim,

Setelah selesai belajar membaca Al Quran bersama Ustadz Hafid, seperti biasa mengajak Ust. bercerita, sharing, diskusi dan review kesalahan-kesalahan saya tadi selama belajar. Banyak hal yang diceritakan oleh beliau, sengaja mengambil per point supaya tidak terlalu panjang tulisannya. “Mengenai tulisan-tulisan belum paham ya”? tanya beliau, “saya hanya beberapa hukum bacaannya, tidak terlalu hafal, pokoknya klo huruf ini ketemu sama ini bacaannya jadi seperti itu, dll” jawab saya. “Nanti saya bacakan bukunya biar tahu huruf ikhfak, idzhar, idgham, dll”.

“Sebenarnya anak sekitar Masjid dulunya banyak yang belajar ngaji dan tajwid di Masjid, tapi belum sampai khatam mereka sudah berhenti dan tidak melanjutkan lagi” ungkap beliau. Saya berpendapat : “udah kenal cewek Ustadz, susah klo begitu”. Beliau pun menjawab “ya klo gak ngerti tajwid gimana ntar pas akad nikahnya, gak bisa baca QOBILTU dengan benar, salah2 lagi”. “Memang ada pengaruhnya ya Ustadz?” tanya saya. “ya akadnya gak syah klo gitu” jawab beliau, “Waduhhhhhh…tapi kok penghulu tanda tangan..tanda tangan aja” respon saya. “Apalagi klo penghulunya yg gak tau tajwid, makin gimana, baca ANKAHTUKA-nya salah-salah nanti” ungkap beliau.

Alhamdulillah, untung saya cewek jadi tak perlu repot memikirkan yang beginian. Diskusi tentang ini mengingatkan pada pengalaman pernikahan Kakak saya (Fifi, red), hampir setiap ke kontrakan (jamannya ngontrak bareng kakak dan abang dulu di Surabaya) Mbak Fifi mengajarkan suaminya untuk melafalkan QABILTU dst dengan benar, sampai-sampai yang tadinya tidak tahu lafal ijab kabul seperti apa hafal disebabkan komunikasinya seputar ijab kabul melulu baik secara langsung bertatap muka maupun di telepon. Sewaktu akad nikah kakak saya, pembacaan  QABILTU-nya sampai diulang tiga kali lagi, menetes-neteslah keringatnya, apalagi di samping kanan-kiri, depan-belakang para kyai lagi yang insyaAllah pengetahuannya tak diragukan lagi. Mungkin kyai-nya sudah “bosan” membenarkan bacaannya makanya “Syah aja deh” (loh kok???).

Wah, nanti Ustadz Hafid yang jadi saksinya akan diulang berapa kali ya, saya aja belajar membaca biasa bukan akad nikah udah dag dig dug deeeer jika lidi yang menjadi indikator alunan panjang pendeknya huruf berhenti tiba-tiba yang menandakan bacaan saya salah ( ulang lagi dari depan…baca lagi, ulang lagi, baca lagi). Bagaimana kalau Ustadz membuka training dulu untuk ini jadi mengurangi tingkat kesalahan dan pengulangan bagi para mempelai….lumayan kan Ustadz menambah nilai pernikahan suatu akad nikah.

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Islam. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s