Saat Jalan Rezeki Itu Dibuka

Bismillahirrahmanirrahim,

[“Alhamdulillah” untuk nikmat yang hari ini telah Engkau anugerahkan]

[“Astaghfirullah” atas rasa keluh dan kesah serta penyesalan yang sering kukumandangkan]

Hari ini, seperti biasanya, mengisi jam makan siang dengan makan di sekitar ruang kerja bersama rekan-rekan di kantor atau mencari sendiri di luar area kantor. Dengan ditemani oleh teman satu tim, namun dia berbeda bagian, kami pun melangkah keluar. Dikarenakan access door saya sudah “expired” statusnya, maka untuk keluar dari ruangan saya harus nebeng Lidia. Kami pun keluar, turun dari lantai 4 menuju tempat makan yang belum kami sepakati dimana. Kebetulan, dari kemarin saya sangat ingin makan dengan ikan mujair yang digoreng renyah dan kriuk-kriuk serta sambel yang dicampur dengan sedikit jeruk, makin ajib rasanya untuk membayangkannya.

Perasaan terpendam yang belum terwujud dari kemarin ini dikarenakan saldo di dompet kami pas-pasan (Kemarin, kebetulan jumlah nominal saldo kami sama, yaitu 20 ribu rupiah, maka dengan kerelaan kami berdua, kami pun makan siang di warung makan dengan harga yang tak membuat kami berdua was-was dan lokasinya pun tak terlalu jauh). Masih kemarin, beberapa langkah kaki menuju tempat makan yang tak bikin was-was tersebut, Lidia memberitahukan saya bahwa berdasarkan informasi dari salah satu rekan kami yang kebetulan dalam satu vendor (baca : satu perusahaan outsource) menyatakan bahwa gaji telah masuk. Karena masih isu, maka kami tetap melanjutkan makan dengan kondisi saldo kami yang sudah disebutkan, dan kami baru akan mengecek ke gedung sebelah setelah selesai makan siang nanti. Alhamdulillah kami pun makan dan indahnya nikmat makan ini.

Hari ini, setelah keluar dari lift dan menuju pintu keluar kantor kami mendiskusikan dimana kami akan makan. Tak kurang hanya dengan durasi kurang dari 5 menit, kami sepakat dengan tempat makan yang akan kami tuju, memang lebih cepat lebih baik. Anda tentu tahu bukan dimana kami akan makan? Ya benar, di warung makan yang menyediakan ikan mujair, ayam, lele dan lain-lain yang berlokasi di bawah rel samping kanan kantor kami di situlah kami makan. Terimakasih yaa Allah atas nikmat ini, Engkau telah mengabulkan keinginan terpendamku yang sedari kemarin aku inginkan.

Selesai makan, kami mampir dulu ke gedung yang juga berlokasi bersebelahan dari kantor kami dan jika posisinya dari warung makan yang kami tuju maka hanya cukup menyebrang sedikit saja. Gedung sebelah ini adalah Wisma Bimantara, kebetulan di sini sedang ada bazaar dalam merayakan ulang tahun Seputar Indonesia yang entah ke berapa tahun ( 3 atau 4 tahun, kurang terlalu tahu pasti). Kemarin kami sudah ke sini, dan ini untuk yang kedua kalinya, jika kemarin hanya melihat-lihat dan survey saja maka untuk hari ini lebih dari sekedar itu.

Hanya sekedar informasi singkat, kehadiran kami ke gedung ini bukan hanya karena adanya bazar dan ada parade artisnya (kemarin kami bertemu Rini Idol dan hari ini katanya ada bintang DAHSYAT-Luna Maya, Olga dkk), gedung ini bagi kami sudah seperti rumah kedua setelah kantor kami karena di sini tersedia infrastruktur dan penyedia kebutuhan pendukung kami selama di kantor, di gedung ini ada koperasi untuk membeli makanan dan minuman ringan, masjid yang jika kebetulan ada kajian sesekali kami datang, berbagai macam ATM dan kantornya dan lain-lain karena jika disebutkan semua infrastrukturnya serasa saya mempromosikan gedung ini saja. Cukup itu saja informasi singkatnya karena saya akan melanjutkan cerita di atas.

