Proses dan Perjalanan Panjang Sebuah KOMITMEN

Where's the COMMITMENT?

INTRO :

Alhamdulillah untuk hari ini Yaa Allah, Engkau tlah anugerahkan pertemuan dengan seorang penjual sate SD-ku dan atas permintaanku beliau bersedia untuk menyediakan sate daging yang aku pesan saat itu juga. Sambil menunggu menunggu sate masak, masuk ke dalam pasar untuk membeli alpukat, harga jualnya adalah 6 ribu rupaih, setelah ditawar dan dinyatakan bahwa kemarin sudah membeli dengan harga 5 ribu rupiah sang penjual pun dengan ramah melepaskan alpukatnya. Satu kilo berisi 5 buah alpukat dan baru saya makan 1 buah.  Setelah membeli alpukat, sate belum juga masak karena ternyata sang penjual satenya baru membeli dagingnya ke dalam pasar, saya pun minta ijin untuk membeli sesuatu yang lain, yaitu cendol, lalu kembali lagi ke tukang sate, ternyata belum juga masak saya pun berbincang santai dengan sang penjual dengan menanyakan beberapa hal yang tidak lain terkait dengan eksistensi beliau di SDN Burneh 1, masihkan beliau berjualan di sana?, sambil berbincang dengan beliau berbincang juga dengan pembeli yang lain yang kebetulan juga membawa anak kecil, lumayan bisa berkomunikasi dengan orang lain yang belum dikenal, melihat suami seorang tetangga yang membawa kerupuk saya pun tertarik untuk membeli kerupuk, mintalah ijin lagi saya ke sang penjual sate untuk membeli kerupuk, satu kerupuk harganya gopek (baca : 500 rupiah), tadinya hanya mau membeli 3 buah saja, atas permintaan penjual untuk beli 2000 supaya dapatnya 5 buah saya pun mengiyakannya. Selesai dari pasar Baru Burneh kembali lagi ke rumah melihat halaman depan rumah terlihat kotor, tidak biasanya seperti itu, mungkin Ummi kecapekan tadi pagi setelah mencuci banyak di belakang sehingga di depan terlupakan.  Dalam hati pun berjanji setelah makan ini semua saya akan menyapu halaman depan rumah. Selesai makan dan menyapu depan rumah kemudian menyapu teras dan beberapa bagian dalam rumah, setelah selesai baru mencuci piring yang sudah dipakai untuk makan tadi. Ummi pergi, jadilah sendirian di rumah, ke belakang untuk mengambil handuk karena akan mandi, melihat cucian yang dijemur banyak terpikir “kasian juga Ummi ini, pasti capek, udah gitu puasa lagi hari ini, yang tua aja bisa seaktif ini…kenapa yang muda kalah”. Terbesit lagi setelah mandi saya akan menyetrika pakaian-pakaian yang sudah dicuci kemarin supaya Ummi tidak banyak yang dikerjain, saya pun melihat kardus yang berisi pakaian kering yang sudah dicuci dan saya pun masukkan ke dalam supaya bisa saya kerjakan setelah selesai mandi. Menjelang dzuhur saya pun selesai mandi, setelahnya mempersiapkan untuk menyetrika dengan memisahkan beberapa pakaian : pakaian saya, pakaian Shabrina ponakan saya dan pakaian saya sendiri. Saya setrika dulu pakaian Ibu saya kemudian ponakan dan yang terakhir baru yang saya punya. Selesai menyetrika Ibu datang dan saya meletakkan pakaian beliau di kursi dekat lemari yang biasa beliau gunakan untuk meletakkan pakaian-pakaiannya, saya kelaparan lagi saya pun membuat segelas jus alpukat sambil diiringi alunan musik yang diputar di radio Prambors Surabaya dengan duduk santai depan kamar menikmati semilir angin siang yang sudah lama tidak saya nikmati (Nikmatnya, terimakasih wahai Sang Pencipta Angin ini).

