Dimanakah Load Balancer itu?

Bismillahirrahmanirrahim,

Kerinduan akan menulis menjadi suatu hal yang susah-susah gampang, susah karena waktunya selalu tidak pas dan keterbatasan infrastruktur, gampang karena apa yang mau dituliskan sudah tertuang dalam lisan dan pikiran tinggal men-convert saja menjadi rangkaian kata-kata terpilih saat itu.

Setelah sekian lama tidak berkunjung di blog ini, ingin rasanya menuliskan semua hal yang telah dialami menjadi rangkaian cerita yang bisa dibaca banyak orang dan syukur-syukur bisa menjadi sumber inspirasi positif bagi mereka. Jika saya harus mengolah dan melanjutkan intro ini mungkin tidak akan ada habisnya saya menyusun kalimat demi kalimat menjadi sebuah alinea dan paragraf yang tidak akan sampai-sampai pada judul thread ini.

Sengaja saya menuliskan judul ini karena diinspirasi oleh hal yang tadi malam saya temui selepas pulang kantor. Hari Jum’at boleh dikatakan hari implementasi nasional untuk wilayah kantor kami karena di hari ini dan 2 hari setelahnya mayoritas “pemilik” dan “pengelola” applikasi melakukan akses ke DR (Data Recovery)  dan Production. Applikasi-applikasi ini bisa implementasi jika sudah mendapatkan status “OK for implementation” dari tim dimana saya bernanung sekarang, status ok ini pun bisa didapat jika sudah memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku.

Sekitar jam 1/2 9 malam kami bertiga (jumlah tim kami ada 5 orang, 2 orang sudah pulang  pulang duluan) bersiap-siap pulang dan seperti biasa ada saja yang menghalangi jika ingin pulang, seperti adanya diskusi dan lobi untuk bisa meng-Ok-kan applikasi mereka (saya hanya mendengarkan dan menjawab jika ada yg perlu saya jawab, selebihnya memilih diam). Kami keluar dari meja kerja kami yang berbentuk kubikal menuju lift. sebelum keluar dari pintu sambil mencari-cari access door masing-masing (kecuali saya, karena access saya statusnya sudah “invalid time zone”) terbukalah sebuah diskusi (anggaplah namnya A dan B)

A dan B : malam terus niy pulangnya, belum lagi klo NCBS udah mulai go live, lebih malam ini

A : Iya, sepertinya tiap hari kita pulang malam deh

B : Saya aja bawa kerjaan ke rumah

Saya sambil mendengarkan dan menjawab seadanya jika ada hal yang perlu saya komentari dan jawab

Sampailah kami di depan lift lantai 4 dan menunggu lift terbuka, diskusi pun berlanjut

A : B, jangan bawa-bawa kerjaan ke kantor, kapan waktu kita untuk mikirin diri sendiri, dulu saya begitu tapi sekarang saya sudah gak kasian anak2 saya jadi terbengkalai (saya hanya diam dan mendengarkan saja), hidup juga harus balance ada waktunya untuk kantor, jangan sampe seminggu buat kantor terus

Si B agak diam sesaat dan menjawab singkat, dan lift pun terbuka, kami pun turun dan memisahkan diri. Saya bersama dengan A karena kami satu arah pulangnya, sedangkan B menuju stasiun kereta api.

Saya dan A menuju parkiran dimana motor saya bersemayam, saya pun langsung mengatakan kepada si A

Saya : Bener juga ya mbak, kita harus menyeimbangkan hidup, antara kerjaan n pribadi

A : ya is, saya dulu juga gitu, kerja pulangnya malam dan kepikiran klo kerjaan belum selesai. Kerjaan gak akan ada habisnya. Klo kayak gitu, kapan waktu kita bersosialisasi

Saya : iya siy mbak, aku dulu juga pernah bawa terus aku simpen di hd eksternal, tapi ya gitu gak aku kerjain soalnya udah nyampe kosan udah malem trs tidur, n paginya bangunnya siang trs siap2 ke kantor. Setelah itu aku gak bawa2 lagi

Pernyataan dan nasihat teman ini saya pikirkan selama dalam perjalanan dengan bertanya kepada diri sendiri “dimanakah load balancer saya”? dan “keseimbangan seperti apa yang bisa saya jalani”?. Dengan pertanyaan ini terbesit dalam pikiran saya untuk membuat personal schedule yang memuat informasi tentang agenda harian dan target-target keseimbangan apa yang perlu saya raih dalam tiap aktivitas harian yang saya kerjakan. Untuk komponen-komponen balancer itu apa saja sebenarnya saya sudah mendapatkan jawabannya tapi belum benar-benar bisa saya realisasikan secara integral, saya masih mengkajinya bukan untuk menjadi sebuah hipotesa tapi berdasarkan result yang sedang saya lakoni.

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s