Seperti layaknya para penikmat bazar, maka berkeliling dan mengunjungi satu per satu standa yang ada adalah hal yang biasa. Kami menapakkan langkah menuju lokasi stand yang kemarin belum kami kunjungi. Berdasarkan pengamatan, di lokasi ini ada banyak stand, mulai dari makanan, universitas, perumahan, mobil, barang elektronik, buku bacaan, sandal, sepatu, baju, jilbab dan lain-lain. Kami kelilingi lokasi ini dari ujung ke ujung dan setelah sampai pada ujung saya meminta teman saya untuk berhenti sejenak di sebuah standa karena ada yang ingin saya beli di sana. Setelah selesai membeli di stand tersebut kami keluar dari lokasi standa-stand yang agak terpojok tersebut menuju episentrum dari bazaar ini, di sini ada panggung dan beberapa stand makanan serta minuman. Ada group band yang sedang berparade di panggung, kami hanya melirik sebentar dan kami melanjutkan perjalanan kami ke stand lain yang berlokasi di dalam gedung karena sekalian saya mau ke ATM. Selesai dari ATM kami melakukan kunjungan ke beberapa stand di sekitar ATM. Seharusnya perjalanan kami sudah harus kembali ke kantor, namun dikarenakan Lidia menyatakan “Katanya ada yang jualan makaroni ya?”, kemudian saya pun menjawab “Ada, bersebelahan dengan ice cream duren yang tadi lo beli, mo ke sana?”, Lidia membalas “Yuk”. Kami pun kembali lagi ke episentrum untuk membeli makaroni. Untunglah masih bisa menahan diri dikarenakan kondisi perut yang alhamdulillah kenyang, maka makanan seenak pun tampak biasa saja di depan mata dan kurang begitu menarik walaupun baunya begitu menggoda. Bukankah kita harus berhenti makan sebelum kenyang dan makan saat lapar? (terus terang tidak bisa sepenuhnya mampu mengapplikasikan ini).

Dalam perjalanan menuju episentrum bazar, melalui jalur yang cukup padat dilewati orang, hadir sesosok wajah yang saya kenal dengan mengenakan kemeja ungu, tas ransel dan berkaca mata. Ckckckckcck, eka? demikianlah pernyataan hati yang menggema. Ok, coba untuk menyapa “Eka!”, dia pun menoleh dan tampak belum mengenali saya, setelah kurang dari 5 menit (lagi-lagi lebih cepat lebih baik, maaf bukan maksud kampanye hanya sekedar mengintepretasikan pernyataan hati saja) Eka pun merespon “Kak IIS!”. Saya bertanya “Eka bareng siapa?”, dia menjawab “Sendirian kak”, sang kakak bertanya lagi “dalam rangka apa ke sini?”, sang adik pun menjawab “Ktemu sama konsultan kak, tapi gak ada orangnya, tadi cuman ktemu sama sekretarisnya aja, jadi titip pesen aja deh sama bosnya”. Saya : (berpikir ini anak bakal sendirian, dan saya cukup tau bagimana bosen dan betenya sendirian jalan-jalan di tempat yang rame dan kurang mengenal medan). Selanjutnya saya mengajaknya : “Yuk kita ikut sama aku, kita cari makan di sana (sambil menunjukkan arahnya di depan panggung, sory lid agak dikacangin dikit neh..trimakasih atas pengertiannya)”. Saya pun perkenalkan Eka kepada Lidia dan Lidia kepada Eka “Lid, kenalin ini Eka adik kelas satu jurusan di kampus”. Hmmm, entah dunia yang sempit atau teman yang tersebar kemana-mana yang membuat dunia ini sempit karena baru minggu kemarin saya baru bertemu dengan adik kelas satu organisasi semasa di kampus dulu di toilet kantor. Astaga, ini bertemu dengan adik kelas lagi.

