Notulensi Pengajian; Cinta, Ketenangan&Wanita

Bismillahirrahmanirrahim,

Yaa Allah, berikanlah keberkahan untuk tulisan ini dengan menjadikan yang menulis, yang menginspirasi serta membaca tulisan ini senantiasa mendapatkan hidayat dan rahmatMu

Yaa ‘Ilmu, karuniakanlah ilmuMu dalam tulisan ini sehingga yang menulis dan membacanya senantiasa berada di jalurMu

Setiap hari Rabu Malam Kamis selepas sholat Isya’ Masjid besar Al-Falah Burneh mengadakan pengajian rutin yang dibawakan oleh Ust.Zainal. Hari ini adalah hari pertama saya mengikuti pengajian ini sejak kedatangan dan kepindahan saya dari Jakarta. Terimakasih yaa Allah sudah mengizinkan hati, jiwa dan raga ini hadir di majelisMu, karuniakanlah keistiqomahan bagi hambaMu ini, juga bagi keluargaku juga….Amin yaa Rabb.

 

Ust.Zainal on Masjid Besar Al-Falah

Dengan mengambil tempat tepat di pertengahan di dalam masjid Besar Al-Falah Burneh sang Ustadz dan beberapa jamaah yang didominansi oleh wanita (khususnya ibu-ibu) dan hanya 3 orang laki-laki (termasuk ustadznya) taushiyah pun dimulai dengan dibuka terlebih dahulu oleh seorang wanita yang beliau adalah salah satu guru saya di SMUN 1 Bangkalan dulu. Alhamdulillah, kehadiran saya tidak terlambat, saya melewati pintu belakang masjid karena ini merupakan pintu yang pertama kali saya temui saat akan memasuki masjid ini. Beberapa dari jamaah ada yang berbisik-bisik dan bertanya-tanya “siapa itu?”, karena itu hanya pertanyaan bisikan dan tidak ditujukan kepada saya langsung saja saya duduk dan mengambil posisis di samping seorang ibu sekaligus nenek yang kebetulan juga adalah sepupu Ibu saya. Pertanyaan bisik-bisik itu terjawab juga oleh jamaah yang lain dengan mengatakan “putrinya Ibu X (anggaplah demikian namanya/julukannya)” . Tidak beberapa lama duduk acara pengajian pun dibuka dan kemudian dilanjutkan dengan pemberian taushiyah oleh sang Ustadz. Dengan bermodalkan satu buah bolpen dan notulen mungil berwarna biru yang secara sengaja saya bawa dari rumah saya pun mulai mencatat isi dari pengajian ini, walaupun tidak seluruh isi taushiyahnya saya catat.

 

Center Room Of Masjid Al-Falah

Berikut ini adalah catatan yang sudah saya tuliskan ke dalam notes itu :

-> Cinta Perlu Sebuah Pengorbanan

–> Jika kita cinta pada sesuatukita harus rela berkorban, rela menjadi abdi (pembatu, dll)

–> Jika cinta kepada Allah maka harus mengikuti perintah Allah dan menjauhi larangan Allah

* Jadi teringat akan hijrahnya saya dari Jakarta ke Madura, mungkin ini bentuk cinta saya sama keluarga saya setelah saya dapatkan beberapa peringatan dan petunjuk Allah. InsyaAllah saya tidak menyesal dengan keputusan hijrah ini, karena jika tidak begini…apalagi yang bisa saya berikan pada keluarga saya, khususnya Ibu saya. Materi yang banyak masih belum sanggup saya persembahkan bagi Ibu dan keluarga saya. Iya ini, hanyalah kehadiran yang bisa saya berikan walaupun sebenarnya banyak cita-cita, harapan dan kesempatan yang ingin saya raih di Jakarta, namun…kecintaan dan kesuksesan itu tidak semata-mata bisa diukur dengan materi. Saat ini, demi keluarga saya tercinta ini yang bisa saya berikan, semoga Allah menambah kenikmatan bagi saya sehingga saya bisa memperbanyak dan memperbaiki bakti saya terhadap Ibu dan keluarga saya. ” Yaa Allah, tolong bimbing Aku bagaimana berbakti yang baik terhadap Ibu dan saudara-saudaraku, karuniakanlah hidayahMu kepada kami semua”. Semoga dengan ini, insyaAllah saya mampu meraih apa yang saya cita-citakan dan harapkan…bisa dekat dengan keluarga juga semakin dekat dengan kesuksesan…Amin yaa Rabb.

