Keceriaan Maulid di Al-Falah Burneh

Bismillahirahmanirrahim,

Menuju Al-Falah dari Belakang

12 Rabiul Awal merupakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Seorang nabi yang telah menjadi suri teladan dunia, pembawa syaafat di akhirat kelak serta pembawa risalah islam yang mampu menembus ruang dan seluruh elemen masyarakat. Hari ini (Jum’at, 26 Februari 2010) merupakan hari peringatan kelahiran Rasulullah. Semoga kita semua senantiasa menjadi kaumnya yang InsyaAllah bisa meneruskan cita-cita dan perjuangan beliau.

Tadi malam, masjid besar Al-Falah Burneh menggelar acara Maulid Nabi yang dihadiri oleh banyak jamaah dari seluruh penjuru masyarakat di sekitar masjid. Acara dimulai sekitar pukul 7 malam (setelah maghrib). Demi mengejar maulidan di Madura, setelah misi gagal ke Surabaya untuk menjemput Shabrina agar sama-sama maulidan di Madura, maka setelah selesai sholat Ashar langsung bertolak ke Madura. Dalam perjalanan menuju jembatan Suramadu, terlihat kerumunan roda 2 dan roda 4 atau lebih yang tak seperti biasanya. Aha??? ada apa ini? ternyata benar kata Mamanya Shabrina  bahwa Suramadu macet karena banyak orang yang akan pulang ke Madura untuk menyambut 12-an dan selanjutnya merayakan maulid di rumah masing-masing. Suasananya sudah seperti mau lebaran saja. Hari itu pintu tol Suramadu membuka 3 gate, tak biasanya yang hanya 2 gate saja,jalur mobil pun dibelah untuk menghindari kemacetan di pintu tol Suramadu. Alhamdulillah walaupun macet tapi masih belum kecipratan yang super macetnya, tak sampai 5 menit sudah bisa melakukan transaksi yang bernilai 3000 rupiah untuk menuju Madura. Perjalanan Surabaya-Madura pun hanya memakan 1/2 jam lebih dikit, berangkat sekitar jam 1/2 4 sampai rumah sekitar jam 4 lebih dikit. Sambil menunggu Ust.Hafid karena merupakan jadwal untuk belajar, membuka sebentar layar monitor untuk mengedit sedikit permintaan teman. Lemah tak berdaya, dalam penantian pun menggelar kasur sambil menyalakan radio. Sampai jam 5 lewat, tak kunjung datang, ternyata sang Ustadz berhalangan hadir dikarenakan ada acara dengan yang lain belajarnya pun diganti hari Jum’at selesai sholat Jum’at. Di atas kasur bawah hanya bisa ngilet, susah memejamkan mata karena asupan energi belum ditambahkan seharian menunggu sampai maghrib menjelang. Mau ganti baju saja malas, begitu pun mandi..benar-benar lemah tak berdaya. Hanya menunggu, kapan magrib datang?. Mendengar qiroah di Masjid langsung siap-siap ke dapur membuat jus apukat hasil pemberian dari sahabat yang dermawan yang dibelikan oleh Ibunya saat ke Malang beberapa hari yang lalu. Di sudut dekat kompor, terlihat segelas panjang teh manis hangat yang sudah dibuat oleh Ibu. Menu buka saat itu adalah : segelas panjang teh manis hangat, segelas lebar jus alpukat ditambah beberapa biji bakso+saos sambal yang didapat dari Surabaya hasil pemberian kakak (memang dari kemarin mau makan bakso yang begini). Sekitar jam 6 adzan pun berkumandang, (alhamdulillah..terimakasih yaa Allah telah melalui puasa ini walaupun dalam keadaan yang sangat lemah tak berdaya karena malam sebelumnya hanya mengkonsumsi jus alpukat). Selesai berbuka, siap-siap sholat maghrib dan ngacir ke Masjid untuk maulidan. Selagi siap-siap, gangguan pencernaan pun menyerang, sakit perut mengiringi…astaghfirullah..menu makanan yang mengandung cabe mungkin yang memicunya. Alhamdulllah setelah melaluinya dilanjutkan sholat maghrib di rumah kemudian berangkat ke Al-Falah.

