Tetap Lanjutkan & Terus Perbaiki Diri

Bismillahirrahmanirrahim,

Tulisan ini merupakan buah dari mendengar lagu Opick feat Amanda yang berjudul Maha Melihat. Dalam liriknya termuat “hidup kan terus berjalan meski penuh dengan tangisan”. Sambil menonton televisi, berselancar dan melihat kelakuan ponakan saya dalam tidurnya saya langsung ingat dengan pengakuan sekaligus curhatan seorang sahabat saya beberapa hari yang lalu di kediamannya yang tak jauh jaraknya dari rumah saya.

Dia : Tadi aku abis dari Surabaya

Saya : Loh, bukannya kata si Ana (bukan nama aslinya) kamu masuk kantor hari ini, tadinya aku mo mampir ke kantormu coz tadi aku jg ke Bangkalan ke Bank ngurus ATM-ku yang keblokir sekalian belanja utk kebutuhan di rumah, si Ana juga gitu dia beli susu anaknya

Dia : Aku cepet kok pulang pergi

Dengan singkat dan banyak menyimpan cerita dari raut wajahnya terlihat banyak yang ingin dia ceritakan. Saya bisa membacanya, betapa tidak, sejak SD kelas 6 saya berteman dan bersahabat dengan dia sampai dengan sekarang. Telepati antara kami sudah teruntai satu sama lain walaupun jarak dan perjalanan hidup yang berbeda, namun selalu mengalir dan berbagi bersama dia. Terimakasih yaa Allah untuk nikmat pertemenan dan persahabatan yang telah Engkau anugerahkan ini, karuniakanlah kepada kami kekuatan untuk menjaganya.

Saya : Berati abis pulang kantor dunk ke sananya

Dia : Aku gak masuk hari ini

Saya : Kenapa gitu?, kamu sakit? gak enak badan?

Dia : Aku habis dari PHC (PHC adalah salah satu rumah sakit di Surabaya yang berlokasi di dekat pelabuhan Ujung, Surabaya)

Ckckckckkckckc, sambil berpikir mungkin ada yang dijenguk atau mungkin selaras dengan curhatan si Ana tadi (Ana selain sahabat kami, juga sepupu sahabat saya yang ini) sehabis belanja siang tadi di kediamannya mengenai masalah sang sepupu. Namun, saya tidak melanjutkan pertanyaan saya karena takut salah menempatkan pertanyaan dan pernyataan. Saya hanya berkata “Ooooo”. Sambil mengalihkan perhatian saya bertanya “mana ya kok yang lain belum pada datang?”. Kami pun terdiam sejenak. Jika sudah sama-sama diamnya, sahabat saya ini pasti tahu jika saya sedang tidak ada bahan/topik yang akan ditanyakan, dengan situasi ini dia selalu tahu bahwa dia yang mulai ambil bagian (great friend, isn’t she?…klo orang ngeliat saya dengan cerewet dan bawelnya saya..tidak demikian dengan sahabat saya ini..dia tahu sisi diam saya dimana dan kapan)

Dia : Ke PHC tadi bagian dari ikhtiar Is,

Tak diragukan lagi, ini pasti ada korelasinya dengan curhatan si Ana tadi, karena si Ana juga menyinggung tentang PHC di topik siang pembicaraan kami di kediamannya yang berlokasi di belakang sepupunya itu (kira-kira dipisahkan oleh 2 rumah dan satu lapangan bola volley). Spontan saya pun langsung mengeluarkan pernyataan saya

Saya : sahabatku (dengan menyebut namanya) klo orang berpikir saya ini gak punya masalah salah besar lah orang itu, dibalik keceriaanku ini aku juga punya banyak masalah tapi buat apa saya gembar-gemborkan ke orang lain, cukuplah Allah yang tau, toh aku ceritakan pun mereka gak akan menyelesaikan masalah dan kita harus sadari itu karena setiap orang pun pasti punya masalah sendiri-sendiri, hanya do’a dan bersyukur masih diberikan nikmat yang banyak di tengah permasalahan yang susah diurai dengan logika ini, semua pun sudah ada porsinya, bagaimana kita menjalankan aja

Dia : iya tadi aku pergi menemuai dokter kandungan bareng suamiku untuk konsultasi dan pemeriksaan supaya bisa punya anak

Usia pernikahan sahabat saya ini 3 tahun (awal tahun 2007 menikah), namun sampai dengan sekarang belum juga dikaruniai keturunan. Sebagai konsekuensi sosial,  pertanyaan dan sindiran masyarakat dan keluarga adalah suatu hal yang tak dinafikkan lagi walaupun untuk beberapa pasangan ini merupakan pertanyaan privasi yang tak usah sering ditanyakan…”tunggu sajalah, nanti klo udah ada juga bakal tau sendiri”.

