Kesuksesan bukan statistik

Prolog :

Tiba di kantor sekitar jam 10-an pagi lewat, terbaringlah kantong plastik merah yang dari baunya berisi kue, saya pun bertanya ke rekan sebelah saya (liza, red) “dari sapa ini?”, dia pun menjawab “yang jelas bukan gw, mbak ela mungkin”. Masih teka-teki siapa yang memiliki kantong plastik merah ini. Beberapa saat kemudian lewat di depan meja dan berkantor “mut, mo pesen makan gak?”, karena saya sedang berpuasa muharram hari ini saya pun menjawab “gak pesen mbak”, dia pun meminjam access door saya agar memudahkan keluar masuk ruangan.

Point of View :

Sambil berbenah dan mempersiapkan alat tempur untuk bekerja, saya dan liza pun berbincang, curhat, diskusi, saling meminta masukan satu sama lain mengenai banyak hal (recently, both of me and liza always do these activities….thx Liz for your suggestions).

Pembicaraan dan topik pun dimulai. Kita berdua banyak curhat tentang masalah keluarga, pekerjaan, kuliah dan masalah/moment yang saat ini sedang kita hadapi, walaupun masalah kecil pun kita saling tahu satu sama lain.

Saya dan Liza, aktivitas dan kepenatan kami tidak terlalu jauh berbeda. Stress dengan pekerjaan yang senantiasa berusaha mencari titik enjoy agar pekerjaan ini bukan sebuah beban, stress dengan kuliah yang sama-sama dikejar thesis yang berusaha untuk mengejarnya dengan kapasitas dan kapabilitas yang kami miliki, mis-komunikasi dan emosi yang tidak terkendali dengan keluarga khususnya karena permasalahan yang bersifat keluarga maupun efek-efek dari permasalahan di luar dan tekanan-tekanan lain yang tidak kami duga datangnya.

Liza pun berujar pada saya “gue gak ngerti deh, apa yang sebenernya gue cari dalam hidup, gue kerjam gue kuliah, gue freelance kerjain proyek ini itu, tapi gue sering ngeluh dan batin gue gak terisi” (tolong ralat Liz klo ada pernyataan yang kurang sesuai, kurang lebih itu simpulan yang bisa ditulis). Kami pun melanjutkan diskusi agar semuanya lepas begitu saja dan kami pun saling menguatkan satu sama lain, memberikan kontribusi yang positif dalam pembentukan karakter kami ke depan.

Dan tibalah saatnya untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan pemikiran dan perenungan sejenak ini. Yah! kesuksesan bukanlah sebuah statistik dengan kategori kualitatif dan kuantitatif yang bagus dan baik dipandang dan dinilai banyak orang. Kesuksesan lebih kepada ketenangan batin, menikmati segala hal yang kita kerjakan, tanggung jawab tapi tidak merasakan itu sebagai sebuah beban tapi lebih kepada pembelajaran hidup, keseimbangan antara kepentingan dunia dan akhirat (ini kadang yang sulit kita implementasikan), memaknai masalah sebagai sebuah berkah dan rahmah. Terlalu sulit untuk meinternalisasi semua itu ke dalam pribadi saya yang masih pasang surut ini makanya sampai saat ini saya masih belum layak menyandang sebutan orang sukses. Bisa saja orang mengatakan bekerja dengan pendapatan yang besar, kuliah sampai strata tertentu (s2 lah, s3 lah atau s doger), dan variabel statistik yang lain itu bisa dikatakan sukses.

Tidak demikian bagi saya, kesuksesan dan kebahagiaan adalah proses pencarian dan pembelajaran secara terus menerus dan tidak bergantung pada variabel dependen yang diciptakan banyak orang dan menjadi standar umum yang banyak dipakai orang. Kesuksesan adalah variabel independen dan subjektif, dikatakan subjektif karena tidaklah sama kadar kesuksesan dan kebahagiaan untuk semua orang.

Epilog :

So, raihlah kebahagiaan dan kesuksesan dengan memulainya dari hal yang kecil.

Salam hormat saya untuk para pembaca semua.

-IIS-

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s