Telat! untunglah tidak, karena baru akan dimulai dimana pembawa acara membagi-bagikan tugas kepada para “tokoh” yang hadir untuk mengisi acara. Pembukaan, pembacaan shalawat, pembacaan do’a dan lain-lain sudah dibagikan tugasnya. Di jajaran itu, saya lihat Bapak dari salah satu  sahabat saya yang kemudian mendapatkan tugas membacakan do’a. Luar biasa, ternyata para penggemar Rasulullah banyak sekali, saya benar-benar tidak tahu ini itu anaknya siapa, saya pun mengambil posisi di belakang bersama dengan sepupu-sepupu yang lain yang sedang repot menerima donasi besek dari para donatur. MasyaAllah, terlihat besek-besek itu seperti bukit, tidak seperti jaman saya saat masih kecil dulu, sangat bervariatif juga..ada yang menggunakan piring, box panjang seperti pada box brownis yang berisi kue panjang, makanan-makanan instan yang tak perlu ribet memasak (snack, mie, minuman kotak dll), belum lagi buah-buahannya yang menggoda…ada rambutan (sekarang memang sedang musim-musimnya), manggis, pisang, apel, jeruk, dll. Bingung lah jika mendeskripsikan kondisi limpahan makanan saat itu. Selain makanan ada juga yang memberikan amplop. Anak-anak kecil pun melirik dan mengintai siapa orang-orang yang membawa amplop itu. Di sebelah saya duduk salah seorang sepupu saya yang terlambat datang dengan menggemgam beberapa buah amplop di tangannya “tiba-tiba menepuk saya dengan keras”, balasannya adalah “jangan lupa bagikan saya amplopnya ya”, dia menjawab “ngapain ngasi kamu, mending yang lain..kamu gak ngasi amplop ya?”, jawaban saya hanya tersenyum.

Hanya kebagian 1

Dari tadi ingin mengambil foto pose-pose orang dengan berbagai ekspresi namun karena alasan tertentu makanya mengurungkan diri, dan hanya bisa mengambil pose-pose di sekitar posisi saya duduk.

Para Pengisi Acara

Acara inti pun dimulai yaitu pembacaan shalawat. Jama’ah yang tadinya duduk, kemudian berdiri semua untuk sama-sama mengumandangkan shalawat. Horeeeee…kesempatan untuk mengambil gambar pun didapat karena orang-orang sibuk masing-masing. Tingkat center of attention pun lebih rendah dibandingkan dengan duduk tadi, pergerakan pun lumayan lincah bisa pindah dari posisi duduk. Di acara inti inilah yang paling lama. Pembacaan shalawat dengan diiringi hadrah membuat semakin semarak dan insyaAllah menghibur hati para jamaah sekalian. Pengambilan gambar pun dimulai namun tidak berani menembus daerah laki-laki atau berada di sekitar mereka nanti bisa-bisa dipelototin oleh abang dan sepupu, meminimalisasi fitnah ceritanya. Lebih baik di daerah transisi, berada di depan atau di samping agak jauh dengan Mas Helmy.

Acara pun mulai ricuh dengan adanya pembagian amplop oleh beberapa sepupu. Wasyi’ yang sengaja pulang dari pesantrennya di Sidogiri menjadi incaran dan rebutan anak kecil karena banyaknya gepokan amplop di tangannya, sampai harus lari-lari dulu ke jajaran tokoh untuk menghindari kerumunan massa, setelah reda lagi baru dibagi lagi. Sementara di bagian wanita anak-anak kecil juga berebut amplop dengan seorang sepupu saya yang wanita. Alhamdulillah, walaupun tak berada dalam kerumunan itu saya dapat amplop juga (tertawa dalam hati..udah gede juga masih dapet..siapa suruh ngasi…ya saya terima dnk). Shalawat tetap berkumandang, teriakan pun makin menggema (wow…seru, saya hanya melihat dan tertawa-tawa), ada yang membagi, ada pula yang dikejar (kejar daku kau kukasi angpao). Para pembaginya tak kebagian, sampai-sampai keringat menetes-netes. Pada saat agak reda sedikit, tiba-tiba seorang sepupu laki-laki yang paruh baya melemparkan amplop ke atas, spontan saja..anak kecil di sekitar situ berteriak dan berebutan mengambil amplop-amplop yang berjatuhan tersebut. Tertawa lagi dibuatnya, ada-ada saja tingkah polahnya, di depan saya berdiri tiba-tiba ada seorang anak perempuan yang menangis tak berhenti-henti, saya pun menanyakan “kenapa”, suara speaker dan gemuruh orang-orang yang datang menghalangi komunikasi kami, apalagi masalahnya kalau bukan tak kebagian angpao, maka amplop yang saya dapatkan tadi saya berikan ke anak kecil “syukurlah jadi diam walaupun tak langsung”.

