Wahai Media, Bisakah Tidak Terlalu Over

Seiring dengan laju reformasi sampai dengan sekarang, kebebasan pers menjadi semakin cepat pergerakannya. Jika pada saat orde baru pers seperti burung dalam sangkar, sedangkan ketika pasca reformasi pers sudah bisa terbang jauh tanpa kompas dan monitor.

Saat ini, para media tengah ramai-ramai berpesta pora mem-blow up pertarungan cicak melawan buaya. Cicak sebagai KPK (Komisi Pemberantas Korupsi), sedangkan buaya sebagai analogi Polisi sangat ramai diberitakan oleh media di tanah air tanpa filter dan monitior dari pemerintah. Apa sebenarnya yang terjadi dengan negeri ini? .

Tulisan ini, bukan untuk membela cicak atau buaya. Pernyataan untuk pertempuran ini adalah “Kemenangan pasti akan berpihak kepada kebenaran walaupun itu sulit dan terbungkus karena sudah terbungkus dengan rekayasa tingkat tinggi”. Tulisan ini untuk menjadi masukan bagi media negeri ini yang sudah telanjur kebablasan dalam menyajikan dan menyebarkan informasi kepada masyarakat. Betapa tidak, pemberitaan yang ditayangkan belakangan oleh beberapa media seakan-akan sudah tak mengenal yang namanya kode etis. Jelas, pemberitaan seperti perang adu mulut antara 2 kuasa hukum yang hampir melahirkan pertempuran masih saja sering diulang dan terlihat betapa bangganya sudah bisa menangkap adegan ini. Terasa menonton adegan sinetron yang pemain utamanya adalah Cicak dan Buaya, pemain lawannya adalah masyarakat kita sendiri, sedangkan media adalah pemain tengah yang sewaktu-waktu bisa berpihak kepada pemain utama atau pemain lawan.

Wahai media, kalian ini bagian dari negeri ini, begitu tegakah kalian jika aib bangsa yang kalian tampilkan dan sebarkan menjadi aib internasional…Astaghfirullah, tolong perbaiki pemberitaan yang kalian sajikan, lihatlah bahwa para pembaca, penonton dan pendengar kalian adalah bukan hanya para politisi, koruptor, pengadu domba, penjajah. Tapi masih banyak elemen masyarakat lain yang butuh edukasi informasi dari kalian semua. Jika sekiranya itu menyangkut aib bangsa kenapa tidak coba kalian filter dulu. Takutkah kalian jika tidak dikatakan transparan, tolong lah untuk membedakan antara transparansi dan aib. Dialog-dialog yang penuh dengan aib itu ada baiknya tidak dipertontonkan secara blak-blakan kepada masyarakat, siaran itu tidak hanya dinikmati oleh masyarakat kita tapi masyarakat dunia yang lain pun menyaksikannya. Apa yang ingin kalian kejar? NETRALITAS, TRANSPARANSI, OPLAH, RATING atau mungkin menjadikan negeri ini negeri kapitalis dan imperialis terselubung. Apakah benar apa yang sudah kalian beritakan sesuai dengan kode etis jornalistik yang sudah kalian pelajari ataukah ada kepentingan lain dibalik itu semua.

Semoga tulisan ini bisa menjadi koreksi buat kita bersama. Menjadi penonton yang cerdas dan selektif. Dan menjadi media yang edukatif, informatif dan beretika.

Saya minta maaf jika ada yang kurang sesuai dalam tulisan ini, tapi bukankah sebagai warga negara kita memiliki hak yang sama, apa salahnya jika kita saling mengingatkan walaupun saya bukanlah orang yang paham betul akan dunia jurnalistik. Mari kita berikan kontribusi yang terbaik untuk pembangunan citra negeri ini. Karena walaupun tidak kita rasakan sekarang, tapi anak cucu kita dan generasi lanjutan kita lah yang akan merasakannya. Aku cinta kamu, wahai Indonesiaku.

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s