Mengenai hal ini, si Ana mengatakan kepada saya “iya Is, karena sering ditanyain gitu, sampai2 dia kurang aktif berkumpul dengan orang2 kampung, kasian juga ngeliatnya, padahal dia sudah berobat kemana-mana dari dokter sampai dengan alternantif  sudah dia jalani, tapi belum berhasil juga”. Lantas saya pun merespon “ya, kenikmatan yang dikasi Allah kan beda-beda, ada yang dikasi banyak anak tapi hartanya gak terlalu banyak, atau ada yang dikasi banyak harta tapi masih belum dikaruniai anak, tergantung menyikapi aja, klo mo disamaratakan semua ya gak akan ada habisnya”.  Ana pun melanjutkan “sama kayak aku, sekarang sudah mau punya 2 anak, tapi pusing hutang dimana-mana, mana harus biayai adik ipar lagi yang mo pendidikan, belum ini belum itu”. Saya balik berkata “ya bersykur ajalah, klo ntar adik iparmu sukses kamu juga kan seneng, klo dia udah sukses dan ingat sama kamu pasti kamu kan dapet balasannya, klo pun gak diingat juga gpp toh kamu sudah bisa bantu diantara sodara-sodara suamimu, klo ngitung2 terus ya gak akan ada habisnya, bantuin aja sebisanya, rezeki ada yang ngatur”. Teman saya melanjutkan lagi “iya kamu enak, masih sendiri, gak mikirin ini itu, uang tinggal minta sama orang tua dan kakak-kakak”. Langsung saya bilang “ya gak lah, gak seperti yang diliat  dan dipikirkan orang, coba aja tanyain Ummi emang sejak aku pindah dari Jakarta ke Madura pernah minta uang, ato sama kakakku…malu lah, gak segampang itu minta uang”. Kata si Ana lagi “halah boong, tapi klo dikasi gak nolak kan??”, saya pun merespon “ya iyalah, dikasi gak nolak, km jg gitu kan sama abangmu?”. Kata teman saya lagi “tiap bulan aja sering pinjem uang ke emak buat nambah beli susu anakku, di rumah aku yang sediain keperluan dapur seperti minyak goreng dan kawan-kawan”. Saya : “ya udah bersyukur aja lah klo gitu”.

Saya : terus kata dokter gimana? dikasi obat kan?

Dia : ya biasalah konsultasi beberapa menit, dikasi obat abis itu pulang, terus suamiku nganterin aku ke Madura (rumah, red) terus balik lagi ke Surabaya ada keperluan

Saya : cepet amet

Dia : Klo dipikir-pikir ya banyak hikmahnya juga Is dengan kayak gini, karena kesempatan aku untuk memperbaiki baktiku sama orang tua semakin banyak dan begitu pula dengan perhatianku terhadap suami..paling gak aku bisa duduk disamping suamiku ketika bangun tidur itu udah cukup membahagiakan (nyengir saya pas dia bilang gini, tapi ekspresi sahabat saya masih tetap serius dan penuh konsentrasi), andai saya punya anak mungkin waktu saya banyak terpakai untuk anak saya, tapi dengan gini kan saya jadi lebih deket sama abi-ummi dan belajar untuk jadi penengah yang baik antara orang tua dan suami ku (ckckckck..menarik memang yang ini, butuh seni komunikasi yang baik untuk mempertemukan berbagai kepentingan walaupun hanya dalam keluarga yang notabene orangnya tidak terlalu kompleks, tapi justru di situlah awal skill komunikasi itu muncul, jika dari keluarga sudah banyak belajar maka pada saat keluar sudah terlatih, sepengetahuan saya inilah yang sahabat saya ini belum banyak miliki, perubahan terkait dengan ini saya lihat sejak teman saya berhubungan dengan orang yang kini menjadi suaminya)

Saya : ya gitulah, ada orang yang dikasi nikmat anak, ada juga yang dikasi nikmat harta, emang gak ada rencana buat adopsi anak dulu sambil nungguin

Dia : sebenernya kepikiran pengen biayain anak yang gak mampu

Saya : ya udah biayain aja murid-murid lesku di rumah, ada juga tuh yang gak mampu, lumayan kan (saya hanya bercanda),

Dia : (tersenyum saja), ya sedang dipikirkan saja, yang penting sekarang nikmati aja dan lanjutkan yang sudah ada sambil terus perbaiki diri

Saya : gitu dunk, temenan aja sama ponakan dan sepupumu itu juga udah menghibur kok, aku aja temenannya slain sama ponakanku juga sama sepupu2 dan anak2 tetanggaku, seru klo udah barengan mereka

Dia : iya

Sepertinya curhatan sahabat saya ini banyak terinspirasi dari buku yang ia pinjam beberapa hari yang lalu dari rumah saya, karena tumben-tumbenan dia menelpon saya dan mengatakan mau ke rumah untuk menanyakan ada buku apa saja di rumah, saya pun mengatakan “ke rumah aja dulu, ntar liat aja sendiri mo baca buku yang mana”. Diantara buku-buku yang diambil saya merekomendasikan satu buku yang juga banyak memberikan  inspirasi  bagi saya (Seven Awareness..it’s wonderfull book, selamat melanjutkan bacaannya sob, klo sudah selesai kamu pasti ngerasain sendiri magnet dari buku itu..loh kok promosi…gak kok hanya memberikan motivasi saja baik buat diri sendir maupun sahabat saya).

**

Nikmat apapun yang sedang singgah ke dalam kehidupan kita, itulah pasang surut hidup sebagai bentuk perngatan dariNya untuk kita bahwa kita tidak sendiri, masih ada yang akan selalu mendampingi kita dengan limpahan kasih sayangNya, maka tetap lanjutkan kreativitas diri, jangan menjadi manusia yang malas, senantias berikhtiar walaupun hasil itu belum nampak sekarang..semua itu butuh proses dan kesabaaran, terus perbaiki diri mungkin banyak hal yang menjadi penghalang bagi jalan kesuksesan kita…kualitas hablum minallah kita mungkin yang walaupun terlihat baik namun secara ilmu masih banyak yang harus diupdate dan diperbaiki lagi sehingga bergurulah dengan orang yang mumpuni di bidangnya, hubungan kita dengan sesama manusia dan lingkungan mungkin yang banyak prasangka dan semacamnya atau kurang begitu terlalu peduli sehingga sekaranglah waktunya untuk memberikan apa yang kita punya dan apa yang kita mampu dan tidak usah memaksakan diri untuk sebuah eksistensi…sewajarnya saja.

Semoga tulisan ini memberikan manfaat dan pengingat juga buat saya sendiri, mohon maaf jika ada tulisan dan pernyataan yang kurang berkenan.

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s