(berhenti sejenak mendengarkan lagu “the calling-where ever you will go”)

Kami bertiga pun mampir ke stand ayng menjual makaroni dan aneka kue basah, Lidia dan Eka membelinya, saya kurang begitu tertarik karena saya sudah kenyang dan sayang saja jika saya membeli makanan-makanan itu hanya karena lapar mata dan kemudian tidak saya makan, “betapa masih banyak orang di dunia ini yang kurang makan, maka cobalah untuk terus belajar menghargai makanan supaya kita lebih dihargai oleh makanan”. Setelah membeli makanan itu, saya mengajak Eka untuk ikut serta ke kantor, kami bertiga pun meluncur ke kantor.

Kami pun sampai kantor. Lift sudah menuju dan membukakan dirinya untuk mengantarkan kami ke rumah hunian kami di kantor. Tadinya, saya berencana mengajak ngobrol Eka di lobby depan (biasa di sebut café, besebelahan dengan pantry) ruangan kami, namun dikarenakan sudah banyak orang di sana dan jam pun sudah menunjukkan jam masuk kerja kembali maka saya pun mengajaknya ke meja kerja saya dan kebetulan meja sebelah sedang tidak ada orangnya jadi saya pun bisa bekerja sambil mengobrol bersamanya. Lumayan, banyak hal, cerita serta memori yang disampaikan. Apalagi kami berdua satu angkatan dan pernah satu kelas saat dulu mengambil CCNA di binus centre. Semakin banyak hal yang diceritakan, ketika sudah menyerempet zona kuliah dan kursus ini. Disamping itu, Eka juga berbagi seputar SAP yang pernah dia dapatkan selama mengambil training dan terkait dengan pekerjaan dia saat ini maupun beberapa bulan yang lalu yang menangani projek dan applikasi SAP di sebuah BUMN. Sangat menarik dan banyak hal yang didapat, mulai dari ilmu sampai dengan pengetahuan tambahan mengenai gaji tertinggi di BUMN tersebut berapa dan karyawan IT berapa.

Di sela-sela diskusi dan cerita kami, salah satu teman saya (masih satu tim, yang juga yang menangani outsource di kantor saya, untuk beberapa bulan ini saya terikat kontrak dengan outsource beliau) menanyakan “siapa Is?”, saya pun menjawab “Temen mas, kenapa?, dia berkata “available gak?”, saya merespon “maksudnya?, belum tau juga (saya tahu arah pertanyaan dia kemana, pasti sekitar kerjaan dan pencarian kandidat untuk mencari posisi yang diperlukan di kantor). Saya dan Eka melanjutkan diskusi dan cerita dan Eka pun menunjukkkan program simulasi SAP melalui IDESK-nya dengan menggunakan VMWARE, memang agak lama tapi sangat membantu saya dalam menambah pengetahuan seputar SAP, karena di kantor lama dulu saya sering melakukan installasi SAP untuk beberapa client yang kebetulan menggunakan applikasi tersebut untuk keperluan kantor. Beberapa saat kemudia, mas Budi-teman yang menangani outsource melewati meja kerja saya (karena kebetulan meja saya bersebelahan dengan keluar masuknya orang) dan langsung menembak teman saya “udah kerja? Kerja dimana?”, Eka menjawab : “Udah, dulu di P*****, nangani projek SAP di sana”, mas Budi : “nah sekarang kerja dimana?”, Eka : “belum masih nangani beberapa projek aja&nungguin panggilan interview”. Mas Budi : “udah masukin CV-nya aja, apa mau langsung interview sekarang ke departemen yang bersangkutan”, Eka :”Kaget sambil ktawa2”, saya : “Ya elah, apaan seh, orang tadi cuman ktemuan kebetulan aja, ini malah wawancara aja, ntar aja kali blm siap orangnya”. Mas budi : “ada CV-nya?, ntar kasi IIS aja”. Eka : “blm tau ada apa gak, diliat dulu”. Saya pun menjelaskan kepada posisi kerjaan yang ditawarkan tersebut gambaran umum pekerjaannya seperti apa dan bagaimana sistem outsource di sini. Kebetulan lagi, lagi lagi kebetulan posisi yang ditawarkan adalah yang berhubungan dengan SAP dan java, dan ketika ditanya oleh mas Budi si Eka menjawab bisa untuk kedua applikasi ini. Saya meminta Eka untuk mengirimkan CV-nya dan jika di laptopnya sudah ada maka tinggal dipindahkan saja supaya nanti saya yang mengirimkannnya ke teman saya tersebut. CV pun ditemukan di flash disknya dan dipindahkan datanya ke laptop kerja saya, kemudian saya kirimkan melalui email saya ke mas Budi.