-> Mengenai Ketenangan Hidup

–> Kenapa manusia dalam hidupnya kerap TIDAK TENANG? Gelisah, pusing, putus asa, takut dll (mungkin ini juga yang sering saya rasakan). Jawabannya adalah karena kita belum mampu mencintai Allah dan Rosulnya di atas segalanya. Sambil mendengarkan lagu Opick-Maha Melihat dikatakan bahwa “yang dicinta kan pergi, yang didamba kan hilang”. Memang benar, sering kita terkontaminasi dengan keduniaan yang sesaat, terlalu cintanya kita kepada dunia sampai sering meremehkan akhirat..Astaghfirullah “Wahai Engkau yang membolak-balikkan hati manusia tetapkanlah hati ini untuk senantiasa taat kepadaMu, terus belajar mencintaiMu dan memperbaiki cinta ini “, “Wahai Engkau yang menjadikan iman ini naik dan turun, tetapkanlah iman ini untuk senantiasa berada di garisMu, ingatkanlah ketika lupa dan maafkanlah ketika berbuat dosa baik yang disengaja maupun tidak”.

-> Dengan mengutip lagu Ilir-Ilir

Lir-ilir, lir-ilir
tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jrumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
Yo surako… surak hiyo…

Sayup-sayup bangun (dari tidur)
Tanaman-tanaman sudah mulai bersemi,
demikian menghijau bagaikan gairah pengantin baru
Anak-anak penggembala, tolong panjatkan pohon blimbing itu,
walaupun licin tetap panjatlah untuk mencuci pakaian
Pakaian-pakaian yang koyak disisihkan
Jahitlah benahilah untuk menghadap nanti sore
Selagi sedang terang rembulannya
Selagi sedang banyak waktu luang
Mari bersorak-sorak ayo…

Maksudnya:
Makin subur dan tersiarlah agama Islam yang disiarkan oleh para aulia dan mubaligh.
Hijau adalah warna dan lambang agama Islam. Dikira pengantin baru, maksudnya, agama Islam begitu menarik dan kemunculannya yang baru diibaratkan bagaikan pengantin baru.
Cah angon atau penggembala, diibaratkan dengan penguasa yang ‘menggembalakan’ rakyat. Para penguasa itu disarankan untuk segera masuk agama Islam (disimbolkan dengan buah belimbing yang mempunyai bentuk segi lima sebagai lambang rukun Islam).
Walaupun licin, susah, tetapi usahakanlah agar dapat masuk Islam demi mensucikan dodot (Dodot adalah jenis pakaian tradisional Jawa yang sering dipakai pembesar jaman dulu. Bagi orang Jawa, agama adalah ibarat pakaian, maka dodot dipakai sebagai lambang agama atau kepercayaan).
Pakaianmu, (yaitu) agamamu sudah rusak, karena dicampur dengan kepercayaan animisme / klenik.
Agama yang sudah rusak itu jahitlah (perbaiki), sebagai bekal menghadap Tuhan.
Selagi masih hidup masih ada kesempatan bertobat.
Bergembiralah, semoga kalian mendapat anugerah dari Tuhan.

Kata sang Ustadz : hiduplah seperti pengantin baru (Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar) yang senantiasa bahagia karena ada yang menemani. Begitu juga kita, yang menemani adalah Allah SWT.