Alhamdulillah Sarapan Pagi Sekaligus Siang Hari Ini

Jus Manual Alpukat...What a delicious

Beberapa saat setelah itu saya ber-Internet ria dan kemudian tidur siang dan baru bangun menjelang maghrib karena hari ini belajar baca Qurannya libur disebabkan saya sedang berhalangan shalat. Bangun tidur kuterus mandi dan makan malam. Saat makan terdengar suara teriakan anak kecil memanggil nama saya “Mbak IIS (diringi bunyi suara pagar yang terdengar berisik)” saya pun mendekat keluar dan dari dalam kamar saya mengatakan “Tunggu dulu, masih makan”.

Hari ini tidak banyak yang datang, tapi ada penambahan lagi satu orang (selalu begitu, ada saja yang diajak para anak kecil ini, tanpa marketing pun ini sudah berjalan sendiri). Kelas 2 belajar IPS, kelas 4 belajar MATEMATIKA dan kelas 5 belajar BAHASA INGGRIS, saya belajar bagaimana belajar berkomunikasi dan mendengarkan cerita-cerita mereka yang saling berebutan satu sama lain untuk didengarkan (sesi ini panjang ceritanya jika saya harus ceritakan dalam judul ini)

Sebagian dari Sahabat Kecilku

Sekitar jam 8-an lewat mereka semua pulang ke rumah masing-masing dan saya pun masuk kamar dengan terlebih dahulu menggembok pagar luar. Selanjutnya menonton dan ber-Internet ria. Sambil mencet-mencet remote di metroTv ada acara gebyar BCA yang didalamnya menampilkan seorang tokoh pendidikan anak usia dini yang juga seorang entepreneur di bidang yang sama juga. Wanita yang terlihat muda ini mengatakan bahwa “Dunianya anak  kecil berbeda dengan dunia kita orang dewasa, 1 jam bagi mereka sama dengan 4 jam-nya kita” (dipikir-pikir memang benar, para sahabat kecil saya itu jika belajar sudah sejam lamanya inginnya cepat-cepat selesai dan main, never mind lah yang penting waktu mereka untuk nonton sinetron berkurang supaya otak dan gaya hidupnya tidak terpengaruh sinetron, tapi jika diajak berdiskusi dan bercerita mereka senangnya bukan main apalagi bercerita masalah sekolah mereka…bisa-bisa tidak belajar-belajar jika dipancing terus, ada saatnya harus dipotong supaya kembali lagi belajar pelajaran yang menjadi permintaan mereka).

ISI :

Apa sebenarnya korelasi antara judul yang saya kemukakan diatas dengan intro yang saya paparkan yang menurut pembaca sekalian terlihat penting tidak penting?. Baiklah jika demikian, mari kita coba cari benang merahnya.

Berbicara tentang komitmen, tentunya banyak segmen dan dimensinya. Setiap manusia pun punya ini, kita tidak akan pernah tahu seberapa penting komitmen itu jika kita belum pernah menjalankan dan melakoni. Komitmen itu tidak perlu kita cari di atas gunung tinggi yang tinggi , di balik hutan belukar yang penuh dengan onak dan duri, di indahnya taman yang menghijau dan menguning, atau juga di derasnya air sungai yang mengalir. Komitmen adalah sebuah proses perjalanan hidup manusia dengan tanpa meminta sekalipun ia akan datang dengan sendirinya dan meminta kesediaan serta keiklasan kita untuk membantu menjalankan dan melakoni. Komitmen juga bukan sekedar PERNYATAAN hidup yang terangkai dalam selembar kertas atau dalam bait-bait indah tulisan tangan dan rangkaian hati sang jiwa. Komitmen adalah sebuah PEMBUKTIAN yang mengekspresikan bahwa kita mampu dan menerima lakon serta peran itu.

