Air Mata Hadirinpun Ikut Berurai

Bismillahirrahmirrahim,

Hari ini sekitar jam 10 siang berlangsung akad nikah teman sepermainan saya yang juga tetangga dekat yang lokasinya rumahnya tepat di depan agak ke kanan dari rumah saya. “Saudara paling dekat adalah tetangga”. Atas dasar inilah, maka sudah merupakan kewajiban dan selayaknya jika saya turut hadir di perhelatan suci itu. Pas sekali saya datang ke sana, karena rombongan dari mempelai laki-laki ternyata mengambil start di depan rumah saya sehingga saya juga bingung melewati iringan itu, apakah saya di belakangnya (dipikir nanti saya bagian rombongan dari mempelai laki-laki, padahal saya kan bagian rombongan dari mempelai wanita) ataukah saya di depannya sambil mencuri start mereka yang sedang sibuk mengatur barisan sambil membunyikan semacam tanjidor (tapi bentuknya yang seperti piring, entahlah saya gak tau apa bahasa Indonesianya, saya taunya bahasa Maduranya-Terbhang, red).

Saat iringan mempelai laki-laki sudah sampai semua ke rumah calon mempelai perempuan tibalah acara sakral akad nikah dimulai. Pembawa acara pun secara protokoler membacakan apa yang akan dilakukan secara terperinci. Di depan saya bertemu teman SD saya, yang juga sepupu dari mempelai perempuan, saya bertanya kepada dia (agak pertanyaan basa-basi dan gak penting kali ya) “Mana Nia?”, dia pun menjawab “Lagi di dalam kamar dia”. Hmmmm, saya pikir Nia juga ikut bersama calon suaminya mengikuti acara sakral akad nikah tersebut. Ternyata dia masih di dalam, ya sudah lah jika demikian saya bantu-bantu di luar aja.

Kesibukan di luar pun udah berkurang dan offline karena sudah memasuki acara inti. Sang penghulu memimpin acara akad nikah dengan wali nikahnya adalah adik laki-laki dari mempelai perempuan yang umurnya masih jauh di bawah Nia (ya mungkin sekitar 20an lebih). Tek….langsung saya teringat pada prosesi pernikahan kakak saya dulu (Mbak Fifi, red) dengan wali nikahnya adalah abang saya (Mas Jun, red), tetes air mata yang tak begitu banyak membasahi kacamata. Alhamdulillah jika saya pikir-pikir, saat itu ketika kami ditinggalkan oleh ayahanda tercinta kakak-kakak saya sudah memasuki usia dewasa dan sudah siap menjadi generasi pengganti dari orang tua, dan lagi jeda waktu pernikahan kakak saya adalah 2 tahunan setelah Bapak meninggal. Sedangkan tetangga saya ini, belum 2 bulanan ditinggalkan sang Ayahnya dan dengan wali nikah adik yang menurut saya masih muda…Subhanallah jika saya pikir-pikir alangkah tegarnya dan jadi sumber inspirasi serta rasa syukur bagi saya.

Akad nikah berlangsung cepat, karena sang mempelai laki-laki sudah di luar kepala mengucapkannya dan dengan suara lantang, hanya cukup sekali mengucapkan “Saya terima …….” maka hadirin pun langsung mengucapkan “Sah…Sah….Amin”. Benar-benar waktu yang berarti jika dipikir-pikir, dimana perkataan menyimpan perjuangan dan komitmen yang tinggi, bagaimana tidak kalimat yang diucapkan hanya beberapa kata saja namun ekses dan setelahnya benar-benar membutuhkan sebuah komitmen dan rasa tanggung jawab yang tinggi serta tidak main-main…Amin dan insyaAllah.

Pasutri baru ini pun keluar menampakkan kepada para hadirin yang hadir dengan menduduki pelaminan yang telah disediakan secara khusus bagi mereka berdua. Perjalanan menuju pelaminan tak tahan saya melihat isak tangis teman saya ini yang tak terbendung, karena saya merasakan apa yang dia rasakan, bagaimana rasanya tanpa kehadiran seorang ayah di moment yang paling bahagia dalam hidup itu, alangkah bahagianya jika yang menjadi wali nikah itu adalah ayah sendiri. Saya tatap terus langkahnya sambil tak kuasa menahan isak tangis dan rasa sesak di dada, karena air mata sudah menetes ke pipi dan membasahi kaca mata, saya pun mengusapnya dengan jilbab. Berhenti sejenak air mata ini, di deretan depan saya ada sosok seorang perempuan yang tak lain adalah ibunda dari teman saya. Tak tahan lagi saya menangis, teringat dengan Ibu saya yang pernah mengalami hal serupa, tanpa didampingi sang suami berusaha untuk tegar mendampingi anaknya menuju hidup baru. Astaghfirullah, astaghfirullah, berikanlah keberkahan pada pernikahan teman saya ini. Sengaja saya tidak melirak-lirik kanan kiri, karena di samping kanan ada Ibu saya yang terdengar juga terisak melihat pemandangan ini, jika melihat saya demikian dikhawatirkan menambah kesedihan Ibu saya sehingga akan lebih baik saya tidak menoleh.

Puncaknya adalah pada saat acara sungkeman dari pasutri baru ini kepada orang tua masing-masing. Yang tampil pertama adalah Ibu teman saya dengan didampingi pamannya. Lah, kenapa bukan adiknya aja? “Ya gak seimbang lah, terlalu muda adiknya”, ( saya no comment lah, hanya melihat ke depan saja). Duduklah om dan Ibu teman saya ini, sang Ibu ini pun menangis ingin melepaskan anaknya ke jenjang hidup berikutnya. Air mata saya pun terurai dan tak terkendali keluar menyaksikannya, begitu pula dengan hadirin yang ada di sana. Lagi-lagi potret dan sosok seorang ayah pun hadir di benak mereka semua, Ibu saya yang di sebelah pun menangis. Hiks..hiks..hiks..sedihnya.

Ya, itulah peran dan eksistensi seorang Ayah, selalu memberikan arti dalam setiap momen dalam hidup kita baik ketika masih ada maupun sudah tiada. Ketika ada menjadi sosok yang dapat menjadi pelindung bagi kita, sedangkan ketika sudah tiada menjadi kenangan yang tak tergambar dengan kata…hanya air mata dan kekuatan langkah untuk tetap mengikuti petuah baiknya yang bisa dilakukan.

Selamat menempuh hidup baru teman

Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah waa rahmah

Teladan kebaikan bagi yang lain

Sabar tidak hanya pada saat diberi musibah

Tapi sabar juga pada saat diberi nikmat

Sabarkanlah dirimu teman saat menghadapi moment yang sakral ini

Semoga bisa membangun bahtera yang kokoh, lebih kokoh dari orang tuamu

Ikutillah contoh kebaikan yang telah diberikan oleh ayahmu

Dalam ketiadaannya, do’amu adalah penolongnya di alam barzah

Allahummafighlahu Warhamhu Waa Afihu Wa’fuanhu.

Inspired by Nia’s Wedding

Burneh-Bangkalan, 21 januari 2010


About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Al-Rasjid. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s