Alhamdulillah, Jadi Santrinya Ustadz Hafid Juga

Bismillahirrahmannirrahim,

Bahagia rasanya apabila keinginan (bukan sekedar dalam hati, pernah juga terlontar secara lisan) yang sudah lama menjadi sebuah kenyataan. Kebahagiaan ini tak bisa dilukiskan dengan bahasanya orang awam, hanya bahasa hatilah yang bisa menerjemahkan kebahagiaan ini.

Hari ini (Minggu, 24 Januari 2010) bertempat di rumah tercinta sekitar jam 1-an siang Ustadz  Hafid datang ke rumah. Apakah maksud dan kedatangan beliau ke rumah?. Sebelum saya menceritakan maksud dan kedatangan beliau ada baiknya saya mereview sedikit mengenai salah satu Imam Masjid Besar Al-Falah Burneh ini, yang juga jadi salah satu imam “favorit” Bapak saya ketika beliau hidup.

Ust. Hafid on Al Falah

Jadi kehadiran Ust. Hafid ke rumah orang tua saya adalah untuk memberikan presentasi dan pelajaran mengenai membaca Al-Qur’an yang baik dan benar (sesuai dengan tajwid). Hari ini adalah hari perdana beliau memberikan mata kuliah Tajwidnya.

Sebenarnya keinginan ini sudah terbesit sejak lama, baik ketika saya masih bermukim di Jakarta maupun ketika saya sedang menghabiskan liburan saya di Madura. Hal ini sudah saya pernah saya sampaikan ke abang saya, namun selalu saja waktunya tidak sesuai.

Untuk Ustadz pilihan, jelas saya memilih beliau karena faktor kualitas yang tak perlu diragukan lagi karena beliau seorang Hafidz dan juga salah satu pesan Bapak saya ketika beliau hidup. Saat itu sang Hafidz ini dengan didukung oleh ta’mirul masjid yang memegang secara berkala mengadakan pelatihan membaca Al Qur’an setiap selesai Jum’atan. Saat itu saya masih di usia sekolah menengah (antara SMP-SMU), Bapak menganjurkan dan meminta saya untuk hadir ke Masjid mengikuti acara itu. Dengan tanpa berdosa saya mengatakan “malas ah banyak cowoknya, gak ada ceweknya”. Walaupun respon saya sering seperti itu, namun tetap saja beliau mengingatkan saya untuk mengikuti pengajian itu.

Selain digemari oleh Bapak, sang Imam yang rendah hati dan murah senyum ini juga digemari oleh Ibu saya. Jika ada acara pengajian atau syukuran dan kebetulan di dalamnya memasukkan acara Khatam Qur’an Ibu saya selalu mempercayakan kepada Ust. Hafid untuk mengisinya. Jadi, jika acara syukuran atau pengajiannya di malam hari, maka khatam Qur’annya di pagi hari setelah shubuh sampai dengan sekitar Ashar.

Dalam melakukan perbaikan atas bacaan Qur’an yang menurut saya banyak salahnya dan tidak jelas kaidahnya, maka terbesit lah dalam hati “Gimana klo saya blajar ngaji sama Ustadz Hafid aja”, karena selain menyambung kembali silaturrahim juga untuk perbaikan diri.  Keinginan ini benar-benar bulat saat saya mengambil studi master saya. Setiap mudik untuk liburan saya selalu bilang sama abang saya “aku mo blajar ngaji sama Ust. Hafid”. Respon abang saya agak cuek-cuek bebek, tidak mengatakan “ya” tapi juga tidak mengatakan “tidak”. Tiba-tiba, setelah beberapa hari berlalu abang saya berkata “kata Ust. Hafid klo cuman beberapa hari kurang maksimal belajarnya, kamu kan libur cuman seminggu”. Terus saya pun bilang “gpplah, yang penting blajar dulu, ntar klo liburan lagi kan bs belajar lg”. Abang saya pun merespon “ya, ntar aja”.

Saat itu, belum terealisasi juga keinginan itu karena saya harus hijrah sementara ke Jakarta. Di ibu kota Indonesia ini saya juga mencari-cari informasi mengenai tempat yang ada pelajaran tajwid, bahasa arab dan sejenisnya. Informasi sudah saya dapatkan, namun demikian waktunya selalu tidak pas. Astaghfirullah…prioritas hedonisnya  saat itu terlampau dahsyat mungkin  sampai-sampai tidak bisa menyisipkan hal ringan yang menentukan ini di sela-sela kesibukan.

Kembalinya saya ke Madura, ada banyak waktu kosong yang harus saya manfaatkan secara optimal dan maksimal, mulai dari sekedar membersihkan rumah, berolah raga di pagi hari, mencari acara gratisan di Surabaya sampai dengan menambah kemampuan diri dengan hal-hal yang baru atau manambahkan yang sudah ada.

Salah satu yang ternyata direspon positif adalah berkaitan dengan belajar baca Qur’an. Beberapa hari yang lalu abang saya menelpon dan mengatakan kalau dia sudah bilang sama Ustadz Hafid mengenai keinginan saya untuk belajar Qu’ran. Saya pun langsung merespon ” ya saya mau, kapan aja waktunya terserah, mumpung belum kerja,  (dalam hati…saya teramat bahagia sekali…terimakasih yaa Allah, Alhamdulillah Engkau tlah ijinkan aku untuk belajar tajwid). Abang saya melanjutkan lagi “nanti Ustadz Hafid yang ke rumah tiap hari Minggu Siang sama Kamis Sore”, saya pun merespon “ok deh, sep”.

Alhamdulillah..hore..hore, akhirnya setelah melalui penantian yang panjang (lebai deh) diperkenankan juga menjadi santri (baca : murid) dari Ustadz Hafid. Saya pun curhat mengenai keinginan saya untuk ini sejak dulu, selain “terngiang-ngiang” petuah Bapak, juga merupakan nutrisi rohani yang harus selalu diupdate.

Semoga ilmu ini berkah

Diberikan kelancaran dan kemudahan

Dalam meresap, mencerna dan mengamalkannya

Dan semoga menjadi media introspeksi diri agar selalu memperbaiki diri

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s