Horeee!Kejar Yuk!

Setelah pembagian amplop dan sesi berdiri selesai, jamaah pun duduk kembali, saatnya pembagian besek. Lagi lagi ricuh, sampai-sampai anak-anak langsung ke TKP pengumpulan besek-besek. Daripada ruwet , lebih baik saya duduk manis dan menunggu pembagian saya. Di depan saya ada Mas Helmy yang melempar saya makanan “Essss” datanglah apel merah ke posisi saya, datang lagi  air mineral gelas. Saat stock besek sudah habis dan mereka dapat bagiannya, padahal acaranya belum tuntas..pada kabur keluar masjid. Acara terakhir adalah do’a dan terlihat jumlah jamaah semakin renggang dan terlihat, tidak seperti awal tadi. MasyaAllah..MasyaAllah.

Adzan Isya’ biasanya berkumandang sekitar jam 7 lewat, nah ini baru jam 1/2 8 lewat adzannya berkumandang. Sampah di dalam masjid pun berhamburan kemana-mana, tugas berat sang Marbot pun menunggu. Sambil mendengarkan adzan dengan dibantu jamaah yang ada membersihkan sampah-sampah yang berserakan. Adzan selesai, kemudian mengambil wudhu’ dan terdengar dzikiran yang tak seperti biasanya, ternyata “oleh-oleh” si Wasyi’ dari pesantrennya “bagus cong, kasi oleh2 yang terbaik buat Masjid, jangan nakal lagi, saatnya blajar yg bener, buat Babah, Mama serta keluargamu bangga”.

Selesai sholat isya’, sebelum menuju ke rumah mampir dulu ke rumah abang sekalian numpang makan besek yang saya dapat. Di pintu depan, ada Iklil, langsung sungkeman dulu sama tantenya. Setelah itu saya masuk ke dalam, istri abang sedang dipijit oleh anak perempuannya yang lain…Yeyen, Yeyen pun sungkem dulu sama tantenya. Sungkeman ala Yeyen beda sendiri, punggung tangan saya dicium 2 kali, kadang 3 kali , ini ciri khas pesantren kawan. Beda lagi sama ponakan yang sekolah islam tapi bukan pesantren yang sungkemannya di pipi bukan di hidung. Ini balik lagi ke masalah budaya, yang penting masih sopan dan santun apapun itu OK OK saja. “Kenapa Mbak dipijitin?”, wanita asli sulawesi ini pun menjawab “Capek abis masak  tadi”, saya :”ahhhh..lebay ini”. Mbak Maryam keluar menemani suaminya makan dengan sepupu yang lain. Saya makan besek saya yang ternyata berisi nasi kuning (janjian sama baju saya) dengan ditemani 2 ponakan perempuan saya tadi. “Te, klo kurang lauknya ambil di dapur, itu dikit banget”. “Alhamdulillah cukup kok, sayang klo dibuang2, ini aja nasinya pasti ada sisanya, ntar dibawa pulang lg”. Selesai makan, menuju ke dapur terlihat seonggok durian, langsung bertanya “Syi’, durian dapat dari mana?”, beli katanya, yaah..urungkan niat untuk memakannya. Saya pikir Babahnya dapat dari tamunya. “Klo Tante mau, makan aja”, Alhamdulillah kebanjiran rezeki dapat makan durian juga. Terimakasih para ponakanku.

“Shollahu ‘ala Muhammad, shollahu ‘alaih Waa Sallam”

Al-Falah Burneh, Maulid 1431 H.

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s