Membaca Surat Cintanya

Hai Semuanya,

Kemarin (Minggu, 31 Januari 2010) sehabis bersepeda pagi hampir siang dengan mengajak sahabat kecil saya kemudian dilanjutkan membantu tetangga memompa balon dikarenakan sorenya anaknya akan mengadakan pesta perayaan ulang tahun.  Rasa kenyang masih menyelimuti raga saya dikarenakan sambil bersepeda tadi saya menyempatkan diri dulu ke pasar membeli sate yang dulunya sate langganan kami semasa bersekolah di SDN Burneh 1, sangat bersyukur sekali membawa temen-temen kecil ini karena saya yang masuk ke pasar sementara mereka yang menjaga sepeda saya supaya tidak dicuri orang, sebagai informasi bahwa pasar yang kami kunjungi itu jika hari Minggu sangat ramai sekali disebabkan adanya pasar Mingguan  (dalam bahasa Madura, -AHADHAN-) sehingga bukan hal yang mustahil jika sepeda saya itu saya target. Setelah membeli sate, ternyata saya harus mencari lon=ketupat dulu ke dalamnya lagi dikarenaka persediaan lontong dari sang penjual sate tersebut sudah habis. harga satu 10 tusuk sate ayam + bumbu yang aduhai itu 3500 saja, sedangkan harga ketupatnya 1000 rupiah. Ternyata persediaan uang di kantong masih ada maka saya lanjutkan membeli cendol yang konon kata sahabat saya enak, karena saya masih pendatang baru makanya saya tanyakan si penjual cendol ke penjual sate “dimanakah sang penjual cendol?”, sang Ibu menunjukkan dan saya pun ke sana membungkus 4 buah (loh kok banyak banget? jelas, tuh bocah2 cilik bisa2 teriak2 klo gak dibeliin, masak iya makan sndiri). Kenyang kan? pastilah, makanya siap bertempur (lebai deh).

Kok malah ceritanya ke pasar sama bersepeda ya, maaf temans…namanya juga intermeso. Sesampainya di rumah melihat di dapur ada cucian piring saya pun menyucinya dan kemudian memasak air sambil melihat pemandangan di dalam kulkasyang di dalamnya terdapat 3 buah alpukat hasil pemberian sahabat saya beberapa hari yang lalu sebagai imbalan karena saya telah mengantarkan ke Surabaya (gak penting ya teman saya, orang saya mo bayar eh malah dia yang bayarin…thx sob, sering2 ya). Saya pun mengambil satu alpukat dari kulkas kemudian mengupasnya dan mengeroknya dan memasukkannya ke dalam kulkas kemudian saya aduk-aduk menggunakan sendok terus ditambahkan gula sedikit, lantas bubuhkan es balok di atasnya. Srrrrruuuuuppppp, aromanya pun menggoda,  dalam keadaan masih mengenakan baju yang penuh keringat sehabis bersepeda dan memompa balon-balon tadi saya hendak menuju depan kamar sambil menikmati semilir angin siang menikmati segelas alpukat tiba-tiba ada yang membunyikan pagar depan, rupanya Ustadz Hafid, berarti hasrat untuk minum es alpukat ditunda sampai saya selesai belajar baca Al Qur’an.

Selagi belajar membaca Al-Quran di ruang tamu sebelah, tiba-tiba kakak, suami dan sohib kecil saya datang. Mereka langsung menuju kamar saya yang baru itu yang merupakan bekas kamar kakak dan abang saya dulu. Selesai membaca Al-Quran tadinya saya mau ke kamar itu, namun karena di dalamnya masih ada suami kakak saya sehingga saya pun mengurungkan niat untuk bermain Internet di kamar, dan saya menuju dapur menikmati es alpukat saya…akhirnya tersampaikan juga. Terbesit di dalam pikiran sepertinya saya kurang enak dengan kamar saya yang sekarang karena walaupun besar dan sinar mataharinya dimana-mana namun privasinya kurang terjaga, sehingga saya pun langsung mengatakan ke Ummi saya ” Ummi, aku mo pindah kamar aja balik ke kamarku yang dulu, males klo mbak Fifik dan suaminya datang, gak enak masuknya, kurang bisa ngapa-ngapain”. Kata Ummi “ya terserah, tapi jangan sekarang diangkutnya barang2nya gak enak ada suami kakakmu nanti tersinggung lagi”. Saya pun menjawab “ya iya lah, kayak gak tau aku aja, gak segitunya kali”. Dari situlah, saya pun mempersiapkan diri untuk relokasi kamar saya ke tempat yang dulu dengan memikirkan lokasi dan posisi barang-barang pribadi saya sehingga saya harus memastikan dulu semuanya dalam keadaan bersih dan tak berdebu. Langkah awal pun saya ambil dengan mebersihkan kamar belakang dulu karena meja belajarnya akan saya pergunakan untuk meja belajar saya, saya membersihkan laci-lacinya dan menyingkirkan barang-barangnya untuk sementara di dalam kardus. Pada saat saya membersihkan laci-laci itu banyak saya temukan hal-hal bermanfaat yang menceritakan tentang perjalanan hidup anggota keluarga saya di situ. Hal ini nantinya akan saya ceritakan sedikit demi sedikit.

Nah pada saat laci yang berbentuk seperti lemari di bagian sebalah kiri…aha!!!! tiba-tiba saya temukan beberapa pucuk surat yang ditujukan untuk abang saya, beberapa diantaranya ada yang berasal dari lembaga, kenalannya dari luar negeri (dalam hal ini Austira)…klo yang ini udah biasa saya baca secara tidak sengaja, tapi surat yang ini KOK BEDA ya…saya pun berpikir “kok tumben surat gak ada nama pengirimnya, apa seh isinya”, penasaran pun berlanjut dengan membukanya dan alhasil kata-kata puitis, curhat dan nyastra pun tertulis di dalam kertas merah jambu itu. Dengan bahasa yang membuat saya hoek hoek hoek, sambil berpikir “ternyata oh ternyata, bener klo gitu dulu, huuuu dasar si abang pake malu-malu padahal sama Bapak dulu mau dilamar tuh cewek klo emang beneran”. Membaca surat itu, saya pun senyum-senyum sendirian tidak jelas karena di dalam surat itu tersebut juga nama kakak saya, sepupu saya dan tetangga saya (kok bisa?, ya karena si cewek ini teman sekamar mereka di pesantren dulu). So, harus saya apain surat ini ya? tidak mungkin saya kasi lagi ke abang saya, ya udahlah saya simpan atau saya apakan tergantung mood saya saat beres-beres rumah.

Surat cinta jaman itu masih menggunakan jasa pos, beda dengan sekarang yang sudah menggunakan fasilitas online dengan cara update status di Facebook mungkin, kirim email, sms, telepon atau media online yang lain. Dahulu oh dahulu…mau menyatakan menerima cinta saja kok susah amat dan tidak praktis. Oh my house selalu saja ada cerita dan hikmah.

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s