Antara Warisan Dan Memang Jiwanya

Bismillahirramanirrahim,

Klo males Bhlajar Nanti Bhhodhhoh ya!

Dari dulu sampai dengan sekarang, yang namanya mengajar dan “belajar” merupakan salah satu kegemeran saya. Entah kenapa? suka mungkin atau merupakan warisan dari Bapak saya yang memang banyak berkecimpung di dunia pendidikan. Warisan ini mungkin diturunkan ke saya. Walaupun saya tidak pernah mengenyam pendidikan keguruan namun yang namanya naluri mengajar selalu ada dalam tiap nafas saya (agak lebay ya..maaf). Beberapa pembuktian dari hal ini adalah sebagai berikut :

– Atas dorongan Bapak tercinta, semasa SMA pernah membuka les kecil-kecilan untuk bidang studi Bahasa Inggris saja, jumlah muridnya kurang lebih 7 orang. Karena harus lanjut kuliah dan sudah tak banyak bermukim di Madura les-lesan ini pun tidak berlangsung lama. Namun, demikian karena prestasi bahasa Inggirs beberapa murid saya menonjol sehingga membuat orang tua beberapa tetangga dan saudara mempercayakannya kepada saya, apalagi beberapa teman dekat saya (padahal, bahasa inggris saya mah biasa-biasa saja, tak sehebat yang mereka pikirkan, itu karena muridnya aja yang cerdas-cerdas…Siapa dulu ya Bapak dan Ibunya). Jika saya nampak ada di rumah tak jarang selalu saja buku LKS (Lembar Kegiatan Siswa) yang nangkring di meja untuk diselesaikan, kadang saya ditungu, ada juga yang sekedar menitipkan untuk dikerjakan semuanya.

– Saat kakak tertua saya KKN (Kuliah Kerja Nyata) yang seharusnya mengisi pengajaran ke anak-anak sekolah di suatu desa di Bangkalan adalah kakak saya, namun karena kakak saya tidak bisa dan beragam alasan lain sehingga dijemputlah pulang pergi dengan rute Desa tersebut-Rumah untuk mengajarkan bahasa Inggirs di sebuah Madrasah Tsanawiyah (dasar memang kakak saya ini, giliran nilainya dia yang dapet..gpp lah)

– Salah satu program kerja dalam suatu organisasi dan komunitas yang pernah saya ikuti di kampus  tercinta saya di Jakarta saya memasukkan acara pengajaran komputer dan pengenalan perangkat internal komputer ke sekolah. Di sana, kami mengajar pengenalan komputer dari awal, pada saat itu banyak siswa SMU yang belum mengenal komputer, dengan acara itu kami memberikan pengenalan dan pelatihan komputer secara gratis kepada mereka (terimakasih wahai teman-teman fakultas ku, merindukan masa-masa membuat acara bersama kalian lagi). Selain  itu, bersama dengan teman-teman sejurusan menggagas acara road show ke beberapa SMU dengan memberikan pengenalan sekilas mengenai jurusan kami dan kemudian dilanjutkan dengan pelatihan penggunaan software untuk elektronika dan rangkaian listrik dengan dibantu oleh para asisten laboratorium yang saat itu sedang dipegang oleh beberapa teman seangkatan.

– Menjadi pengisi responsi untuk suatu mata kuliah dengan pesertanya adalah mahasiswa junior (lah ini yang aneh, saya yang bikin program ini, malah saya yang jadi tumbalnya, jangan ulangi lg temans!)

– Menjadi guru “panggilan” dan “cabutan” saat-saat UTS dan UAS menjelang. Target yang diajar adalah teman seangkatan yang sering bolos atau yang tidak pernah mencatat di kelas. Nah, giliran ujian pusing jadinya. Kadang kurang ajar juga mereka, sudah saya buatkan responsi H-1 (responsi spesial buat teman-teman seangkatan yang membuat ruangan HMJ di kampus jadi penuh tiba-tiba gara2 belajar cepet dan sambil mencari kisi-kisi) eh malah di dalam ruangan tidak mencatat dan hanya bercanda, giliran malamnya saya yang diminta untuk menjelaskan lagi dan mengajarkan apa yang kira-kira menjadi kisi-kisi.

– Sesekali ikut Bulek atau sepupu saya mengajar di sekolah, jadi Bulek bisa santai di sekolahnya dan nanti saya yang mengajar.

– Detik-detk kembalinya saya ke Madura dari Jakarta, alhamdulillah terelisasi juga impian saya untuk mengajar anak-anak kecil/jalanan di Jakarta. Bertempat di sebuah taman bermain di daerah green field Jakarta Barat saya bersama salah satu mantan anak kosan sepakat memberikan pelajaran sekolah kepada mereka. Seru dan menyenangkan bisa bermain dengan mereka. Namun sayang, hanya beberapa pertemuan saja karena saya harus mudik ke Madura (maaf ya adek-adek saya belum pamitan  semoga suatu hari nanti bisa bertemu kembali dengan mereka…makanyajangan gede dulu ya Dek).