Komitmen seorang Ibu adalah memastikan segala sesuatu berjalan OK di rumah (terimakasih Ummi yang senantiasa menyediakan sarapan dan makanan di rumah), komitmen seorang anak adalah patuh terhadap orang  tua, komitmen seorang murid adalah belajar dan mengerjakan pekerjaan rumah, komitmen seorang pedagang adalah bagaimana memberikan kepuasan yang baik terhadap pelanggannya, komitmen kita sebagai manusia adalah bagaimana menjadi pemimpin yang baik di muka bumi ini (hal ini seeperti yang dicontohkan oleh baginda Rasulullah SAW). Komitmen sebagai apa lagi? maka jalankanlah dengan baik sesuai dengan porsi dan kebutuhannya, toh semuanya butuh proses dan pembelajaran.

Dalam mengapplikasikan komitmen itu dibutuhkan sebuah pengorbanan, kesadaran serta penyadaran diri. Kenapa? karena komitmen itu sifatnya dua arah, bukan sekedar ego sentris yang berperan di situ. Tak dapat dipungkiri memang sisi idealisme kita berpengaruh dalam penerapan komitmen itu. Bagaimana mengeliminasi sisi idealisme tingkat tinggi agar komitmen  itu berjalan secara benar dan sesuai dengan batasnya? seperti sudah dikatakan dalam paragraf tulisan ini bahwa dibutuhkan komunikasi 2 arah sehingga pihak-pihak yang terlibat dalam komitmen itu bisa saling mengirim dan menerima satu sama lain. Jika salah satu pihak belum bisa mengirim atau menerima dengan mungkin ada suatu kendala yang harus segera diperbaiki atau dalam bahasa komputernya di-TROUBLESHOOT.

Secara sadar atau tidak, kita sendiri pun terjebak dalam komitmen-komitmen yang kita bikin baik secara verbal ataupun non verbal. Ya itulah hidup, tanpa komitmen mungkin kita akan kehilangan arah, entah kemana arahnya kita pun tidak tahu. Maka dari itu, janganlah sok membuat atau mencari komitmen jika link-link komunikasi yang terbentuk belum bisa dipastikan 100% establish (maaf, saya banyak menggunakan bahasa komputer), jalankan komitmen yang ada sekarang dengan sebaik-baiknya, toh seiring dengan berjalan waktunya akan hadir komitmen-komitmen yang lain yang harus kita sikapi dengan cara WAJAR dan BIJAKSANA, tidak usah terlalu berlebihan, jalani sebisanya. Semuanya butuh proses dan pembelajaran. Tidak ada yang sempurna dalam hidup ini, kesempurnaan hanyalah milik sang Maha Pencipta. Begitupula dengan komitmen, pada saat menjalankannya pun kita tidak serta merta langsung sempurna, pasti banyak kesalahan dan kealpaan yang kita buat denga komitmen saat itu, tapi bagaimana memperbaiki komitmen setelah itu dengan memberikan yang terbaik dan introspeksi diri itulah bagian dari perjalanan panjang sebuah komitmen.

Kenapa saya tiba-tiba membuat tulisan ini? Jawabanyya adalah saya juga tidak tahu, semuanya berjalan atas permintaan, saya hanya mengikuti ketukan jari, pemikiran serta hati saya saja. Semoga dengan tulisan ini makin menambah proses pendewasaan saya serta memperbaiki komitmen-komitmen yang selama ini banyak saya langgar sendiri. Saya hanya manusia biasa, tempatnya salah dan dosa, tapi dengan segala kekurangan dan kelebihan yang saya miliki ijinkan saya untuk berintrospeksi diri dan melihat ke luar dengan meyakinkan diri bahwa saya harus bisa lebih baik dari kemarin.

PENUTUP :

Tidak ada kebenaran universal yang mengandung unsur egoisme (Oleh : Isai Chih Chung – penulis “Sayings of Buddha”)

Kita di sini bukan untuk saling bersaing, kita di sini untuk saling melengkapi (Bill Mc.Cartney)

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s