-> Selalu Al-Fatihah

–> Kenapa Al-Fatihah sering digunakan untuk berdo’a? karena merupakan Ummul Quran. Jika Al-Fatihah itu besarannya, maka jika tidak hafal Al-Fatihah maka berdo’alah/bacalah Basmalah.

-> Cara Menyuburkan Pengajian

–> Masih merujuk pada lagu lir ilir diatas (penasaran ! saya pun sambil mencari dan mendownload lagunya). Orang Islam seperti orang mengembara (Cah Angon Cah Angon), oleh karena itulah kerjakanlah rukun Islam yang 5 : Syahadat, Sholat (khususnya sholat yang fardhu), Zakat (baik fitrah maupun maal), puasa dan haji.

-> Kendala-kendala Kenapa Do’a Belum Juga Diijabah :

–> Mungkin kepatuhan dan penghormatan terhadap orang tua kurang. Apalah gunanya intelektualitas tinggi atau rajin beribadah tapi tidak hormat terhadap orang tua. Patuhi kedua orang tua!. Masa depan anak berada di bawah telapak kaki Ibu!. Ridho Allah ada pada Ridhonya orang tua, Murka Allah ada pada Murkanya orang tua (klo kata senior saya dulu “itu klo belum nikah, klo udah ntar beda lagi”…huuhuhuhuhuuhuh, gitu ya senior?, bagaimana dengan Ustadz Zainal?)

–> Cara menghormati orang tua (jika salah satunya meninggal)? : silaturrahimlah dengan teman beliau yang masih hidup dengan bermain atau memberikan hadiah kepada mereka.

–> Contoh-contoh kasus yang terdapat dalam kitab mengenai bakti anak terhadap orang tua : Kisah Al Qomah yang ketika akan meninggal susah bernazak karena Ibunya belum memaafkan dosanya yang telah menyakiti Ibunya secara mendalam, namun setelah Ibunya memaafkannya ia pun bisa bernazak dan akhirnya meninggal. Kisah dari Abi Huroirah yang dilarang oleh Ibunya mengikuti pengajian Rosulullah sampai-sampai Ibunya mogok makan jika ia tetap mengikuti pengajian itu, Abi Huroirah menceritakan hal ini kepada Rosulullah dan ia terus menghormati Ibunya dengan tetap mengikuti pengajian itu, sampai akhirnya sang Ibu masuk islam. Betapa indahnya ajaran islam mengenai penghormatan terhadap orang tua sampai orang tua yang berbeda agamapun harus tetap dihormati. “Yaa Kholiq, karuniakanlah hidayah dan kesabaran kepada kami untuk terus memperbaiki bakti kami kepad orang tua kami, jangan Engkau jadikan kami seperi Al Qomah, semoga kami bisa meneladani Abi Huroirah dalam bakti kami”

-> Seorang Wanita (yang sudah menikah khususnya)

–> Karena hampir jamaahnya Ibu-ibu makanya hal yang seperti ini sering diangkat-angkat, bagi saya yang masih ABG alias Aku Belum Gitu (baca : belum nikah) lumayan juga untuk dijadikan bekal dan pengetahuan. Seorang wanita itu :

1. Apabila dipandang suaminya menyenangkan

Hal ini dipergunakan untuk berbagai aktivitas, tidak hanya sekedar masalah penampilan dan tata rias. Misalnya : kerapian rumah, ketersediaan makanan di rumah dan lain-lain (yang sudah menikah pasti sudah di luar kepala mengenai hal ini).

2. Jika diperintah suaminya taat (sepanjang tidak maksiat kepada Allah)

Untuk hal ini suami harus BIJAKSANA dan TIDAK OTORITER

3. Jika suami tidak ada, bisa menjaga diri dan harta benda

Untuk hal ini disesuaikan juga dengan tradisi dan lagi lagi HARUS BIJAKSANA!.

Sekian, Semoga bermanfaat.

 

@ Masjid Besar Al-Falah Burneh-03022010

 

 

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s