Awalnya saya menganggap biasa saja peristiwa ini, namun setelah beberapa jam Eka keluar dari kantor saya dan ingatan memanggil saya ke sebuah hal, peristiwa sederhana ini membuat saya berpikir mendalam dan terlintas pernyataan “Betapa banyak cara Allah membukakan jalan rezekinya”, “Saat pintu rezeki itu dibuka maka semuanya diberikan kelancara karena Dialah yang maha kaya dan maha Kuasa”. Terimakasih yaa Mughniy, Yaa Ghaniy Engkau telah bukakan pintu hati dan pikiran dan jasad ini untuk berusaha memahami semua ini di tengah hati yang tengah teiris sembilu dan terombang-ambingnya perasaan dalam penyerahan karena merasa sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Yaa Allah, semoga kejadian sederhana ini merupakan jawaban atas pertanyaan dan pernyataan hati yang terangkum dalam do’a dan munajat kepasrahan. Engkaulah yang maha tahu dan penguasa. Tidak ada yang dapat mencegah jika Engkau telah memberi dan tidak ada yang dapat memberi jika Engkau mencegah, alangkah maha luas pemberianmu.(IUR)

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

One Response to Saat Jalan Rezeki Itu Dibuka

  1. fandri ardiansyah says:

    Seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah
    perusahaan konstruksi real estate.
    Ia menyampaikan keinginannya tersebut pada pemilik perusahaan.
    Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulanannya,
    tetapi keputusan itu sudah bulat.

    Ia merasa lelah.
    Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian
    bersama istri dan keluarganya.

    Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya.
    Ia lalu minta pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk
    dirinya.
    Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu.

    Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa.
    Ia ingin segera berhenti.
    Pikirannya tidak sepenuhnya dicurahkan.

    Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu.
    Ia cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya.

    Akhirnya selesailah rumah yang diminta.
    Hasilnya bukanlah sebuah rumah baik.
    Sungguh sayang ia harus mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak
    begitu mengagumkan.

    Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia
    menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu.
    ” Rumah ini adalah rumah kamu,” kata sang pemilik perusahaan.
    ” Hadiah dari saya sebagai penghargaan atas pengabdian kamu selama ini.”

    Betapa terkejutnya si tukang kayu.
    Betapa malu dan menyesalnya.
    Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk
    dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama
    sekali.

    Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya
    sendiri.
    Itulah yang terjadi pada kehidupan kita.
    Kadangkala, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang aneh.

    Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang terbaik.
    Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup, kita tidak memberikan
    yang terbaik.

    Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan
    dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan
    sendiri.
    Seandainya kita menyadarinya, sejak semula kita akan menjalani hidup ini
    dengan cara yang jauh berbeda.

    Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu.
    Renungkan rumah yang sedang kita bangun.

    Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap.
    Mari kita selesaikan rumah kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya
    mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup.
    Hidup kita esok adalah akibat sikap dan pilihan yang kita perbuat hari ini.
    Hidup adalah proyek yang kita kerjakan sendiri.

    Keberhasilan yang diraih, atau kegagalan yang menimpa dapat ditelusuri
    jauhke dalam diri kita masing-masing. Karena KITA-LAH YANG MENJALANI semua
    ini.Bukan orang lain.

    ” Seorang bijak pernah mengatakan demikian :
    Amatilah pikiranmu, karena akan menjadi ucapanmu.
    Amatilah ucapanmu, karena akan menjadi tindakanmu.
    Amatilah tindakanmu, karena akan menjadi kebiasaanmu.
    Amatilah kebiasaanmu, karena akan menjadi karaktermu.
    Amatilah karaktermu, karena akan menjadi nasibmu.
    Di atas semua itu, amatilah dirimu sendiri.
    Hanya mereka yang mengenal dirinya-lah yang akan mencapai kebahagiaan yang
    sesungguhnya. “

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s