Innalillahi, Allahummafighlahu

Bismillahirrahmanirrahim,

Di hari yang sama dengan hari Meninggalnya ayahanda tercinta, kemarin, Rabu, 17 Februari 2010 telah berpulang ke rahmatullah adik dari ayahanda, yaitu Om Sholehoddin. Semoga almarhum Sholeh bin Ali Rachbini diampuni dosa-dosanya, diterima amal ibadanya selama hidup di dunia, diberikan kelapangan dan penerangan dalam kuburannya serta dijauhkan dari siksa kubur…..Amin yaa Ghaffar, yaa Tawwab, Yaa Rahman, Yaa Rahim.

Pesan terakhir yang masih teringat

Saat itu masih nuansa lebaran 1430 H (lebaran 2009), saya pergi ke rumah Om yang biasa kami panggil dengan sapaan “Aba Sholeh”. Semenjak lulus sekolah, bertahun-tahun saya menganggap Madura yang merupakan tanah kelahiran saya sebagai hotel dan persinggahan, yang jika ke rumah hanya beberapa hari setelah itu kembali lagi ke kampung “orang” yang sudah saya anggap sebagai kampung sendiri karena merupakan kampung kelahiran kedua bagi saya. Dengan kondisi ini, tentunya semakin jauh dengan keluarga (keluarga di sini bukan dalam artian keluarga inti : ayah, ibu dan kakak). Sebagian besar keluarga besar saya banyak tidak mengenal saya, bukan bermaksud saya ingin dikenal sama mereka, namun apa gunanya jika di luar saya bisa kenal banyak orang yang bermacam-macam namun di keluarga sendiri saya masih bertanya dan ditanyakan “itu siapa, anaknya siapa, orang mana?”. Lebaran dan liburan lah momentum yang paling pas untuk bersilaturrahim dengan keluarga, karena kalau bukan yang muda-muda siapa lagi yang meneruskan estafet silaturrahim keluarga. Yang tua-tua sudah meninggal atau mungkin sudah tidak mampu lagi melakukan perjalanan karena kondisi kesehatan mereka yang mengalami penurunan.

Balik ke cerita silaturrahim saya ke Ba Sholeh. Dengan lokasi rumah yang di pinggir jalan di belakang kantor kecamatan Burneh saya pun pergi ke sana sekitar satu setengah jam menjelang maghrib (strategi biar gak lama-lama maennya, biar cepet pulang, ntar alasannya “udah mo maghrib”). Saya pun menghampiri rumahnya, tampak sepi karena anak-anaknya ada di kamar masing-masing “tumben kata sayam, biasanya lebaran..apalagi sore2..pemilik rumah pada nongkrong depan rumah…atao ngapain kek di ruang keluarga?..ckckckck”. Saya megucapkan salam dan mengetok kemudian masuk ke dalam. Karena pintu masuk terbuka maka saya pun langsung menuju kamar Om saya tersebut. Astaghfirullah, saya tak tega melihatnya, sudah lemah tak berdaya sepertinya namun masih bersemnagat untuk berbicara, berdiskusi dan memberikan taushiyah. Sambil menggenggam tasbih di tangannya dan mendengarkan tillawah ala masjid mekkah, om saya ini masih antusias menyambut kehadiran saya. Seperti biasa, pertanyaan demi pertanyaan menghampiri saya “gimana kuliahnya?” (alhamdulillah udah selesai Ba), “kerja dimana sekarang” (udah pindah dari kantor yang pertama), “ouw kerja di situ, berapa gajinya Beng?” (Alhamdulillah Ba cukup untuk bayar kosan sama makan tiap bulan dll). “Alhamdulillah klo gt, jangan sombong ya!”, kemudian melanjutkan lagi dengan membacakan ayat yang terdapat dalam Al-Qur’an yang langsung diartikan juga oleh beliau “dan berpegang teguhlah pada tali agama Allah dan jangan bercerai berai…ingat kata-kata aba ini ya” (insyaAllah Ba…Subhanallah pas menuliskan ini saya mengingat kembali apa yang sudah diucapkan beliau padahal tadinya agak -agak lupa). Sambil mengobrol, saya juga menanyakan keadaan beliau “gimana? udah enakan?”. Melihat kondisi aba Sholeh saat itu saya teringat dengan kondisi Bapak sendiri saat beberapa bulan menjelang dijemput oleh sang khalik, sedih melihatnya dan sambil berpiikir bahwa manusia tidak apa-apanya jika sudah begitu, apaalah artinya harta, kepintaran dan kecantikan jika sudah lemah tak berdaya…anak-anak yang sholeh dan berbakti serta keluarga yang peduli yang bisa menyenangkannya. Astaghfirullah..Astaghfirullah..Astaghfirullah, begitu banyak pelajaran yang telah Engkau berikan saat itu, semoga bisa memahaminya, ajari aku untuk memahami semua ini.

Kemudian kami pun pindah ke ruang tamu luar sambil menikmati pemandangan jalan, dari obrolan tersebut saya hanya mendengarkan dan menjawab “iya Ba…iyaBa dan iya Ba” karena saya tak kuasa memberikan banyak pernyataan dan hanya  memperhatikan bahasa tubuh dan badannya yang sudah tak seperti dulu. Astaghfirullah.

Karena maghrib beberapa menit lagi, saya pun pamit pulang ke rumah.

Antara Aba Sholeh dan Bapak Saya

Jika melihat Om Sholeh (begitulah sapaan yang biasa dipergunakan oleh sepupu saya yang lain) maka sangat terlihat kemiripannya dengan Bapak saya, Bapak saya lebih tinggi dan hitam. Mereka berdua dulunya pernah bekerja di satu institusi sekolah yang sama, Bapak saya guru Sejarah sedangkan om saya ini guru bahasa Inggirs. Bak pinang dibelahh dua, walaupun terlahir dari rahim yang berbeda namun keduanya tampak kompak walaupun ada saja yang berseberangan dalam beberapa hal. Setelah Bapak meninggal, beberapa tanggung jawab keluarga memang secara otomatis pindah ke tangan beliau, namun karena kondisi kesehatan yang sudah mengalami penurunan akhirnya tidak terlalu banyak mengurusi tanggung jawab tersebut dan berpindahlah ke para keponakannya.

Masih ingat, saat Bapak meninggal, Aba Sholeh begitu sedih dan saya baru pertama kali melihat beliau menangis. “Mas Rasjid” begitu beliau memanggil Bapak.

Setiap lebaran, beliau dan istrinya (anak-anaknya biasanya menyusul atau duluan) selalu menyempatkan diri ke rumah walaupun malam-malam untuk bersilaturrahim dan bertatap muka dengan abangnya. Malah kadang-kadang rela menunggu untuk bisa bertemuu dengan kang mas nya.

Semoga teladan kebaikan yang telah diberikan bisa menjadi pelajaran bagi kami semua keponakan-keponakamu ini

Semoga Allah menghapus dosa-dosa yang telah dilakukan dan semoga engkau juga telah memaafkan dosa, kesalahan serta khilaf yang telah kami lakukan

Karuniakan kami kekuatan Yaa Jami’ untuk menjaga ikatan keluarga dan persaudaraan ini, janganlah Engkau cerai beraikan kami…limpahkan kepada kami rasa cinta dan hidayah agar senantiasa mampu memaafkan dan melunakkan hati yang penuh dengan ego ini.

Innalillahi Waa Inna Ilaihi Roji’un Wahai Om kami, sosok yang akan kami ingat. Allahumma Fighlahu Waa Afihu Wa’fu Anhu.

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Al-Rasjid, Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s