– Ponakan saya (Shabrina, red) jika bertemu dengan saya yang dikeluarkan selalu buku, buku dan buku. Pagi pagi saja baru bangun tidur dan saya masih selimutan mengajak saya mewarnai, menanggapi hal ini saya hanya merespon “ya!, kasi aja warna ini itu”. Kadang suka tidak perduli waktu dan tempat (namanya juga anak kecil ya?, kgk usah masukin hati, belum tau apa2, yang penting dijawab aja), selesai saya dari kamar mandi tiba-tiba mengajak saya untuk belajar menulis dan menanyakan ke saya jika huruf atau angka ini gimana (whew aja deh, emang aku muka guru apa).

– Saya bermain ke salah satu sahabat saya, saat enak-enaknya duduk dan mengobrol bersama teman muncullah salah seorang keponakannya bersama kakaknya, tiba-tiba si kakak bilang “sana dek belajar bahasa inggis sama tante Iis” (lagi…lagi bahasa Inggris). Sang Ibu pun menjelaskan kepada saya sudah sampai dimana perkembangan anaknya di sekolah TK-nya dan dia menginginkan anaknya bisa berbahasa inggris, saya pun mendengarkan cerita sang Ibu itu dan kemudian menanyakan kepada anaknya mengenai bahasa Inggris yang sudah dipelajari (sudah berasa konsultan pendidikan aja). Tidak hanya Ibu ini saja, beberapa Ibu yang lain pun curhat masalah pendidikan dan kemampuan anaknya di sekolah, mulai dari yang malas belajar, senangnya nonton tivi, di sekolah kadang gak bisa, jika ujian tiba-tiba tidak bisa menjawab padahal malamnya bisa, sukanya main, dan lain-lain (panjang klo saya ceritakan semua). Mendengar demikian, saya merespon “ya udah bawa aja ke rumah klo malem, sekalian belajar bareng yang lain juga” (lumayan juga kan rumah saya bisa rame dengan suara-suara mereka).

– Setelah beberapa hari tinggal di Madura, beberapa sepupu dan tetangga saya ajak untuk belajar bahasa inggris di rumah, dan mereka merespon positif sehingga selesai maghrib datang ke rumah untuk belajar, tidak hanya bahasa Inggirs saja namun mata pelajaran yang lain pun mereka sertakan untuk dipelajari. Semakin hari, teman-teman yang mereka ajak semakin banyak dan ada saja yang mereka rekrut padahal saya tidak memberikan pengumuman. Dari yang tadinya hanya 3 orang, sampai sekarang menjadi hampir 20an orang (ayo nanti siapa lagi yang dibawa, gak perlu marketing anak2 kecil sudah cukup menjadi marketing yang potensial karna jam terbang bermainnya yang padat).

Sore Maen, Malem Maen lg..ooops Blajar maksudnya

– Dll

Mengapa saya suka mengajar?, banyak hal yang bisa saya dapat dengan ini karena dimanapun dan dengan siapa pun kita hal itu merupakan sekolah dan guru kita. Kadang-kadang, alasan-alasan itu tidak bisa diungkap dengan bahasa yang konkret. Hanya bahasa jiwa yang mampu menafsirkannya. Kepuasan tersendiri itu salah satunya. Merasa bahagia jika sudah memberi apa yang kita punya ke orang lain. Ketika kita memiliki ilmu dan kemudian kita bagi ke orang lain maka Allah akan memberikan ilmu-ilmu yang lain yang tidak kita ketahui dan kita sangka. Ilmu yang bermanfaat itu ibarat air sungai yang mengalir, saya ingin menjadi air yang mengalir itu yang bisa terus-menerus menyuburkan tanaman dan menghidupkan sekitarnya. Kalau kata Bapak saya “saya tidak bisa memberikan banyak harta kepada anak-anak saya kecuali ilmu, maka manfaatkan ilmu itu dengan sebaik-baiknya”.

Mengajar itu gampang, tapi mendidik dalam sisi pengajaran kita itu yang lebih sulit. Seorang pengajar belum tentu bisa menjadi pendidik yang baik bagi para murid-muridnya, namun seorang pendidik sudah pasti tahu mengenai pesan tersirat apa yang harus dia sampaikan kepada anak didiknya. Mengajar itu ada batasan waktunya, namun mendidik tak lekang oleh waktu karena senantiasa diingat oleh anak didiknya. Bagaimana mengajar dan mendidik yang baik itu yang ingin selalu saya pelajari. Bapak saya bisa, kenapa saya tidak berani mencobanya?, Yaa ‘Ilmu…karuniakanlah ilmu yang bermanfaat kepadaku yang senantiasa bisa membimbing aku dan memberikan manfaat kepada orang lain, dan jangan jadikan ilmu itu sebagai pakaian kebesaranku, namun sebagai pengingat dan rasa syukurku kepada Engkau wahai Rabb….amin.

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Al-Rasjid, Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s